
"Hai sayang, kamu sudah pulang? Kok gak ngabarin aku?" Sapa Ninna pada suaminya.
"Dari mana saja kamu?" Tanya Aditya datar.
"Aku abis lihat rumah baru kita."
"Rumah baru? Untuk kita?" Aditya mengernyitkan dahi.
"Tentu saja untuk kita. Aku gak mau terus-terusan tinggal disini sama mertua. Maksudku, bukannya aku gak suka tinggal dengan orang tuamu. Tapi-- aku ingin kita punya privasi sendiri."
"Papa gak akan setuju. Kamu tahu 'kan dia ingin semua anak-anaknya tinggal dalam satu rumah."
"Pemikiran macam apa itu? Sebentar lagi adik kamu akan menikah, biar mereka saja yang tinggal disini. Aku yakin Papa akan mengabulkannya. Aku adalah menantu kesayangannya." ucap Ninna percaya diri dengan memeluk suaminya.
"Terserah kamu saja. Aku capek, mau tidur. Kamu juga bersihkan dirimu lalu tidur."
.
.
.
Aditya sudah menikahi Ninna hampir dua tahun lamanya. Hubungan mereka bisa dikatakan baik-baik saja. Karena hubungan mereka memang terasa sangat datar. Tiap hari mereka sibuk dengan aktifitas masing-masing. Aditya yang sibuk mengajar di kampus. Dan istrinya yang sibuk dengan teman-teman sosialitanya dan juga teman arisannya.
Setelah pertunangan Adniyan dan Sivia, Aditya makin tak bisa mengontrol diri. Ia cemburu dan juga marah. Mempertanyakan banyak hal dalam hatinya. Mengumpati orang tuanya sendiri. Papanya tak pernah mengabulkan satupun permintaannya. Sedang untuk Adniyan, Papanya rela melakukan apapun asal Adniyan bahagia.
Apa karena aku tak mau mengurus perusahaan? Meski aku memilih jalanku sendiri, tapi aku tetap anakmu 'kan, Pa? Bagaimanapun juga, aku adalah darah dagingmu. Kenapa aku tak bisa bahagia? Bahkan sekarang aku harus melihat wanita yang kucintai bersanding dengan adikku sendiri. Takdir macam apa ini? Ini sungguh tidak adil.
...***...
Nisa sudah meyakinkan Sivia kalau semua barang-barang kenangan antara kakak dan mantan kekasihnya dibuang tak bersisa. Nisa merasa iba pada kakaknya.
"Mbak--"
"Hmm..."
"Kapan Mbak mau bilang sama Mas Iyan?"
Sivia yang sedang menjahit sapu tangan, seketika berhenti. Sivia memang lebih suka hal-hal berbau keterampilan seperti menjahit dan memasak.
"Mbak juga belum tahu. Bagaimana reaksi Mas Iyan saat mengetahui yang sebenarnya? Rasanya Mbak ragu, Nis. Bagaimana kalau Mas Iyan tidak bisa menerima Mbak?"
"Kalau begitu, mungkin itu adalah yang terbaik." jawab Nisa enteng.
"Eh? Maksud kamu--"
"Mbak harus melepas Mas Iyan. Karena-- Nisa sendiri kalo jadi Mbak, belum tentu bisa menghadapi semua ini. Jadi satu keluarga dengan mantan? Umm, rasanya sulit. Pasti bakal ada yang mencurigai kita terus menerus. Apalagi keluarga mereka kaya, nanti Mbak bisa dikira mengincar harta keluarga mereka."
"Iya, Nis. Kamu benar. Bahkan sekarangpun, Mbak rasanya gak bisa bernafas."
"Mbak sabar ya. Pasti semua ada jalan keluarnya. Aku yakin Mas Iyan orang yang bijak." Nisa mengusap pelan punggung kakak tersayangnya itu.
"Makasih, Nis. Senang rasanya punya seseorang disamping Mbak sekarang."
"Mbak ngomong apa sih? Nisa kan selalu ada buat Mbak. Ngomong-ngomong, Mbak bikin sapu tangan untuk siapa?"
