
... Halo readers kesayangan mamak👋👋👋 Raanjhana (Lover/Kekasih) is back! Dont forget to leave Like 👍 and comments 😘...
...*happy reading*...
...🍂🍂🍂...
Nisha duduk di bangku panjang teras belakang rumahnya. Hatinya amat kesal mendengar pernyataan Hernan yang bersedia menikah dengannya. Ditambah lagi, keluarganya juga seakan mengkhianatinya. Mereka semua sudah merencanakan perjodohan ini namun tak ada satupun yang memberitahu pada Nisha.
Nisha menghentakkan kakinya karena kesal. Harusnya ia merasa lega karena orang yang merebut ciuman pertamanya akan menjadi suaminya. Itu adalah impian Nisha memberikan ciuman pertamanya pada suaminya.
"Tapi kenapa harus dia?!" ucap Nisha masih merasa kesal.
Nisa menunduk dan menghentakkan kakinya.
"Kau disini rupanya!" Hernan langsung duduk di samping Nisha.
"Kenapa mengikutiku?" sungut Nisha.
"Karena ada hal yang ingin kubicarakan denganmu."
"Iya, kau harus jelaskan semuanya padaku. Kenapa kau menerima perjodohan ini? Apa kau sudah tahu sebelumnya soal ini?"
"Hmmm, aku memang sudah tahu jika ayahku berniat menjodohkanku. Makanya aku kabur ke Bali."
Nisha mengernyit menoleh ke arah Hernan.
"Tapi aku tidak tahu jika gadis itu adalah kau."
"Lalu setelah tahu, kenapa tidak menolaknya saja?"
"Menolak pun tidak ada gunanya. Mereka akan tetap melakukan perjodohan kita. Jadi, kau juga harus menerima perjodohan ini."
"Tidak mau! Kenapa juga aku harus mau dijodohkan denganmu?"
"Baiklah, gadis manja. Anak-anak yang terlahir seperti kita, tidak akan bisa memilih jalan hidupnya sendiri. Seberapa kuat kau menolak, maka orang tua akan makin menekan kita. Sejak awal mereka sudah merencanakan ini semua. Bahkan ayah dan kakekmu memiliki separuh saham di perusahaanku sejak dua tahun lalu saat aku membangun perusahaanku sendiri. Jadi, mereka memang sudah menyiapkan semua ini."
"Dua tahun lalu? Aku bahkan masih berusia 18 tahun saat itu. Kenapa ayah dan kakek melakukan ini padaku?"
"Ini dinamakan pernikahan bisnis. Dan itu sudah bukan menjadi hal yang aneh dalam dunia bisnis."
"Jadi, aku harus menerima pernikahan bisnis ini?"
"Iya, mau bagaimana lagi. Tapi kau tenang saja. Kita akan membuat yang namanya perjanjian pra-nikah."
"Perjanjian pra-nikah?"
"Benar. Kita akan membuat kesepakatan agar kita merasa tidak dirugikan dengan pernikahan ini. Terutama kau sebagai pihak wanita."
Nisha mendelik ke arah Hernan. Ia mulai paham dengan apa yang dijelaskan Hernan.
"Baiklah, aku terima. Kita akan membuat perjanjian sebelum menikah."
"Besok malam, kita bertemu untuk membahas masalah ini."
"Oke!"
•
•
•
•
Keesokan malamnya, dua keluarga berkumpul untuk makan malam bersama. Karena hidup bertetangga selama puluhan tahun, tentu mereka layaknya saudara yang selalu berbagi cerita dan kegembiraan.
"Akhirnya, Hernan menyetujui perjodohan yang kuajukan padanya." cerita Rio.
"Eh, benarkah? Syukurlah kalau begitu." sahut Tama, ayah Dirga.
Dirga hanya diam menanggapi cerita Rio yang sudah dianggapnya sebagai ayah kedua baginya.
"Jeng Adel pasti sangat senang deh mau punya menantu..." ucap Thania, ibu Dirga.
"Iya, jeng. Akhirnya anak itu mau menurut juga. Lagipula gadis itu sangat manis dan cantik, mana mungkin Hernan menolaknya." balas Adelia.
Dirga memutar bola matanya malas. Ia tak menyangka jika sahabatnya itu akhirnya luluh juga dengan kemauan orang tuanya.
"Lalu, dimana Hernan sekarang?" tanya Tama.
"Dia sedang makan malam dengan calon istrinya." balas Rio.
Piring yang dibawa Asha lolos dari tangannya sehingga jatuh ke lantai dan pecah berserakan.
