Raanjhana

Raanjhana
Part 14 : Om Dirga, I Love You



...KONTEN DEWASA...


...HARAP BIJAK MENYIKAPI...


...TERIMA KASIH...


...*...


...*...


...*...


Diya mendengus kesal karena mendapat kado kejutan yang tak terduga. Bagaimana bisa Dirga membelikan sebuah baju tidur seksi yang memperlihatkan lekuk tubuh Diya? Selama ini Diya selalu berpakaian tertutup dan itu karena perintah Dirga.


Dan sekarang harus berpakaian terbuka juga karena perintah Dirga. Diya menghela nafas. Ia menuju walk-in-closet milik Dirga dan mengepaskan lingerie hitam itu ke tubuhnya.


"Apa ini cocok untukku? Apa aku harus memakainya sekarang?" Diya mondar mandir kebingungan.


Hingga waktu menunjukkan pukul tujuh malam, Diya memutuskan untuk memakai lingerie hitam itu.


"Sebenarnya bagus sih. Tapi kenapa aku tidak percaya diri memakainya? Bagaimana ini? Sebentar lagi Om Dirga pasti pulang dari kantor." Gumam Diya sambil memperhatikan tubuhnya yang berbalut lingerie di depan cermin.


Entah karena terlalu fokus memikirkan banyak hal atau memang Diya tak mendengar jika seseorang memasuki kamarnya, tiba-tiba Diya merasakan sebuah tangan kekar melingkar di perutnya.


Diya berjingkat kaget. Itu adalah suaminya yang ternyata sudah pulang.


"Om? Kapan datang?" tanya Diya dengan perasaan meremang karena deru nafas Dirga menerpa kulit lehernya.


"Baru saja. Ternyata kamu sangat cocok memakai ini." Dirga menyibak rambut panjang Diya dan menciumi tengkuk Diya.


"Om..." Diya memejamkan mata merasakan bibir Dirga yang menyentuh kulitnya.


Dirga masih menikmati mencumbu leher Diya hingga ke pipi.


"Om... Apa Om sudah makan? Atau Om mau mandi dulu?" Diya melepas tangan Dirga yang melilit tubuhnya dan berhadapan dengannya.


Dirga nampak sedikit berpikir. Ia tahu jika istri kecilnya ini sedang panik.


"Om ingin mandi dulu," jawab Dirga.


"Baiklah. Akan aku siapkan air hangat untuk Om."


Diya segera berlari kecil menuju kamar mandi. Sungguh hatinya sangat berdebar ketika bersentuhan dengan Dirga. Padahal ini bukan pertama kalinya mereka bersentuhan.


Beberapa menit Dirga masih berada di kamar mandi, sedangkan Diya menyiapkan makan malam untuk Dirga. Ia kembali ke kamar dan melihat Dirga baru saja keluar dari kamar mandi.


Diya menelan salivanya melihat tubuh kekar Dirga hanya berbalut handuk di pinggang.


Astaga! Apa yang kau pikirkan, Diya?


Diya segera menghalau pikiran aneh dalam otaknya.


Dirga mengerutkan kening karena Diya memakai jubah satin dibawah lutut berlengan panjang untuk menutupi lingerie yang ia pakai.


"Kamu dari mana?" tanya Dirga.


"Aku dari lantai bawah. Aku sudah menyiapkan makan malam untuk Om. "


"Bawa kemari saja makanannya. Aku ingin makan di kamar."


"Oh, begitu. Aku akan turun untuk membawanya ke kamar."


Dirga menahan tangan Diya. "Tidak perlu. Aku akan meminta Esih untuk membawanya kemari." Dirga segera meraih telepon rumah yang ada di atas nakas.


"Tolong bawa makan malam saya ke kamar!" Ucap Dirga.


Tak lama pintu kamar di ketuk dan Diya menerima nampan dari tangan Esih. Diya menaruh nampan di atas meja.


"Om? Kenapa belum mengganti baju? Diya kan sudah menyiapkan baju ganti untuk Om."


"Om..." Diya terpentok ke dinding.


"Yuk!" Dirga meraih tangan Diya dan membawanya ke tempat tidur.


Ya Tuhan! Apakah ini waktunya? Kenapa aku gugup begini?


Diya bermonolog dalam hati. Apa saja yang akan dilakukan Dirga padanya.


Dirga merebahkan tubuh Diya ke atas ranjang. Tubuh Dirga yang hanya berbalut handuk dan masih sedikit basah berada diatas tubuh Diya dengan kedua tangannya sebagai penopang.


