
Pukul sepuluh malam lebih akhirnya Sivia dan Bayu tiba di tempat yang disebut Bayu sebagai Bukit Berbintang. Tempatnya memang berada di ketinggian. Jadi terlihat seperti bukit. Dari sana malam terlihat lebih indah. Cahaya bintang dan bulan terasa lebih dekat. Di tambah suasana malam kota dengan lampu berkelap-kelip.
Sivia nampak terkagum-kagum melihat pemandangan yang baru dilihatnya ini. Ia tak berhenti tersenyum lebar. Beban di hatinya terasa sedikit lebih ringan.
"Kamu tahu dari mana tempat ini?" tanya Sivia.
"Ya tahu lah. Aku mulai menghapal banyak tempat disini, hahaha."
"Dih, sombongnya--"
"Kamu sendiri yang sudah lama tinggal disini, kenapa malah gak tahu ada tempat bagus begini?"
"Entahlah, mungkin aku terlalu sibuk. Gak sempat mengeksplor lebih jauh tentang kota ini."
Tak terasa mereka sudah disana hingga tengah malam. Udara malam mulai dingin. Bayu meminta Sivia agar masuk ke dalam mobil saja.
"Terima kasih. Terima kasih karena kamu selalu memahami isi hatiku--" ucap Sivia.
"Tidak perlu berterimakasih, Vi. Aku kan sahabatmu. Dan kamu--- tidak bisakah kamu ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi? Apa hal yang membuatmu begitu murung akhir-akhir ini? Apa ini ... tentang tunanganmu? Katakan saja padaku, aku akan bersedia membantumu, Vi."
Tak ada jawaban dari sisi kirinya, Bayupun melirik ke arah Sivia. Dilihatnya Sivia sudah memejamkan mata. Ia terlelap. Bayu tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
Bayu mengubah posisi tidur Sivia agar lebih nyaman. Ia memundurkan kursi agar lebih miring ke belakang. Sivia menggeliat pelan.
Sekali lagi Bayu tersenyum. Sahabatnya ini memang gampang sekali tertidur kalau memang rasa kantuk sudah menyerang. Ditatapnya gadis kecil yang sekarang sudah tumbuh jadi gadis dewasa. Dibelainya pelan rambut Sivia yang terurai.
Maafkan aku, Vi. Aku sudah membuat luka dihatimu. Andai saja dulu aku tidak pergi, mungkin hidupmu akan lebih bahagia dari ini. Kalau pria itu hanya bisa membuatmu bersedih, kenapa kamu tidak melepasnya saja? Kamu berhak bahagia, Vi...
Bayupun ikut memundurkan kursinya, dan merebahkan tubuhnya. Iapun akan ikut terlelap malam ini.
...***...
Keesokan harinya, Sivia bangun dari tidrunya dan baru tersadar kalau ia tak pulang kerumah. Ia panik. Ia memeriksa ponselnya. Beberapa panggilan dari Nisa.
Tidak mungkin aku bilang aku bersama Dewa?!?
Dilihatnya Bayu yang masih terlelap. Sivia berpikir keras. Ia mengetik sebuah pesan pada Nisa.
-Sivia Dewi-
Nis... Kalau Ibu tanya aku kemana, bilang saja aku menginap di tempat Dina. Akan kujelaskan nanti. Dan tolong bawakan baju ganti ke salon. Please!!!
Sivia menanti balasan dari Nisa dengan harap-harap cemas. Ia merutuki dirinya sendiri. Bisa-bisanya ia tidur berdua disini bersama Bayu. Meskipun tak ada yang terjadi, tapi apa yang akan dilakukan Adniyan jika mengetahui tunangannya tidak pulang ke rumah dan malah bersama lelaki lain?
Sivia terus memukul-mukul kepalanya. Ponselnya berbunyi. Balasan pesan dari Nisa.
^^^-Anisa Putri-^^^
^^^Iya. Mbak berhutang banyak padaku soal ini. Jangan sampai berbohong lagi lebih dari ini.^^^
Huuuufftttt
Sivia menarik nafas kasar. Dilihatnya lagi Bayu masih terlelap. Sivia memutuskan membangunkannya.
"Dewa!!! Bangun!! Sudah siang. Aku harus pergi ke salon. Cepat antarkan kesana!!"
Bayu mulai menggeliat. Dan dengan berat mulai membuka matanya.
"Apaan sih, Vi. Masih pagi udah berisik aja!"
"Kenapa kamu gak anterin aku pulang semalam? Kenapa kita malah tidur di mobil begini?" Sivia mulai emosi melihat sikap santai Bayu.
"Kita kan gak ngapa-ngapain, Vi. Santai aja kali. Baiklah, aku akan mengantarmu pulang sekarang."
"Tidak!! Aku gak akan pulang. Antarkan saja ke salon."
"Oh, begitu. Baiklah. Sudah, jangan cemberut terus. Mukamu tambah jelek nanti."
