Raanjhana

Raanjhana
Takdir Cinta Nisha : 25. Kejutan Asha untuk Nisha



Pagi harinya, Nisha membuka mata dan melihat suaminya masih terlelap. Ia pun memanfaatkan kelengahan Hernan dengan segera turun dari kasur besar itu dan berjalan hati-hati menuju kamarnya. Nisha membersihkan diri kemudian menuju ke dapur untuk memasak sarapan.


Hernan terbangun dan tak mendapati gadis kecilnya berada disampingnya. Kemudian ia segera turun dan mencari keberadaannya. Ia mendengus sebal karena tidak jadi melakukan kegiatan pagi yang panas. Tak biasanya ia tertidur begitu lelap hingga melupakan misi tempurnya.


Mau tak mau Hernan segera membersihkan diri dan ikut menuju dapur dimana istrinya berada.


"Pagi sayangku..." sapa Hernan dengan mengerlingkan matanya.


"Pagi, kak... Duduklah! Aku akan menyiapkan sarapanmu."


"Hmm." Hernan mengecek ponselnya. Tampaknya hari ini ia tak bisa bersantai ria lagi. Pekerjaannya sudah menumpuk di kantor.


"Sayang, hari ini aku harus pergi ke kantor. Kau di rumah saja ya. Kulihat kau masih pucat dan butuh istirahat." ucap Hernan.


"Heh? Aku juga akan ke kampus. Sudah lama aku meninggalkan kuliahku." pinta Nisha.


"Tidak! Kau tidak kuijinkan untuk berangkat kuliah. Bila perlu kau cuti kuliah saja setahun."


"Apa?! Enak saja! Tidak bisa begitu dong, kak!" Nisha mengerucutkan bibirnya.


"Ya sudah, makanya patuhi perintah suamimu. Mau cuti sehari atau setahun? Hmm? Pilihlah!"


Nisha mendengus pasrah. "Iya, iya. Cuti sehari lagi."


"Nah, begitu dong! Istri itu harus mematuhi suami."


Satu jam berlalu sejak kepergian Hernan. Nisha mulai merasa bosan hanya menonton televisi. Ia pun mengingat jika di lantai dua ada sebuah perpustakaan. Nisha segera berlarian menuju lantai atas.


Selama tinggal disini, Nisha belum pernah naik ke lantai dua. Karena memang isinya hanya ruang kerja Hernan dan sebuah perpustakaan mini.


Nisha memasuki tempat itu dan melihat buku-buku koleksi milik Hernan yang rata-rata adalah buku tentang bisnis.


"Hmm, tidak ada buku novel roman ya? Membosankan sekali dia!"


Tiba-tiba mata Nisha tertuju pada sebuah album foto yang cukup besar.


"Ah, itu pasti album foto masa kecil Hernan. Aku harus melihatnya."


Nisha membuka lembaran album foto yang isinya foto-foto masa lalu keluarga Hernan. Nisha melihat foto bayi yang pastinya adalah Hernan. Ia tersenyum geli melihat culunnya masa kecil suaminya.


"Meskipun kau terlihat culun, tapi kau memang sudah terlihat tampan sejak dulu..." kekeh Nisha.


Puas dengan satu album, Nisha meraih album foto yang lainnya. Ia membuka isinya yang ternyata...


"Foto Asha!"


Ada sedikit rasa cemburu ketika Hernan membuatkan satu album foto khusus untuk foto Asha. Foto kebersamaan mereka juga ada dalam satu album berbeda lagi.


Nisha tidak bisa melihat semua itu lagi. Sangat nyata jika kenangan tentang Asha tidak akan bisa Nisha hapus begitu saja.


Nisha pun kembali turun dan mengambil minum. Ia menghentakkan kaki dan memikirkan sesuatu.


"Aha! Aku akan memasak makan siang dan mengantarkannya ke kantor kakak. Dia pasti senang dengan kejutan dariku." Nisha tersenyum penuh kebahagiaan.


"Tapi, masak apa ya?" Nisha kembali berpikir. Ia melihat isi kulkas dan melihat ada daging ayam disana.


"Aku akan masak ayam bakar bumbu Bali dan sambal matah. Agar mengingatkan kenangan kami sewaktu di Bali." Nisha kembali tersenyum.


Ia pun mulai mengeksekusi daging ayam dengan cekatan. Meski di cap sebagai anak manja, tapi keahlian memasak Nisha tidak diragukan lagi.


Waktu menunjukkan pukul 11 siang. Nisha segera bersiap menuju kantor Hernan. Ia memakai dress selutut warna biru laut yang dulu pernah dipilihkan oleh Hernan. Ia menggerai rambutnya, dan menyapukan lipmatte warna terracota. Nisha memanggil taksi online lalu meluncur menuju kantor Hernan.


.


.


-AAA Company-


Nisha turun dari taksi dan membawa bekal makanan yang sudah ia siapkan untuk suaminya. Ini adalah pertama kalinya Nisha datang ke kantor suaminya. Ia terlihat bingung ketika memasuki gedung yang megah itu.


