
Hari ini akan diadakan pesta resepsi pernikahan Diya dan Dirga yang sebenarnya di sebuah ballroom hotel mewah, Royale Hotel. Resepsi pernikahan yang sempat tertunda karena belum siapnya Diya untuk mempublikasikan pernikahannya dengan Dirga. Kini setelah beberapa waktu lalu cinta mereka diuji, Diya telah siap mengumumkan kepada seluruh dunia jika Diya mencintai Dirga, bukan karena Dirga seorang duda tampan kaya raya, tapi karena ketulusan hatinya telah membuat Diya jatuh hati padanya.
Para tamu undangan bertepuk tangan saat kedua mempelai mulai memasuki ballroom hotel itu. Semua mata tertuju pada sepasang insan yang saling mencintai itu. Perjuangan cinta mereka telah mematahkan jauhnya rentang usia diantara mereka. Mereka membuktikan kuatnya cinta walau berbeda generasi.
Dirga tersenyum bahagia begitu juga dengan Diya. Mereka menyalami satu persatu tamu yang datang. Senyum merekah selalu Diya tampilkan saat menyalami para tamu. Sungguh kebahagiaannya tidak terkira hari ini.
Dirga menyapa satu persatu rekan bisnisnya yang datang. Dirga melihat Hernan, sahabatnya datang bersama istri dan putra mereka yang sudah menginjak usia remaja.
“Selamat ya, Ga. Akhirnya kau menemukan pelabuhan terakhirmu,” ucap Hernan.
“Terima kasih, Hernan. Sepertinya kau dan Nisha makin lengket saja meski sudah belasan tahun menikah,” balas Dirga.
“Tentu. Kami selalu menyempatkan waktu untuk pergi berdua saja tanpa ada yang mengganggu,” jawab Nisha.
“Benar, Ga. Kau harus berbulan madu dengan istrimu. Jangan terus memikirkan pekerjaan.”
“Oke! Apa kau punya rekomendasi yang bagus untuk kami?”
Nisha dan Hernan saling pandang dan saling melempar senyum.
...…***…...
“Apa?! Miami?” seru Diya ketika mendengar kata bulan madu dari mulut Dirga.
“Iya, sayang. Hernan dan Nisha bilang disana sangat bagus untuk berbulan madu. Itu adalah tempat pertemuan pertama mereka.”
“Jadi, Paman Hernan dan Bibi Nisha bertemu disana? Wah, sungguh kisah yang romantic. Sangat berbeda denganku yang harus bertemu Om saat para rentenir itu mendatangiku.” Wajah Diya berubah sendu.
“Hei, sayang. Jangan bersedih. Itu adalah momen terbaik dalam hidupku.” Dirga merangkum wajah Diya.
“Benarkah?”
“Benar. Om tidak berbohong. Kau adalah bahagiaku. Semoga Om juga menjadi bahagiamu…”
“Tentu saja. Om adalah sumber kebahagiaanku…” Diya memeluk suaminya itu dan mendapat balasan pelukan yang hangat pula dari Dirga.
Keesokan harinya Diya dan Dirga bersiap untuk berangkat ke Miami, Florida. Diya sangat bersemangat saat tahu jika disana hamparan pasir putihnya sangat indah. Perjalanan panjang pun tak membuat Diya lelah sama sekali.
Ketika tiba disana, Diya tak berhenti berdecak kagum dengan ciptaan yang Maha Kuasa itu. Sebenarnya di Negara asal Diya juga banyak pantai yang bagus mulai dari Labuan Bajo, Raja Ampat, Kuta, Lombok, dan masih banyak lagi.
“Om, kemarilah!” Diya mengajak Dirga agar bergabung bersamanya bermain bersama air laut.
Dirga hanya tersenyum melihat kebahagiaan istrinya itu.
“Om Dirga, I LOVE YOU!!!” teriak Diya tanpa rasa malu.
Dirga menggeleng pelan melihat tingkah istrinya itu. Dirga ikut bergabung bersama Diya dan bermain air laut. Tawa Diya terus mengembang.
“Semoga hingga diujung usiaku, aku akan terus melihat senyuman diwajahmu, Hanindiya Agung,” batin Dirga.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang sedari memperhatikan mereka. Orang itu tersenyum getir dengan kebahagiaan yang dirasakan oleh Diya dan Dirga.
“Tuan! Sudah saatnya pergi rapat,” sela sang asisten agar tuannya kembali fokus mengurus pekerjaan.
“Hmm.” Tuannya hanya menjawab dengan dehaman.
