Raanjhana

Raanjhana
Trapped by Cold CEO : 31. Paris, I'm in Love (special part)



Perhatian: Cerita ini mengandung materi dewasa. Kebijakan pembaca sangat diharapkan. Terima kasih.


......***......


Akhirnya hari yang dinanti telah tiba. Hari dimana Ana dan Grey berangkat ke Paris untuk mengurus beberapa bisnis disana. Ana memeriksa kembali apakah ada yang terlewat atau tidak.


"Kenapa?" Tanya Grey.


"Tidak! Aku hanya memastikan saja jika tidak ada barang yang tertinggal." balas Ana.


"Kita bisa membelinya nanti disana, sayang..."


"Ish, kau ini! Apa tidak bisa tidak membicarakan tentang uang?"


"Maaf, sayang. Aku hanya tidak ingin kau berpikir terlalu keras hanya untuk hal-hal tidak penting begini."


Ana memutar bola matanya malas.


"Iya, iya, baiklah. Aku minta maaf."


"Ayo, naik!"


"Kita akan menaiki ini?" Ana tercengang melihat pesawat jet pribadi milik Grey.


"Iya, tentu saja. Aku tidak akan rela melihatmu berdesakan di dalam pesawat komersil."


"Sebenarnya aku tidak membutuhkan ini, tapi... karena kau sudah menyiapkannya, jadi dengan senang hati aku menerimanya."


Grey tersenyum kemudian masuk kedalam pesawat dengan menggandeng mesra tangan Ana.


Pesawat pun mulai melaju. Hati Ana berdebar membayangkan apa yang akan terjadi ketika tiba di Paris nanti.


"Kau senang?" Tanya Grey.


"Yeah, tentu saja." balas Ana bersama dengan senyum manisnya.


"Terima kasih karena sudah hadir di hidupku, Ana." Grey membelai wajah Ana dan menariknya mendekat. Grey memberikan kecupan-kecupan penuh cinta untuk Ana. Kini ia benar-benar jatuh cinta pada gadis ini.


......***......


Tiba di Paris, Ana turun dari pesawat dengan hati yang berbunga. Ia tak menyangka akan kembali kemari bersama dengan seorang pria. Sungguh Ana tak pernah membayangkan hal itu.


Paris adalah kota yang romantis untuk sebagian orang. Namun bagi Ana ia tak memikirkan hal itu. Karena niatnya datang ke kota ini adalah untuk menuntut ilmu. Itu adalah empat tahun lalu. Jauh sebelum dirinya mengenal Grey.


Kini Ana datang bersama Grey, pria yang berhasil membuat hatinya terombang ambing bak kapal di lautan. Pria yang berhasil membuatnya percaya jika jatuh cinta itu nyata.


"Sayang, apa yang kau pikirkan? Sedari tadi kau hanya diam." tanya Grey.


"Umm, tidak ada. Aku hanya merasa senang bisa kembali ke kota ini."


"Baiklah. Kita akan istirahat dulu untuk malam ini. Besok aku harus bertemu dengan klien penting."


Ana mengangguk. Ia kembali terkejut karena ternyata Grey hanya memesan satu kamar hotel.


"Tuan!!!"


"Kenapa? Bukankah kita juga berbagi kamar saat di London? Di Paris pun tak ada bedanya, bukan?"


"Haaah! Terserah kau saja. Rasa-rasanya aku memang tak memiliki hak privasi untukku sendiri." gumam Ana.


"Jangan marah! Kau akan menikmati waktumu saat besok aku sibuk bertemu klien."


"Hmm, baiklah."


.


.


.


Keesokan harinya, Grey sudah mulai sibuk dengan urusannya di Paris. Ia meninggalkan Ana sendirian di hotel.


Kini Ana mulai merasa bosan. Ana mengirim pesan pada Grey jika dirinya akan berjalan-jalan di sekitar area hotel. Belum ada balasan dari Grey.


"Pasti dia sedang sibuk." gumam Ana.


"Hmm, baiklah. Kurasa tidak apa jika aku berjalan-jalan sebentar." Ana memutuskan untuk keluar hotel untuk melepas penat.


Ana masih hapal jalanan kota Paris. Apalagi hotel tempatnya menginap cukup dekat dengan menara Eiffel yang terkenal itu.


