
...Malam ini 'ku tak bisa tidur,...
...memikirkan kamu yang disana,...
...apakah kau baik-baik saja?...
...Tuhan 'ku hanya ingin tahu kabarnya,...
...-Pernah Memiliki-...
......***......
-Satu Tahun Kemudian-
Grey menatap langit malam yang seakan tersenyum mengejek padanya. Bagaimana tidak? Ia kini tengah berdiri di tengah kerumunan orang yang sedang menikmati Hari Kasih Sayang. Pasangan muda mudi bahkan yang sudah berumur menikmati kebersamaan mereka berdua dengan saling bermesraan.
Sudah setahun sejak ia melepas Ana, wanita yang ia akui sangat dicintainya. Lalu kenapa dia melepasnya?
Karena ia tak ingin egois memikirkan keinginannya sendiri. Bahkan dulu ia tak mengucap kata perpisahan pada Ana. Semua terlalu sulit, menurutnya.
Bagian mana yang sulit? Memahami hatinya sendiri dan juga hati Ana.
Getaran ponselnya membuyarkan lamunan Grey yang sebenarnya tidak penting. Untuk apa melamun di tengah keramaian? Tentu saja agar tidak dianggap melamun. Menumpahkan segala rasa rindu yang tak pernah bisa ia ucapkan.
"Tuan ada dimana sekarang?" suara Black di seberang sana.
"Kenapa memangnya?" jawab Grey malas.
"Di klub ada kawan-kawan Tuan. Mereka menunggu Tuan datang."
"Untuk apa?"
"Mereka mengadakan pesta. Bukankah hari ini adalah Hari Kasih Sayang? Semua orang datang dengan pasangan masing-masing."
Grey menggertakkan giginya. "Lalu kau pikir aku harus datang dengan membawa pasanganku?"
"Tidak selalu, Tuan. Tuan bisa menikmati waktu Tuan sendiri."
"Baiklah. Aku akan segera datang."
Grey mengakhiri panggilan. Ia kembali menatap langit.
"Kuharap disana kau juga bahagia, Ana..." batinnya dengan menarik sedikit sudut bibirnya.
......***......
-The Devil Club-
Grey memasuki klub malam miliknya yang kini lebih terlihat lebih hidup meski tanpa adanya wanita-wanita penghibur yang menjajakan tubuhnya. Ia mengganti imej klub malamnya yang dulunya terkenal dengan wanita penghibur profesional.
Entah kenapa Grey lebih suka suasana klub yang sekarang. Tak ada lagi suara erangan kenikmatan di pojok-pojok ruangan. Hanya ada tawa ceria dari orang-orang yang melepas penat disini.
"Tuan!" Simon menghampiri Grey.
"Oh, kau! Dimana teman-temanku? Black bilang ada beberapa temanku yang datang."
"Mereka ada di ruang VIP, Tuan. Mari saya antar!"
"Tidak perlu! Aku hanya ingin sendiri."
"Eh? Apa Tuan ingin minum denganku?"
"Kau mengajakku?"
"Jika Tuan tidak keberatan."
"Baiklah. Kurasa lebih baik aku minum denganmu dari pada dengan teman-teman konyolku itu!"
Dua jam sudah berlalu dengan Grey yang sudah mulai mabuk karena terus menenggak alkohol. Suara racauannya membuat hati Simon miris. Bagaimana tidak? Grey hanya menyebut nama Ana dan mengatakan berkali-kali jika dia mencintai Ana.
"Kenapa baru mengatakannya sekarang? Apa gunanya setelah dia pergi?" batin Simon sambil menggeleng pelan.
Karena kondisi Grey sudah tak kondusif lagi, Simon mengantar Grey kembali ke mansion milik ayahnya. Simon dan Black memapah tubuh Grey yang sudah tak sadarkan diri.
Alfred menggeleng pelan dengan tingkah putra tunggalnya.
"Aku harus bagaimana lagi menghadapimu, Nak?" Alfred meninggalkan Grey yang kini sudah memejamkan mata.
Pagi harinya, mentari seakan tak malu-malu untuk menampakkan sinar hangatnya untuk menerpa tubuh seseorang yang sedang patah hati. Seorang pelayan datang ke kamar Grey dan membangunkannya.
Grey mengerjapkan mata karena mendengar suara pelayan pria itu.
