
"Jika sudah selesai, duduklah kemari. Ada yang ingin ibu bicarakan denganmu."
Lala mengangguk meski dalam hatinya ia harap-harap cemas memikirkan apa yang akan ibu mertuanya bicarakan.
Lala duduk bersebelahan dengan Saida. Saida meraih tangan Lala dan menggenggamnya.
"Ibu ingin mengucapkan terima kasih padamu."
"Eh?"
"Reza memiliki masa lalu yang cukup kelam. Ia banyak melakukan kesalahan. Ibu berharap kamu bisa menerima masa lalu Reza."
Lala menatap mertuanya dan tersenyum.
"Aku ... juga memiliki masa lalu yang buruk, Bu. Awalnya kami belum bisa saling menerima. Tapi akhirnya kami bisa saling terbuka karena kami sudah menikah."
"Terima kasih, Nak Lala. Ibu sangat berharap Reza bisa mendapatkan kembali kebahagiaan yang sempat hilang."
"Iya, Bu. Mulai sekarang aku dan Mas Reza akan belajar saling menerima dan mengisi. Kami tidak akan melihat ke belakang lagi dan akan menatap masa depan."
"Ibu harap kalian bisa terus bahagia bersama. Kamu adalah pasangan terbaik untuk Reza."
"Terima kasih atas doanya ya, Bu..." Lala memeluk Saida yang juga membalas pelukan dari Lala.
......***......
Lala masuk kedalam kamar dan melihat Reza sedang berkacak pinggang. Lala mengerutkan dahi melihat tingkah suaminya.
"Dari mana saja kamu? Kenapa lama sekali untuk masuk ke kamar?"
Lala menahan tawa melihat kemarahan Reza yang rasanya sangat dibuat-buat.
"Aku ngobrol sama ibu di meja makan. Kenapa? Apa kamu cemburu pada ibumu sendiri?"
"Apa yang kalian bicarakan?"
"Tidak ada. Tidak banyak."
"Baiklah, karena kamu sudah terlambat masuk kamar. Maka ... kamu akan kuhukum."
"Dih, apaan sih, Mas? Aku tidak melakukan kesalahan apapun."
Reza mendekati Lala dan membawanya naik ke tempat tidur. Ia merebahkan tubuh Lala dan menggelitiki perut Lala.
"Mas! Ampun!!!" Lala terbahak sambil menahan rasa geli akibat ulah Reza.
"Rasakan saja! Kamu memang pantas dihukum!"
"Mas, berhenti!!!"
Lala berhasil menghentikan aksi Reza. Posisi mereka kini saling berhadapan dan saling tatap.
Reza yang sudah berada diatas Lala tak mau menyia-nyiakan kesempatan.
"Kita lakukan permainan yang lain."
"Terserah Mas saja." Lala melingkarkan tangannya ke leher Reza dan membawanya semakin dekat dengan dirinya.
Tak ingin berlama-lama Reza segera meraih bibir bak stroberi itu untuk ia nikmati. Lala makin menarik tubuh Reza. Ciuman panas dan panjang pun terjadi.
Reza melepas sejenak pagutannya dan mulai melepas satu persatu kain yang menempel pada dirinya dan juga pada tubuh Lala.
Sesaat mereka saling tatap dan saling mendamba.
"Lanjutkan permainanmu, Mas..."
"Baiklah, tidak akan kuhentikan meski kau memintaku berhenti."
Lala tersenyum mengejek.
"Kamu meremehkanku?"
"Tidak!" Lala menggeleng sambil tersenyum.
"Akan kutunjukkan kekuatanku yang sebenarnya."
"Ish, bukankah tiap hari kamu juga menunjukkannya?"
"Haha, benarkah? Kalau begitu hari ini adalah bonus."
Reza menghentak masuk tanpa permisi.
"Mas!" Lala merengut.
"Sssttt! Nikmati saja sayang..." Reza mulai bergerak pelan.
Reza mempercepat gerakannya kala merasakan terjepit disebuah goa yang tak berujung.
"Kamu nakal, Lala..." Reza menggeram dan makin bergerak cepat.
Tak mau kalah dengan Reza, Lala membalikkan keadaan hingga tubuh Reza kini berada di bawahnya.
"Ingin sensasi yang lebih?" tanya Lala mengerling manja.
"Wuuuh, cobalah!"
Lala mulai menggerakkan tubuhnya lincah diatas Reza. Pria itu melenguh dan merasakan sensasi berbeda.
"Dari mana kamu belajar begitu, huh?! Dasar gadis nakal!" Reza memukul pelan bokong Lala.
"Aw!" Lala memekik kaget.
"Terus lakukan, baby... Uuh, kau sangat seksi."
Namun Reza tak tega melihat Lala yang terus bergerak. Dari bawah, Reza juga ikut menghentak dan membuat Lala terkejut.
"Mas!"
