
"Om Dirga!!!" Diya berseru gembira melihat sang suami yang sudah menantinya di depan rumah. Diya berlari memeluk Dirga. Kerinduan akan sosok sang suami yang sudah seminggu ini ia tinggalkan kini berakhir sudah.
"Om! Aku sangat merindukanmu..." ucap Diya dengan mata berkaca-kaca.
"Kau pikir Om tidak merindukanmu, hmm? Om berkali-kali lipat sangat merindukanmu. Ayo masuk! Bi Esih sudah menyiapkan kejutan untukmu." Dirga merangkul mesra istrinya itu.
"Kejutan apa, Om?"
“Tutuplah matamu!” perintah Dirga.
Diya menutup matanya. Dirga memegangi tangan Diya agar tidak tersandung. Dirga memberi aba-aba pada Esih setelah semuanya siap.
“Surprise!!!” seru Esih bersama asisten rumah tangga yang lain. Sebuah pesta kejutan kecil-kecilan untuk menyambut kembalinya Diya. Diya amat terharu dengan kejutan kecil ini.
Beberapa balon disusun menjadi kalimat, “Welcome back, Diya” berhasil membuat Diya menitikkan air matanya.
“Terima kasih banyak, Om. Diya sangat senang.” Diya memeluk Dirga. Kemudian memeluk Esih dan asisten yang lain. Diya memang tidak pernah membeda-bedakan dirinya dengan para asisten di rumahnya.
“Selamat datang kembali, Nyonya.” Sebuah buket bunga diberikan oleh Alman untuk Diya.
“Terima kasih, Alman. Oh ya, apa kau menjaga suamiku dengan baik selama aku tidak dirumah? Bagaimana nasib wanita gatal itu? Apa kau masih menawannya?”
“Eh? Tentu saja Tuan Dirga saya jaga dengan baik, Nyonya. Dan mengenai Nona Alexa…”
“Sayang… Untuk apa bertanya soal dia? Om tidak pernah mencintainya. Om hanya mencintaimu.” Tanpa malu Dirga meraih bibir Diya dihadapan semua asistennya.
“Om! Jangan mesum deh! Tidak enak ‘kan dilihat mereka.” Diya merasa malu dengan tingkah suaminya.
“Kenapa memangnya? Kau adalah istriku. Mereka tidak akan cemburu ataupun merasa terganggu.”
“Tetap saja!” Diya mengerucutkan bibirnya.
Karena melihat tingkah Diya, membuat para asisten Dirga tertawa renyah bersama. Sedetik kemudian Diya dan Dirga pun ikut tertawa bersama mereka. Diya mengeratkan pelukannya ke tubuh suaminya.
“Om Dirga, I love you,” bisik Diya ketelinga suaminya.
Dirga tersenyum mendengar bisikan itu. “I love you more, baby…” Dirga mengecup puncak kepala Diya berkali-kali.
...…***…...
Malam harinya, Dirga menyiapkan makan malam istimewa untuknya dan Diya di sebuah resto yang berkonsep pesta kebun. Dua kursi dan satu meja dihias dengan sangat cantik untuk menyambut kedatangan Diya. Diya menggunakan gaun malam berwarna hitam yang sangat indah. Dirga terkagum-kagum melihat keindahan yang ada didepannya ini.
(pic hanya ilustrasi)
“Kau sangat cantik, sayangku.”
“Terima kasih, Om…”
Dirga mempersilahkan Diya untuk duduk. Diya tersenyum bahagia dengan perlakuan manis suaminya. Sungguh ia adalah wanita yang beruntung.
Mereka makan malam dalam diam dan sesekali saling melempar candaan. Mungkin ibarat kata-kata mutiara, Diya adalah wanita paling bahagia di dunia saat ini.
“Ingin rasanya kuhentikan waktu ini agar aku bisa terus menikmati kebersamaan ini bersama suamiku tanpa harus menghadapi ujian yang berat dalam rumah tangga kami.” Gumam Diya dalam hati.
Diya dan Dirga saling pandang mengungkap rasa cinta lewat sebuah tatapan. Hingga akhirnya, Dirga memutuskan untuk mengajak Diya berdansa.
“Can I have this dance with you?” Tanya Dirga
“Hah? Om, aku tidak bisa berdansa.”
Meski sedikit ragu, Diya tetap menerima uluran tangan Dirga. Mereka bergerak mengikuti alunan musik yang menggema di ruang terbuka yang sudah disewa oleh Dirga. Diya tertawa geli karena beberapa kali menginjak kaki Dirga.
