
...PERINGATAN: CERITA INI MENGANDUNG MATERI DEWASA....
...HARAP PEMBACA BIJAK MENYIKAPI...
...TERIMA KASIH...
...…***…...
Hari ini adalah hari yang cukup melelahkan untuk Ana. Di hari pertamanya bekerja, Grey sudah menyibukkannya dengan berbagai pekerjaan yang menyita waktu. Terlebih lagi permintaan Grey yang selalu ingin bersama dengannya di sela-sela waktu bekerja. Menurut Ana, Grey sudah seperti bayi besar yang selalu merengek jika tak bertemu ibunya.
Pukul enam petang, Ana kembali ke apartemen. Ia
ingin memanjakan dirinya sejenak sebelum memasak makan malam untuk Grey. Sebenarnya ia masih jengkel dengan Grey yang secara sepihak memintanya pergi ke Paris. Dalam hati, Ana memang merindukan tempat itu. Tempat ia menimba ilmu dan pengalaman hidup mandiri dan bekerja paruh waktu.
Usai berendam air hangat, Ana menuju dapur.
“Masak apa ya?” Ana berpikir sejenak. “Sebaiknya
kutanyakan saja padanya. Mungkin saja dia ingin memakan sesuatu.” Ana meraih ponselnya dan mengetik pesan untuk Grey.
Balasan pesan dari Grey membuat Ana cemberut. Grey membalas jika dirinya akan makan malam bersama klien.
“Baiklah, aku akan memasak untuk diriku sendiri saja.” Ana kembali menuju dapur dan memasak bahan yang ada.
Malam harinya, Ana masih menunggu Grey pulang
bekerja. Namun matanya sudah tak kuat menahan kantuk. Ia memutuskan untuk merebahkan diri di kamar milik Grey. Ingin rasanya ia memiliki privasi untuk dirinya sendiri. Tapi rasanya tidak mungkin karena Grey pasti akan mengaturnya.
Grey tiba di apartemen pukul sepuluh malam. Ia
mencari keberadaan Ana. Senyum tercipta dari bibirnya kala melihat Ana yang tengah terlelap di kamar tidurnya.
“Akhirnya kau menurut juga, Ana. Apa sesulit itu untuk selalu memenuhi keinginanku? Aku hanya ingin kau selalu ada bersamaku. Itu saja.”
Grey membersihkan diri terlebih dahulu sebelum
menuju tempat tidur. Lelahnya terobati saat melihat wajah cantik Ana. Ia merebahkan diri disamping tubuh Ana lalu memeluknya. Aroma tubuh Ana kini menjadi candu baginya. Semua tentang Ana tidak akan pernah cukup untuk ia miliki.
...…***…...
Pukul lima pagi, Grey membuka mata. Entah apa yang
membuat tidurnya seakan tak nyenyak. Ia melihat Ana masih setia menutupi tubuhnya dengan selimut. Grey tersenyum kemudian mengecup singkat kening Ana.
Melihat bibir ranum Ana membuatnya tergoda untuk
menyicip sedikit rasa manis didalamnya. Tanpa ada gerakan yang berarti Grey mulai menyentuh bibir Ana dengan bibirnya. Ia memulai dengan gerakan yang
sangat lambat dan lembut.
Namun tubuhnya menginginkan hal lain dari Ana. Ia
mulai membuka kancing piyama Ana satu persatu. Ia menyibak piyama itu agar bisa melihat lebih jelas dua benda kenyal yang asri itu. Grey menelan salivanya dan ingin berbuat lebih.
Rasa penasaran sudah menyelimuti gairahnya. Dengan hati-hati Grey berhasil melepas pengait benda berbentuk mirip kacamata itu. Grey mulai menyentuh satu bukit yang pas dengan kepalan tangannya. Mere’masnya pelan dan memainkan ujungnya dengan gemas.
Grey menatap wajah Ana yang nampak mengerutkan
kening akibat sentuhan-sentuhan yang diberikan olehnya. Grey tersenyum karena sepertinya Ana menyukai sentuhannya meski matanya terpejam. Ia melanjutkan aksinya dengan melahap habis satu bukit dan tangannya bermain di bukit yang lain.
Ana mulai melenguh merasakan sensasi yang berbeda
pada tubuhnya. Ana merasa jika dirinya sedang bermimpi. Tapi rasa mimpi itu begitu nyata. Akhirnya Ana membuka mata dan melihat bayi besar sedang memainkan kedua benda kenyal miliknya.
“Tuan! Apa yang kau lakukan?” seru Ana sedikit
marah.
Grey tersenyum nakal dan tidak menghiraukan amukan Ana. Ia tahu jika Ana juga menyukai aksinya. Grey memeluk tubuh Ana erat agar lebih mendekat dengan posisi menyamping. Ia kembali menghisap pelan ujung bukit Ana bak seorang bayi.
Tubuh Ana memberikan reaksi nikmat saat mulut hangat Grey menyesap bukit kembarnya secara bergantian. Ana melenguh dan memejamkan matanya. Grey semakin bersemangat memainkan lidahnya pada ujung bukit itu.
