
......***......
Ana kembali ke rumah kontrakannya dengan langkah tak memiliki semangat hidup sama sekali. Setelah tadi dirinya hampir saja menyerahkan apa yang menjadi pertahanan terakhirnya sebagai seorang wanita, kini Ana dihadapkan kembali pada kenyataan hidup yang makin membelitnya.
Sebenarnya Ana bertanya-tanya kenapa Tuan Muda Dingin itu tidak jadi merenggut mahkota Ana? Apa Ana tidak cukup layak untuk bekerja di klab malam milik Grey? Kenapa ia malah lari tanpa menuntaskan hasratnya. Ana tahu jika Grey sudah sangat diambang batas gairahnya. Tapi kenapa ia tak melanjutkan aksinya?
"Ada apa dengannya? Kenapa dia pergi begitu saja? Sekarang aku harus bagaimana? Apa dia akan tetap menagih semua hutang Daddy?" gumam Ana didalam kamarnya.
Ana merebahkan diri di ranjang kecil di kamar itu. Air matanya kini kembali luruh. Ia meratapi nasibnya yang seakan mengalami cobaan bertubi-tubi. Belum selesai ayahnya sadar dari koma, kini harus dihadapkan dengan Tuan Muda Dingin yang meminta tubuhnya.
Ana meraung-raung mengeluarkan semua sesak dalam hatinya.
"Kenapa aku harus mengalami ini? Kenapa? Tolong berikan aku jawaban, Tuhan!" Ana kembali berteriak dan menangis. Ia memukul-mukul bantal yang ada disampingnya. Hingga tubuh lelahnya tak bisa lagi menahan rasa, Ana pun terpejam dengan air mata yang mulai mengering.
Di tempat berbeda, Grey mengumpat tak jelas dan memecahkan barang-barang yang ada di ruang kerjanya di klab. Black dan Simon hanya menatap tanpa berani bertanya.
"Sial!!! Kenapa aku sampai melakukan itu? Bodoh kau, Grey!!!" Grey mengumpati dirinya sendiri.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan Tuan Grey tadi?" bisik Simon ke telinga Black.
"Entahlah. Aku juga tidak tahu. Kita biarkan saja dia sendiri. Nanti juga dia akan kembali seperti semula." Black memberi kode untuk keluar dari ruang kerja Grey.
Sepeninggal Black dan Simon, Grey sudah bisa mengendalikan emosinya. Bayangan Ana yang sedang menangis kini memutar berulang dalam otaknya.
"Gadis itu masih terlalu polos. Dia tidak akan bisa bekerja di klab. Apa yang harus kulakukan denganmu, Nona? Kenapa aku tidak bisa melepaskanmu begitu saja?" Grey mengacak rambutnya.
Setelah merasa dirinya lebih tenang, Grey memutuskan untuk kembali ke rumah. Ia akan memikirkan cara agar Ana tetap bisa membayar semua hutang keluarganya pada Julies Corp.
......***......
Pagi harinya Ana terbangun dan segera menuju ke kamar mandi. Kehidupannya sudah ia atur sedemikian rupa dan merupakan kebiasaannya semenjak kecil. Ana mengguyur tubuhnya yang ia rasa kotor karena telah mendapat sentuhan dari tangan seorang pria.
Ketika bercermin, Ana melihat beberapa tanda yang diberikan Grey pada bagian tubuhnya tercetak jelas. Ana kembali mengingat peristiwa semalam. Ia ingin kembali menangis, tapi tidak bisa.
Tekadnya sudah bulat. Sudah cukup ia menangisi nasib buruknya. Ia akan menjadi kuat mulai sekarang.
"Aku tidak akan jadi Ana yang lemah. Aku adalah Ana yang kuat mulai sekarang." ucap Ana penuh tekad.
