
Kisah ini kutulis di tahun 2009, jadi setting kisah ini juga sekitaran tahun itu yak. Mohon maaf apabila ada hal2 yg terasa aneh karena sudah 12 tahun berlalu 😅😅 Mau kusesuaikan dengan jaman now, kayaknya kurang asik aja jadinya, hehehe. Happy Reading
......***......
Matahari pagi ini terlihat malu untuk menampakan sinarnya, namun hangatnya cukup bisa menggapai hati Sivia yang sedang terburu-buru untuk berangkat bekerja. Bukan bekerja seperti kebanyakan orang, Sivia mengelola bisnisnya sendiri bersama teman kursusnya, Razona. Mereka mengelola bisnis salon dan spa khusus wanita, yang diberi nama VeeZone Salon and Day Spa.
Setelah lulus SMA, Sivia tak melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi. Ia lebih memilih untuk menekuni hobinya dibidang kecantikan. Ia suka melihat orang lain menjadi cantik. Makanya ia memutuskan untuk mengambil kursus kecantikan dan akhirnya sedikit demi sedikit mengumpulkan modal untuk mengelola salonnya sendiri.
Pukul 07.30 pagi Sivia sudah tiba di salon. Senyum merekah selalu ia sunggingkan untuk para karyawannya yang sudah lebih dulu datang.
"Pagi, Mbak Vi," sapa Rena. Pegawai senior di salon.
"Pagi, Ren. Hari ini giliran kamu sama...?"
"Sonia, Mbak."
"Oh iya, sorry. Aku suka lupa jadwal kalian."
"Gak apa, Mbak." Jawab Rena dengan tersenyum. Ia tahu kalau Sivia kadang pelupa.
Sejauh ini Sivia memiliki 4 karyawan, namun mereka berganti shift tiap harinya. Karena Sivia tahu, bisnis salon kecantikan tak setiap hari mendapat banyak pelanggan. Kadang hanya satu atau dua orang saja yang datang. Namun Sivia tetap bersabar, karena ini adalah impiannya. Terbukti dua tahun sudah salon berjalan, hingga akhirnya memiliki beberapa pelanggan tetap.
Sivia langsung menuju ruangannya yang berada di lantai dua. Dulu salonnya tak sebesar sekarang. Hanya berada di sebuah ruko kecil yang sederhana. Namun setelah ia bertemu Adniyan, kekasihnya, kondisi salon berubah drastis. Makin banyak pelanggan yang datang karena rekomendasi dari Adniyan. Sivia sangat bersyukur memiliki seseorang seperti Adniyan disisinya.
Razona berjalan terburu-buru menuju ke ruangannya. Tak lupa ia menyambangi ruangan Sivia lebih dulu.
"Sorry, Vi. Gue telat. Badan gue gak enak pagi ini. Gak tahu nih, hamil kedua ini rasanya beda sama hamil pertama dulu." Razona sudah menikah dan memiliki seorang putra berusia 3 tahun, kini sedang hamil 4 bulan anak kedua.
"Kalo lo gak enak badan, jangan dipaksa Raz. Nanti kerjaan lo bisa gue handle kok."
"Gak, Vi. Gue belum bikin laporan keuangan bulan ini. Ditambah lagi, besok 'kan anak-anak gajian. Gue gak enak sama mereka."
"Dasar. Udah pucat gitu mukanya masih juga mikirin orang lain."
"Apalah artinya kita tanpa adanya mereka, Vi..."
Sivia memandang sahabatnya itu penuh haru, lalu berhambur memeluk Razona.
...***...
Sivia sedang sibuk menatap layar komputernya sambil sesekali membuka aplikasi dunia mayanya, 'facebook'. Aplikasi ini sedang hits dikalangan para remaja dan banyak diunduh di ponsel mereka.
Kebanyakan orang mencari teman lama mereka melalui facebook, begitupun Sivia. Setelah 5 tahun berpisah dengan teman-teman lamanya, mereka di pertemukan kembali oleh facebook. Dan ajaibnya, kini mereka tinggal di kota yang sama, Kota Baru.
Tok
Tok.
Razona mengetuk pintu ruangan Sivia yang terbuka.
"Masih sibuk? Makan siang dulu yuk. Gue laper..." Razona meringis.
"Hmm, bumil emang laperan deh. Bentar lagi, nanggung."
"Oya, Vi. Lo jadi ketemuan sama teman-teman lama lo nanti malam?"
"Jadi. Thanks God, mereka semua ternyata ada disini juga."
"Gue bilang juga apa. Gue juga banyak ketemu teman lama gue gara-gara facebook."
"Ya ini berkat lo juga. Gue bisa ketemu mereka."
Beberapa waktu lalu, Razona kembali bertemu dengan teman masa kecilnya setelah lama berpisah melalui aplikasi facebook. Ia menyarankan Sivia juga mencoba mencari teman-teman lamanya melalui facebook. Dan ternyata mereka berhasil bertemu di dunia maya.
Dina, Aryan, dan Raga. Mereka bertiga adalah teman masa kecil Sivia yang dulu sama-sama tinggal di Kota Lama. Setelah lulus SMA, Sivia diajak pindah oleh ibunya ke Kota Baru, dan selama 5 tahun ini tak pernah lagi bertemu dengan mereka.
