Raanjhana

Raanjhana
Meet Me on Facebook : 11. Surprise Party



Bayu sedang menyiapkan sarapan di dapur ketika Aryan sang pemilik apartemen masih terlelap. Ia cukup mahir dalam hal memasak. Pagi ini ia memasak sesuatu yang simpel, nasi goreng. Dilihatnya Raga keluar dari kamar sudah dalam keadaan rapi dan siap pergi ke kantor.


"Sarapan dulu, Ga. Ini gue udah masakin nasi goreng." Tawar Bayu.


Raga melirik jam tangannya. "Gak sempat, Bay. Gue sarapan dikantor aja."


"Kalo gitu gue bungkusin ya?"


"No, no. Gak usah. Gue harus segera berangkat. Bilang Aryan kalo gue udah berangkat ya." Raga melenggang pergi keluar apartemen.


"Hoaaaammm, bau apa nih? Harum banget." Aryan keluar kamar dengan hidung mengendus-endus menuju dapur.


"Masak apaan Bay? Baunya sampai bikin gue bangun dari mimpi."


"Duduk, Ar. Gue masak nasi goreng. Menu sederhana buat sarapan."


"Gue gak nyangka kalo lo bisa masak. Si Raga udah cabut?"


"Udah. Tanpa sarapan. Apa pekerjaannya sangat penting?"


"Kayaknya sih begitu. Karirnya juga lumayan disana."


"Good. Sampai bisa untuk beli mobil sendiri?"


"Gak, itu mobil dari kantornya. Semacam mobil dinas gitu."


"Ooh... Baguslah."


"Apa rencana lo hari ini? Apa lo mau pergi?"


"Belum tahu juga, Ar. Kayaknya sih iya gue mau ke tempat Sivia."


"Kalo gitu lo pake aja mobil gue yang satunya. Itu kuncinya ada di atas lemari es."


"Gak usah, Ar. Gue bisa naik taksi atau ojek."


"No! Pake aja itu mobil. Lagian jarang gue pake. Serius!!"


"Thanks, Ar... Maaf kalo gue ngerepotin."


"Yaelah, Bay. Santai aja kali. Kita kan teman."


Bayu tersenyum simpul. Ia sudah tak sabar untuk bertemu dengan Sivia.


...***...


Sivia mendapat pesan dari Bayu kalau dirinya akan dijemput untuk makan siang bersama. Sivia senang sekaligus nervous karena sudah lama tak bertemu Bayu. Berkali-kali ia melihat dirinya di cermin, apakah sudah rapi untuk pergi atau belum.


"Sudah cantik, Mbak." Ujar Rena yang tak sengaja memergoki Sivia di depan cermin.


"Beneran, Ren?"


"Iya. Mbak Vi kan memang cantik. Apa ada janji makan siang, Mbak?"


"Iya. Dengan teman lama."


"Itu orangnya sudah nunggu di bawah, Mbak."


"Hah? Serius? Kok kamu gak bilang dari tadi sih. Ya udah, aku pergi dulu ya. Bye, Rena. Kamu juga jangan lupa makan siang." Sivia berlari dengan terburu-buru. Ia tak mau Bayu menunggu lama.


Sivia melihat Bayu duduk di ruang tunggu salon. Sivia mengatur nafasnya dan menyapa Bayu.


"Hai...."


Suara Sivia membuat Bayu langsung menatap ke arahnya.


"Hai juga. Sudah siap?"


"Yap. Mungkin lebih tepatnya, sudah lapar. Hehe." Kemudian mereka tertawa bersama.


.


.


.


Bayu melajukan mobil dengan pelan karena sambil mengikuti instruksi dari suara Mbak 'google maps' yang menuntunnya ke arah sebuah resto.


"Kamu yakin ini jalannya?" Tanya Sivia.


"Kata Mbak googlenya begitu, Vi. Kamu sendiri yang orang sini gimana?"


"Aku belum pernah ke sana. Memang siapa yang merekomendasikan buat datang ke resto itu?"


"Si Aryan. Dia bilang makanannya enak."


"Kenapa gak telepon Aryan aja? Dia pasti tahu jalannya." Usul Sivia.


"Jangan lah, ini sekalian aku juga ngapalin jalanan Kota Baru. Jadi, aku bisa ajak kamu jalan-jalan." Bayu melirik Sivia diikuti senyum penuh hipnotisnya.


Satu hal yang tak bisa Sivia pungkiri. Bayu memiliki tatapan yang tajam bak mata elang. Hanya sekedar dilirik saja sudah membuat jantung berdetak tak tenang. Kemudian senyumnya. He has warm smile and gentle. Wanita mana yang tak klepek-klepek. Apalagi dia bilang kalo dirinya adalah seorang prajurit. Sudah pasti memiliki tubuh yang bidang dan berotot keras karena latihan berat tiap harinya.


Astaga! Sivia! Apa yang kamu pikirkan? Jangan berpikir aneh-aneh soal Dewa...


Sivia menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ada apa, Vi?" Tanya Bayu bingung.


"Gak ada. Coba sini aku cek. Jangan-jangan kamu salah jalan. Kita sudah berputar-putar disini selama 15 menit."


Sivia mengambil ponsel Bayu dan memeriksa arah jalan di aplikasi maps.


Bayu mengernyitkan dahi dan merasa bersalah. Ia memutar balik mobil dan mengikuti petunjuk arah dari Sivia. Sebenarnya tadi pagi Aryan sudah mengingatkan Bayu, untuk jangan langsung mengajak Sivia pergi. Aryan menyarankan agar makan siang di tempat yang dekat dengan salon Sivia saja. Atau kalau memang ingin pergi agak jauh, Aryan meminta Bayu untuk menghapal jalan-jalan di Kota Baru dulu. Tapi Bayu tak menghiraukan saran dari Aryan. Beginilah nasibnya sekarang. Ia jadi tak enak hati pada Sivia.