"Tuan, Ayah Tuan sudah menunggu untuk sarapan bersama." ucap si pelayan.
"Iya, aku mengerti. Pergilah!" ucap Grey yang penampilannya sangat kacau.
Tiga puluh menit kemudian, Grey keluar dari kamar dan menuju meja makan.
"Kau terlambat, Nak!" Ucap Alfred.
Grey tak menanggapi.
"Kepalaku sakit sekali, Dad." Ia mengalihkan pembicaraan.
"Yeah, kau terlalu banyak minum semalam."
"Hmm, begitulah. Aku hanya ingin melepas penat, Dad."
"Ini!" Alfred menyodorkan sebuah amplop.
"Apa itu?"
"Tiket untuk ke Belanda."
"Cih, apa maksudnya?"
"Temuilah Ana! Bukankah sudah cukup waktu yang hilang karena ego kalian masing-masing?"
"Jangan ikut campur urusanku, Dad."
Grey meninggalkan meja makan tanpa menyentuh makanannya. Alfred kembali mendesah kasar.
"Sulit sekali membuatnya mengerti."
......***......
-Belanda-
Ana berhasil merintis bisnisnya sendiri dengan memiliki butik kecil-kecilan dari hasil mendesain baju-baju. Baju yang ia jual berharga standar yang masih bisa dibeli oleh kalangan manapun.
Alfonso lebih memilih untuk mengembangkan hobi berkebunnya dengan menanam sayuran organik yang bisa ia jual di pasar. Ternyata hidup dengan sederhana tanpa adanya persaingan bisnis yang berat lebih menyenangkan daripada memiliki banyak bisnis namun dihantui oleh banyak musuh.
Alonso, adik Alfonso masih mendekam di penjara bersama dengan putrinya, Jessline. Alfonso merasa tenang dan bahagia melihat senyum Ana yang kembali mengembang setelah satu tahun pindah ke kota ini.
Alvin sesekali pulang ke Belanda saat sedang libur semester. Ia sudah mulai mengikuti langkah-langkah chef senior di kampusnya yang bekerja di beberapa hotel berbintang atau pun menjadi chef pribadi keluarga kaya raya.
Ana mengikuti beberapa event peragaan busana yang diadakan di kota itu. Ia sangat antusias untuk mengikuti event-event seperti ini. Baginya bertemu banyak orang dan mendapatkan banyak teman adalah cara yang bisa ia lakukan untuk melupakan apa yang tersimpan dalam hatinya.
Lonceng yang terpasang di depan pintu berbunyi nyaring menandakan ada pelanggan yang memasuki butik. Kedatangan pelanggan butik disambut ramah oleh karyawan Ana.
"Silahkan, ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya Magda, karyawan butik.
"Saya ingin bertemu dengan pemilik butik ini." suara berat seorang pria memenuhi ruangan yang tidak terlalu besar itu.
"Eh? Maksud Tuan Nona Ana?"
"Iya."
"Kalau boleh saya tahu, dengan Tuan siapa?"
"Katakan saja pada Ana jika suaminya ingin bertemu dengannya."
"Heh?! Suami?" Magda terlihat bingung dengan penuturan pelanggan pria itu. Pasalnya yang ia tahu, bosnya itu belum menikah dan tidak memiliki kekasih.
"Cepat panggilkan! Kenapa malah diam saja?" sungut pelanggan pria yang tak lain adalah Grey.
"Ah, iya. Baik, Tuan." Magda segera pergi memanggil Ana di ruang kerjanya.
Magda mengetuk pintu sebelum memasuki ruang kerja Ana.
Ana tidak yakin dengan apa yang diucapkan Magda. Namun daripada ia penasaran, akhirnya ia setuju untuk menemui pelanggan pria itu.
"Maaf, apa Anda mencari saya?"
Suara lembut Ana membuat Grey yang berdiri membelakangi Ana memejamkan mata. Sungguh suara itu adalah suara yang amat ia rindukan.
"Tuan...?" panggil Ana ketika tak ada sahutan dari pria itu.
Dengan perasaan yang bergejolak, Grey membalikkan badannya dan berhadapan dengan Ana.
"HAH?!" Ana tercengang melihat pria yang sudah lama tak ditemuinya.
