
"Tidak ada seorang ayah yang hampir mencium bibir putrinya. Apa Om yakin Om menganggap Diya sebagai putri Om?"
"Hah?!"
Dirga membulatkan matanya. Dirga tidak menyangka jika Diya akan mempertanyakan soal hal itu.
"Om, jawab! Apa Om memang menganggap aku sebagai putri Om?"
Dirga tersenyum.
"Sebaiknya kau kembali tidur. Besok bukankah kau harus ke kampus." ucap Dirga kemudian mengecup kening Diya.
Diya melihat punggung Dirga yang perlahan menjauh dari pandangannya.
"Bodoh kau, Diya! Mana mungkin Om Dirga menyukai anak kecil sepertimu? Kau bahkan terpaut 20 tahun dengannya." Diya memukul kepalanya pelan dan merutuki dirinya.
Diya kembali memejamkan mata berharap esok akan menjadi hari yang baik untuknya. Diya memeluk guling kesayangannya dan menuju alam mimpi.
Di kamarnya, Dirga segera menuju kamar mandi dan membersihkan diri. Ia mengguyur tubuhnya dibawah guyuran shower. Bayangan tentang Diya yang bertanya padanya tadi seakan berdengung di telinganya.
"Bodoh kau, Dirga! Kenapa kau berbuat nekat dengan menciumnya?!" rutuk Dirga dalam hati.
Usai membersihkan diri, Dirga merebahkan diri di tempat tidur. Ia berusaha terlelap meski hatinya masih berkecamuk dengan pertanyaan Diya.
Dirga menatap foto mendiang istrinya yang ada di atas nakas.
"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud mendua. Sungguh. Entah kenapa tatapan teduh gadis itu mengingatkanku padamu. Maafkan aku..." gumam Dirga.
Dirga akhirnya terlelap dengan memeluk foto mendiang istrinya.
.
.
Keesokan harinya, Diya sudah bersiap dan menyapukan sedikit make-up ke wajahnya. Ia harus tampil fresh untuk pergi ke kampus untuk mengaburkan perasannya yang terombang-ambing karena Dirga.
Diya menuruni anak tangga dan menuju meja makan. Pagi ini nampaknya berbeda untuk Diya karena dirinya tak mendapati sosok Dirga di meja makan.
"Om Dirga kemana, Bi?" tanya Diya pada Esih.
"Tuan sudah berangkat ke kantor, Nona."
"Haaahh!!" Diya menghembuskan nafasnya kasar.
Pasti Om Dirga kembali marah padaku karena pertanyaanku semalam.
"Nona, ada apa?" tanya Esih karena melihat Diya melamun.
"Tidak apa, Bi. Aku akan makan lalu berangkat. Tolong bilang Pak Munir untuk menyiapkan mobil."
"Baik, Nona."
Bahkan untuk menyantap sarapanpun Diya tak berselera. Otaknya sudah terpenuhi oleh Dirga, dan hanya Dirga. Kebersamaan selama 15 tahun ini haruskah berakhir dengan dingin begini?
Diya menggeleng cepat. Ia memutuskan untuk segera berangkat ke kampus dan bertemu dengan teman-teman. Mungkin dengan begitu Diya bisa melupakan sedikit perasaannya terhadap Dirga.
Tiga puluh menit perjalanan menuju kampus terasa singkat karena Diya hanya melamun sepanjang jalan.
"Nona, sudah sampai." ucap Munir.
"Eh? Sudah sampai ya, Pak? Terima kasih, Pak. Pulangnya tidak perlu menjemputku. Aku bisa pulang sendiri." Jawab Diya sebelum turun dari mobil.
Dari kejauhan, Echa melambaikan tangan pada Diya. Diya berjalan malas menghampiri Echa.
"Astaga, Nona muda! Ini masih pagi dan wajahmu sudah kau tekuk. Malu dong dengan matahari." Echa berucap sambil menunjuk keatas langit.
"Hahaha. Nona kau bisa saja." Echa merangkul bahu Diya.
"Eh, kau tidak masuk kampus kemarin? Pergi kemana kau?" selidik Diya dengan memicingkan matanya.
Echa hanya nyengir kuda. Diya memang ingin membahas soal Echa dan kekasihnya. Tapi bukan wilayahnya jika ia harus ikut campur urusan Echa dan pacarnya itu. Hatinya saja sedang kacau, mana bisa mengurusi hati orang lain.
"Eh, pulang kampus kita hangout yuk!" ajak Echa.
"Kemana lagi? Terakhir kali aku meninggalkanmu, aku minta maaf."
"Ah, lupakan saja. Kau kan sudah minta maaf padaku lewat pesan."
Diya tersenyum. Echa memang sahabat yang baik. Dia sangat pengertian dan dewasa. Terlepas dari pergaulannya yang diluar batas, Echa adalah teman yang baik.
Tak terasa jam perkuliahan berlalu dengan cepat. Diya dah Echa segera menuju parkiran kampus.
"Hari ini kau bawa mobil, Cha?"
"Iya. Sudah selesai dari bengkel. Yuk masuk!"
Tanpa disuruhpun Diya langsung masuk dan duduk disamping kursi pengemudi. Diya menyalakan lagu di radio dengan volume yang cukup keras.
Mereka berdua berdendang ria mengikuti alunan musik yang berbahasa inggris itu. Tubuh Diya bergoyang pelan karena mereka berada didalam mobil dan tak sebebas saat diluar ruangan.
"Eh, Ya, bagaimana kalau kita pergi ke klab selesai belanja?" usul Echa.
"Hah?! Ke klab? Maksudmu klab malam?" Diya masih tidak percaya dengan ajakan Echa.
"Iya lah, masa klab yang lain."
"Tapi..."
Diya tampak ragu menerima ajakan Echa. Bayangan tentang kemarahan Dirga beberapa hari lalu saat dirinya pergi dengan Echa masih terekam jelas di ingatannya.
"Kenapa, Di? Apa kau takut jika Om-mu akan memarahaimu?"
Diya mengangguk pelan.
"Astaga, Diya! Om-mu itu juga pernah muda. Dia pasti maklum dengan kehidupan anak-anak jaman sekarang macam kita. Sudahlah, aku akan membelamu jika Om-mu itu memarahimu. Oke?!"
Diya masih ragu. Tetap saja ia tak berani melawan perintah Om-nya itu. Ia hanya bisa menggigit bibir bawahnya karena merasa bingung dengan jawaban yang akan ia berikan pada Echa.
...***...
#bersambung
Jangan lupa dukungannya untuk karya receh mamak yg satu ini. Kuharap kalian tetap setia menemani sampai cerita ini selesai yaak 😊😊
Give me Like, Vote, Comments, and Gifts, Becoz U are my everything 💟💟💟
...TERIMA KASIH...
Genks
mampir juga ke karya othor keren di NT