Raanjhana

Raanjhana
Trapped by Cold CEO : 36. Menantu Terbaik



Alfred meminta Ana dan Grey untuk datang ke mansion miliknya. Ia beralasan jika ia ingin makan malam bersama putra dan menantunya. Sebenarnya ia tak ingin membuat Ana khawatir dengan penolakan ayahnya yang masih belum bisa menerima pernikahan Ana dan Grey. Tapi ia tak mau menutup-nutupi apapun dari Ana. Hidupnya sudah cukup menderita selama beberapa bulan ini.


"Selamat datang, menantuku..." sapa Alfred pada Ana.


"Daddy! Apa hanya menantumu saja yang kau sapa, huh?! Kau sudah melupakan aku sejak mendapat menantu terbaik di dunia ini." gerutu Grey.


Ana memukul pelan lengan suaminya. "Dengar, jika orang tua tidak menyapamu, maka kau lah yang harus menyapa lebih dulu."


"Dengarkan istrimu, Grey! Kau bahkan tidak menyapa ayahmu!" kini giliran Alfred yang mengeluh. Setelahnya tawa renyah menggema di mansion besar itu.


Alfred sangat bersyukur karena mendapat menantu seperti Ana. Ana banyak membawa perubahan dalam diri Grey. Sungguh ini adalah berkat yang luar biasa.


Usai jamuan makan malam keluarga, Alfred mengajak Ana dan Grey untuk duduk berbincang santai di teras belakang. Ana menuangkan dua gelas wine untuk dinikmati para pria itu.


"Daddy, apa ada kabar yang ingin Daddy sampaikan pada kami?" Grey membuka percakapan.


Alfred menyesap wine dalam gelas kemudian menghela nafas.


"Tentu kau sudah tahu apa yang akan Daddy bicarakan dengan kalian."


"Apa ini tentang ayahku?" Ana mulai paham kemana arah perbincangan ini mengalir.


"Ana, Daddy tidak ingin kau terlalu cemas dengan masalah ini. Dan kau juga, Nak." ucap Alfred pada Ana dan Grey.


"Ayahmu hanya butuh waktu saja. Daddy yakin jika Alfonso bisa merestui kalian. Kau harus membuktikan jika kau adalah menantu dan suami terbaik untuk Ana." Alfred menyemangati Grey.


"Iya, Dad. Aku tahu."


Ana menatap Grey dan menggenggam tangan Grey.


"Aku yakin kau pasti bisa." ucap Ana.


"Besok adalah hari kepulangan ayahmu dari rumah sakit. Kau harus bersiap untuk menjemputnya dan membawanya tinggal disini." lanjut Alfred.


"Tinggal disini?" Tanya Ana.


"Iya, Ana. Akan lebih baik jika Alfonso tinggal disini bersama Daddy dan juga kalian."


"Eh? Kita?" Grey terkejut.


"Tentu saja. Kalian sebaiknya pindah kemari agar bisa mengawasi perkembangan Alfonso. Ayahmu butuh perawatan khusus, Ana. Daddy yakin dia hanya mau di urus olehmu saja."


Grey dan Ana saling pandang.


"Pikirkanlah, Nak!" imbuh Alfred.


"Baiklah, Dad. Akan kami pikirkan."


Usai berbincang ringan dengan Alfred, Grey dan Ana pamit undur diri untuk kembali ke apartemen mereka. Selama perjalanan, mereka berdua hanya diam. Mereka disibukkan dengan pikiran masing-masing.


Ana melirik kearah Grey yang nampak gusar. Ingin rasanya mengucapkan sesuatu namun ia enggan. Ia takut kata-kata yang keluar dari bibirnya akan menyakiti Grey.


"Ada apa melihatku?"


"Eh?"


Ternyata Grey mengetahui jika Ana sedang memperhatikannya.


"Umm, tidak. Tidak ada apa-apa." jawab Ana.


"Jangan berbohong, Ana. Kau tidak pandai berbohong." sahut Grey dengan masih menatap jalanan di depannya.


"Umm, itu ... itu soal kepindahan kita ke rumah Daddy Alfred. Bagaimana menurutmu?"


Grey menghela nafas. "Jika itu yang terbaik, maka seharusnya itu yang kita lakukan." putus Grey.


"Eh? Kau yakin?"


"Iya. Asal bersamamu aku akan ikut."


"Ish, kau ini! Aku serius!"


"Aku juga serius, Ana."


Ana mengerucutkan bibirnya.


"Kau yakin tidak merasa terpaksa?" tanya Ana sekali lagi.


"Tidak! Ini demi kebaikan kita bersama, bukan? Aku harus membuktikan jika diriku adalah menantu terbaik untuk ayahmu."


Ana tersenyum lebar. "Terima kasih."


"Untuk apa?"


"Karena kau mau berusaha."


"Terima kasih juga, sayang..." Satu tangan Grey terulur untuk membelai wajah Ana.


......***......