"Entahlah. Mbak hanya membuatnya karena untuk mengusir kebosanan."
"Jaman sekarang sudah jarang orang kasih hadiah sapu tangan, Mbak."
"Maka dari itu, kita harus membudidayakan budaya yang sudah hampir punah. Lagipula, sapu tangan memiliki arti yang dalam saat kita memberikannya."
"Contohnya?"
"Benda kecil ini, bisa menghapus kesedihan saat seseorang merasa terluka dan kecewa. Lalu, bisa menghapus lelah saat seseorang penuh dengan peluh."
"Huuffttt, gak paham aku lah, Mbak. Sudah ah, aku mau tidur saja. Mbak jangan kemalaman menjahitnya."
"Dasar kamu, Nis."
Sivia memandang sapu tangan yang sedang dijahitnya. Sapu tangan itu berwarna biru muda.
Akan kepada siapa sapu tangan ini berada? Aku masih belum mengetahuinya. Mungkin juga, ini adalah milikku sendiri. Karena aku-- sedang bersiap menghadapi kesedihan atau juga kebahagiaan.
...***...
Pagi itu, keluarga besar Nugraha sedang sarapan bersama. Ninna yang semalam berdiskusi dengan Aditya tentang pindah rumah, pagi ini akan memberanikan diri meminta ijin pada ayah mertuanya. Selama ini, semua keinginan Ninna selalu dituruti oleh Papa mertuanya. Karena dia memang menantu pilihan yang sengaja dijodohkan dengan Aditya.
"Mumpung kita semua sedang berkumpul disini. Ada yang mau aku dan Mas Aditya sampaikan ke kalian." Ninna memulai.
"Aku dan Mas Adit sudah sepakat, kalau kami akan pindah dari sini. Orang tuaku memberikan hadiah rumah untuk kami, jadi--"
"Itu gak mungkin! Papa gak akan setuju. Benar kan Pa?" Yulia memotong.
Haris tampak berpikir sejenak. "Kenapa tiba-tiba?"
"Sebenarnya ini sudah agak lama kami rencanakan. Hanya saja, kami menunggu waktu yang tepat untuk memberitahu kalian. Lebih tepatnya, menunggu Iyan menikah."
"Tapi aku kan belum menikah, Kak." Timpal Adniyan.
"Kamu sudah bertunangan. Dan sebentar lagi akan menikah. Dan setelah itu, Iyan dan istrinya akan tinggal disini juga. Aku mohon, Pa. Aku dan Mas Adit ingin punya privasi sendiri. Anggap saja kami sedang berbulan madu. Aku janji akan sering berkunjung kemari." Ninna menghampiri ayah mertuanya, dan bergelayut manja.
"Bilang saja kalau kamu gak suka mengurus mertuamu, hah?" Rita ikut berkomentar.
"Tentu saja bukan begitu, Ma. Aku senang tinggal bersama Papa dan Mama mertua. Hanya saja, sekarang sudah waktunya kami memiliki waktu kami sendiri. Ayolah, Pa! Ijinkan kami pindah."
Haris menghela nafas. "Kapan rencana kalian akan pindah?"
"Secepatnya. Kalo Papa mengijinkan, aku akan langsung meminta orang untuk membereskan rumah baru dan barang-barang kami."
"Aku gak ikutan. Aku sudah terlambat ke kantor. Aku berangkat dulu, Pa, Ma!" Adniyan pergi meninggalkan kakak dan Papanya yang masih berdiskusi.
"Papa punya tradisi ingin berkumpul bersama dengan anak dan menantunya juga cucunya, makanya Papa membangun rumah dengan beberapa mansion di dalamnya. Kalau kalian ingin pindah seperti ini-- itu akan menyakiti hati Papa. Adit, kamu tahu itu 'kan?" Martha angkat bicara.
"Maaf, Kak. Aku tidak bermaksud untuk--" Aditya merasa tak enak hati, namun ucapannya langsung terpotong oleh istrinya.