"Dasar!!!" Sivia mengarahkan tinjunya pada Bayu.
...***...
Nisa menatap Sivia dengan tajam saat mereka sarapan bersama di cafe dekat salon.
"Kamu gak makan, Nis?"
"Mbak lapar, Nis. Tunggu sampai makanannya habis ya." pinta Sivia dengan tersenyum manis.
"Sebentar lagi aku harus berangkat kuliah, Mbak."
Sivia mengunyah dengan cepat semua makanannya. Dan meminum segelas teh manis hangat hingga habis setengahnya.
"Maaf, Nis. Mbak harus berbohong pada Ibu. Semalam---"
Nisa memelototkan matanya ke arah Sivia. "Semalam apa?"
"Semalam--- Mbak bersama Dewa--"
"HAH?!? Apa Mbak bilang? Mbak semalaman bersama Mas Bayu? Kalian ngapain?"
"Gak ngapa-ngapain kok. Bener!!! Sumpah!!!"
Nisa menyilangkan kedua tangannya. "Semalam kayaknya aku dengar suara mobil Mas Iyan sebelum tidur. Trus kenapa Mbak bisa sama Mas Bayu?"
"Itu--- harusnya semalam Mbak akan bilang semuanya ke Mas Iyan. Tapi--- Mas Iyan menahannya. Dia gak mau dengar apapun dari Mbak--"
"Trus Mas Bayu datang jemput Mbak?"
"Ya--- begitulah."
Nisa merasa sudah cukup puas mendengar penjelasan kakaknya. Ia pun pergi menuju kampus.
...***...
Ninna mendatangi kediaman mertuanya dengan mata memerah. Ia sudah dipuncak kemarahannya sekarang.
Semua hal yang selama ini disembunyikan oleh suaminya, akan ia bongkar ke hadapan keluarganya. Tentang masa lalu suaminya, bersama dengan Sivia, calon menantu keluarga Nugraha.
Betapa terkejutnya semua anggota keluarga yang mendengar penjelasan Ninna. Tak terkecuali Haris Nugraha. Ia tak pernah menyangka kalau calon menantunya adalah wanita yang pernah ditolaknya untuk jadi menantu beberapa tahun lalu.
"Cepat batalkan pernikahan ini, Pa!! Kita tidak mungkin jadi keluarga dengan perempuan itu!!!" ucap Ninna.
"Ninna!!! Jangan melewati batas. Aku dan Sivia tidak memiliki hubungan apapun sekarang. Tolong percaya padaku, Pa!" Aditya membela diri.
"Jangan main-main. Ini adalah sebuah pernikahan, kita tidak bisa memutuskannya sepihak. Sebaiknya kita dengar apa yang akan dikatakan Iyan soal ini." Martha menengahi.
Haris berpikir sejenak.
"Yang Martha katakan ada benarnya. Yang akan menikah adalah Iyan. Jadi sebaiknya kita tunggu keputusan dari Iyan saja."
"Yang benar saja!! Apa Iyan sudah mengetahui hubungan kalian, huh? Bisa-bisanya perempuan itu mendapatkan semua lelaki dirumah ini? Sudah sangat jelas dia mengincar uang kita." Ucap Yulia sinis ke arah Aditya.
Tak berapa lama, Adniyan muncul. Ia bingung melihat keluarganya seperti sedang bersitegang.
"Ada apa ini? Lho? Ada Kak Adit sama Kak Ninna juga?"
"Iyan! Ninna baru saja menjelaskan tentang sesuatu antara Kakakmu dan juga tunanganmu. Apa kamu tahu kalau mereka pernah berhubungan di masa lalu?" Potong Yulia dengan cepat.
DEG
Adniyan cukup terkejut mendengar pernyataan kakaknya. Namun ia berusaha menutupinya. Adniyan adalah orang yang sangat tenang dalam menghadapi masalah.
"Kamu belum tahu 'kan? Sudah kuduga mereka menyembunyikan ini darimu. Sebaiknya batalkan pernikahanmu dengan perempuan itu! Dia hanya memanfaatkanmu saja!" tambah Ninna.
Adniyan menatap kakaknya, Aditya yang tertunduk. Ia tetap bersikap tenang, meski yang lain terus memprovokasinya.
"Aku ... Aku sudah tahu." jawab Adniyan tegas.
"Eh?" Semua orang terkejut mendengar jawaban Adniyan.
"Aku sudah tahu soal hubungan Kak Adit dan Sivia. Dan itu adalah masa lalu. Jadi ... kalian tidak perlu membahasnya lagi. Dan soal pernikahan, itu adalah urusanku. Kalian tak perlu ikut campur."
Setelah mengucapkan jawaban yang membuat semua orang terdiam mematung, Adniyan pamit pergi menuju kamarnya.
"Aku lelah. Aku mau istirahat," ucapnya.
......