Namun ada satu orang lagi diantara mereka. Bayu. Hanya dia yang tak bisa dihubungi. Berkali-kali mencari akun milik Bayu namun tetap nihil. Sepertinya ia memang tak memiliki akun facebook.
Sebenarnya Sivia sangat berharap bisa bertemu lagi dengan Bayu. Diantara yang lain, Sivia dan Bayu memang lebih akrab. Selain karena mereka besar di lingkungan yang sama, rumah mereka juga berhadapan. Sehingga mereka bisa dikatakan sahabat sejak masih balita. Sedang bersama tiga yang lain, Sivia mengenal mereka saat mulai bersekolah SMP. Dan melanjutkan ke SMA yang sama bersama-sama.
...***...
^^^Aryan Patih^^^
^^^Gue udah sampai di cafe nih.^^^
Raga Saputra
Bentar lagi gue juga sampai.
^^^Rose Dina^^^
^^^Iya gue juga bentar lagi sampai. Sivia? Lo udah jalan?^^^
Sivia Dewi
Iya, ini gue juga lagi jalan.
Sivia berjalan memasuki cafe. Ia melihat ketiga temannya sudah duduk di tempat yang sudah dipesan. Dina melambaikan tangan.
"Vi... disini!!"
Sivia menghampiri mereka. Merekapun saling berpelukan. Lalu bercerita sedikit kenapa mereka bisa ada di Kota Baru ini secara bersamaan.
"Setelah lulus kuliah, gue ikut cowok gue cari kerja disini. Eh ternyata keterima. Ya udah, akhirnya gue ada disini deh." Cerita Dina.
"Gila lo! Cowok lo masih sama kayak dulu pas jaman SMA, Din? Siapa itu namanya?" Celetuk Aryan.
"Masih lah. Gue gak suka gonta ganti cowok. Hardin namanya."
"Oiya, Hardin. Yang suka kita ledekin karena panggilan mereka sama kan? Din... Din... hahahaha" Aryan tertawa.
"Berarti lo udah 5 tahun dong pacaran sama dia. Kapan lo mau nikah Din? Lama amat pacarannya, lo pacaran apa kredit motor, sampai 5 tahun gitu!?" Ledek Raga.
"Sialan! Bisa aja mulut lo!" Dina memukul lengan Raga.
Sivia tersenyum melihat tingkah konyol para sahabatnya yang seakan tak berubah meski usia mereka telah menginjak hampir dewasa. Sivia memang yang paling pendiam diantara mereka berlima. Makanya, dia membutuhkan Bayu yang seakan sebagai kekuatan tersendiri bagi Sivia.
"Kalo lo gimana, Vi? Lo kenapa bisa ada disini?" Tanya Aryan.
"Eh? Gue ... gue kesini karena ikut pindah nyokap gue. Dan gue ... gue gak lanjut kuliah."
Seketika mereka bertiga terdiam. Sivia tahu jika secara tak sengaja ia membawa atmosfir berbeda karena menceritakan kisah hidupnya.
"Tapi gak apa kok. Gak kuliah bukan akhir dari segalanya. Gue ikut kursus kecantikan, trus sekarang bisnis salon sama teman gue."
Mata Dina berbinar. "Salon? Serius, Vi? Kapan-kapan gue mau dong ke salon lo. Dapat diskon 'kan ya?"
"Yee! Jangan boleh, Vi. Bisa-bisa ntar salon lo bangkrut kalo dimintai diskon trus sama si Dina." Timpal Aryan.
"Sirik aja lo!" Sungut Dina dengan mengepalkan tangannya.
"Oya, Vi. Lo dapat kabar dari Bayu gak? Nama dia gak muncul di pencarian facebook. Udah gue cari berkali-kali tapi gak nemu juga." Ucap Raga
Sivia terkejut mendengar nama Bayu ditelinganya. Sudah hampir 6 tahun mereka berempat tak mendengar kabarnya setelah Bayu tiba-tiba pindah ke kota lain.
"Lo 'kan paling dekat sama dia, siapa tahu aja dia pernah ngabarin lo." Lanjut Raga.
"Enggak. Dia gak pernah menghubungi gue. Gue juga gak tahu dia ada dimana sekarang." Jawab Sivia sambil menunduk.
Sebenarnya, Sivia ingin sekali mendengar kabar dari Bayu. Seingatnya, setelah sama-sama lulus SMA, mereka semua berpencar karena harus mengejar impian masing-masing. Rata-rata mereka melanjutkan ke perguruan tinggi. Namun hanya Bayu saja yang tak terdengar kabarnya hingga sekarang.
Sedangkan Sivia, alasan kenapa Ibunya membawanya pindah ke Kota Baru, sampai sekarang ia masih belum paham. Ia tak ingat kenapa ia berakhir di kota ini. Ibunya hanya memberitahu, pindah kesini karena ingin menikmati suasana baru. Sivia merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Ibunya.
...< tobe continued >...
"baca ulang kok kaya baca tulisan anak amatiran ya, wkwkwkwk. Sengaja tidak kuedit karena biar kerasa originalnya, hahahah.
Semoga kalian tetap menyukainya yak!
Kasih pendapat kalian dong di karya nopel pertama aku ini, hehehe.
...terima kasih...