Matanya menatap masuk kedalam mata Diya. Ada cinta sekaligus hasrat dalam tatapan Dirga.


Tangan Diya mengelus rahang kokoh Dirga. Mereka saling mendamba malam ini. Namun masih berada di posisi yang sama dengan saling tatap.


"Apa Om boleh memilikimu malam ini?"


Pertanyaan itu membuat mata Diya membulat. Memang ia sudah tahu apa yang seharusnya dilakukan pasangan suami istri. Tapi Diya masih gugup untuk melakukan lebih dari yang kemarin mereka lakukan.


Dengan malu Diya mengangguk pelan tanda setuju. Dirga tersenyum bahagia. Wajahnya mulai mendekat dan mulai mencium bibir Diya. Semuanya ia lakukan dengan gerakan yang lembut agar Diya tak lagi gugup.


Diya mulai membalas sapuan bibir Dirga dengan sama lembutnya. Selesai bermain di bibir Diya, Dirga turun menjelajah ke leher jenjang Diya. Tangannya pelan melepas tali jubah yang melekat pada tubuh Diya.


Menyibakkannya kesamping dan mulai melepasnya. Diya mulai mengeluarkan suara merdunya karena Dirga mulai turun ke bagian dadanya. Karena sensasi yang luar biasa dari sentuhan Dirga, Diya me-re-mas rambut Dirga pelan dan memejamkan matanya.


Dirga sungguh tak ingin bermain kasar, karena ini adalah kali pertama untuk Diya. Lingerie hitam itu disibakkan perlahan dan mulai menampilkan kemolekan tubuh Diya pada bagian atas.


Diya benar-benar dibuat melayang oleh Dirga. Dadanya membusung kala Dirga menyesap pelan benda kenyal yang ada disana. Bergantian menyesap ujungnya dan menggigitnya pelan.


Tak ada suara selain suara indah Diya dengan nafas memburu. Diya merasa sesuatu di bawah sana akan tumpah. Hanya dengan sentuhan-sentuhan Dirga, Diya dibuat meremang seketika.


Wajar saja, Dirga sudah berpengalaman meski sudah lama tak melakukannya. Tangannya mulai menyibak sisa kain yang menutupi bagian inti Diya. Diya hanya pasrah dan memberikan akses pada Dirga untuk menjelajah lebih jauh.


Beberapa tanda bahwa Diya hanya miliknya sudah ia sematkan di leher, dada, dan perut Diya. Tubuh Diya menggelinjang hebat saat bibir Dirga menyapu bagian intinya. Suaranya tertahan karena merasakan nikmat tak terkira.


"Om..."


Diya menggigit bibir bawahnya kala lidah Dirga bermain di area sensitif Diya dan menyesapnya pelan.


"Ouch!"


Diya kembali mendapat pelepasannya. Sungguh Dirga sangat ahli memanjakan Diya. Ketika nafas Diya mulai memburu, Dirga melepas satu-satunya kain yang melekat di tubuhnya dan menampakkan sesuatu yang mengacung tegak, besar dan berotot.


Diya menatap tubuh polos Dirga dengan benda berkedut yang digesekkan pelan ke inti Diya.


Apakah benda sebesar itu bisa masuk kesana?


Pikiran Diya mulai di gelayuti dengan kekhawatiran tak berarti. Tentu saja Dirga lebih ahli dalam hal itu dan Diya tidak perlu khawatir.


"Sayang, kamu sudah siap?" pertanyaan Dirga membuat tubuh Diya yang sudah melemas hanya bisa pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Antara takut namun tubuhnya menginginkan lebih.


Dirga tak bisa berhasil hanya dalam satu hentakan saja. Kini ia memulai dari bagian kepala atau ujungnya, berjalan pelan menuju puncak, lebih kedalam dan mulai masuk, kembali mencoba masuk, hingga akhirnya...


"Aaakkkhh!!!" satu pekikan lolos dari bibir Diya.


Air matanya mulai mengalir. "Sakit, Om!"


Dirga mencium lembut bibir Diya dengan posisi masih menyatu.


"Ssst! Tahan ya, sayang. Setelah ini tidak akan sakit lagi."


Diya ingin percaya, tapi rasa sakit masih terasa disana. Dirga mulai bergerak pelan. Perlahan tapi pasti. Tidak perlu terlalu terburu-buru. Itu menurut Dirga. Dirga tersenyum melihat ekspresi menggemaskan Diya saat merasakan sakit dan nikmat secara bersamaan.


.


.


#bersambung...