"Itu hanya keinginan, Kak. Bukan tradisi. Di keluargaku tidak ada hal semacam ini. Orang tuaku selalu memberikan rumah baru untuk anak-anaknya yang sudah menikah. Aku harap kalian bisa mengerti keputusan kami. Kami tetap jadi anak dan menantu disini meski kami tidak tinggal disini." Sanggah Nina.
"Papa selalu menuruti keinginan menantu kesayangan Papa ini. Mama gak akan ikut campur. Semua terserah Papa saja." Rita pun ikut angkat kaki dari meja makan.
"Baiklah. Jangan berdebat lagi. Papa memang ingin agar anak-anak dan menantu Papa tinggal disini bersama Papa, karena Papa ingin menikmati hari-hari tua Papa bersama dengan kalian, anak dan menantu. Tapi-- kalau Ninna bersikeras ingin pindah dari sini-- dan karena ingin kalian punya privasi sendiri. Papa tidak bisa menolaknya."
"Pa---" Martha kecewa dengan jawaban Papanya.
"Sudahlah, Kak. Gak perlu kecewa. Papa memang hanya akan mendengarkan menantu kesayangannya." Balas Yulia sinis.
"Terima kasih banyak ya, Pa." Ninna memeluk ayah mertuanya. Sementara Aditya justru berpamitan dan meninggalkan ruang makan.
"Papa lihat sendiri kan, gak ada gunanya punya anak laki-laki. Mereka hanya akan pergi meninggalkan Papa. Setelah menikah, anak laki-laki akan direbut oleh istrinya dan dibawa pergi. Lihat saja nanti, setelah menikah Iyan juga akan pergi dari rumah ini." Yuliapun melangkah pergi dari ruang makan.
Haris hanya terdiam.
"Kak Yuli--- bukankah ucapanmu itu terlalu kejam? Aku bukan seperti itu--" ucap Ninna lirih.
...***...
Satu minggu telah berlalu, sejak Bayu meminta ijin agar bisa kembali ke negara asalnya. Sudah satu minggu pula Bayu berkutat dengan pekerjaannya. Ia sangat rindu akan kampung halaman. Terutama-- dengan seseorang yang membuatnya tak bisa terlelap akhir-akhir ini. Sudah terlambat baginya untuk menggagalkan apa yang sudah terjadi. Sekarang ia hanya bisa berpasrah, menerima takdir yang akan terjadi padanya esok.
Dan hari ini, akhirnya kerinduan itupun sirna. Bayu sedang dalam perjalanan menuju Indonesia. Ia mendapat imbalan atas pekerjaan yang berhasil ia selesaikan. Ia menghubungi teman-temannya dan mengabarkan kalau dirinya akan pulang. Namun hanya satu orang yang belum dia beri tahu soal kepulangannya.
*
*
*
"Mbak... coba lihat siapa yang datang?"
Sivia baru tiba di rumah, dan Nisa langsung mengajukan pertanyaan yang membuatnya bingung.
"Siapa, Nis?" Sivia mulai memasuki rumah karena tangannya ditarik oleh Nisa.
Ada seseorang yang sedang duduk di ruang tamu rumahnya. Sivia tak mengenali tamu itu karena tamu itu duduk membelakangi dirinya.
Mengetahui Sivia sudah berdiri membelakanginya, tamu itu berdiri dan membalikkan badan. Lalu nampaklah seorang pria berpostur tubuh tinggi berotot dan tampan dengan warna kulit kecoklatan karena banyak tersengat matahari, namun tak mengurangi ketampanan wajahnya.
Sivia memandangi lekat-lekat si pria yang ada dihadapannya ini. Ia agak lupa apakah pernah bertemu dengan pria ini sebelumnya atau tidak.
"Apa kabar, Dewi? Lama tidak berjumpa--" ucap si pria.
Mata Sivia membulat penuh ketika mendengar nama tengahnya disebut. Pria ini adalah orang yang dikenalnya. Pria yang sudah lama di nanti kedatangannya oleh Sivia.
"De--wa--?!?" Sivia terbata menyebut nama si pria.
......
"Yuk lah dukung dong karya receh ini, wkwkwkwkwk 😅😅