Saat sedang berjalan menuju menara Eiffel, netra Ana tertuju pada sosok yang cukup dikenalnya. Ana mengikuti kemana arah sosok itu pergi. Ia berusaha agar sosok itu tak menyadari jika Ana mengikutinya.


Ana berhasil meraih bahu sosok itu.


"Jessline!" Sapa Ana.


"Hah?!" Wanita yang tak lain adalah Jessline segera berbalik badan dan bertemu pandang dengan Ana.


"A-Ana...?" Ucap Jessline terbata.


"Kenapa? Kau terkejut melihatku? Harusnya aku yang terkejut karena aku mendapati orang yang aku sayangi tiba-tiba menyakiti kami, menyakiti aku..." ujar Ana.


Jessline merasa terpojok karena Ana seakan ingin menghabisinya. Ia beringsut ke belakang dan berlari sekencangnya untuk menghindari Ana. Ana berteriak meminta Jessline berhenti ketika jalanan kota Paris mulai padat.


Ana yang terus mengejar Jessline tak melihat area sekeliingnya dan hampir membuatnya tertabrak oleh mobil.


"Ana!!!" pekik Grey yang secara tak sengaja berada disana.


Grey menarik lengan Ana dan membuat tubuh Ana menabrak tubuh Grey.


"Apa yang kau lakukan? Kenapa malah menarikku?" seru Ana dengan marah.


"Ana! Kau hampir saja tertabrak mobil. Mana mungkin aku hanya berdiam diri saja!" Grey balik membentak Ana.


"Jessline ada disini, Tuan. Dia ada disini! Aku hampir saja menangkapnya tapi kau malah menghalangiku."


"Dengarkan aku, Ana. Aku tidak menghalangimu. Kita akan menangkap gadis itu bersama-sama. Tapi kau juga harus mementingkan keselamatanmu!"


Suasana tegang makin terasa. Mereka berdebat di pinggiran jalan kota Paris.


"Kau tidak mengerti bagaimana perasaanku, Grey. Kau tidak tahu rasanya di khianati dan menjadi miskin. Aku kehilangan segalanya, Grey! Dan kau tidak tahu rasanya! Kau tidak mau tahu makanya kau membiarkan Jessline lolos begitu saja!" teriak Ana.


"Kau tidak tahu bagaimana rasanya kehilangan semuanya dalam satu hari. Kau tidak pernah tahu!" Ana terduduk lemas di tepi jalan. Ia memukuli dadanya yang terasa sesak. Kini air matanya telah lolos dan membasahi wajah cantiknya.


Grey hanya bisa diam melihat kesedihan Ana. Grey meraih tubuh Ana dan membawanya kedalam dekapan. Setelah Ana mulai tenang, Grey membawa Ana kembali ke hotel.


Ana mengurung diri di kamar sejak kembali ke hotel. Grey menetralkan hati untuk menenangkan Ana.


Grey memilih untuk membiarkan Ana menyendiri. Mungkin itulah yang ia butuhkan saat ini. Ia menyiapkan makan malam untuk Ana ditengah situasi yang memanas.


Ana masih mengurung diri di kamar tidur. Hatinya masih sakit ketika mengingat ia gagal menangkap Jessline.


Ana keluar kamar dan melihat satu nampan makanan di meja dekat pintu. Grey menyiapkan makan malam untuknya. Sungguh ia sudah keterlaluan dengan menuduh Grey.


"Bagaimana ini? Apa aku harus meminta maaf? Aku ini kenapa? Padahal tadi ia hanya ingin menolongku saja. Jika saja ia tidak menarikku, mungkin aku sudah tertabrak mobil. Ya Tuhan! Grey yang malang." gumam Ana sambil mencari cara untuk meminta maaf pada Grey.


......***......


Grey kembali ke kamar hotel dan bertemu dengan Ana yang menyambutnya dengan sebuah senyuman hangat.


"Kau sudah pulang?" Sapa Ana dengan menyunggingkan senyum.


"Hmm, seperti yang kau lihat."


"Apa kau sudah makan?"


"Aku tidak lapar." balas Grey datar.


"Kau belum makan tapi kau menyiapkan makan malam untukku."


"Aku hanya ingin kau baik-baik saja, Ana."