Semua orang beralih menatap Asha yang nampak membersihkan pecahan piring tersebut.
"Ma-maaf, tuan, nyonya. Saya akan membersihkannya."
Dirga yang merasa kasihan pada Asha langsung beranjak dari meja makan dan membantu Asha.
"Sudah, jangan di bereskan! Nanti tanganmu terluka." ucap Dirga mencegah tangan Asha menyentuh pecahan piring tadi.
"Tapi...."
"Biar bibi saja yang bersihkan..." seorang asisten rumah tangga mendatangi Dirga dan Asha.
Dirga segera menarik Asha pergi dari sana. Ia membawanya ke balkon lantai atas dekat kamar Dirga.
"Kau sudah mendengar semuanya?"
"Iya." jawab Asha menunduk.
"Aku tidak percaya Hernan akan melakukan ini."
"Bukankah itu hal bagus? Dia akan menikah dengan wanita yang sepadan dengannya." Ucap Asha kini menatap langit malam.
"Dimata Tuhan kita semua adalah manusia yang sama. Tak peduli seberapa tingginya jabatan, status sosial, dan harta kekayaan kita. Kita semua sama, Asha."
"Tapi masyarakat kita tidak menilai seperti itu, Dirga. Aku hanya anak kepala pelayan dan kepala keamanan di rumahmu. Apa pantas aku mengharapkanmu atau Hernan yang seorang pangeran? Malam ini akhirnya aku sadar siapa aku sebenarnya..."
"Bahkan Cinderella juga bisa bersama dengan pangerannya..."
"Tapi aku bukan Cinderella, Dirga. Aku hanya... Gadis biasa. Dan aku harusnya mencari pria biasa yang sepadan denganku..."
Dirga segera membawa Asha dalam pelukannya. "Jangan bicara begitu, Asha. Bagiku kau adalah gadis istimewa. Kau sangat istimewa di hatiku..."
Asha terisak dalam dekapan Dirga.
*
*
*
*
Di sebuah private room mewah milik resto Royale Hotel, Hernan menunggu kedatangan Nisha untuk makan malam berdua. Hernan sedikit menyunggingkan senyum kala melihat Nisha datang dengan memakai dress lengan panjang dibawah lutut berbahan kaus dan sepatu kets andalannya lalu menenteng tas slempang di bahu kanannya.
"Kenapa mengajakku makan di tempat ini? Aku akan berpakaian lebih layak jika ternyata makan disini." Nisha memang tidak tahu jika Hernan mengajaknya kemari, setelah ia keluar dari rumah, Hernan baru mengiriminya pesan.
"Aku pikir nona muda kaya sepertimu hanya makan di tempat berkelas seperti ini." ucap Hernan sambil bersedekap.
"Apa maksudmu? Aku tidak seperti itu! Aku bisa makan dimana saja bahkan di warung tenda pinggir jalan." sungut Nisha.
"Tapi, karena kita akan membicarakan hal yang sangat penting, tak ada salahnya jika kita memilih tempat yang private seperti ini."
"Terserah kau saja. Aku sudah lapar, sebaiknya kita makan dulu saja baru bicara."
Hernan menggeleng pelan, lalu mulai menyantap makan malam mereka.
Tak berselang lama, makan malam mereka berdua telah selesai. Hernan menyuruh pelayan merapikan meja mereka.
Kini Hernan menyodorkan secarik kertas di atas meja dan sebuah bolpoin.
"Silahkan tulis apa-apa saja peraturan yang kau inginkan setelah kita menikah. Jika salah satu pihak tidak menyetujui, maka peraturan harus diubah atau bisa juga dihapus." ucap Hernan.
"Oke! Aku setuju!"
Nisha langsung mengambil kertas dan bolpoin tersebut. Hernan pun juga menulis dengan kertas berbeda.
Sesekali Nisha melirik ke arah Hernan tajam. Ia begitu kesal dengan pria di depannya ini. Ia ingin kisah cintanya berakhir indah seperti kisah di buku kesukaannya. Namun kini ia malah harus menikah dengan pria aneh pilihan kakek dan ayahnya. Di tambah lagi harus membuat perjanjian pra-nikah segala.
"Ya Tuhan!!! Mimpi apa aku semalam? Kenapa kisah cintaku harus berakhir begini?" gumam Nisha lirih namun masih bisa di dengar oleh Hernan.
...🍂🍂🍂...
#bersambung...
"Jodoh itu memang tidak terduga, kalian bisa bertemu dengannya kapan dan dimana saja,
sesimpel itu..."