
Usai bersiap, Dirga membawa Diya untuk sarapan bersama. Kali ini perlakuan Dirga sungguh berbeda. Diya amat bahagia karena kini Om-nya memperlakukan dirinya dengan baik.
"Om, hari ini kita akan kemana?" tanya Diya sambil mengunyah makanannya.
"Kejutan untukmu, sayang."
Diya mengerucutkan bibirnya.
"Habiskan makananmu, lalu kita berangkat."
Diya menganggukkan kepala.
Lima belas menit mereka menyantap sarapan, kemudian Dirga membawa Diya ke halaman rumah yang sudah terparkir mobil. Diya memang tidak tahu Dirga akan membawanya kemana, tapi yang jelas, Diya percaya dengan Dirga.
Sungguh Diya masih merasa jika semua ini adalah mimpi. Mimpi yang terlalu indah jika bangun.
Dirga mulai melajukan mobilnya. Sekitar satu jam perjalanan, mereka tiba di sebuah danau yang cukup asri.
"Kita dimana, Om?" Diya mengedarkan pandangannya.
"Ayo!" Dirga mengenggam tangan Diya.
Saat tiba di tepi danau, beberapa orang telah berada disana termasuk Esih. Diya mengerutkan kening dan melirik Dirga.
"Bukankah Om sudah bilang jika kita akan menikah hari ini."
"Hah?! A-apa? Menikah? Om, ini..."
"Iya, sayang. Kita akan menikah."
Dirga membawa Diya melewati beberapa orang yang akan menyaksikan pernikahan mereka.
"Om, bukankah ini terlalu cepat?" bisik Diya ke telinga Dirga.
Dirga terkekeh.
"Apa 15 tahun belum cukup untukmu untuk mengenalku?" balas Dirga.
Langkah Diya terhenti. Dirga ikut menghentikan langkahnya.
"Ada apa? Kau tidak mau menikah dengan Om?"
Diya menggeleng. "Justru aku sangat ingin dicintai oleh Om. Tapi, ini terasa seperti mimpi."
"Tapi, ini bukan mimpi sayang. Ayo, semua orang sudah menunggu."
Dirga kembali melingkarkan tangan Diya di lengannya. Mereka berjalan dengan senyum merekah di bibir. Sungguh semua yang hadir ikut kagum melihat Diya meski dirinya hanya memakai dress putih sederhana.
Dan di hadapan para saksi, Dirga mengucap janji pernikahannya bersama Diya. Usai sudah penantiannya selama lima belas tahun ini. Kini ia menemukan tambatan hati baru yang akan menemaninya hingga ujung usia.
Usai memberi selamat, Esih juga memberi nasihat untuk pengantin baru itu.
"Sekarang Nona harus bisa menjadi istri yang baik untuk Tuan Dirga. Melayani suami dengan baik. Dan Tuan, bibi titip Nona Diya ya. Bibi senang karena sudah memenuhi amanah orang tua Nona Diya untuk menjaganya hingga Nona Diya menikah."
"Terima kasih karena kau sudah menjaga Diya dengan baik disaat aku sibuk dengan pekerjaanku." ujar Dirga.
Tak jauh dari danau tempat mereka mengikat janji suci, ada sebuah aula yang ternyata sudah disiapkan oleh Dirga sebagai tempat resepsi kecil-kecilan pernikahannya dengan Diya.
Dirga menggenggam tangan dia dan membawanya masuk ke dalam aula. Di sana sudah tertata rapi dekorasi pernikahan mereka.
Diya berdecak kagum dengan kejutan yang diberikan oleh Dirga. Ternyata Dirga sudah menyiapkan semuanya.
Diya menatap dengan penuh kebahagiaan kearah pria yang sekarang menjadi suaminya.
"Terima kasih, Om." ucap Diya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Seharusnya Om yang mengucapkan terima kasih. Kamu sudah hadir mengisi hati Om yang kosong. Ayo kita menyapa para tamu." ajak Dirga.
Beberapa tamu Dirga hadir di sana termasuk teman-teman dekatnya.
Dan ternyata Dirga juga mengundang Alexa.
Alexa menatap Diya dengan tatapan tidak suka. Namun Diya begitu percaya diri karena Dirga memperkenalkan dirinya sebagai istri di depan teman-teman nya termasuk Alexa.
Hari berganti gelap, tamu tamu undangan Dirga yang datang satu persatu berpamitan pulang.
Dirga melirik kearah Diya yang sedang
memijat kakinya sendiri. Istri kecilnya itu pasti kelelahan. Pikir Dirga
Dirga menghampiri Diya yang sedang duduk sendiri.
"Maaf ya aku mengabaikanmu."
"Tidak apa, Om. Mereka adalah teman-teman Om."
"Baiklah. Sebaiknya kita pulang kau terlihat lelah."
Diya menganggukkan kepalanya. Kemudian Dirga menggenggam tangan dia dengan mesra dan berjalan menuju mobilnya.
Karena kelelahan Diya tertidur di dalam mobil. Dirga tersenyum memperhatikan istri kecilnya itu. Sungguh sebuah kebahagiaan yang tidak terkira bagi Dirga.
Setibanya dirumah Dirga mengangkat tubuh Diya Ala bridal style untuk pertama kalinya. Dirga merebahkan tubuh dia ke atas tempat tidurnya.
Dirga meminta Esih untuk melepaskan gaun yang dipakai Diya dan menggantinya dengan setelan piyama yang biasa Diya pakai. Setelahnya Dirga membersihkan diri di kamar mandi.
Malam ini sepertinya tidak akan menjadi malam pertama seperti layaknya pasangan pengantin baru. Dirga tidak tega membangunkan istri kecilnya hanya untuk melakukan kegiatan yang menyenangkan bagi pasangan suami istri.
Dirga membelai dengan lembut Puncak Kepala Diya, lalu mengecup pipinya berulang kali. Dirga pun ikut terlelap bersama Diya dengan memeluk tubuhnya erat.
bersambung
*Gimana malam pertama diya dan dirga ya? heheheh
nantikan kisah lanjutan mereka 😀😀