
“Nisha, ayo pulang!” ucap Grey.
“Tidak bisa! Nisha akan pulang denganku!” balas Hernan
dengan menatap tajam kearah Grey.
Nisha berada dalam dilema. “Bagaimana ini? Kenapa mereka
datang bersamaan begini?” batin Nisha.
“Tu-tunggu dulu! Apa yang kalian lakukan?” Tanya Nisha pada
kedua pria disampingnya.
“Aku datang kesini untuk mengantarmu pulang. Ayo pulang,
Nisha. kau akan pulang bersamaku bukan? Lebih menyenangkan mengendarai motor
daripada naik mobil.” Ucap Grey percaya diri.
“Hei bocah! Sangat berbahaya berkendara dengan motor. Nisha,
kau akan ikut denganku ‘kan? Ayo!” Hernan menarik tangan Nisha.
Namun Grey tak mau mengalah, ia pun menarik tangan Nisha.
jadilah sekarang terjadi tarik menarik tangan Nisha.
“Aduh!!! Sakit tahu! Kalian apaan sih? Lepaskan!” pekik
Nisha dengan menepis tangan Hernan dan Grey.
“Grey, maaf. Aku akan ikut dengan Hernan. Sekali lagi aku
minta maaf.” Ucap Nisha penuh sesal.
“Tapi, Nisha….”
“Sudahlah, bocah. Kau menyerah saja.” Lirik Hernan dengan
sengit.
Hernan segera membukakan pintu mobil untuk Nisha. lalu
Hernan berjalan memutar untuk masuk juga kedalam mobil.
Mobilpun mulai melaju meninggalkan Grey yang masih diam
mematung. Ia masih tidak mengerti kenapa Nisha mau ikut dengan Hernan.
.
.
.
Nisha hanya terdiam selama perjalanan pulang. Namun
tiba-tiba ia bersuara.
“Ini bukan jalan menuju rumahmu. Kita mau kemana?” Tanya
Nisha heran.
“Kau tunggu saja dulu. Jangan banyak bertanya!”
“Cih, menyebalkan sekali. Sejak awal kau memang menyebalkan
dan suka semaumu sendiri.” Gumam Nisha yang masih bisa didengar oleh Hernan.
Namun Hernan hanya tersenyum mendengar Nisha menggerutu.
Tak lama kemudian, mereka tiba di sebuah rumah yang tidak
terlalu besar. Hernan mengajak Nisha turun dan masuk kedalam rumah.
“Hernan, ini rumah siapa?” tany Nisha sambil mengedarkan
pandangannya ke sekeliling rumah berlantai dua itu.
“Ini adalah rumahku. Mulai sekarang kita akan tinggal
disini.” Jawab Hernan santai.
“APA?! Kita tinggal disini? Tapi… barang-barangku…”
“Tenang saja, sudah dipindahkan kemari oleh orang-orangku.”
“Eh? Kenapa kau tidak membicarakan dulu hal ini denganku?
Kenapa kau selalu bertindak sesuka hatimu?” Nisha menatap tajam kearah Hernan.
Nisha marah.
“Bukankah sejak awal kita memang akan tinggal sendiri? Jadi
kita bisa bebas melakukan apa saja tanpa harus berakting didepan ayah dan
ibuku.”
“Terserah kau saja. Tunjukkan dimana kamarku?” ujar Nisha
dengan berjalan naik ke lantai atas.”
“Kau mau kemana?”
“Ke kamar.”
“Kamarnya ada dilantai bawah. Diatas hanya ada ruang kerjaku
dan perpustakaan.”
“Hah? Ya sudah tunjukkan yang mana kamarku.”
“Kamar yang sebelah kanan. Yang sebelah kiri adalah
punyaku.”
“Baiklah…” Nisha segera menuju ke kamarnya.
Nisha membuka pintu dan melihat keseluruh bagian kamarnya.
“Hmm, kamarnya luas juga. Lumayanlah. Daripada aku harus
tidur satu kamar dengan Hernan.”
“Memangnya kenapa jika satu kamar denganku? Kita ‘kan suami
istri…” seringai Hernan yang ikut masuk ke kamar Nisha.
“Meski kita suami istri, kita punya banyak perjanjian yang
harus di tepati. Kau jangan sampai melanggar janjimu…” ucap Nisha dengan
menunjukkan telunjuknya kearah Hernan.
“Tenang saja, nona, aku tidak akan melanggarnya. Sebaiknya
kau juga jangan melanggar perjanjian itu.”
.
.
.
.
Malampun tiba, Nisha dan Hernan makan malam bersama. Karena
belum memiliki bahan makanan apapun, mereka memesan makanan secara online.
“Oh ya, apa kau sudah memberitahu ayah dan ibu jika kita
sudah pindah rumah?” Tanya Nisha sambil mengunyah makanannya.
“Hu’um, sudah. Mereka setuju saja kok.”
“Oh ya? Memangnya kau bilang apa hingga mereka percaya? Lalu
orang tuaku? Apa mereka juga tahu?”
“Tentu saja. Aku membawa pergi anak orang, mana mungkin aku
tidak memberitahu mereka.”
Nisha mencebik kesal. “Kenapa dia selalu berbuat semaunya
sih?” lirih Nisha.
padaku.”
Nisha malah memanyunkan bibirnya. Hernan tertawa kecil
melihat tingkah lucu istrinya.
