Raanjhana

Raanjhana
Takdir Cinta Nisha : 22. Aku Menemukanmu!



Perhatian: Part ini mengandung adegan romantis yang sengaja untuk membuat kalian baper, hehehe. Semoga suka 😊😊


.


.


"Hei, jangan takut, ini aku! Naiklah ke punggungku. Kau akan aman bersamaku. Aku janji.”


Samar-samar Nisha mengenali suara berat itu. Nisha yang sudah lemah segera naik ke punggung Hernan. Hernan berlari cukup cepat karena


tubuh Nisha sudah amat dingin.


“Kakak…” lirih Nisha di sisa-sisa kesadarannya sebelum akhirnya matanya terpejam dan tak sadarkan diri.


Hernan membawa Nisha ke klinik terdekat untuk mendapatkan pertolongan pertama. Tubuh Nisha sudah sedingin es dan menggigil.


"Dokter, tolong selamatkan istri saya!" pinta Hernan.


"Kami akan berusaha sebaik mungkin. Bapak silahkan menunggu di ruang tunggu." ucap sang dokter.


Dengan cemas Hernan menunggu dokter memeriksa kondisi Nisha. Ia benar-benar tak enak hati pada keluarga Nisha jika mereka sampai tahu Nisha celaka seperti ini.


Beberapa menit kemudian, dokter keluar dari ruang periksa dan menemui Hernan.


"Dokter, bagaimana istri saya?"


Dokter tersenyum karena melihat betapa Hernan seperti sangat mengkhawatirkan Nisha.


"Syukurlah istri anda baik-baik saja sekarang. Dia tidak sampai mengalami Hipotermia. Namun, karena ruang perawatan di klinik kami sangat terbatas, maka untuk sementara istri anda akan di tempatkan di bilik periksa dulu. Tidak apa kan, pak?" jelas dokter.


"Iya, dok. Tidak apa. Sekali lagi terima kasih. Apa saya sudah bisa menjenguk istri saya?"


"Tentu saja. Silahkan masuk."


Hernan segera masuk ke bilik yang hanya di tutupi gorden. Maklum ini klinik desa dan bukan rumah sakit besar.


Hernan menatap wajah pucat Nisha. Ia membelai puncak kepala Nisha kemudian menciumnya.


"Maafkan aku, ya. Cepatlah sadar." ucap Hernan yang akhirnya ikut terlelap di samping brankar Nisha.


Sudah seharian ia mencari Nisha dan ini sudah tengah malam. Tubuhnya pun butuh istirahat juga.


Keesokan paginya, Hernan terbangun karena ada seseorang yang mengguncang tubuhnya pelan. Seorang perawat membangunkan Hernan dan memintanya untuk ke bagian administrasi.


Hernan segera berdiri. Diliriknya Nisha masih terpejam. Mungkin karena pengaruh obat. Hernan pun keluar dari bilik periksa.


Nisha mulai menggeliat dan membuka matanya. Seketika ingatannya tertuju pada seseorang dari masa lalunya.


"Kakak!" ucap Nisha dengan cukup keras membuat seorang perawat datang menghampirinya.


"Nona, kau sudah bangun?" tanya si perawat.


"Suster, saya ada dimana?" tanya Nisha balik.


"Nona ada di klinik. Kemarin nona hampir saja mengalami Hipotermia. Untung saja suami nona segera membawa nona kemari."


"Suami? Lalu dimana dia?"


"Suami nona sedang ke bagian administrasi."


Karena tangan Nisha sudah tidak menggunakan selang infus, ia segera berlari menuju ke bagian administrasi.


Nisha melihat Hernan sedang berbincang dengan karyawan administrasi. Ia nampak membayar tagihan klinik milik Nisha.


GREB!!!


Secepat kilat Nisha memeluk tubuh Hernan dari belakang.


"Kakak...." ucap Nisha.


Hernan yang mendapat pelukan dari Nisha, mendadak mematung karena mendengar Nisha memanggilnya 'kakak'.


"Kakak... Aku menemukanmu..." ucap Nisha lagi yang sudah terisak.


Hernan segera membalik tubuhnya dan berhadapan dengan Nisha. Hernan menatap lekat mata indah Nisha yang dipenuhi air mata.