Nisha mendatangi resepsionis dan menanyakan dimana ruangan Hernan.


"Ruangan CEO ada di lantai 8, Nona. Mohon maaf, ada keperluan apa nona ingin menemui CEO kami? Apa sudah membuat jannji sebelumnya?"


"Tapi, maaf nona. Jika belum memiliki janji kami tidak bisa memberikan ijin pada nona untuk masuk."


"Heh? Kenapa? Aku adalah... sepupunya. Iya, sepupunya Kak Hernan." jawab Nisha asal. Tidak mungkin ia mengatakan jika ia adalah istri Hernan.


"Tunggu sebentar, saya akan menghubungi sekretaris CEO lebih dulu." sahut resepsionis itu.


Beberapa menit Nisha menunggu hingga akhirnya ada seseorang yang menghampirinya.


"Nisha!" sapa seseorang yang adalah Asha.


Nisha merasa kesal karena harus bertemu dengan Asha. Ia masih ingat album foto yang tadi ia lihat.


"Kak Asha?"


"Apa yang kau lakukan disini? Kau tidak kuliah?" tanya Asha.


"Tidak, aku masih mengambil cuti. Oh ya, apa Kak Asha bisa mengantarku ke ruangan Kak Hernan?" Nisha merasa tidak memiliki pilihan karena si resepsionis belum mengijinkannya masuk. Sementara ponsel Hernan juga tidak bisa dihubungi.


"Kau sudah menghubungi ponselnya?"


"Sudah, kak. Tapi tidak dijawab."


"Mungkin dia sedang meeting dengan klien."


"Oh, begitu ya." Nisha nampak kecewa .


"Bagaimana kalau kau ikut denganku saja. Kita berbincang di kantin kantor." ajak Asha.


Nisha pun mengangguk. Dari pada ia harus sendirian menunggu Hernan. Dan ia lihat, Asha tidak buruk juga.


Mereka pun duduk berhadapan di kantin kantor. Nisha memesan es jeruk karena ia ingin menyegarkan dahaganya. Sedangkan Asha memesan lemon tea hangat.


Mereka berbincang layaknya seorang teman. Menanyakan hal-hal yang umum ditanyakan.


"Oh ya, apa yang kau bawa ini?" tanya Asha.


"Ah ini, ini adalah bekal makan siang untuk Kak Hernan. Aku sengaja memasak untuknya. Aku ingin belajar menjadi istri yang baik untuknya." jawab Nisha jujur.


Hati Asha bergemuruh ketika mendengar kata istri dari mulut Nisha. Ia merasa tidak bisa bersikap manis lagi pada Nisha.


"Jadi, apa kau sudah melakukan itu dengannya?" tanya Asha.


"Itu apa maksud kakak?" Dahi Nisha berkerut.


Asha tersenyum menyeringai. "Kau yang sudah mengubah Hernan, kan? Kau yang sudah memintanya untuk menjauhiku! Benar kan?"


"Apa maksud Kak Asha?"


"Kau jangan berpura-pura polos dan tak tahu apapun. Kau sengaja membuat Hernan menjauhiku."


Nisha menggelengkan kepala tidak percaya dengan apa yang dikatakan Asha. "Sepertinya aku salah menilai Kak Asha. Aku pikir kakak akan menerima dengan lapang dada hubunganku dan Kak Hernan. Karena sekarang kami saling mencintai."


Tanpa persiapan apapun, Asha meraih gelas minumnya dan menumpahkannya di kepala Nisha. Begitupun gelas milik Nisha yang langsung di siramkan ke tubuh Nisha.


Nisha hanya bergeming dan amat syok dengan perlakuan Asha terhadapnya. Ia hanya mengerjapkan mata karena lelehan air lemon tea panas mengalir di wajahnya.


Beberapa orang yang ada disana sempat tertegun. Ada pula yang mengabadikan momen siraman itu dengan ponselnya. Dasar netizen, bukannya nolongin malah ngerekam dan ngetawain.


Melihat reaksi dari sekelilingnya. Asha langsung berakting di depan orang-orang disana.


"Dasar pelakor! Kau tahu kan jika Hernan adalah milikku. Tapi kau dengan sengaja merayunya. Dan bahkan berani menyerahkan tubuhmu padanya. Benar-benar menjijikkan! Tampang saja kelihatan polos. Tapi kelakuan amat menjijikkan. Wajah cantikmu ternyata menyimpan hati iblis!!!"


Kalimat Asha menggaung di seluruh ruang kantin. Beberapa orang mencibir Nisha yang ternyata bukan wanita baik-baik. Bahkan Nisha hanya diam seakan menggiring opini publik jika semua tuduhan Asha adalah benar adanya.


Nisha memejamkan matanya. Ingin sekali ia lari dari sana. Namun kakinya terasa kaku. Ia mendengar umpatan-umpatan tentang dirinya dari orang-orang disana. Sedangkan Asha tersenyum puas karena pembalasan sakit hatinya akan dimulai dari sini.


.


.


#bersambung...