Ana segera bersiap dan memakai pakaian formal, kemeja putih lengan panjang dan rok selutut berwarna hitam. Hari ini ia akan mencoba melamar pekerjaan di beberapa perusahaan. Ia tak akan terpuruk untuk kesekian kalinya. Mungkin ia harus bekerja keras seumur hidup untuk membayar hutangnya pada Grey. Tapi itu lebih baik dari pada harus merelakan mahkotanya untuk pria yang sama sekali tidak mencintainya. Tentu saja Ana berharap memberikan mahkotanya pada suaminya kelak.
Ana menyemangati diri sendiri sebelum menuju ke halte dan menaiki bus. Tujuan utamanya adalah perusahaan milik anak teman ayahnya yang pernah diceritakan padanya. Ana menaruh harapan besar pada perusahaan besar itu.
Sekitar tiga puluh menit, Ana tiba di sebuah gedung yang bertuliskan 'GAP Design'. Ana melihat sekeliling dan tersenyum.
"Sepertinya perusahaan ini cukup besar. Semoga aku bisa bekerja disini. Hanya ini harapan terakhirku." gumam Ana sebelum melangkah masuk kedalam gedung.
Ana mendatangi resepsionis dan bertanya tentang info lowongan kerja disana. Ana memberikan data diri dan kualifikasinya.
Disisi lain, Grey baru saja memasuki gedung dan berjalan tegap melewati lobi. Matanya tiba-tiba tertuju pada area resepsionis. Ia membulatkan matanya sempurna.
"Dia lagi? Apa yang dia lakukan disini? Apa dia ingin menagih soal kejadian semalam?" batin Grey mulai resah karena otaknya hanya dipenuhi oleh sosok Ana.
Grey tak mau ambil pusing dengan keberadaan Ana di perusahaannya. Ia segera melangkah masuk kedalam lift dan menghilang dibalik pintu lift.
Grey tiba di ruang kerjanya dan meminta jadwalnya hari ini pada Black. Black segera keluar dan meminta jadwal dari sekretaris Grey.
Tiba-tiba telepon di ruangan Grey berbunyi.
"Ya." jawab Grey.
"Tuan, apa Tuan masih membutuhkan karyawan untuk bagian desain pakaian?" suara diseberang telepon.
"Hmm, iya. Apa kau sudah menemukannya? Ingat! Kualifikasinya harus yang terbaik."
"Iya, Tuan. Pelamar ini lulusan dari Paris."
"Oh ya? Coba kirimkan CV nya padaku!" Grey menutup telepon.
Tak lama ada sebuah pesan masuk di layar komputernya. Grey segera membuka file yang dikirimkan dari bagian HRD.
Grey mengerutkan dahi membaca CV si pelamar. Senyum seringai kembali mengembang di wajahnya.
Grey segera meraih gagang telepon dan menekan dua angka. "Suruh si pelamar itu menemuiku di ruanganku. Dan ingat! Jangan katakan apapun padanya! Katakan saja jika CEO GAP Design ingin mewawancarainya secara langsung." Grey langsung memutus panggilan secara sepihak seperti biasa.
Sementara itu, Ana merasa senang karena perusahaan yang ia datangi menyambutnya dengan baik. Ia bahkan diminta wawancara dengan pihak direksi.
Ana mengatur nafasnya kala lift mulai naik dan menuju ruang CEO. Ana berdoa dalam hati semoga ia bisa mendapatkan pekerjaan ini.
Pintu lift terbuka. Ana melangkah maju menuju ruangan yang paling besar disana. Ia bertemu dengan seorang sekretaris yang menyapanya ramah dan mempersilahkannya masuk.
Ana mengetuk pintu sebelum membuka handelnya. Ana berjalan mendekati seseorng yang sedang berdiri membelakanginya.
"Selamat pagi, Tuan. Saya Ana, saya yang melamar di bagian desain pakaian." suara lembut Ana membuat pria dengan setelan jas warna navy itu berbalik badan dan menghadap Ana.
"Hah?!" Ana terkejut. "Dia lagi? Kenapa dia bisa ada disini?" tanya Ana dalam hati.