"Maaf." hanya itu yang dapat Ana katakan. "Maafkan aku."


Ana menggeleng dalam dekapan Grey. "Tidak. Kau adalah pria yang baik, Grey. Maaf aku sudah berkata kasar padamu..."


Grey melepas pelukannya dan merangkum wajah Ana. "Kau percaya jika aku bilang aku mencintaimu?"


Ana mengangguk. "Iya, aku percaya."


Grey menarik tengkuk Ana dan mendaratkan sebuah ciuman di bibir Ana. Ana pun membalasnya. Ciuman itu berubah panas ketika Grey berhasil membawa Ana masuk kedalam kamar dan merebahkan tubuhnya.


Grey memainkan lidahnya di ceruk leher Ana dan memberi jejak disana. Grey kembali mereguk candu ranum miliknya. Dengan gerakan pelan Ana mulai membuka satu persatu kancing kemeja Grey.


Ana menatap pria yang mengungkungnya dengan penuh damba. Grey melepas kemejanya dan menampakkan tubuh kekar itu didepan Ana.


Dengan sekali tarik, Grey berhasil menyingkap dress yang dikenakan Ana. Kini Ana pun hanya berbalut penutup bagian atas dan bawah.


Semua terjadi begitu cepat. Entah siapa yang memulai, kini mereka berdua telah dalam keadaan polos dan masih bertukar rasa. Lenguhan kini mulai tercipta kala Grey bergerilya diatas tubuh Ana.


Ana mendesah pelan. Suara merdunya membuat darah Grey berdesir. Ia memberi tanda di semua area yang menurutnya bagus untuk memberi jejak.


Ana mere'mas sprei kala Grey mulai turun dan menjelajah ke bagian inti dirinya. Ana memejamkan mata kala Grey membuka kedua paha Ana.


Grey mengecup area sensitif itu dengan bibirnya. Memainkan lidahnya yang membuat tubuh Ana menggelinjang hebat. Grey berhasil membuat Ana merasakan pelepasan pertamanya.


Ana masih memejamkan mata ketika tubuh Grey kembali naik dan menatap wanita yang sangat ia cintai itu. Grey berbisik agar Ana membuka matanya.


Sejenak mereka saling menatap tanpa bicara. Ana mengelus rahang kokoh Grey. Kini Ana yakin untuk menyerahkan apa yang menjadi pertahanan terakhirnya.


"Lakukanlah! Aku siap!" ucap Ana.


Grey menatap Ana sendu. Ana tahu jika Grey juga menginginkannya.


"Marry me, Ana." ucap Grey.


"Hah?!"


"Aku tahu ini cukup kuno, tapi... aku ingin menjadikanmu milikku hanya dengan satu kata, pernikahan."


Ana menarik tengkuk Grey dan mencium bibir tebal dan seksi milik pria yang ia cintai. Kembali ciuman mereka berubah panas. Ana ingin Grey memilikinya malam ini.


"Yes, I do." balas Ana ketika ciuman mereka terhenti.


Grey kembali meraih candu manisnya dan menumpahkan segala cintanya untuk Ana. Grey menghargai Ana dengan tidak merenggut mahkota Ana sebelum menikah.


Mereka tertidur dengan saling berpelukan dan saling mengungkap cinta.


......***......


Pagi itu, Grey mengajak Ana kesuatu tempat. Ana tidak tahu Grey akan membawanya kemana. Grey hanya meminta Ana untuk memakai dress pilihannya. Ana pun menurut. Dress putih berlengan pendek dengan panjang dibawah lutut.


Ana terkejut karena ternyata Grey membawanya ke sebuah altar pernikahan.


"Grey, siapa yang menikah? Apa kita datang ke pernikahan salah satu kenalanmu?" tanya Ana.


"No, baby. Kitalah yang akan menikah."


"What?! Secepat ini? Tanpa memberitahu keluarga kita?"


"Kita akan memberitahu mereka saat kembali ke London. Sekarang percayalah padaku!"


Ana menatap kedua netra Grey yang menunjukkan keseriusan. Ana mengangguk pelan menandakan ia setuju.


Dan akhirnya mereka resmi menikah. Grey mencium mempelai wanitanya dengan penuh cinta. Ia mendapat balasan yang sama dari sang mempelai wanita.