“Naiklah keatas kakiku!” ucap Dirga.
“Eh?”
“Lepas sepatumu dan naikkan kakimu keatas kaki Om.”
“Baiklah.” Diya melepas sepatu heelsnya kemudian kaki polosnya bertengger ke sepatu Dirga. Kemudian mereka bergerak bersama dengan Dirga memegangi pinggang Diya erat agar tidak terjatuh.
Jarak mereka semakin dekat karena Dirga makin menarik tubuh Diya menempel padanya.
“Om…” Diya merasa canggung dengan keadaan ini meski mereka sudah sering bersentuhan.
Dalam alunan musik yang mengalun merdu, Dirga mencium bibir Diya dengan lembut. Merasakan tiap inci manisnya bibir Diya. Diya mulai membalas sapuan lembut itu.
“I love you, baby…” ucap Dirga.
“I love you, Om Dirga…” balas Diya.
Mereka kembali berciuman saat tiba di rumah dan langsung menuju kamar mereka. Nafas mereka tersengal karena mereka terus saling memagut sejak turun dari mobil.
Diya memulai kembali ciuman panas mereka yang sempat terhenti karena Dirga harus menutup pintu kamar mereka. Diya melepas satu persatu kancing jas Dirga dan juga kemeja yang melekat pada tubuh suaminya. Dirga juga tak mau kalah. Dengan cepat ia menarik ritsleting gaun Diya dan menanggalkannya kebawah hingga menyisakan penutup atas dan penutup bawah tubuh Diya.
Ciuman mereka kembali panas kala sudah berada diatas ranjang dan saling men-desah bersahutan satu sama lain. Pemanasan yang cukup lama membuat tubuh Diya menggelinjang hebat dan mendapat pelepasan yang menyenangkan.
Dirga bergerak pelan agar tubuh lemas Diya bisa kembali beradaptasi dengan benda asing yang memasuki tubuhnya. Diya mengangguk pelan dan memberi tanda agar Dirga bergerak lebih cepat. Dirga memacu adrenalinnya agar bergerak lincah diatas tubuh Diya dan membuat istri kecilnya itu mencapai surga dunia terindah baginya.
Di tempat berbeda dengan kebahagiaan Diya dan Dirga, Fendi sedang merutuk kesal karena hari ini ia akan berangkat ke Amerika. Fendi masih mengira jika yang sudah melaporkan tindakannya adalah Lily, adik tirinya. Fendi bersumpah dalam hati jika ia tidak akan melepaskan Lily jika sampai terbukti Lily yang sudah melakukan hal ini padanya.
“Dengan ini Papa akan jarang pergi ke Amerika karena sudah ada kamu yang mengurus perusahaan disana,” ucap Leon sebelum kepergian Fendi.
“Iya, Pa. Pastikan saja Fendiya Holdings dalam keadaan baik-baik saja,” balas Fendi.
“Tidak, Nak. Papa akan mengubah namanya.”
“Apa?! Papa jangan keterlaluan!”
“Kau yang jangan keterlaluan! Diya itu istri orang, Nak. Kau harus sadar itu! Carilah wanita yang masih lajang. Atau kau ingin bersama gadis Amerika? Papa akan mengijinkanmu.”
Fendi tidak menjawab.
“Tuan, pesawat Tuan Fendi sebentar lagi berangkat.” Ucap Ahdan menginterupsi pembicaraan ayah dan anak itu.
“Baiklah. Kau jaga dia, Ahdan. Dan laporkan segala tindakan anak nakal ini padaku. Kau mengerti?” titah Leon pada Ahdan.
“Baik, Tuan. Akan saya laksanakan.” Ahdan memberi hormat kemudian membukakan pintu mobil untuk Fendi.
Fendi hanya bisa berdecak kesal karena semua orang akan mulai mengawasinya mulai sekarang. Entah kapan ia bisa kembali lagi ke Negara ini untuk sekedar melihat gadis kecilnya.
Dalam perjalanan menuju bandara, banyak hal yang Fendi pikirkan.
“Jika saja aku tidak berbuat nekat pada Diya, pasti aku tidak akan kehilangan Diya dengan cara seperti ini. Andai saja aku tidak memaksakan kehendak, Diya tidak akan membenciku. Andai saja…”
Berbagai macam kata andai melintas dipikiran Fendi. Nasi sudah menjadi bubur. Hal yang sudah kau hancurkan, tidak akan kembali seperti semula.
#bersambung…
Coming up story 👇👇👇