Sesampainya di resto langganan Sivia, Bayu masih terdiam. Ia benar-benar sudah merusak suasana.


"Kenapa? Kayaknya dari tadi kamu diam terus."


"Maaf ya, Vi. Jadi kacau begini deh. Aku merasa bersalah padamu."


"Gak kok. Aku maklum. Kamu kan baru pertama kali kesini. Jadi wajar kalo kamu belum hafal jalanan disini. Setelah ini aku akan jadi pemandumu. Bagaimana?"


"Pemandu?" Bayu tambah mengernyitkan dahi.


"Iya, kamu adalah wisatawan disini. Jadi, kamu perlu pemandu wisata. Tenang saja, aku kasih diskon kok. 50% dari biaya pemandu wisata yang asli. Gimana?"


"Benarkah? Kalo kasih hati kamu buat aku, bisa gak?"


"Eh?" Mata Sivia membulat sempurna. Sivia syok mendengar pertanyaan Bayu barusan.


"Hahaha, jangan tegang gitu dong. Aku hanya bercanda kok, Vi. Masa iya aku mau merebut tunangan orang." Ucap Bayu diiringi tawa paksa sambil melirik ke jari manis Sivia yang tersemat sebuah cincin.


Sivia membalas dengan tersenyum kikuk.


...***...


Pukul dua siang Sivia kembali ke salon. Hari ini Razona ijin tidak masuk karena tak enak badan. Sivia harus mengurus semuanya sendiri. Sivia turun dari mobil, diikuti Bayu yang juga turun.


"Sorry banget ya, Vi. Acara lunch nya jadi kacau."


"No! Siapa bilang kacau? Aku senang kok bisa makan siang bareng kamu. Tapi, kamu jangan memaksakan diri. Kamu kan gak hapal jalanan sini. Jadi, serahkan saja semua padaku."


"Jangan dong! Masa kamu yang nyetir aku yang di kursi penumpang. Aku janji, lain kali pasti gak akan kacau kayak hari ini."


"Baiklah. Aku tunggu lho! Aku masuk dulu ya, gak enak sama karyawan aku. Sampai jumpa, Dewa..." Sivia melambaikan tangan.


"Sampai jumpa, Dewi..."


Sivia menahan tawanya, namun akhirnya terbahak juga.


...***...


"Mas mau ajak aku kemana?" Tanya Sivia.


"Cuman dinner biasa kok." Jawab Adniyan singkat.


"Dimana?"


"Nanti juga kamu tahu."


Sivia mengernyitkan dahi dan tak bertanya apapun lagi. Tunangannya ini memang bukan orang yang banyak bicara. Cukup mirip dengan dirinya yang juga pendiam. Namun saat bersama, terkadang banyak percakapan yang tidak terduga terjadi diantara mereka.


"Yuk turun, sudah sampai."


Sivia bingung. "Lho, ini kan cafe tempat nongkrong aku sama teman-teman. Kita kesini?"


"Iya, kenapa emangnya? Kamu gak mau?"


"Ya enggak sih."


"Ya udah, ayok!" Adniyan meraih tangan Sivia dan membawanya masuk ke dalam cafe.


Saat mulai memasuki cafe suasana didalamnya agak berbeda dengan biasanya. Tidak banyak pengunjung yang datang ke cafe malam ini. Padahal ini adalah malam minggu. Biasanya banyak anak-anak muda yang nongkrong sekedar minum kopi dan mengobrol.


DOORR DOORR ( suara balon meletus )


"SURPRISE!!!" Ucap beberapa orang bersamaan.


Sivia terkejut karena teman-temannya sudah ada disana.


"Kalian?!? Mas, ini maksudnya apa?" Sivia melirik ke arah Adniyan.


"Gini, Vi. Kita sengaja bikin surprise party dadakan buat lo sama pak bos. Buat ngerayain pertunangan kalian kemarin." Jelas Raga.


"Tapi kan-- harusnya aku yang bikinin kalian party karena kemarin aku gak ngundang kalian--"


"Udah, gak apa, Vi. Mereka kan sahabat kamu. Aku gak enak untuk menolaknya." Tambah Adniyan.


"Jadi Mas kerjasama sama mereka ya?"


"Santai, Vi. Lagipula ini pesta juga bukan buat lo doang kok." Sahut Dina.


Sivia mengernyitkan dahi.


"Ini pesta juga buat penyambutan kedatangan teman lama kita, Bayu. Yang udah hampir 6 tahun bak hilang ditelan bumi." Terang Aryan.


Sivia membulatkan mata ketika Bayu mulai berjalan menghampirinya dan teman-temannya. Bayu tersenyum ke arah Sivia. Ia sama sekali tak diberitahu perihal pesta kejutan ini. Saat dia bersama Bayu kemarin, Bayu juga tak berkata apapun soal pesta. Sivia mulai kikuk karena ia bersama Adniyan sekarang.


"Oh ya, Bay. Kenalin, ini tunangannya Sivia, yang juga bos gue dikantor." Raga menjelaskan.


Bayu dan Adniyan berdiri berhadapan. Dan ditengahnya Sivia berdiri mematung. Detak jantungnya mulai tak beraturan. Ia merasa kisah rumitnya akan dimulai dari sini.


"Bayu--" Bayu mengulurkan tangannya pada Adniyan.


"Adniyan, panggil saja Iyan--" Adniyan menyambut uluran tangan dari Bayu. Merekapun berjabat tangan, dan saling menatap.


......


"Happy weekend genks 🌼🌼


semoga kisah ini bisa menghibur kalian 😚😚😚