"Apa kabar, Ana?" sapa Grey dengan mengembangkan senyumnya.
Ana hanya bergeming melihat kedatangan orang yang selalu ia simpan di hatinya.
Ana memalingkan wajahnya. "Ada perlu apa datang kemari?"
"Bisa kita bicara?" tanya Grey.
Ana mengangguk dan memilih bangku taman yang ada disekitar butik. Mereka duduk berdampingan dan masih terdiam.
"Umm, kau belum menjawab pertanyaanku, Ana. Bagaimana kabarmu?"
"Seperti yang kau lihat. Aku baik-baik saja."
"Syukurlah."
"Ada perlu apa datang kemari?" tanya Ana ketus.
"Aku hanya berkunjung."
"Oh, begitu."
Tiba-tiba suasana kembali hening. Ana hanya menatap lurus kedepan tanpa ingin menoleh ke orang yang duduk disampingnya.
"Maafkan aku, Ana."
"Eh?" kalimat itu berhasil membuat Ana menoleh kearah Grey.
"Setelah satu tahun, aku baru menyadari semuanya. Maaf..."
Ana menahan air matanya yang hampir tumpah.
"Aku juga minta maaf..." ucap Ana.
"Aku sudah memaafkanmu, Ana."
"Terima kasih. Maaf, aku harus kembali ke butik. Jika tidak ada lagi yang ingin kau bicarakan, maka ... sebaiknya aku pergi."
Ana bangkit dari duduknya dan bersiap pergi. Tanpa melihat kearah Grey, Ana berjalan kembali menuju butik.
Tak disangka Grey juga mengikuti langkah Ana dan langsung menghentikan langkah Ana dengan memeluknya dari belakang.
"Aku mencintaimu, Ana..."
Kalimat itu berhasil membuat Ana mematung.
"Maaf jika terlalu lama untuk menyadarinya."
Ana memejamkan mata merasakan hembusan nafas Grey yang menimpa tengkuknya.
Ana tak menjawab. Namun hatinya juga bergumam.
"Aku juga mencintaimu, Grey..."
Ana melepaskan pelukan Grey dan memutar tubuhnya agar saling berhadapan. Mata Ana berkaca-kaca merasakan kerinduan yang amat dalam pada pria ini.
Mata mereka beradu mencari kebenaran akan cinta yang telah lama mereka pendam.
Tanpa aba-aba dan tanpa kata, tubuh mereka mulai mendekat dan menepis jarak yang selama ini memisahkan mereka.
Mereka saling mengungkap rindu yang selama ini mereka simpan di dalam hati.
...T A M A T...
......***......
"Halo genks, terima kasih banyak utk yg sudah mengikuti kisah Ana & Grey ini hingga tamat. akan kukasih bonus episode untuk kalian yg menantikan bulan madunya Ana & Grey, hehehe.
Setelah ini akan ada kisah Lala, yang akan merajut asa bersama duda tampan bernama Reza.
Dan juga akan ada giveaway buat kalian para pembaca setia Raanjhana. Caranya gampang aja,
1. Dari ke 3 kisah yg ada di Raanjhana ini, manakah kisah yg paling kalian suka? Dan sebutkan part yg paling kalian sukai.
Contoh : Aku suka Om Dirga, I Love You. Part yg paling aku suka adalah saat Dirga mencium Diya disudut bibirnya yg bikin getar2 gimanaaaa gitu.
Pokoknya kasih pendapat kalian dengan seunik mungkin di kolom komentar, di part bonus episode nanti ya.
2. Giveaway buat kalian yg sudah kasih gifts (bunga,koin, kopi, vote) banyak di Raanjhana ini. Bisa dilihat di top fans ya genks. yg berhasil menduduki peringkat teratas, dia lah pembaca yg beruntung.
3. Dan buat kalian sesama othor yg mau ikutan juga boleh banget. Kalian jawab dikolom komentar pertanyaan nomor 1 diatas.
Hadiah berupa pulsa masing2 25k untuk 2 orang pembaca, dan 1 author aktip yg ikutin cerita ini.
Giveaway akan diumumkan bertepatan dengan hari ulang tahun mamak othor yg ke sekian sekian di bulan ini ya
So, buat kalian yg mau ikutan, yuk kasih dukungan kalian mulai dari sekarang yaa.
...Terima kasih ...