
Paris, Perancis
Terdengar bunyi barang-barang pecah di sebuah kamar apartemen mewah di pusat kota Paris. Kamar itu berantakan dengan kondisi yang cukup parah. Barang-barang seperti piring dan gelas semua pecah tak berbentuk.
Teriakan demi teriakan telah lolos dari bibir seorang gadis cantik yang membanting barang-barang itu. Ia berteriak kesal dan memaki dirinya sendiri.
"Aaarrrggghhh!!!" gadis itu mengerang marah.
"Jessline!!! Apa yang kau lakukan?"
Kedatangan Marc membuat Jessline berhenti sejenak.
"Aku tidak bisa terima, Marc!"
"Tenangkan dirimu, Jess."
"Kenapa harus dia?!" Jessline menggeram kesal.
Saat Jessline dikejar oleh Ana namun tak berhasil, Jessline terhenti dan melihat jika Ana ditolong oleh seseorang. Dari kejauhan ia seperti mengenali orang yang menolong Ana.
Tiba di apartemennya, Jessline segera mencari tahu siapa pria yang bersama Ana. Ia merasa tak asing dengan pria itu.
Jessline amat kesal setelah tahu jika pria yang bersama Ana adalah Grey. Pria yang digilai banyak wanita di London.
"Kenapa harus dia, Marc? Ana bersama dengan Grey! Grey adalah pria idaman untuk semua gadis di London." Jessline kembali membanting barang.
"Jadi kau marah hanya karena sepupumu bersama dengan Grey?" Marc bertanya dengan senyum getir.
"Dulu kau mendapatkan pria kaya raya seperti Mike, tapi kau malah memilihku. Sekarang setelah bersamaku, kau malah memikirkan pria lain karena tak ingin kalah dari sepupumu. Sampai kapan kau akan bersikap begini, Nona? Aku bahkan rela menjadi penjahat demi dirimu, Nona."
Semua kata-kata Marc membuat Jessline tertegun.
"Jika kau masih memikirkan pria lain, maka lebih baik aku menyerahkan diriku ke polisi. Aku sudah tidak sanggup harus terus bersembunyi."
"Sial! Pria bodoh ini ternyata pintar juga. Aku tidak akan membiarkan dia pergi begitu saja." batin Jessline.
Tak mau Marc makin marah, Jessline segera menghampiri Marc dan memeluknya.
"Maafkan aku, Marc. Aku tidak bermaksud menyakitimu." Jessline mulai mengeluarkan jurus rayuan untuk Marc.
"Kau sendiri tahu jika aku hanya mencintaimu..." Jessline mulai memberikan ciuman pada Marc. Ia tahu jika Marc tidak akan bisa menolaknya.
"Jangan pergi, Marc. Aku janji tidak akan membahas tentang Grey lagi. Tapi, kuharap kau mau membantuku. Ada yang harus kulakukan dengan itu." Bisik Jessline yang membuat bulu kuduk Marc meremang.
Jessline kembali memberikan ciuman panas untuk Marc. Hingga akhirnya tubuh mereka berdua bergelung diatas tempat tidur dan berbagi kenikmatan bersama.
......***......
London, Inggris.
Satu hari setelah kembali dari Paris, Ana dan Grey tetap tinggal di apartemen. Pagi ini, Grey bangun lebih dulu karena ingin menghubungi seseorang. Siapa lagi kalau bukan Todd.
Grey melihat Ana yang masih terlelap usai pergumulan hangat mereka semalam. Grey sangat suka saat mendengar suara desa'han Ana.
Grey meraih ponselnya dan menghubungi nomor Todd. Tersambung.
"Halo, Todd. Maaf sepagi ini aku menganggumu."
"Tidak apa. Ada masalah apa, Tuan?"
"Kau sudah menemukan jejak Alonso, bukan? Kini kau harus mencari jejak putrinya juga. Aku bertemu dengannya saat di Paris. Sepertinya dia menetap disana. Kau suruh anak buah terbaikmu untuk mengawasi gerak gerik gadis ja'lang itu. Aku ingin dia dan ayahnya mendapat balasan yang setimpal atas apa yang telah ia lakukan pada Ana dan keluarganya."
