
Sinar mentari pagi masuk melalui jendela kamar yang sedikit terbuka. Sivia masih terlelap di tempat tidurnya. Tak lama, Sivia mulai membuka matanya karena silau. Ia menggeliat dan beberapa detik kemudian matanya baru terbuka lebar. Entah apakah masih bermimpi atau tidak, tapi Sivia melihat Bayu sudah duduk di samping ranjangnya.
"Morning, beautiful..." sapa Bayu sambil membelai lembut puncak kepala Sivia.
"Dewa? Kamu sudah pulang?" Sivia memposisikan dirinya duduk.
"Maaf ya, beberapa hari ini aku meninggalkanmu sendirian disini. Ada pekerjaan mendesak yang harus kuurus."
"Jangan meminta maaf. Aku paham kok. Kamu tahu, senang sekali rasanya melihatmu ketika bangun dari tidur." ucap Sivia.
"Benarkah? Aku juga senang melihatmu ada di tempat tidurku. Sekarang sebaiknya kamu mandi dulu, dan aku akan buatkan sarapan spesial untukmu."
Sivia tersenyum lalu mengangguk. "Terima kasih..."
Beberapa menit kemudian, Sivia menuju meja makan. Sudah ada beberapa menu praktis sarapan disana.
"Wah, kayaknya enak. Aku makan ya!" Sivia akan duduk di meja makan namun di cegat oleh Bayu.
Sivia mengerutkan keningnya. Bayu melingkarkan tangannya di pinggang Sivia. Memeluknya mesra.
"Ada apa?" tanya Sivia.
"I miss you so much..." Bayu mendekatkan wajahnya ke arah Sivia.
Sivia tahu apa yang akan Bayu lakukan, dan dengan cepat tangannya menutup bibirnya.
Bayu berhenti. "Please... Just one kiss--" Pinta Bayu.
"Kita tidak boleh melakukannya lagi sebelum---"
"Baiklah." Bayu melepaskan tangannya. Kemudian berlutut.
"Menikahlah denganku!" Ucap Bayu.
"Heh?"
"Aku serius."
"Tapi kita harus memberitahu keluarga kita kan?"
"Tentu saja! Kita akan memberitahu mereka. Jadi, bagaimana? Marry me?"
Sivia tersenyum. "I do---"
Bayu merogoh sakunya dan memperlihatkan sebuah kotak cincin. "Sini jari kamu."
"Jadi, kamu sudah siapkan semua ini?" Sivia memandang jari manisnya.
"It's beautiful. Thank you."
"Just like you."
"Berarti, aku harus pindah kesini bersamamu?"
"Tentu saja. Aku gak mau kondisi geografis memisahkan kita lagi."
Sivia tertawa kecil. "Hmm kamu tuh. Yaudah ayo makan, aku lapar!"
"Gimana? Enak kan?" Tanya Bayu saat Sivia mulai menyuapkan sarapan paginya ke dalam mulut.
"Umm, enak kok. Good job, Honey!" Sivia tersenyum.
"Aku terbiasa hidup sendiri, jadi aku biasa melakukan semua ini. Kamu tenang saja, kamu punya calon suami yang amat sangat mandiri."
"Cih, kamu tuh. Kalo kamu sangat mandiri, untuk apa memintaku menikah denganmu?"
"Jangan cemberut dong. Aku hanya bercanda. Meskipun aku mandiri, aku tetap membutuhkan sentuhan wanita dalam hidupku."
"Apa katamu?!" Sivia mengepalkan tangannya ke arah Bayu.
"Hehehe, sayangku sangat sensitif sekali ya. Oh ya, aku sampai lupa. Ini ada oleh-oleh buat kamu."
"Apa ini?" Sivia membuka satu kantong paper bag yang di berikan Bayu padanya.
"Hahahaha." Sivia tertawa terbahak.
"Ini ... foto kamu sama Kim Jeong Un? Jadi kamu ke Korea Utara?"
"Hmmm, begitulah." Jawab Bayu dengan senyum yang aneh.
Sivia tak berhenti tertawa. Ia merasa pose mereka berdua sangatlah lucu dengan senyum yang dipaksakan.
Kembali ke Indonesia, Bayu mengajak Sivia ke suatu tempat di Kota Baru. Setelah menyelesaikan misi dengan baik, Bayu kembali mendapat cuti selama beberapa minggu untuk mengurus pernikahannya dengan Sivia.
"Ini tempat apa Dewa?" Tanya Sivia bingung.
"Aku kan sudah janji akan membawamu bertemu dengan Ibuku. Ayo!"
Dan Sivia baru menyadari kalau selama ini Bayu menyembunyikan Ibunya bukan di tempat yang jauh, tapi sama-sama di kota yang ia tinggali juga.
"Tunggu! Ini adalah ... panti jompo? Jadi selama ini kamu menyembunyikan Ibumu disini? Tega sekali kamu, Dewa!"
"Dengar dulu penjelasanku. Dia sendiri yang ingin tinggal disini. Dan dia disini sebagai relawan, bukan pasien. Dia melakukan hal yang ingin dia lakukan."
"Apa?"
"Ayo masuk! Aku yakin beliau sudah menunggu kita."
.
.
.
"Nyonya Nancy... Putra anda datang. Tapi ... kali ini dia tidak sendiri. Dia membawa seseorang."
"Sudah kuduga. Terima kasih Petty. Aku akan menemuinya." ucap Nancy dengan senyum bahagia.
Nancy berjalan menuju ruang tunggu. Disana dia melihat putra kesayangannya bersama Sivia sedang duduk menunggunya.
"Ibu!!" seru Bayu.
Nancy langsung memeluk putranya itu.
"Bagaimana kabar kamu, Nak?"
"Baik, Bu. Oh ya, Ibu masih ingat Sivia?"
"Apa kabar Tante?" Sivia mengulurkan tangannya.
"Tentu saja Ibu ingat. Setiap menelepon kamu selalu bercerita tentangnya. Jadi gimana? Misi kamu sudah berhasil kan?"
Sivia memandang ke arah Bayu yang sedang menggaruk kepalanya.
"Jangan tegang begitu. Ibu yakin Sivia mengerti kok. Dan ... Ibu merestui kalian. Cepatlah menikah lalu berikan cucu yang lucu untuk Ibu." Goda Nancy.
"Ibu apaan sih? Nikah aja belum udah ngomongin anak." Wajah Bayu merah padam mendengar candaan Ibunya.
.
.
.
Setelah berbincang dengan Nancy, Sivia dan Bayu berpamitan pulang. Mereka harus menemui keluarga Sivia untuk meminta restu juga.
Dan seperti yang sudah mereka duga, pihak keluarga Sivia juga memberikan restu mereka.
Selang beberapa hari, Sivia dan Bayupun menggelar pernikahan secara sederhana.
...Terkadang kita berpikir, saat kita membahagiakan orang lain, maka kita juga akan merasa ikut bahagia....
...Tapi, ada kalanya juga, kita harus mengejar kebahagiaan kita sendiri....
...Meski kadang penuh halang rintang, percayalah, akan ada tangis bahagia setelah kau menangis sedih. . ....
...~~~...
...H A P P Y...
...E N D I N G...
...~~~...