
Lala terbangun dari tidurnya setelah semalam ia bergumul panas bersama dengan Andre, kekasihnya. Ia melihat Andre masih terlelap dalam tidurnya. Pastinya ia lelah setelah semalaman menggempur Lala.
Lala melihat ada bercak darah di sprei milik Andre. Hatinya sangat pilu mengingat apa yang sudah mereka lakukan. Mereka melakukan apa yang tidak seharusnya mereka lakukan.
Lala segera bangkit dari atas ranjang dan menuju kamar mandi. Ia mengguyur tubuhnya di bawah shower. Sungguh semua hal tentang keceriaannya telah hilang dalam sekejap.
Lala menatap dirinya di depan cermin. Menyesal. Satu kata yang bisa menggambarkan suasana hatinya saat ini.
Lala menangis dalam diam. Ia takut jika Andre mendengar suara tangisannya.
Setelah beberapa saat membersihkan diri, Lala keluar dan melihat Andre sudah terbangun.
"Hai, sayang. Kau sudah bangun? Kenapa tidak membangunkanku?"
"Umm, aku tidak enak."
"Ya sudah tak apa. Ini hari minggu, kau bisa bersantai disini."
"Umm, apa aku boleh memasak? Aku ingin menyiapkan sarapan untuk kita."
"Silahkan saja. Semua yang ada disini juga milikmu."
Lala segera berganti pakaian dan menuju ke dapur. Ia membuat sarapan simpel yaitu telor orak arik dan nasi goreng.
......***......
Pulang kembali ke kota Semarang membuat Lala merasa bersalah pada ayah dan ibunya. Lala tak kuasa menahan air matanya setelah masuk ke dalam kamarnya. Ia menangis disana.
Seminggu setelah kejadian yang menimpa Lala, kini giliran Andre yang datang ke rumah Lala. Mereka duduk berhadapan di ruang tamu.
Andre bersikap seolah-olah dia adalah menantu yang diidam-idamkan oleh banyak orang tua. Lala hanya tersenyum getir melihat akting Andre yang begitu meyakinkan.
Ternyata Andre datang untuk membahas tentang pernikahan. Hati Lala sedikit menghangat mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Andre. Ternyata Andre memang serius ingin menikahi dirinya.
Lala meminta maaf karena sudah meragukan cinta Andre. Mereka berpelukan sangat lama sebelum Andre berpamitan pulang.
Kembali ke Jakarta, Andre memberitahukan niatnya pada kedua orang tuanya tentang pernikahannya dengan Lala. Ayahnya, Wijaya Kesuma sangat mendukung keputusan putranya untuk segera menikah. Namun tidak dengan ibunya, Liliana. Ia tak ingin putra semata wayangnya direbut oleh orang lain.
"Ma, aku akan tetap menjadi anak Mama meski aku sudah menikah." bujuk Andre. Sebenarnya Andre adalah anak yang baik dan penurut. Namun kadang pergaulanlah yang membawanya dalam lembah kesesatan.
"Pikirkanlah lagi, Nak. Masa depanmu masih panjang."
"Masa depanku ada bersama Lala, Ma. Aku akan tetap menikahinya." kukuh Andre.
......***......
Beberapa bulan kemudian,
Reza menerima sebuah undangan pernikahan dari wanita yang selama beberapa bulan ini mengisi hatinya. Ia mendesah pelan kala membaca undangan itu.
"Harusnya kau bisa memberiku sedikit saja kesempatan untuk bisa mendapatkan hatimu." gumam Reza dengan menatap datar undangan itu.
Disisi lain, Lala memberikan surat pengunduran dirinya pada Zayn, atasannya.
"Kau yakin akan berhenti, La?"
"Yakin, Pak. Saya sudah sepakat akan ikut bersama suami saya ke Jakarta."
" Baiklah. Sekali lagi selamat ya atas pernikahanmu."
"Terima kasih, Pak. Tapi saya 'kan belum menikah."
"Selamat untuk calon pengantin." ralat Zayn.
......***......
Persiapan pernikahanpun mulai dilakukan. Besok adalah hari yang membahagiakan untuk Lala dan Andre. Lala tak henti mengembangkan senyumnya. Tentunya ia sangat bersyukur karena pria yang telah merenggut mahkotanya akan menjadi suaminya.
Keluarga Andre sudah berada di hotel yang disediakan oleh pihak keluarga Lala.
"Apa kau yakin dengan keputusanmu, Nak?" Sekali lagi Liliana bertanya pada Andre.
"Yakin, Ma. Andre akan menikahi Lala. Karena Andre sudah merenggut harta berharga Lala." Pengakuan spontan Andre nyatanya membuat Liliana naik pitam.
"Bodoh kamu, Andre! Bagaimana bisa kamu membiarkan gadis seperti dia merayumu, huh!"