"Kenapa? Terkejut? Kau ingin melamar kerja disini, bukan? Silahkan duduk! Kita akan lakukan wawancara." ucap Grey dengan tatapan yang tetap dingin.
"Jadi, ini adalah perusahaanmu?" tanya Ana tak lagi berkata sopan.
"Ya. Kau benar. Apa kau tidak tahu atau kau hanya pura-pura tidak tahu? Coba kau perhatikan dengan seksama, Nona. GAP, itu adalah singkatan dari namaku. Grey Ardana Putra. Sudah paham?"
Ana mengepalkan tangan. "Kenapa aku harus berurusan dengan dia lagi?" batin Ana kesal.
"Maaf. Sepertinya aku batal untuk melamar kerja disini. Permisi!" Ana segera berbalik badan.
Secepat kilat Grey meraih tangan Ana dan membalikkan tubuhnya.
"Aw! Lepaskan!" rintih Ana.
"Kau sangat membutuhkan uang tapi berpura-pura tidak membutuhkannya."
"Aku memang butuh uang untuk melunasi hutang keluargaku, tapi tidak dengan bekerja disini. Aku pasti akan melunasi semua kerugian yang kau alami. Kau jangan khawatir. Dan satu lagi, aku tidak akan menjual mahkota berhargaku pada pria sombong dan dingin juga tak punya hati sepertimu!" Ana meluapkan semua kekesalannya pada Grey, lalu kembali berbalik badan. Rasanya ia sudah muak melihat wajah Grey.
Lagi dan lagi Grey yang amat marah dengan kalimat Ana segera menarik kembali lengan Ana dan menempelkan tubuh Ana di dinding.
Ana memekik kesakitan karena Grey memperlakukannya dengan kasar.
"Lepaskan!!!" teriak Ana.
"Berani sekali kau melawanku, Nona sok suci. Kau akan mendapat balasan karena bibirmu berani berkata kasar padaku!"
Dengan gerakan yang tak bisa Ana prediksi, Grey telah mendaratkan bibirnya pada bibir Ana. Grey tak bisa lagi berbuat lembut pada Ana.
Ana meronta dan memukuli dada bidang Grey namun aksinya tak juga berhenti. Ana tak mau kembali dilecehkan oleh Grey. Ana terus berusaha melepaskan diri dari Grey.
Grey melepas tautannya karena ingin mengambil nafas.
"Dasar brengsek!!!" umpat Ana yang membuat Grey kembali kalap dan kembali menyambar bibir Ana. Memagutnya dan menyesap dengan kasar. Ia tak akan membiarkan Ana lepas begitu saja dari cengkeramannya.
Ana masih terus berusaha memukuli Grey. Namun rasanya semua sia-sia saja. Ia hanya membuang tenaga. Ana pun menghentikan pukulannya.
Begitu juga dengan Grey yang akhirnya melepaskan ciumannya. Ia merangkum wajah Ana dan melihat bibir Ana yang bengkak karena ulahnya.
"Sudah puas?!" tanya Ana dengan mata berkaca-kaca.
"Belum!" Grey akan kembali meraih bibir Ana. Namun dengan sigap Ana mendaratkan satu tamparan ke pipi Grey.
PLAAAKK!!!
"Hanya karena kau memiliki harta dan kekuasaan yang besar, bukan berarti kau bisa bertindak seenaknya. Kau harus ingat! Semua ini hanya sementara." Ana mendorong tubuh Grey kemudian segera keluar dari ruangan itu.
Grey mematung merasakan panas di wajahnya akibat tamparan Ana. Ia kembali merutuki dirinya sendiri karena lagi-lagi tubuhnya menginginkan Ana.
"Aaarrrggghhhh!!!" Grey berteriak meluapkan emosinya.
#bersambung dulu ya genks...
*Haduuuh, babang Grey kena tampar 😰😰😰
*Mumpung hari senin, silahkan yang mau kasih VoTe agar kisah ini lebih cetar membahana, hehehehe
terima kasih