"Jadi, kau adalah gadis kecilku?" tanya Hernan tak percaya.


Nisha makin terisak karena Hernan juga baru menyadarinya. Hernan segera menangkup wajah Nisha. Kemudian memeluknya.


Hernan ikut meneteskan air mata karena telah menemukan gadis kecil yang ia cari.


.


.


.


Hernan membawa tubuh Nisha di punggungnya. Mereka menuju kembali ke resort tempat mereka menginap.


"Kakak... Apa kau tidak lelah? Aku bukan lagi gadis kecil yang dulu ringan, sekarang berat tubuhku sudah bertambah." ucap Nisha dengan memiringkan kepalanya agar bisa melihat wajah Hernan.


"Tidak! Sama sekali tidak berat. Bagiku kau tetaplah gadis kecilku... Bagaimana kau bisa tahu jika aku adalah orang yang sama dengan 10 tahun lalu?"


"Kata-katamu sama seperti dulu saat kau menemukanku. Aku menyadari di akhir kesadaranku. Terima kasih karena masih mengingatku, Kakak..."


Mereka telah tiba di kamar mereka. Hernan merebahkan tubuh Nisha keatas tempat tidur.


Lama mereka saling menatap. Hingga akhirnya Hernan kembali memeluk Nisha.


"Terima kasih, Tuhan. Terima kasih karena sudah memberiku kesempatan untuk bertemu lagi dengan gadis kecilku." lirih Hernan sambil membelai rambut Nisha.


Hernan melepas pelukannya dan membelai wajah Nisha. "Beristirahatlah! Supaya kondisimu cepat pulih."


Nisha mengangguk dan kembali memejamkan mata. Entah kenapa matanya masih terasa berat. Mungkin karena pengaruh obat dari dokter.


Beberapa jam Nisha terlelap hingga hari kembali gelap. Nisha bangun dari tidurnya dan tidak mendapati Hernan dikamar. Ia keluar kamar dan melihat Hernan sedang berdiri di pinggir pantai sambil menikmati udara malam.


"Kakak..." panggil Nisha.


Nisha mengangguk. "Iya, ini semua berkat kakak... Terima kasih sudah menjagaku."


"Jangan berterimakasih. Itu sudah menjadi tugasku sebagai suamimu."


"Emm, kakak... Apa aku boleh minta sesuatu?"


"Apa?"


"Buatkan aku istana pasir. Seperti dulu..."


Hernan tertawa kecil kemudian mengangguk. "Baiklah, gadis kecil. Aku akan membangun istana pasir untukmu. Bahkan istana yang asli yang megah juga bisa kubangun." ucap Hernan sedikit menyombong.


Dengan cekatan Hernan membangun sebuah istana pasir untuk Nisha. Istana megah yang ternyata lebih besar dari dulu yang pernah Hernan buat untuk Nisha.


Nisha berseru gembira ketika istana pasirnya telah selesai dibangun.


"Yeay! Terima kasih banyak, kak..." Nisha memeluk Hernan sekilas lalu meneliti istana pasir buatan Hernan.


"Wah, istananya sangat megah, aku jadi ingin tinggal didalammya..." ucap Nisha berbinar.


"Bukankah kau sudah tinggal didalam istana yang kubangun?"


Nisha menatap Hernan. "Maksudnya?"


"Rumah yang kita tempati, itu aku yang membangunnya."


"Eh?"


"Kau sudah menempati istana itu, gadis kecil. Dan kau juga sudah menempati ruang disini." Hernan memegangi dadanya.


DEG


"Aku mencintaimu, Nisha..." ucap Hernan jujur.


"Apa secepat itu? Karena kau tahu jika aku adalah gadis kecil yang kau cari? Makanya kau berbohong seperti ini." ucap Nisha sambil tersenyum seringai.


"Aku tidak berbohong!"


"Kakak tidak mencintaiku! Kakak hanya mencintai Asha. Jika kau mencintaiku kau tidak akan menyakitiku. Kau bahkan selalu membentakku dan memarahiku. Kau selalu membuatku bersedih dengan sikap aroganmu itu!" Air mata Nisha sudah tak bisa lagi ia tahan. Betapa ia amat sedih jika mengingat kebersamaan Hernan dan Asha.


