
Hernan sedang bersiap untuk menghadapi para pencari berita. Denny sudah menyiapkan tempat untuk Hernan menemui para wartawan yang sudah ingin mendapat konfirmasi dari kejadian hari ini. Tak lupa Hernan juga sudah menyiapkan apa-apa saja yang akan ia katakan di depan para wartawan nanti.
Hernan berjalan tegap menuju sebuah podium yang sudah Denny siapkan. Ia berdiri didepan mikrofon. Hernan memulai kalimatnya.
"Mohon maaf sebesar-besarnya atas insiden yang terjadi hari ini di kantor saya. Saya ingin meluruskan terkait video viral yang sudah tersebar melalui dunia maya. Saya ingin memberitahukan sesuatu kepada kalian semua. Saya... Andromeda Hernandez, telah menikah dengan Nisha Wilhelmina. Gadis yang ada di video itu dan diperlakuan tidak senonoh itu adalah istri saya. Ini bukti-buktinya." Hernan menunjukkan sebuah dokumen pernikahan lengkap dan foto-foto pernikahannya dengan Nisha.
"Saya harap kalian bisa mencabut tuduhan kalian kepada istri saya. Dia bukanlah pelakor. Dia adalah istri sah saya!" tegas Hernan.
Para pencari berita mencecar Hernan dengan berbagai pertanyaan. Hernan menjawab satu persatu semua pertanyaan dengan tetap tenang meski hatinya gelisah mengingat istrinya yang pergi bersama Grey.
Usai melakukan konferensi pers, dan menyebarluaskan video klarifikasinya, Hernan mencoba menghubungi ponsel Nisha, namun tidak tersambung. Hernan makin kesal dan menyalahkan semua pada Asha.
Sementara itu dikediaman keluarga Nisha, Haidar, Raihan dan Antonia sedang duduk bersama dengan Rio dan Adelia. Begitu mendengar berita tidak mengenakkan ini, Rio dan Adelia segera meluncur menuju kediaman Haidar.
Disaat para orang tua sedang menunggu konfirmasi dari pihak Hernan, tiba-tiba ponsel Rio berbunyi. Sebuah panggilan dari Denny.
Denny mengabarkan jika Hernan sudah melakukan konferensi pers. Rio mengakhiri panggilan karena merasa satu masalah telah usai.
"Hernan sudah mengklarifikasi semuanya, Ayah Haidar." ucap Rio.
"Baguslah. Mungkin ini ujian untuk rumah tangga mereka. Bagaimana jika kita menguji cinta mereka juga?" sahut Haidar.
"Ayah!!!" pekik semua orang disana.
Haidar tertawa renyah. "Kalian ini kenapa berteriak? Ayah tidak tuli!"
"Ayah, mereka sudah cukup mendapat masalah hari ini. Jangan menguji mereka lagi." pinta Adelia.
"Aku hanya ingin memberikan pelajaran pada putra kalian!" ucap Haidar.
"Maksud ayah?" Rio tidak paham.
"Kalian ikuti saja rencanaku. Jika ikatan cinta mereka begitu kuat. Pasti mereka bisa menghadapi ini."
Raihan saling pandang dengan Antonia, lalu Rio saling pandang dengan Adelia.
"Apa yang harus kami lakukan, Ayah?" tanya mereka bersama.
"Rio, Adel. Kalian pergilah ke rumah Hernan terlebih dahulu. Nanti aku dan Raihan akan menyusul."
"Baik, Ayah."
.
.
Grey membawa Nisha ke suatu tempat yang agak jauh dari kota. Nisha sempat terkejut karena Grey membawanya ke sebuah villa di puncak.
"Grey... Tempat apa ini?" tanya Nisha melihat sekeliling.
"Masuklah dulu!" Ucap Grey.
Nisha duduk di teras depan villa dan menikmati pemandangan alam yang asri itu. Grey membuatkan secangkir coklat hangat untuk Nisha.
"Minumlah! Coklat akan membuat perasaanmu lebih tenang."
"Terima kasih, Grey." Nisha menyesap sedikit demi sedikit coklat panas di tangannya.
"Kau belum menjawab pertanyaanku. Tempat apa ini?" tanya Nisha.
"Ini adalah tempat persembunyianku."
"Maksudnya?"
"Saat aku merasa lelah dan bertengkar dengan ayahku, aku datang kemari untuk menenangkan pikiranku."
"Apa kau sering bertengkar dengan ayahmu?"
"Hmm, tidak sering juga. Semenjak kematian ibuku, ayah mulai berubah dan hanya memikirkan perusahaannya saja. Berkali kali dia memintaku untuk ikut pindah dengannya ke Inggris. Tapi aku selalu menolak. Aku ingin menyelesaikan kuliahku dulu disini."
"Lalu apa keputusanmu?"