Keesokan harinya,


"Bagaimana? Kau sudah mengemas barang-barang kita yang akan kita bawa ke rumah Daddy?"


"Iya. Kamar kita juga sudah kudesain dengan peredam suara."


Ana mengernyit bingung. "Maksudnya?"


Grey tertawa. "Aku hanya tidak ingin para orang tua mendengar desa'hanmu saat malam hari." bisik Grey.


"Grey!!!" sungut Ana.


"Ha ha ha, maafkan aku, sayang. Ya sudah, ayo kita berangkat." Grey menggandeng tangan Ana.


"Tunggu!!" cekal Ana.


"Ada apa? Apa ada yang tertinggal?"


"Umm, tidak ada. Aku hanya..."


Ana memberikan sebuah kecupan semangat untuk suaminya. Grey tersenyum karena sekarang istrinya makin berani memulai. Grey tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini.


Grey mulai membawa Ana kedalam kehangatan dan kenikmatan surga dunia dimana hanya ada Ana dan dirinya. Ana mulai terbuai dengan semua kehangatan dan sentuhan yang diberikan Grey.


Ana memejamkan mata kala semua rasa melebur menjadi satu. Sentuhan demi sentuhan membuatnya melupakan apa yang harusnya mereka lakukan. Ana tak ingin kebersamaan ini cepat berlalu.


Hingga akhirnya mereka terlambat selama dua jam untuk menjemput Alfonso di rumah sakit dan membuat ayah Ana itu semakin tak menyukai Grey.


"Maaf, kami terlambat." ucap Grey penuh sesal.


Ana hanya tertunduk malu saat Alfred menatapnya dengan senyum yang penuh arti.


"Sudahlah. Sebaiknya kita pulang ke mansion." Sahut Alfred.


Grey berinisiatif untuk mendorong kursi roda milik Alfonso. "Mari, Dad. Aku yang akan mendorongnya."


Awalnya Alfonso ingin menolak dan meminta Ana yang mendorong kursi rodanya, namun Grey mengambil alih dan memaksa untuk membantu. Alfonso hanya bisa menggeleng pelan dengan tingkah menantunya.


Tiba di mansion Alfred, Grey membawa Alfonso untuk beristirahat di kamar tamu yang sudah disiapkan.


"Sebaiknya Daddy istirahat dulu." Grey memindahkan tubuh Alfonso dari kursi roda menuju tempat tidur.


Ana menatap kagum pada Grey yang sangat telaten membantu ayahnya.


"Apa kau dan Ana juga tinggal disini?" tanya Alfonso.


"Iya, Dad. Aku dan Ana juga tinggal disini. Semoga Daddy kerasan tinggal disini." jawab Grey.


"Terima kasih," ucap Alfonso.


"Jika Daddy butuh sesuatu tekan saja tombol ini. Aku akan segera datang kemari." ujar Grey.


"Iya, baiklah."


"Dad, aku akan ke dapur dulu untuk menyiapkan makan malam. Daddy istirahat saja." ucap Ana.


Makan malam pun telah siap. Ana meminta Grey untuk membawa ayahnya ke meja makan. Grey dengan semangat membars segera mendatangi kamar Alfonso.


"Sepertinya akan berhasil, Nak." ucap Alfred pada Ana.


"Iya, Dad. Semoga saja." balas Ana diiringi senyuman.


Grey mengetuk pintu sebelum masuk kedalam kamar Alfonso.


"Masuk!" terdengar jawaban dari dalam kamar. Grey segera masuk dan menyapa Alfonso.


"Dad, makan malam sudah siap. Aku akan membantu Daddy untuk naik ke kursi roda."


"Hmm." Alfonso hanya membalas dengan dehaman.


"Besok akan kubelikan Daddy kursi roda otomatis agar Daddy bisa beraktifitas dengan lebih leluasa. Dan juga aku sudah mendaftarkan Daddy untuk mengikuti jadwal terapi. Daddy tenang saja. Terapisnya sudah kucarikan yang terbaik di seluruh London."


Alfonso hanya mengangguk. Grey terus mendorong kursi roda Alfonso hingga tiba di ruang makan.


"Silahkan, Dad!" ucap Grey.


Alfonso melihat interaksi antara putri dan menantunya itu. Ada rasa tak biasa kala melihat senyum Ana yang terus mengembang ketika bersama Grey.


"Apakah dia memang menantu terbaik untukku?" batin Alfonso.


Sejurus kemudian, ia tersenyum.


"Sepertinya iya. Dia memang menantu dan suami terbaik untuk Ana." lanjut batin Alfonso.


......***......


#bersambung...


"Terima kasih untuk kalian yg selalu setia menanti kisah ini UP. Per hari ini Raanjhana akan UP setelah pukul 6 sore ya genks. karena cerita ini bergenre roman-dewasa. Akan kuusahakan up 2 bab perhari. Sekali lagi mohon maaf atas ketidaknyamanannya."


"Jangan lupa tinggalkan jejak 😘😘😘


...Thank You...