“Baik, Tuan.” Jawab sang asisten, Ahdan.
Usai meeting, Fendi ke kembali ke kota New York. Kota yang sudah beberapa bulan ini ia singgahi bersama adik tirinya yang melanjutkan studi di Amerika. Tubuh lelahnya tak bisa dikompromi karena mengurus perusahaan ayahnya tak semudah yang ia kira.
“Kak, kakak ingin mandi dulu atau ingin makan malam dulu?” Tanya Lily sopan saat Fendi tiba di apartemen.
Fendi tidak menjawab dan malah menatap sinis Lily. “ Kau ini bodoh atau idiot? Tentu saja orang yang baru pulang dari kantor lebih memilih mandi terlebih dahulu. Ditambah aku baru dari luar kota. Apa otakmu tak bisa kau gunakan, huh?!”
“Ma-maaf, Kak. Kalau begitu aku akan siapkan air hangat untuk kakak.” Lily segera berlari ke kamar Fendi dan mengisi air di bathup. Ia menambah sedikit aromaterapi agar Fendi lebih rileks setelah lelah bekerja.
“Kau tahu siapa yang kulihat tadi?” suara berat Fendi membuat Lily berjingkat kaget.
“Ti-tidak, Kak.” Lily menjawab dengan menundukkan wajahnya.
“Hahahaha, kau memang bodoh!”
Lily makin menundukkan wajahnya.
“Diya! Aku melihat Diya bersama suaminya. Andai saja dulu kau tidak mengacaukan rencanaku, pasti aku bisa mendapatkan Diya!” Fendi mencengkeram erat lengan Lily.
“Kak, bukan aku yang…”
“Ah, sudahlah. Mana ada maling yang mengaku! Sekarang, kau harus menerima hukumannya karena telah mengacaukan rencanaku!” seringai Fendi sangat mengerikan bagi Lily.
“Kak, jangan!!!” teriak Lily.
...…***…...
Tak terasa satu tahun telah berlalu dengan cepat. Cinta Diya dan Dirga makin subur setelah dipupuk dengan rasa kasih sayang dan rasa percaya diantara keduanya. Hari ini adalah hari ulang tahun Dirga. Hari yang harusnya membahagiakan untuk mereka karena kini telah tumbuh juga benih cinta mereka yang tumbuh sehat dalam rahim Diya.
Namun Dirga tetap tidak menginginkan adanya perayaan mewah ataupun sekedar ucapan selamat untuknya. Dirga lebih memilih menghabiskan waktu di tempat ini seperti tahun-tahun sebelumnya.
“Aku yakin kau juga sudah bahagia disana. Kini aku juga sudah bahagia dengan istri dan calon anakku. Kau adalah cinta pertamaku dan aku tidak akan pernah lupa akan hal itu. Tapi kini cintaku harus kubagi pada cinta terakhirku dan juga anakku. Terima kasihkarena sudah memberikan cinta untukku. Sungguh aku tidak menganggap Diya sebagai penggantimu. Karena kau tidak akan bisa tergantikan oleh siapapun hingga kapanpun itu. Sekali lagi, terima kasih, Asha…” gumam Dirga dalam hati sambil menaburkan bunga di makam mendiang istrinya.
“Aku memang tidak mengenalmu. Tapi aku tahu jika kau adalah wanita yang baik. Kau adalah cinta pertama suamiku. Dan akan selalu begitu. Kini ijinkan aku untuk memiliki hati suamimu seutuhnya. Aku berjanji akan menjaga cinta kami hingga maut memisahkan. Semoga kau bahagia disana. Do’a kami selalu menyertaimu.”
Usai berdiam diri sejenak disana, mereka akhirnya memutuskan untuk meninggalkan makam yang bertuliskan ‘Asha Hadinata’ di batu nisannya. Dirga merangkul bahu istrinya dengan mesra. Seulas senyum tersungging dari bibir Dirga. Diya membalas senyuman suaminya.
“I love you, Om Dirga. ‘Till death do us apart.” Bisik Diya ke telinga Dirga.
...T A M A T...
...…***…...
Terima kasih yang sudah mengapresiasi karya receh kedua di Raanjhana ini. terima kasih untuk yg sudah kasih Like, komen, Gift dan juga Vote, juga rate 🌟5. Semoga kebaikan kalian dibalas oleh Tuhan YME, aamiin.
Setelah ini ada kisah baru lagi yak. So, stay tuned terus dan favoritkan cerita ini.
Coming UP Story 👇👇👇
GREY ARDANA PUTRA