Grey menyiapkan cincin berlian sebagai tanda pernikahan mereka. Ana tersenyum melihat cincin yang melingkar di jarinya.


"Ini sangat indah. Terima kasih." Ana memeluk Grey.


"Akulah yang berterimakasih karena aku mendapatkan istri sepertimu."


Mereka saling menautkan kening dan memanjatkan doa agar pernikahan mereka bertahan hingga maut memisahkan.


......***......


Ini adalah hari ketiga mereka di Paris. Usai menikah, Grey harus menyelesaikan pekerjaannya dan kembali meninggalkan Ana di hotel. Ana menyiapkan makan malam untuk memyambut suaminya pulang bekerja.


Pukul tujuh malam, Grey kembali ke kamar hotel. Grey sudah sangat merindukan istri tercintanya itu. Tanpa menyantap makan malamnya lebih dulu, Grey lebih tertarik dengan menu pembuka yang di hidangkan oleh tubuh Ana.


"Aku menginginkanmu, Ana." Grey melahap bibir Ana dengan penuh gairah


"Tapi, kita akan makan malam, Grey. Aku sudah memasak untukmu." ucap Ana.


"Aku ingin makan yang lain dulu," balas Grey dengan meraih tengkuk Ana dan memeluk erat pinggangnya.


Grey membawa Ana ke tempat tidur yang akan menjadi saksi penyatuan mereka. Nafas mereka memburu kala tubuh mereka sama-sama telah polos.


Ana pasrah saat Grey melakukan apapu pada tubuhnya karena ia juga sangat mendamba sentuhan suaminya ini.


Grey berusaha melesak masuk kedalam sesuatu yang belum terjamah itu. Ia menghentak beberapa kali hingga akhirnya,


"Aaakkhhh!" satu pekikan lolos dari bibir Ana ketika benda asing tumpul itu memasuki inti terdalamnya.


"Apakah sakit?" tanya Grey.


Ana mengangguk pelan.


"Tahan ya! Setelah ini tidak akan sakit lagi." Grey mulai bergerak dengan laju yang pelan. Ia tak mau Ana kesakitan karena ini adalah pertama kalinya bagi mereka.


Grey mempercepat iramanya saat semua rasa melebur menjadi satu. Ana memeluk erat tubuh suaminya yang bergerak cepat diatas tubuhnya.


"Aaarrgghhh!!" erang Grey saat sesuatu membasahi dan melesak masuk kedalam goa terindah Ana.


Ana menyusul dengan merasakan surga terindah dalam hidupnya.


"Terima kasih, sayang..." ucap Grey lalu menyelimuti tubuh polos mereka.


......***......


Malam hangat selalu menemani pengantin baru ini. Bahkan pagi hari pun dibuat hangat oleh mereka.


Grey mengatur nafas usai pergulatan mereka di pagi ini.


"Apa masih terasa sakit?" tanya Grey yang membuat Ana tersipu malu.


"Masih sedikit sakit. Tapi tidak apa. Aku senang bisa membuatmu bahagia." Ana mengeratkan tubuhnya ke tubuh Grey.


"Besok kita harus kembali ke London. Apa kau siap menemui ayahku?"


"Hmm, aku siap. Uncle Alfred adalah orang yang baik. Aku yakin dia bersedia menerimaku menjadi menantunya."


"Tentu saja. Kau adalah menantu terbaik di seluruh dunia."


Ana memukul pelan dada bidang Grey. "Jangan merayuku!"


"Aku tidak merayumu. Aku serius!"


"Baiklah. Kalau begitu aku akan bangun. Aku harus membuat sarapan untuk kita."


"Sayang, bagaimana kalau kita lakukan lagi? Setelah itu kita akan mencari sarapan di luar saja. Aku tidak ingin membuatmu lelah."


"Kau bohong! Kau bahkan sudah membuatku lelah karena terus menggempurku!" Ana mengerucutkan bibirnya.


"Ha ha ha, maaf. Aku benar-benar ketagihan."


Dan akhirnya mereka kembali mereguk kenikmatan dunia diwarnai cuitan manja yang keluar dari bibir mereka masing-masing.


......***......


#bersambung...


*yeaaay, finally mereka married ya genks.


Jangan lupa tinggalkan jejak ya keaayangan 😘😘