Raanjhana

Raanjhana
Trapped by Cold CEO : 13. Pelayan Si Tuan Dingin




......***......


Grey kembali ke mobil dan segera melajukan mobilnya. Berkali-kali ia mengusap wajahnya setelah apa yang sudah ia lakukan pada Ana tadi.


"Sial!! Kenapa lagi-lagi aku menginginkan Ana? Ini sangat tidak mungkin!" Grey mengumpati dirinya sendiri.


Dalam perjalanan, ponselnya berbunyi.


"Halo, Black. Ada apa?"


"Tuan, apa benar Tuan mengatakan pada Carol jika Tuan menunda semua meeting hari ini?"


"Hmm, iya. Tadi aku berkata begitu padanya."


"Astaga, Tuan! Meeting kali ini sangatlah penting. Tuan tidak bisa membatalkannya secara sepihak. Sekarang Tuan ada dimana?"


"Aku akan kembali ke kantor. Kau siapkan saja semua berkasnya."


Grey mematikan sambungan telepon. Ia tak suka jika Black terus memarahinya.


Disisi lain, Ana masih mematung setelah sejenak mendapat perlakuan hangat dari Grey. Ana segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Malam ini Ana merasa tak bisa memejamkan mata. Bayangan sikap hangat Grey padanya membuatnya mulai goyah.


"Dasar pria aneh! Malas sekali jika aku harus berurusan dengannya lagi. Hmm, sepertinya aku harus pindah rumah lagi. Dia sudah tahu rumahku. Pasti dia akan mencari cara agar bisa mengangguku." Ana berpikir dengan memegangi kepalanya.


"Tapi, apa aku bicara terlalu kasar padanya? Ah, rasanya tidak. Aku hanya ingin dia tahu seperti apa rasanya menjadi diriku yang dikejar-kejar penagih hutang padahal aku tidak berhutang." gumam Ana.


"Aaaakkkhhh!!! Kenapa aku harus memikirkan dia? Besok aku harus mencari pekerjaan lagi. Aku tidak bisa bekerja di perusahaan Mike. Aku akan mencari perusahaan yang tidak mengenalku saja. Aku yakin aku bisa. Semangat Ana!!!" Ana menyemangati dirinya sendiri sebelum memejamkan mata dan menuju ke alam mimpi. Ia berharap esok akan lebih baik untuknya.


......***......


Pagi hari itu, Ana bersiap membawa berkas lamaran untuk mendatangi beberapa perusahaan yang sudah ia lihat di internet. Ana baru percaya ucapan ayahnya yang mengatakan jika mencari pekerjaan itu cukup sulit jika tak memiliki kenalan dimanapun.


Namun dengan posisi Ana yang sekarang, rasanya memang sulit meski dengan orang yang sudah dikenal. Ditambah nama keluarga Ana yang sudah tercoreng karena ulah paman dan sepupunya itu.


Saat Ana hendak keluar rumah, ponselnya berdering. Nama 'Tuan Dingin' tertera di layar ponsel Ana.


Ana tak menggubris panggilan dari Grey. Sungguh ia tak ingin berurusan dengan pria itu lagi.


Ponsel Ana kembali berdering. Ana tidak akan mengangkat panggilan itu.


"Apa lagi yang dia inginkan? Apa sepagi ini dia sudah menagih hutang?" sungut Ana kesal.


Karena penasaran, Ana pun mengangkat panggilan dari Grey.


"Kenapa lama sekali mengangkat panggilan dariku? Apa kau tuli, huh?" suara teriakan Grey membuat Ana menjauhkan ponsel dari telinganya.


"Untuk apa kau menelponku sepagi ini? Apa kau ingin menagih hutang?" teriak Ana tak mau kalah.


"Dengar, Nona. Jangan pernah melangkahkan kakimu dari rumah kumuhmu itu tanpa seijin dariku!"


"What?!"


"Kau dengar aku, huh?! Kau tidak diijinkan pergi kemanapun. Tunggu disana karena asistenku akan menjemputmu!"


"Apa yang kau..."


"Jangan membantah! Tunggu saja disana dan jangan pergi kemanapun!"


Panggilan terputus.


"Ya Tuhan! Kenapa aku harus bertemu dengan orang aneh seperti dia?" Ana menggertakkan gigi kemudian kembali masuk ke dalam rumah.


Merasa tak memiliki pilihan lain, Ana memutuskan menunggu asisten Grey. Ia pun mengganti pakaian formalnya dengan yang lebih santai. Kaus lengan pendek dan celana jeans.


Setelah menunggu beberapa menit, Ana mendengar ketukan di pintu rumahnya. Ia segera menuju kesana dan membuka pintunya.


"Tuan..." sapa Ana sopan.


"Selamat pagi, Nona Ana. Silahkan bereskan barang-barang Nona dan ikut dengan saya."


"Heh?! Apa?!" Ana terkejut bukan kepalang.