“Tuan…”
Ana merasa tubuhnya meremang dengan sentuhan yang diberikan Grey. Apalagi saat Grey memberikan sebuah jejak di area bukit tak berbunga itu. Ana memekik kala Grey memberikan gigitan-gigitan kecil disana.
Semua sentuhan itu membuat Ana menarik kepala Grey dan mendekapnya agar lebih intens menjelajah di bagian belahan dua dunia itu. Ana mere’mas rambut Grey dan mengusapnya pelan.
Tangan Grey bergerilya kebawah menembus celana
piyama Ana dan melesak masuk kedalam segitiga pengaman yang masih melekat pada tubuh Ana.
“Oh, NO!” Ana menolak dan menepis tangan Grey. Namun bukan Grey namanya jika dia menyerah dengan mudah.
“Kau akan merasakan sensasi yang luar biasa, baby.
Diam dan menurutlah.” Bisik Grey dengan suara paraunya.
Grey kembali menghisap dan menyesap rasa yang
sungguh memabukkan itu dan tangannya makin masuk kedalam goa sempit yang belum pernah ia sentuh sebelumnya. Tubuh Ana menggelinjang saat jari tangan Grey digerakkan keluar masuk di bagian inti
tubuhnya.
Grey.
Grey tersenyum saat jarinya merasakan lahar hangat
mengalir dibawah sana. Ana mendekap erat kepala Grey yang makin intens memaikan lidahnya. Kini Ana merasakan tubuhnya mulai lemas.
Grey terhenti saat mendengar ponselnya bergetar.
Sebuah panggilan dari Todd. Grey mengecup singkat bibir Ana sebelum mengangkat panggilan dari Todd. Ia merasa jika ini adalah hal penting.
Grey menuju ke balkon kamarnya dan menempelkan
ponselnya ke telinga.
“Ada apa, Todd? Aku tahu kau menelepon di jam segini
pasti karena ada sesuatu yang penting.”
“Iya, Tuan. Begini, anak buahku sudah menemukan
jejak Alonso Gerardo.”
Grey melirik kearah Ana yang sedang memakai kembali piyamanya.
“Katakan! Dimana pria tua itu? jangan sampai kau
lengah. Karena aku yakin dia pasti bisa berbuat licik dan kabur lagi.”
“Baik, Tuan. Jangan khawatir. Aku akan mengawasi
gerak geriknya dulu sebelum mengambil tindakan.”
“Aku percayakan semuanya padamu, Todd. Terima
kasih.”
“Terima kasih kembali, Tuan.”
Grey mengakhiri panggilan dan menghampiri Ana yang akan turun dari tempat tidur.
“Bagaimana? Kau menyukainya?”
“Ish, dasar big baby!” Ana memukul dada Grey pelan.
“Big baby?” Grey mengernyit.
“Itu adalah nama panggilanku untukmu.”
“Wah, benarkah?” Grey menyilangkan tangannya. “Kalau begitu setiap pagi aku akan menjadi bayi besar yang menuntut padamu.” Grey mengerling nakal.
“Kau!!” wajah Ana memerah karena menahan malu.
“Kau sangat menggemaskan jika sedang marah begitu.” Grey membawa Ana dalam dekapannya. Pagi yang hangat makin membuat cinta kedua insan makin bersemi.
...…***…...
Ana keluar dari lift dan merapikan sedikit penampilannya agar terlihat sempurna. Sepasang mata tengah memperhatikan Ana saat ia berjalan melewati lobi kemudian memanggil taksi.
“Ana? Jadi dia tinggal disini juga?” Orang itu
memiringkan kepalanya sambil memikirkan sesuatu.
“Ini makin menarik. Kurasa Ana pasti tinggal disini
bersama dengan si tuan sombong itu. Kenapa kau memilih bersama dengan tuan sombong itu, Ana?” gumam seorang pria yang tak lain adalah Mike.
#bersambung…
Next story 👇👇👇
*blurb Lala Love Song : ketika hari bahagia sudah
didepan mata, namun ternyata air matalah yang menemaninya. Nirmala, gadis cantik yang sudah siap menyongsong hari pernikahannya, tiba-tiba dikejutkan dengan ketidakhadiran sang mempelai pria. Tangisan pilu terdengar di kamar yang harusnya menjadi saksi penyatuan dua insan yang saling mencinta.
Disaat hatinya menangis, seorang pria datang dan
bersedia menggantikan sang mempelai pria. Dia adalah Reza Rahadian, duda cerai yang sudah lama menginginkan Lala untuk menjadi miliknya. Akankah Lala bisa menerima kehadiran suami dadakannya?
*wah, udah ada blurb aja nih, apakah kisah Ana &
Grey akan segera berakhir, thor?
Tenang, tenang, kisah mereka masih berlanjut ya. Semoga kalian masih tetap menyukai kisah ini.
*jangan lupa tinggalkan jejak ya kesayangan…
...Terima kasih...