"Baik, Tuan. Akan saya laksanakan!"
Panggilan berakhir. Grey kembali menghampiri Ana dan mengecup bibirnya singkat.
Malam harinya, Grey datang ke mansion ayahnya untuk makan malam bersama sekaligus ia ingin meminta restu pada ayahnya terkait hubungannya dengan Ana. Grey duduk berhadapan dengan ayahnya.
"Bagaimana urusan bisnismu di Paris, Nak? Apakah semuanya lancar?" tanya Alfred.
"Iya, lancar. Seperti yang Daddy tahu, aku adalah pebisnis yang handal."
"Daddy tahu kau pasti bisa melakukan semua dengan baik."
Grey mengangguk. Ia berpikir sejenak untuk mengatakan perihal hubungannya dengan Ana.
"Umm, Dad. Sebenarnya ada yang ingin kusampaikan padamu."
"Aku ... aku mencintai seorang gadis, Dad. Dan aku ... aku sudah menikah dengannya."
Alfred masih terdiam. Ia cukup terkejut sekaligus senang dengan pernyataan putranya.
"Siapa gadis itu, Nak?"
"Daddy mengenalnya."
Alfred mengernyitkan dahi. "Katakan!"
"Putri Uncle Alfonso Gerardo, Anastasia Gerardo."
"Eh? Kau tidak bercanda 'kan, Nak?"
"No, Dad. Kami saling mencintai dan memutuskan menikah."
Alfred tersenyum. "Daddy senang kau memilih gadis seperti Ana."
"Jadi, Daddy setuju?"
"Sebenarnya Daddy agak kecewa karena kau tidak meminta restu terlebih dahulu sebelum menikah. Tapi, sebagai orang tua yang baik, Daddy tentu merestui kalian. Apalagi sebenarnya ... Daddy berniat untuk menjodohkanmu dengan Ana."
"Apa?! Kapan Daddy berencana begitu?" Grey merasa tak terima.
"Ha ha ha, kau ini. Apa kau sangat senang karena Daddy ingin menjodohkanmu dengan Ana?"
Grey tidak menjawab. "Banyak hal yang terjadi antara diriku dan Ana, Dad. Aku banyak menyakitinya."
"Tapi kau kini malah mencintainya?"
"Yeah, begitulah. Aku tidak bisa kehilangan dia, Dad."
"Kalau begitu kau harus menjaganya dengan baik."
Grey mengangguk.
"Dan Daddy rasa, sebaiknya kau rahasiakan dulu pernikahanmu dengan Ana. Akan banyak musuh yang pasti mencari kelemahanmu. Jika mereka tahu tenang Ana, maka bisa saja Ana berada dalam bahaya." papar Alfred.
"Daddy benar. Jangan sampai apa yang menimpa Mommy juga terjadi pada Ana."
"Lalu kalian tinggal dimana?"
"Apartemen."
"Kapan kau akan membawa Ana menemui Daddy?"
"Aku akan bicara dulu dengan Ana. Dia pasti senang karena Daddy menerimanya."
"Selamat, Nak. Semoga kau bahagia bersama Ana."
"Terima kasih, Dad."
Hubungan Alfred dan Grey yang sudah membaik, membuat semua rencana Grey berjalan dengan baik.
......***......
Tiba di apartemennya, Grey mencari keberadaan Ana. Ia sungguh merasa lega dan senang setelah mendapat restu dari ayahnya.
"Sayang... Dimana kau?" seru Grey menyusuri ruang di apartemennya.
Tanpa Grey duga, ternyata Ana sudah tertidur di kamar.
"Ana... Kau pasti lelah seharian menjadi seorang istri dan juga bekerja." Grey duduk di samping Ana dan membelai rambut panjangnya.
"Setelah ini kita akan selalu berbahagia. Alonso dan Jessline sebentar lagi akan ditemukan. Kau bisa menghukum mereka sesuka hatimu, Ana. Mereka memang antas dihukum."
Usai bermonolog, Grey mengganti bajunya dengan piyama yang sudah di sediakan Ana dan ikut menuju alam mimpi bersama Ana.
......***......
#bersambung
Jangan lupa tinggalkan jejak ya kesayangan 💜💜💜