"Belum tahu. Aku masih menikmati tinggal di Indonesia."
Nisha kembali meminum coklatnya. Matanya menerawang jauh.
"Aku tidak tahu apakah aku masih bisa terus bertahan atau tidak..." ucap Nisha sendu.
"Jangan bicara begitu. Ini lihatlah! Suamimu sudah melakukan konferensi pers di depan semua orang..." terang Grey
"Aku akan mengantarmu pulang jika kau sudah merasa lebih baik." ucap Grey membiarkan Nisha sendiri agar lebih bisa merenungkan masalahnya.
.
.
Kini Hernan sedang berhadapan dengan Rio dan Adelia, orang tuanya. Hernan tertunduk lesu karena merasa bersalah.
"Aku minta maaf pada ayah dan ibu. Aku tidak tahu jika Asha akan berbuat senekat itu." ucap Hernan sambil menunduk.
"Sudahlah, nak. Yang terpenting kau sudah menyadari kesalahanmu. Apa kau masih mencintai Asha?" tanya Rio.
"Tidak, ayah. Aku mencintai Nisha. Aku mencintai gadis kecilku..." tegas Hernan.
"Jadi kau sudah mengenalinya, huh?" kini giliran Adelia yang menimpali.
"Jadi, kalian sudah tahu jika Nisha adalah..."
Rio dan Adel mengangguk mantap.
"Ayah! Ibu! Tega sekali kalian melakukan ini! Aku bahkan selalu mencarinya tapi kalian ternyata menyembunyikannya. Aku bahkan sudah amat menyakitinya..." sesal Hernan lalu mengacak rambutnya.
"Benar! Menyesal lah sekarang saat kau masih bisa menyesal!" suara seorang pria tua membuat Hernan menoleh kearahnya.
"Kakek Haidar!" seru Hernan.
Haidar datang bersama Raihan dan langsung bergabung dengan mereka bertiga di sofa ruang tamu.
"Dimana Nisha?!" tanya Haidar.
"A-aku tidak tahu, Kek." jawab Hernan sambil menunduk.
"Apa maksudmu tidak tahu, nak? Bukankah kau membawanya pulang lebih dulu?" tanya Raihan.
"A-aku... Aku..."
"Jangan bilang Nisha bersama dengan anak lelaki itu?!" ucap Rio.
"Maaf, ayah, kakek. Saat itu aku tidak memiliki pilihan lain selain menyerahkannya pada Grey. Wartawan mengejar Nisha, aku harus menyelamatkannya lebih dulu karena Nisha masih sangat syok."
Rio nampak menghela nafasnya kasar. Raihan dan Haidar pun ikut memijat pelipisnya pelan. Adelia mendekati putranya, dan mengusap punggung Hernan lembut.
Ketika semua orang sedang beradu dengan pikiran masing-masing, tiba-tiba sebuah suara mengejutkan mereka.
"Ada apa ini? Kenapa kalian semua ada disini?"
Itu adalah suara Nisha. Hernan segera mendongak kearah suara lembut istrinya.
"Nisha!!!" Hernan begitu senang bisa melihat istrinya lagi. Ia berlari menghampiri Nisha lalu memeluknya.
"Sayang... Kau baik-baik saja? Aku sangat mencemaskanmu..." Hernan memeluk Nisha sangat erat, namun Nisha tidak membalasnya.
Hernan melepas pelukannya dan melihat kondisi istrinya. Dirangkumnya wajah Nisha yang masih terlihat sedih itu. Hernan ingin mendaratkan sebuah kecupan di kening Nisha.
Namun dengan cepat Haidar segera menarik lengan Nisha.
"Jangan sentuh cucuku!" ucap Haidar penuh penekanan.
"Kakek? Dia adalah istriku..." bela Hernan.
"Benar. Dia adalah istrimu. Tapi kau selalu menyakitinya, bukan? Maka kau tidak pantas menjadi suaminya. Raihan! Bawa Nisha pulang ke rumah!"
"A-Apa?! Tapi, Kek..." Hernan berusaha menghalangi namun usahanya sia-sia.
"Kek! Jangan pisahkan aku dengan Nisha! Aku sangat mencintainya." pinta Hernan yang kini sudah meneteskan air matanya.
"Renungkan dulu semua kesalahanmu, baru kau bisa menemui cucuku kembali. Buktikan jika kau memang mencintainya! Ayo Raihan!!"
Haidar dan Raihan segera membawa Nisha pergi dengan mobil mereka. Nisha hanya pasrah menuruti keinginan kakek dan ayahnya.
Sementara Rio dan Adelia hanya saling pandang lalu mengedikkan bahunya. Mereka menatap sendu pada putranya yang meraung-raung karena kehilangan wanita yang dicintainya.
.
.
#Bersambung...