Raanjhana

Raanjhana
Takdir Cinta Nisha : 26. Trending Topic



"Dasar pelakor! Kau tahu kan jika Hernan adalah milikku. Tapi kau dengan sengaja merayunya. Dan bahkan berani menyerahkan tubuhmu padanya. Benar-benar menjijikkan! Tampang saja kelihatan polos. Tapi kelakuan amat menjijikkan. Wajah cantikmu ternyata menyimpan hati iblis!!!"


Video berdurasi beberapa detik yang menampilkan adegan siraman dan umpatan oleh Asha kepada Nisha, langsung tersebar luas di dunia maya. Ditambah lokasi tempat terjadi perkara adalah di sebuah perusahaan besar yang sedang naik daun.


Beberapa karyawan sudah mendapat hasil rekaman video yang kini jadi trending topic. Hernan yang baru memasuki area gedung kantornya, bergegas menuju ruangannya. Ia masih tak menyadari jika didalam kantornya sedang terjadi peristiwa viral.


Denny, asisten Hernan, ikut mendapat tautan dari video yang sedang viral hari ini. Denny mengernyitkan dahi. Ia tahu jika pemeran dalam video viral tersebut adalah Asha dan Nisha, istri Hernan.


"Pak..." panggil Denny.


"Ada apa, Den?" tanya Hernan.


"Maaf, Pak. Ini..." Denny menunjukkan ponselnya pada Hernan.


Hernan menggertakkan giginya melihat tingkah Asha yang sudah kelewat batas.


"Dimana mereka?" tanya Hernan dengan mata memerah.


"Di kantin kantor, Pak."


Hernan langsung berjalan dengan cepat menuju kantin. Disana masih riuh ramai orang-orang berbisik-bisik dan mengumpati Nisha.


"Apa yang sedang kalian lakukan!!" suara berat dan keras itu menggema di seluruh ruangan.


Asha membulatkan mata melihat kedatangan Hernan. Hernan segera mendekati Asha dan Nisha.


"Hernan!" pekik Asha dengan wajah memelas. "Dia sudah merebutmu dariku. Dia pantas menerima semua ini." Asha menangis terisak.


Hernan sungguh tidak mengerti dengan sikap Asha kali ini. "Sudah kubilang, aku tidak pernah memiliki hubungan apapun denganmu. Dan aku sudah berhenti mencintaimu."


Hernan membuka jasnya lalu dipakaikan pada tubuh Nisha yang sudah basah terkena siraman es jeruk dan lemon tea. Hernan segera membawa Nisha pergi dari sana. Menyisakan Asha yang masih tersenyum puas karena sudah mempermalukan Nisha.


Hernan membawa Nisha ke ruangannya. Ia membersihkan wajah Nisha yang basah dan lengket.


"Sayang, kenapa kau diam saja? Bicaralah!" Hernan membawa Nisha dalam pelukannya.


"Aku akan menyiapkan baju ganti untukmu. Sebaiknya ganti bajumu di kamar pribadiku." Hernan membawa Nisha ke kamar pribadi di ruang kerjanya.


Nisha hanya menurut.


"Dengar, aku akan selesaikan masalah ini. Kau bersihkan dirimu dulu. Nanti aku akan kembali lagi." ucap Hernan kemudian mengecup lama kening Nisha.


.


.


Hernan meminta orang-orang kepercayaannya untuk menyelesaikan masalah video viral yang terjadi di kantornya. Ia mencari keberadaan Asha namun ia tak menemukannya.


"Kemana wanita itu? Dasar brengsek! Bisa-bisanya dia melakukan ini pada istriku?" Hernan tak bisa menahan emosinya lagi.


"Pak..."


"Bagaimana Denny? Kau sudah dapatkan wanita itu?!"


"Belum, Pak. Nona Asha seperti menghilang begitu saja."


"Sial!!! Kemana perginya wanita itu! Hubungi Dirga! Biasanya ia selalu membela wanita itu."


"Baik, Pak."


Namun ternyata kali ini, Dirga sama sekali tidak tahu menahu soal keberadaan Asha. Beberapa waktu ini, Dirga lebih sering berangkat ke perusahaan ayahnya ketimbang datang ke perusahaan yang ia bangun bersama Hernan. Ia akan mulai melepas perusahaan itu untuk Hernan, karena ayahnya juga membutuhkannya untuk melanjutkan perusahaan keluarganya.


Suasana mulai ricuh karena banyaknya para pencari berita yang datang ke kantor Hernan untuk meminta klarifikasi. Nisha sudah selesai membersihkan diri dan berganti baju dengan pakaian yang disiapkan Hernan.