"Aku bahkan sempat berpikir jika tidak apa aku harus menjadi yang kedua. Aku akan berusaha menerimanya karena kakak memang tidak mencintaiku. Selamanya aku akan menjadi yang kedua." tangis Nisha makin pilu.


Hernan tidak tega melihat Nisha menangis seperti itu. Ia mendekati Nisha dan memeluknya dari belakang.


"Bisakah kau memberiku kesempatan untuk menjelaskannya?" ucap Hernan.


"Entah sejak kapan aku mulai merasakan sesuatu dihatiku. Dan aku merasa tidak suka jika kau dekat dengan pria lain. Aku merasakan debaran itu makin nyata saat aku menyadari kau makin dekat dengan bocah itu. Aku cemburu, Nisha. Aku amat cemburu kau dekat dengan bocah itu. Dan disitulah aku mulai sadar, jika aku mencintaimu..."


"Lalu kenapa kau masih menemui Asha? Bahkan secara sembunyi-sembunyi kau menemuinya."


Hernan melepas pelukannya dan membalikkan tubuh Nisha.


"Malam itu... Aku ingin mengucap perpisahan padanya."


"Eh?"


"Aku tidak bisa menemuinya lagi ataupun sekedar bertukar pesan dengannya. Karena aku mulai mencintaimu. Percayalah padaku, Nisha... Aku sudah menghapus Asha dari hatiku..." Hernan menangkup wajah Nisha dan menghapus air matanya.


"Apa kakak berkata jujur?"


Nisha mencoba menelisik lebih dalam ke manik biru Hernan.


"Dengar, aku tidak akan menjadikanmu yang pertama. Tapi aku akan menjadikanmu yang terakhir. Percayalah!"


Nisha mulai menyunggingkan senyumnya. Ia memukuli pelan dada bidang Hernan karena ia merasa kesal padanya.


"Benar. Kau boleh memukuliku sepuasmu. Aku memang sudah banyak menyakitimu."


Nisha pun terhenti. Hernan membawa tubuh Nisha dalam pelukannya.


"Aku mencintaimu, gadis kecilku."


"Aku juga mencintai kakak..." balas Nisha lirih dalam dekapan Hernan.


Hernan melepas pelukannya dan menatap lekat wajah Nisha. Ia mulai mengikis jarak diantara mereka. Nisha yang tahu dengan apa yang akan dilakukan Hernan segera menutup matanya.


Dan benar saja, Nisha merasakan bibir lembut Hernan menyentuh bibirnya. Dengan gerakan lambat yang berirama, Nisha mencengkeram erat kemeja Hernan.


Nisha berusaha mengimbangi gerakan Hernan dengan melakukan gerakan yang sama. Lama kelamaan Nisha mulai bisa berirama juga seperti yang dilakukan Hernan. Bibirnya juga menyapu bibir Hernan dengan tempo lambat namun dalam.


Hernan membawa Nisha masuk kedalam kamar tanpa melepas pagutannya. Ia membaringkan tubuh Nisha keatas ranjang. Ia menjeda sebentar agar mereka sama-sama bisa menghirup oksigen lebih banyak.


Hernan kembali meraih bibir Nisha. Tangannya mulai menelusup masuk kedalam piyama Nisha dan meremas sesuatu yang kenyal disana.


"Aaah..." suara Nisha tertahan kala Hernan mulai menyusuri leher jenjang Nisha, mengecupnya pelan hingga menimbulkan jejak disana.


"Aaaw!!!" pekik Nisha, namun dengan sigap Hernan kembali meraih bibir Nisha.


Hingga nafas keduanya sudah mulai memburu dan terengah, tiba-tiba...


Kruyuk kruyuukkk!


Bunyi perut Nisha menginterupsi semuanya.


"Apa kamu lapar?" tanya Hernan.


Nisha mengangguk malu. Ia merasa tidak enak hati karena merusak suasana romantis mereka.


"Baiklah, aku akan membuatkan makanan untukmu." ucap Hernan turun dari tempat tidur.


#Bersambung...


*Gimana genks? Masih kurang romantis? 😬😬 tahan yaak. akan ada saatnya nanti 😉😉😉


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian 😍😍