"Ma, Lala tidak merayuku. Akulah yang sangat menginginkan dia!"
Liliana mendengus kesal. "Seharusnya kamu tidak kelewat batas, Andre. Sebenarnya Mama sudah menyiapkan jodoh untuk kamu."
"Anak teman Mama. Menurut Mama levelnya lebih tinggi dibanding kekasihmu yang hanya seorang sekretaris itu. Monica adalah model papan atas."
"Apa, Ma? Model?" Andre nampak tercengang.
"Iya. Dia model internasional. Tapi ya sudahlah. Kamu sudah menentukan pilihanmu sendiri. Jadi, jangan sampai menyesal nanti." Liliana melengos pergi setelah mengatakan semua itu pada putranya. Sebenarnya ia sengaja memanas-manasi Andre. Karena ia tahu Andre memiliki jiwa petualang.
......***......
Tiba di hari bahagianya, Lala sudah bersiap dengan riasan khas pengantin adat Jawa. Ia masih menunggu kedatangan sang pujaan hati di dalam kamarnya.
Kedatangan sang sahabat dari jauh yang sedang hamil besar membuat Lala makin terharu.
"Kamu cantik sekali, La."
"Terima kasih, Visha. Aku pikir kau tidak akan datang karena sedang hamil."
"Tentu saja aku tidak akan melewatkan hari bahagia sahabatku." Visha memeluk Lala.
Saat sedang berbincang dengan Visha, seorang wanita datang menemui Lala. Ia membawa kabar yang cukup mengejutkan.
"Mbak, sepertinya Mas Andre dan keluarganya tidak akan datang."
"Apa maksud ucapanmu itu. Nurul?" Lala bertanya dengan harap-harap cemas.
"Ini, Mbak. Seseorang menitipkan surat ini untuk Mbak Lala."
Lala menatap nanar sebuah surat yang dibawa Nurul. Dengan berat hati Lala mengambil surat dari tangan Nurul.
Lala membacanya perlahan. Tubuhnya melemas seketika setelah membaca surat yang ditulis oleh Andreas.
Air mata kini mengaliri wajah cantik Lala. Ia tak kuasa menahan kesedihannya. Hancur sudah semua impian indah yang sudah ia rencanakan.
"Dasar brengsek!!!" umpat Lala dengan keras hingga membuat orang yang melihatnya ikut merasa pilu.
"Bagaimana ini, Mbak? Para tamu sudah menunggu." ucap Nurul.
Lala bingung. Ia tak tahu harus mengambil langkah apa.
Ditengah kebingungan yang tengah melanda keluarga Lala. Seorang pria datang memecah kepiluan.
"Aku bersedia menikahi Lala!" seru pria itu.
Lala mengerutkan keningnya mendengar penuturan Reza.
"Jangan gila, Reza! Aku tidak mau menikah denganmu!" tegas Lala.
"Tapi aku mau!" balas Reza.
"Jika kau melakukan ini karena kasihan padaku. Maka, itu tidak perlu. Aku tidak perlu belas kasihan dari siapapun." tegas Lala.
"Tidak! Aku melakukan ini karena kesungguhan hatiku. Aku tidak masalah harus menjadi pria pengganti di pelaminanmu."
Lala tersenyum getir.
"Siapa namamu, Nak?" suara ayah Lala, Broto, menginterupsi perdebatan antara Lala dan Reza.
"Nama saya Reza Rahadian, Pak. Saya seorang duda. Jika memang bapak berkenan, saya bersedia menikahi putri bapak. Karena ... sejak lama saya menyimpan perasaan kepada Lala." jelas Reza.
Broto tersenyum lalu menepuk bahu Reza.
"Terima kasih, Nak. Bapak merestuimu untuk menikahi putri bapak."
"Ayah!!!" seru Lala menolak.
"Kau lihat sendiri 'kan? Pria yang selama ini kau cintai ternyata hanya seorang pengecut. Sejak awal bapak tidak setuju kau berhubungan dengannya. Selama ini bapak hanya menghargai keputusanmu. Tapi sekarang, bapak tidak akan lagi mendengar penolakan lagi darimu. Menikahlah dengan Nak Reza. Dialah yang akan menjadi suamimu." tegas Broto.
Lala hanya mendesah pelan dan menerima keputusan ayahnya. Reza tersenyum tipis dan penuh kebahagiaan. Ternyata jika memang sudah jodoh, pasti akan ketemu juga di pelaminan.
......***......
#bersambung
"Gimana reaksi Reza saat tahu jika ternyata Lala....sudah tidak virgin?"
ikuti terus kisahnya ya genks. Jangan lupa beri dukungan selalu untuk karya receh mamak ini.
...terima kasih ...