Raanjhana

Raanjhana
Part 4 : Om Dirga, I Love You



“Om…?” ucap Diya tercengang karena ternyata ia ditarik oleh Dirga.


“Ayo pulang!” Dirga menarik lengan Diya dengan kasar.


“Om, tapi Diya datang bersama Echa. Diya harus berpamitan dulu dengannya.” Diya berusaha melepaskan cengkeraman tangan Dirga, namun tenaganya tetap kalah dengan Dirga.


“Jangan membantah! Kau tahu bukan Om tidak suka dibantah.” Dirga tersulut emosi.


Dan sedetik kemudian Diya hanya diam dan tak memberontak lagi.


Dirga segera menuju ke parkiran dan meminta Diya masuk kedalam mobilnya. Dirga melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.


Diya memegangi erat seatbeltnya agar tidak terombang-ambing. Diya melirik kearah Dirga yang terlihat dipenuhi amarah di matanya.


“Om, bisa pelankan sedikit mobilnya? Diya takut!” ucap Diya sedikit gemetaran.


Dirga sama sekali tidak membalas dan tidak menatap Diya. Ia justru makin menginjak pedal gas.


“Om!!!” teriak Diya.


Dirga tetap tidak menggubris teriakan Diya. Diya mulai menitikkan air mata karena takut.


Tak sampai tiga puluh menit, mereka telah tiba di rumah mewah milik Dirga. Diya mengatur nafasnya yang memburu karena ulah Dirga.


"Apa yang Om lakukan? Apa Om ingin membuat kita berdua celaka?" seru Diya menunjukkan kekesalannya.


"Mulai besok kau tidak boleh bergaul dengan temanmu itu!" ucap Dirga tak kalah keras.


Mereka masih berdebat di dalam mobil.


"Kenapa memangnya? Echa adalah sahabatku. Dan dia adalah gadis baik-baik." sungut Diya.


"Oh ya? Gadis baik-baik?" Dirga memicingkan matanya.


"Mana ada gadis baik-baik membeli k*nd*m?" lanjut Dirga.


"Hah?! Ko apa?!" Ucap Diya mengerutkan dahi.


"Sudahlah! Pokoknya Om tidak mau jika kau masih bergaul dengan gadis itu!"


Diya benar-benar kesal dengan Dirga. Diya segera membuka pintu mobil dan menutupnya dengan keras. Diya berlari kecil memasuki rumah dan masuk ke kamarnya. Diya mengunci pintu kamarnya lalu merebahkan diri di ranjang queen size-nya.


Dirga memasuki rumah dan bertemu dengan Esih.


"Dimana Diya?" tanya Dirga dingin.


"Nona Diya masuk ke kamarnya dengan menangis, tuan." jawab Esih.


Dirga segera menyusul ke kamar Diya namun ternyata pintunya terkunci.


"Diya!!! Buka pintunya!!!" teriak Dirga dari depan pintu.


"Diya!!! Dengarkan, Om!! Kau akan dihukum jika kau tidak mematuhi perintah Om!!" teriak Dirga kembali dan masih tak ada respon dari Diya.


"Sudahlah, tuan. Menghadapi anak remaja seperti Nona Diya harus dengan kesabaran. Jika tuan juga emosi, maka tuan tidak bisa mengendalikan Diya." tutur Esih.


"Aku hanya melakukan yang terbaik untuknya, Bi. Aku tidak ingin Diya terjerumus dalam pergaulan yang salah."


"Iya, tuan. Bibi tahu. Tapi sebaiknya sekarang biarkan dulu Nona Diya beristirahat. Besok Nona pasti kembali seperti biasa." nasihat Esih.


"Iya, Bi. Kalau begitu tolong siapkan makan malam, Bi. Aku akan membersihkan diri dulu."


.


.


Hingga makan malam tiba, Diya masih mengurung diri di kamarnya. Sudah tidak terdengar suara isak tangis Diya.


Dirga meminta kunci cadangan kamar Diya agar bisa masuk kesana. Begitu pintu kamar terbuka, Dirga melihat Diya meringkuk di tempat tidur.


Diya terlelap karena sudah lelah menangis. Dirga menghampiri Diya dan duduk di tepi ranjang.


Dirga membenahi rambut Diya yang menutupi wajahnya.


"Ternyata kau memang bukan lagi gadis kecilku yang dulu. Kau sudah tumbuh dewasa. Aku hanya ingin menjagamu. Apa kau tidak bisa merasakan kekhawatiranku?" lirih Dirga dengan mengusap puncak kepala Diya.


Dirga kembali menutup pintu kamar Diya dan kembali ke kamarnya. Diya membuka mata ketika melihat Dirga sudah keluar dari kamarnya.


Diya menghela nafasnya kasar. Kini ia merasa bersalah karena tadi bicara kasar pada Dirga.


Maafkan Diya, Om. Diya tidak bermaksud menyakiti hati Om.


Diya memeluk gulingnya makin erat. Air matanya kembali menetes kala mengingat kemarahannya pada Dirga.


.


.


Keesokan harinya, Dirga sedang mematut dirinya di depan cermin. Ia sedang bersiap berangkat ke kantor.


Tok


tok


tok


"Om? Apa Om didalam? Apa aku boleh masuk?"


"Hmm..."


Diya dengan hati-hati membuka pintu kamar Dirga.


"Om..."


Diya berjalan mendekati Dirga dengan menundukkan wajahnya.


"Maafkan Diya, Om." ucap Diya lirih dengan masih menundukkan kepalanya.


Dirga menghela nafas lalu memandangi Diya yang tertunduk.


"Tolong ambilkan dasi milik Om." ucap Dirga yang membuat Diya mendongakkan kepalanya.


"Baik, Om."


Diya segera berlari ke walk-in-closet milik Dirga dan memilihkan satu dasi. Dirga mengikuti Diya dan berdiri dibelakangnya.


Pilihan Diya jatuh pada dasi berwarna biru langit cerah karena hari ini Dirga memakai setelan jas warna biru navy.


"Aku pakaikan ya, Om!"


Diya melingkarkan tangannya ke leher Dirga dan sedikit berjinjit agar bisa menyamai tinggi Dirga. Tubuhnya sedikit bergoyang dan akan terjatuh saat sedang memakaikan dasi, namun dengan sigap tangan Dirga memegangi pinggang ramping Diya.


Posisi mereka yang begitu dekat membuat kecanggungan kembali terjadi diantara mereka. Diya segera menyudahi memasang dasi dan segera berjalan mundur.


Namun tangan Dirga justru menarik pinggang Diya agar lebih mendekat.


"Om..."


Debaran hati Diya makin tak karuan dengan posisinya yang begitu dekat dengan Dirga.


CUP!


Satu kecupan membuat Diya membulatkan mata.


...***...


#bersambung...


Jangan lupa tinggalkan jejak ya kesayangan...


Yuks mampir juga ke karya mamak yg lain,