Hernan meminta Nisha agar segera pergi meninggalkan kantornya. Ia akan mengantar Nisha kembali ke rumah. Nisha masih terus terdiam dan tidak bicara apapun.


"Sayang... Bicaralah! Kenapa kau mendiamkan aku? Aku sangat cemas!"


Masih tak ada jawaban dari Nisha. Hernan berinisiatif untuk mencium bibir Nisha, menyesapnya lembut dan makin dalam. Hernan menarik tengkuk Nisha makin mendekat padanya. Meski Nisha tidak membalas, Hernan tahu caranya agar istrinya itu membalas ciuman darinya.


Dan benar saja, Nisha membalas ciuman Hernan. Hernan tersenyum karena mendapat balasan sapuan yang amat lembut.


Tok


Tok


Nisha mendorong tubuh Hernan. "Bisa-bisanya kau melakukan ini disaat seperti ini." sungut Nisha dengan wajah memerah sambil mengusap bibirnya yang basah karena Hernan.


"Habisnya kau tidak juga bicara padaku." Hernan menggenggam tangan Nisha lalu keluar dari kamar.


"Bagaimana, Denny?"


"Kami sudah siapkan kendaraan untuk Nona Nisha agar bisa keluar dari sini dengan aman."


"Baiklah, ayo!" Hernan berjalan cepat diikuti Nisha dan Denny.


Mereka bertiga sudah berada diluar kantor. Namun ternyata kendaraan yang sudah disiapkan Denny belumlah muncul.


"Dimana mobilnya, Den?!" tanya Hernan.


"Maaf, Pak. Sepertinya terjadi miskomunikasi." Denny terlihat sedang menghubungi seseorang dari ponselnya.


Nisha dan Hernan menunggu dengan cemas. Tampak beberapa wartawan menyadari keberadaan mereka dan akan berjalan mendekat.


"Hei, itu dia!" teriak seseorang menunjuk ke arah Nisha.


Hernan makin panik. "Bagaimana ini?" Hernan mengusap wajahnya.


"Kakak, kenapa kita tidak hadapi saja bersama?" usul Nisha.


"Tidak semudah itu. Kau tidak tahu apa yang bisa mereka lakukan. Sekarang yang terpenting adalah menyelamatkanmu lebih dulu. Aku akan mengurus sisanya."


Keadaan sudah semakib terdesak, Nisha tidak bisa menghindar lagi, namun tiba-tiba....


"Cepatlah naik!" perintah seseorang yang berteriak dari atas motornya. Itu adalah Grey.


Hernan nampak tak suka dengan kedatangan Grey. Namun ia tidak memiliki pilihan. Ia terpaksa melepas Nisha untuk pergi bersama Grey.


"Pergilah! Kita bertemu di rumah." ucap Hernan dengan kembali mengecup kening Nisha.


Secepat kilat motor Grey berlalu dari sana. Hernan hanya menghela nafasnya.


"Maafkan saya, Pak." Denny berkali-kali meminta maaf pada Hernan.


"Ya sudah, tidak apa. Yang penting Nisha selamat." balas Hernan pasrah.


.


.


Sementara itu di kediaman Dirga, kedua orang tua Asha sedang bersimpuh meminta maaf pada kedua orang tua Dirga. Dirga yang melihat pemandangan itu merasa miris.


Karena ulah putri mereka, orag tua yang harus menanggung akibatnya.


"Sudahlah, kalian jangan seperti ini. Kalian tidak seharusnya meminta maaf pada kami." ucap Thania.


"Sebaiknya kalian temui Rio dan Adelia. Pasti mereka lebih terluka karena masalah ini." Imbuh Tama.


Dirga tidak ingin ikut campur urusan Asha. Ia sudah muak dengan sikap Asha yang berubah. Ia merebahkan tubuhnya dan memejamkan mata.


"Bagaimana kabar Nisha? Dia pasti terluka. Dan Asha... Pergi kemana kamu setelah membuat kekacauan ini?" gumam Dirga.


Disisi lain, Grey masih melajukan motornya dijalanan kota. Grey bisa melihat jika raut kesedihan tampak jelas diwajah Nisha.


"Nona, kau ingin aku mengantarmu kemana?" tanya Grey.


"Kemana saja. Aku sedang tidak ingin pulang ke rumah." jawab Nisha malas.


"Baiklah, Nona. Pegangan yang erat ya!"


Nisha makin mengeratkan tangannya melingkar ke pinggang Grey. Saat ini rasanya bersama Grey sangatlah menenangkan untuk Nisha. Memikirkan Hernan membuatnya merasakan kembali sakit hati yang sudah diberikan Asha padanya.


.


.


#bersambung...