Hingga akhirnya permainan berakhir dan tak ada pemenang disini. Hanya kepuasan yang melanda keduanya.
......***......
Setelah dua hari berada di rumah keluarga Reza, kini Lala kembali berkutat dengan aktifitasnya sebagai seorang istri.
"Mas, nanti siang aku mau ke supermarket. Mau beli keperluan sehari-hari kita."
"Ini!" Reza memberikan kunci mobilnya.
"Apa ini, Mas?"
"Pakai saja mobilku. Aku bisa naik sepeda motor."
"Hmm?" Lala mengerutkan keningnya.
"Tidak apa. Aku dulu terbiasa memakai sepeda motor. Aku tidak mau kamu kepanasan. Pakai taksi online boros pengeluaran. Kita harus menabung. Untuk masa depan kita. Dan juga..."
"Apaan sih, Mas? Aku juga belum hamil."
"Tidak apa. Namanya juga sedang usaha. Kita juga harus menabung untuk keperluan anak kita."
"Terima kasih, Mas."
"Aku berangkat dulu ya!" Reza mengecup kening Lala.
Lala melambaikan tangan melepas kepergian suaminya.
Sore harinya, Lala kembali ke apartemen usai berbelanja ke supermarket. Lala berjalan santai dengan menenteng barang belanjaannya.
Tanpa di sengaja Lala menabrak seseorang saat mencoba membenahi kantong belanjanya.
"Maaf," ucap Lala.
Sejurus kemudian ia terkejut karena orang yang Lala tabrak adalah seseorang yang ia kenal.
"Lala?" Orang itu juga mengenali Lala.
Lala tak menjawab dan segera berlalu.
"Tunggu dulu, Lala!"
Lala kembali terhenti.
"Jadi kau tinggal disini?" tanya orang itu.
"Bukan urusanmu, Andreas." Lala tak ingin berurusan dengan mantan kekasihnya itu.
"Aku tidak tahu jika kau dan suamimu tinggal disini. Ternyata suamimu itu lumayan kaya juga ya."
"Maaf, aku tidak punya urusan apapun denganmu!" tegas Lala dan kembali melangkah.
Andreas mencekal lengan Lala. "Oh ayolah! Aku hanya ingin sedikit mengobrol. Apa kau tidak merasa bersalah sedikitpun? Suamimu itu sudah memukuliku hingga babak belur. Aku juga ingin tahu apa yang terjadi dengan kalian setelah suamimu mengetahui semuanya tentang kita."
Lala geram dengan kata-kata Andre.
Lala menurunkan kantong belanjaannya.
"Dengar, Andre. Kurasa aku tidak perlu meminta maaf atas apa yang telah terjadi padamu. Pria brengsek sepertimu memang pantas dipukul. Bahkan kau pantas mati!" Geram Lala.
"Apa katamu?! Berani sekali kau bicara begitu padaku!" Andre hendak melayangkan tangannya kearah Lala. Namun secepat kilat Lala menangkisnya.
"Apa kau banci? Kau ingin memukul seorang wanita! Kau benar-benar pengecut. Dengar ya! Jangan pernah muncul lagi dihadapanku! Jika tidak, aku akan mematahkan tanganmu ini. Ingat itu baik-baik! Aku tidak bercanda!" Lala melempar tangan Andre yang ia cekal dengan kasar.
Kemudian Lala berlalu dari hadapan Andre yang mematung tak percaya dengan keberanian Lala.
"Sayang..." seorang gadis muda menghampiri Andre. Dia adalah Monica, kekasih Andre yang baru.
"Kurasa kau harus pindah dari apartemen ini!"
"Memangnya kenapa?" tanya Monica.
"Tidak ada alasan! Aku akan mencarikan apartemen yang baru untukmu!" Andre melangkah pergi meninggalkan Monica.
Tanpa di sadar oleh mereka, sepasang mata sedari tadi memperhatikan peristiwa yang membuat hatinya bahagia.
Reza tersenyum bangga memuji keberanian istrinya yang berani melawan pria brengsek mantan kekasihnya.
"Kamu memang yang terbaik, La. Aku tidak salah memilihmu sebagai pasanganku."
Reza melangkah menuju unit apartemennya. Ia membuka pintu dan melihat Lala sedang menata barang belanjaannya.
"Lho, Mas? Kamu sudah pulang?"
"Iya, hari ini tidak ada lembur."
Reza menghampiri Lala dan memeluknya.
"Ada apa, Mas?"
"Kamu adalah pasangan terbaik untukku, La... Terima kasih sudah bersedia menjadi istriku.. "
"Iya, Mas. Aku juga senang, kamulah yang menjadi suamiku..." Lala mengeratkan pelukannya pada tubuh Reza.
......***......
#bersambung
"Selamat hari senin, genks... kali aja ada yg mau sedekah Vote, mamak terima dengan senang hati 💜💜💜