
Fendi Leonardo, pemuda tampan berwajah asli Melayu karena kedua orang tuanya memang dari Indonesia. Namun jangan salah, ketampanannya juga tak kalah dibanding pria-pria blasteran yang sering menjadi rekan bisnisnya. Pemuda yang masih berusia 25 tahun ini sudah mandiri dengan mendirikan perusahaannya sendiri yang ia beri nama Fendiya Holdings.
Semenjak kepulangannya dari Agung Group, Fendi masih terus memikirkan gadis yang ia lihat tadi disana. Gadis yang sudah lama dicarinya semenjak dikabarkan hilang karena orang tuanya terlilit hutang pada rentenir. Semua tetangganya tak ada yang bicara kemana gadis itu pergi.
Fendi hanya bertemu dengan gadis itu di saat liburan sekolah karena gadis itu adalah tetangga kakeknya. Semenjak kakeknya meninggal, orang tua Fendi jarang kembali kesana. Hingga akhirnya Fendi memutuskan untuk pergi kesana sendiri dan tak mendapati gadis itu ada disana lagi.
Usia mereka terpaut 5 tahun, tapi gadis itu sudah memikat hati Fendi diusianya yang bahkan baru menginjak 4 tahun. Mungkin terdengar gila karena saat itu Fendi baru menginjak usia 10 tahun.
Tapi karena rasa ingin melindungi gadis itu, membuat Fendi bertekad jika dia harus menemukan gadis itu dan menyelamatkannya. Fendi tahu hidup gadis itu selalu menderita karena ayahnya banyak berhutang pada rentenir. Saat itu ia hanyalah anak kecil yang tak memiliki kekuatan apapun. Tapi sekarang, bahkan banyak hal bisa ia dapatkan dengan hanya menjentikkan jari.
"Kak! Kak Fendi!" teriak seorang gadis dari depan pintu ruang kerja Fendi membuat lamunannya buyar seketika.
Dengan malas pemuda itu mempersilahkan si gadis masuk.
"Ada apa?" tanya Fendi yang tak pernah ramah ada adiknya itu.
"Ditunggu Papa dan Mama untuk makan malam." ucap gadis itu.
"Mama? Dia hanya mamamu, bukan mamaku!" balas Fendi sambil melewati tubuh gadis itu.
Gadis itu hanya bisa menghela nafas.
"Sabar! Mungkin dia hanya butuh waktu untuk menerima pernikahan Papanya dan mamaku."
.
.
.
Sementara itu, malam ini Diya ingin memberi kejutan pada suaminya. Ia bahkan sudah berkutat di dapur semenjak sore. Entah kenapa memikirkan suaminya yang banyak bersama rekan bisnis wanita, membuatnya jadi takut untuk kehilangan. Diya sudah pernah kehilangan. Kehilangan kedua orang tua dan seseorang yang berjanji akan melindunginya namun tak pernah kunjung datang padanya.
Mengingat hal itu membuat dadanya sesak. Ia sudah melupakan masa lalunya semenjak Dirga hadir dalam hidupnya.
"Sayang..." Dirga datang secara tiba-tiba dan langsung memeluk Diya dari belakang.
"Astaga!"
Suara berat suaminya membuat Diya terkejut.
"Kenapa memasak sambil melamun?"
"Ti-tidak. Aku tidak melamun. Om sudah pulang?" Diya berusaha melepaskan diri dari dekapan suaminya. Baru siang tadi mereka bertempur habis-habisan, apa sekarang suaminya itu meminta jatah lagi padanya?
"Om, pergilah mandi dulu sana! Setelah mandi kita makan malam bersama."
"Tidak mau! Kau pergi begitu saja dari kantorku tanpa berpamitan. Padahal kan kita akan bermain lagi." Dirga makin mengeratkan pelukannya.
"Om! Kalau Bi Esih lihat bagaimana? Om jangan begini!"
"Biarkan saja! Ini adalah rumahku. Dan aku bebas melakukan apapun disini."
Diya memutar bola matanya malas.
Pria ini tidak akan pergi jika tidak diberi sesuatu.
Diya segera mencium kilat bibir suaminya. Dan benar saja, seketika senyum terukir diwajah Dirga. Ia segera pergi ke lantai atas menuju kamar mereka.
"Huft! Dasar! Kenapa dia ternyata sangat mesum? Aku tidak menyangka dibalik sikap dinginnya ternyata dia sangat mesum dan posesif." gumam Diya kemudian melanjutkan memasak.
.
.
.
Malam bergairah kembali mereka lewati. Dirga seakan tak rela harus melepas istrinya barang sedetikpun. Meski Diya sudah mengatakan lelah, tetap saja Dirga menggempurnya hingga pagi. Alhasil lagi-lagi Diya terlambat bangun.
"Om!" Pekik Diya karena melihat suaminya sudah rapi dengan setelan jasnya.
"Om sudah rapi dan tidak membangunkan aku?" Diya cukup kesal dengan Dirga.
"Kau terlihat lelah, sayang. Makanya Om biarkan saja kamu terus tidur."
"Ini semua gara-gara Om. Harusnya Om tidak melakukannya hingga pagi." Diya mengerucutkan bibirnya.
Dirga tertawa dengan tingkah istrinya. "Dengar! Aku sudah menahannya selama 15 tahun, apa kau pikir sekarang aku akan melepaskanmu?" Dirga duduk di tepi ranjang dan mengusap bibir Diya yang selalu menjadi candu baginya.
Diya menatap manik suaminya. Ia tahu suaminya berkata jujur.
"Jadi, sudah selama itukah Om memendam perasaan Om? Lalu bagaimana denganku? Aku juga selalu sakit karena Om selalu bersikap kasar padaku. Marah-marah tidak jelas dan membuatku menangis. Apa Om pikir aku tidak tersiksa?" Mata Diya mulai mengembun. Dirga membawanya kedalam dekapan.
"Maafkan, Om. Sekarang Om tidak akan membuatmu menangis lagi." Dirga kembali obat candunya. Menyesapnya pelan, dan mulai memanas.
"Om!" Diya mendorong tubuh Dirga.
"Om akan berangkat ke kantor 'kan?" Sungguh Diya berharap Dirga akan melepaskannya kali ini.
"Hmm, masih terlalu pagi untuk berangkat ke kantor. Kita bisa menambah satu ronde lagi, sayang."
"Tidak, Om!" Diya menggeleng cepat.
Suara penolakan Diya nyatanya berubah menjadi lenguhan kenikmatan kala Dirga kembali merengkuhnya. Tubuh Diya terkulai dan kembali tertidur. Dirga menatap wajah istrinya yang kelelahan karena ulahnya. Meeting paginya terpaksa ia undur karena tak ingin melepaskan Diya.
Kekhawatiran mulai mengisi hatinya.
Apa kau akan tetap memilihku meski kau bertemu lagi dengannya? Pemuda itu sudah kembali. Dan aku yakin dia ingin merebutmu dariku. Aku tidak bisa membiarkannya. Kumohon tetaplah bersamaku.
Dirga memeluk tubuh Diya erat dan mengecup bibirnya berulang kali.
"I love you, baby..." bisik Dirga.
#bersambung...