"Tuan Grey meminta saya untuk menjemput Nona. Mulai hari ini Nona akan pindah dari rumah ini."


"Tu-tunggu! Apa maksudnya ini?" Ana gelagapan tidak paham dengan maksud Grey.


"Nona jangan berpikir macam-macam. Saya akan jelaskan semuanya nanti. Sekarang sebaiknya Nona mengemasi barang-barang Nona."


Ana mendesah kasar. Tanpa bisa menolak ia kembali harus mau mengikuti permainan Grey.


Mobil yang di kendarai Ana dan Black mulai melaju. Ana melihat sekeliling selama perjalanan menuju tempat yang Ana sendiri tidak tahu arahnya.


Tiba di sebuah mansion, Ana kembali tertegun.


"Tuan, ini tempat apa?" tanya Ana karena sudah sangat penasaran.


"Saya akan jelaskan semuanya nanti, Nona." jawab Black datar.


Ana memutar bola matanya malas. "Percuma saja bertanya. Tuan dan asistennya memang sama dingin dan datarnya." gumam Ana pelan.


Saat tiba di depan mansion, Black meminta Ana untuk turun. Ana melihat bangunan mewah yang menurutnya sangat indah.


"Mari masuk, Nona." ucap Black.


Ana makin tercengang ketika masuk ke dalam mansion itu.


"Tuan, ini rumah siapa?"


"Ini adalah mansion pribadi milik Tuan Grey. Mulai sekarang Nona akan tinggal disini dan bekerja sebagai pelayan di rumah ini."


"Hah?! Apa katamu?! Pelayan?" Ana syok mendengar penuturan Black.


"Benar. Nona berkewajiban membersihkan mansion ini dan merawat kebun yang ada di belakang."


"Tu-tunggu! Kenapa Tuanmu melakukan ini padaku?"


"Tuan Grey bilang, hutang keluarga Nona akan dianggap lunas jika Nona bersedia menjadi pelayan disini."


"Hah?! Apa dia sudah tidak waras?" Ana menggeleng pelan.


"Nona tenang saja. Tuan Grey tidak setiap hari tinggal disini. Dia lebih memilih tinggal di mansion utama. Dia hanya kemari jika sedang ingin menyendiri."


"Lalu, sampai kapan aku harus menjadi pelayan disini?"


"Saya tidak tahu. Nona harus bicara sendiri pada Tuan Grey untuk masalah itu. Jadi bagaimana? Nona menerimanya?"


Ana menghela nafas. "Apa kau pikir aku punya pilihan lain? Bahkan mencari pekerjaan di kota ini ternyata tidak semudah yang aku bayangkan." Ana menundukkan wajahnya sedih.


"Baiklah. Nona bisa membereskan barang-barang Nona terlebih dahulu. Nanti akan ada Simon yang berjaga disini. Dia akan bertugas mengawasimu."


Ana memutar bola matanya malas. "Iya. Aku tidak akan kabur! Jangan khawatir."


"Kalau begitu saya permisi." Black undur diri dan pergi meninggalkan Ana di rumah besar itu.


"Ya ampun! Apa yang akan kulakukan dengan rumah sebesar ini?" Ana menggeleng pelan.


"Halo, Nona Ana!" seorang pria menghampiri Ana.


"Kenalkan, aku Simon. Aku pengawal Tuan Grey." Simon mengulurkan tangannya.


"Ah, iya. Aku Ana."


"Sebaiknya Nona istirahat saja dulu. Jika Nona membutuhkan sesuatu, Nona bisa memanggilku. Aku berjaga diluar."


"Ah iya, terima kasih, Simon. Senang bisa mengenalmu." Ana kembali melangkahkan kakinya menapaki rumah besar itu menuju lantai dua.


Ada beberapa kamar disana. Ana memilih kamar yang bisa melihat pemandangan taman di bawahnya.


"Semangat Ana! Lagipula, tuan dingin itu tidak setiap hari kemari. Aku bisa sedikit bersantai setelah membersihkan rumah." Ana merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur yang empuk itu. Kehidupan lamanya bisa ia rasakan saat tinggal di rumah ini.


Di kantornya, Grey menghubungi Black yang sedang dalam perjalanan.


"Bagaimana? Apa gadis itu menerima tawaranku?"


"Iya, Tuan. Dia bilang dia tak memiliki pilihan lain selain menerimanya."


Grey tersenyum penuh arti. "Bagus sekali. Aku akan sedikit bermain-main dengannya, Black. Sepertinya ini akan mulai menarik."


"Sebaiknya Tuan jangan bermain api. Jangan sampai Tuan sendiri yang nanti terbakar."


"Apa maksudmu, Black?"


"Sudahlah, Tuan. Saya hanya mengingatkan Tuan saja."


"Baiklah. Kutunggu kau di kantor." Panggilan berakhir.


Grey tersenyum penuh bahagia mendengar Ana menerima tawarannya.


......***......


#bersambung...


ilustrasi Ana jadi pelayan Grey