Entah kenapa aku
merasa nyaman melihatnya merajuk dan manyun seperti itu. Ternyata tidak buruk
juga aku setuju untuk menikahinya. batin Hernan.
.
.
.
Nisha merasa tidurnya terganggu kala mendengar suara mobil
sport Hernan yang seperti meninggalkan area rumah mereka. Nisha segera membuka
matanya dan keluar dari kamar.
Nisha mengintip dari jendela dan melihat mobil Hernan melaju
keluar rumah.
“Mau kemana dia malam-malam begini? Ini sudah pukul sembilan
malam.” Gumam Nisha. “Kenapa aku malah khawatir ya? Apa sebaiknya aku
mengikutinya saja.” Nisha segera mengambil jaket dari kamarnya dan berjalan
keluar rumah. Ia memanggil taksi yang melintas dan mengikuti mobil Hernan.
“Mau kemana sih dia? Mencurigakan sekali…” Nisha mengawasi
mobil Hernan agar tidak lepas dari pandangannya.
Hernan menuju sebuah kafe. Nisha turun dan mengendap-endap
mengikuti langkah Hernan.
“Apa dia ingin menemui kliennya? Tapi kenapa semalam ini?”
gumam Nisha lagi.
Nisha melihat Hernan menemui seseorang. Nisha membulatkan
mata mengetahui siapa orang yang ditemui Hernan.
“Hah? Itu ‘kan… Kak Asha? Jadi Hernan malam-malam begini
karena ingin menemui Asha…” gumam Nisha lirih dengan mata sudah berkaca-kaca.
Nisha melangkah pergi dari kafe itu dan berjalan menyusuri jalanan yang tampak
sepi.
Nisha berjalan tanpa ada tujuan yang jelas. Sampai akhirnya
ada seseorang yang menghampirinya. Suara sepeda motor yang memekakkan telinga
menghampirinya. Nisha menoleh kearah berisik yang membuat hatinya makin
dongkol.
“Halo, Nisha… Apa yang kau lakukan malam-malam begini?” sapa
seseorang yang tak lain adalah Grey.
Nisha tetap melangkah dan tak menggubris Grey. Grey tidak
patah semangat dan terus mengikuti Nisha.
“Kau mau kemana?” akhirnya Grey turun dari motornya dan
mencekal tangan Nisha.
Nisha merasa tidak bisa menyembunyikan kesedihannya lagi. Ia
menangis dalam diam.
“Hei, jangan menangis. Kau mau kuantar pulang?”
Nisha mengangguk. Grey tersenyum dan mengambil sepeda
motornya yang tertinggal beberapa meter.
“Ayo, naiklah!” Dengan senang hati Nisha naik ke motor Grey.
Grey pun tersenyum penuh kemenangan berhasil memboncengkan gadis pujaannya.
“Kau bahkan memakai piyama. Sebenarnya kau mau pergi kemana?”
Tanya Grey sambil berkendara dengan pelan. Ia tidak ingin mala mini segera
berakhir.
“Tidak kemana-mana.” Jawab Nisha singkat.
“Lalu sekarang mau kemana? Pulang ke rumahmu?”
“Aku masih ingin berkendara dulu. Apa kau keberatan?”
“Tentu saja tidak. Kalau begitu pegangan yang erat yah. Aku akan
mulai mengebut.”
“Apa katamu?! Kyaaaaaa!!!!” teriak Nisha. Namun dengan sigap
tangannya melingkar di pinggang Grey.
“Kau gila? Jangan ngebut juga dong! Aku masih ingin hidup
tahu!” sungut Nisha.
“Hahaha, kau akan aman bersamaku.” Grey membawa tangan Nisha
makin melingkar ke perut Grey.
Nisha bisa merasakan tubuh Grey yang keras dan berotot. Selama
ini Nisha tidak mengetahuinya karena Grey selalu memakai jaket. Grey makin
sengaja menginjak pedal gas agar Nisha makin memeluknya erat. Dan benar saja,
tangan Nisha melingkar erat pada tubuhnya. Grey tersenyum puas.
Sementara itu, Hernan kembali ke rumah dan melihat rumahnya
tidak terkunci. Ia bingung karena seingatnya ia mengunci pintunya sebelum
keluar. Rumahnya memiliki dua kunci yang sengaja ia duplikat. Satu ia pegang,
dan satunya untuk Nisha.
Hernan masuk kedalam rumah dan mencari keberadaan Nisha. ia
meneriakkan nama Nisha namun tidak ada yang menyahut. Hernan membuka pintu
kamar Nisha, namun juga tidak mendapati Nisha ada disana.
“Kemana sih dia? Bisa-bisanya dia keluar malam-malam begini.
Apa dia gadis nakal? Tidak bisa kupercaya.” Hernan menggelengkan kepalanya.
Tak lama terdengar suara sepeda motor memasuki halaman
rumah. Hernan segera menuju kedepan rumah. Ia melihat Nisha turun dari motor
pria yang waktu itu pernah ia temui.
“Dari mana saja kamu?” suara berat Hernan benar-benar
lantang dan terdengar marah.
Nisha juga tidak mau kalah. Ia balik menatap Hernan dengan
tatapan tajam.
#bersambung…
jangan lupa jempolnya yaaa sayang2nya mamak...
terima kasih