Raanjhana

Raanjhana
Takdir Cinta Nisha : 21. Nisha Menghilang



“Whoa!! Yeay!!!” seru Nisha dengan gembira ketika melihat


pantai dengan pasir putih yang indah. Nisha berlarian kesana kemari bermain


dengan ombak. Ia amat bahagia hanya dengan melihat ombak yang seakan berlarian


mengejarnya. Senyum di wajahnya terlukis sangat lebar.


Hernan hanya memandangi tingkah Nisha yang seperti bocah


kecil tidak pernah melihat pantai. Ia pun mengeluarkan ponselnya dan mengambil


beberapa gambar Nisha.


Cekrek


Cekrek


Cekrek


Beberapa pose telah Hernan dapatkan. Ia tertawa geli melihat


hasil jepretannya. Tiba-tiba ponsel Hernan berdering. Sebuah panggilan dari


Denny, asistennya.


Nisha yang melihat Hernan sedang memainkan ponselnya segera


menegurnya.


“Hei, tuan. Bukankah kau sudah berjanji tidak akan menerima


panggilan dari siapapun?” teriak Nisha.


“Ini dari kantor. Aku harus mengangkatnya. Pasti penting.”


Jawab Hernan.


Nisha segera mendekati Hernan dan melihat ponselnya. Tertera


nama Denny di layar ponselnya. Nisha memutar bola matanya malas.


“Ya sudah. Angkat saja sana!” ucap Nisha.


Hernan segera masuk kedalam kamar dan membuka notebooknya


sambil menerima panggila dari Denny.


Nisha menyusuri pantai dan mencari kerang siput dan kelomang


yang sedang berjalan di air laut yang biru itu. hingga tak tersadar jika


langkah kakinya sudah jauh dari vila yang ia tempati. Nisha merasa keasyikan


dan lupa waktu.


Saat tersadar, Nisha melihat sekeliling pulau yang terasa


sepi. “Hah? Aku dimana? Perasaan aku hanya berjalan menyusuri pantai deh. Kenapa


sampai ditempat ini? Bagaimana ini?” ucap Nisha sambil celingak celinguk. Ia pun


kembali melangkah. Siapa tahu nanti bisa ketemu jalan pulang.


Hernan yang sudah selesai menelepon, kembali keluar kamar


karena merasa tidak mendengar suara teriakan Nisha. ia melirik arlojinya dan


sudah menunjukkan pukul satu siang. Hernan mengedarkan pandangannya menyusuri


tiap sudut pantai.


“Nisha!!! kau dimana?” teriak Hernan.


“Nisha! jangan bercanda!” Hernan berjalan menyusuri bibir


pantai. Namun ia tak juga menemukan sosok Nisha.


Karena panik, akhirnya Hernan menghubungi pihak resort. Ia meminta


tim SAR untuk mencari keberadaan istrinya. Iapun tak bisa tinggal diam. Ia ikut


mencari keberadaan Nisha. padahal baru pagi tadi ibu mertuanya memintanya untuk


menjaga Nisha. namun kini Nisha telah menghilang dari pandangannya.


“Gadis manja, kau ada dimana sih? Kau benar-benar membuatku


khawatir.” Gumam Hernan.


Nisha terus melangkahkan kakinya menuju ke tempatnya semula.


Namun ia tak sampai juga di tempatnya semula. Ia mulai takut karena hari


sebentar lagi gelap. Perutnya juga terus berbunyi karena menahan lapar.


“Hiks, hiks, Ibu… Ayah… Kalian dimana? Aku takut…” Nisha


mulai terisak.


Ia malah berjalan masuk kedalam pepohonan. Udara dingin


mulai ia rasakan. Ia makin masuk kedalam hutan lebat itu berharap menemukan


rumah penduduk dan ia bisa singgah di rumah penduduk.


“Hernan, apa kau tidak mencariku? Tega sekali kau! Kau pasti


senang ‘kan bisa menelepon Asha sepuasmu. Sejak awal kau memang tidak perduli


padaku… hiks hiks hiks.” Nisha bersandar pada sebuah pohon dan memeluk kedua


lututnya. Ia menangis disana. Berharap ada seseorang yang mendengar


tangisannya.


“Kakak… Jika saja kau ada disini. Kau pasti akan menemukan


aku ‘kan? Kakak… tolong aku!!!” gumam Nisha dalam tangisannya.


.


.


.


*Flashback*


Sekitar sepuluh tahun lalu…


“Lalu, pangeran dan tuan putri hidup bahagia selamanya. Selesai.”


Ucap Antonia yang membacakan dongeng pada Nisha kecil.


“Wah, Nisha juga ingin Bu seperti putri dalam dongeng. Yang dicintai


oleh pangeran pujaan hatinya.” Ucap Nisha asal.


“Sayang, didunia nyata tidak ada pangeran berkuda putih


seperti dalam dongeng. Yang ada hanyalah pria bertanggung jawab yang akan


menemanimu sepanjang hidupmu.” Tutur Antonia.


“Hmm, begitu ya, Bu. Apa Nisha juga bisa menemukan pria


seperti itu?”


“Tentu saja. Oh ya, kau tidak ingin bermain di pantai? Bukankah


kau sangat menyukai pantai. Sejak datang kau hanya mengurung diri di kamar. Ayo


keluar!”


Saat Nisha berusia 10 tahun, ia kehilangan sahabatnya yang


meninggal karena sakit. Untuk menghibur Nisha, Antonia dan Raihan membawa Nisha


berlibur ke Miami. Nisha sangat menyukai pantai, jadi mereka pikir itu bisa


sedikit menghilangkan kesedihan Nisha karena kepergian temannya. Sekalian Antonia


juga menjenguk keluarganya yang memang berasal dari sana.


belum mau keluar kamar. Hingga akhirnya Antonia membelikan buku dongeng


untuknya dan membacakannya setiap hari. Nisha amat gembira. Dan lama-lama


kenangan pahit tentang sahabatnya mulai terhapus.


Hari ini pertama kalinya, Nisha keluar rumah dan berjalan


menyusuri pantai. Ia bermain pasir pantai dan membuat istana pasir. Terinspirasi


dari dongeng yang sering dibacakan ibunya, Nisha juga ingin tinggal di sebuah


istana megah bersama pangerannya.


“Yah, kenapa susah sekali sih membuatnya. Huft!! Sebal!!”


gerutu Nisha karena istana pasirnya tak kunjung jadi.


Seorang anak lelaki remaja mendekati Nisha karena merasa


mengenal bahasa yang Nisha gunakan.


“Hai, kau dari Indonesia juga?” sapa anak lelaki itu ramah.


“Iya, apa kau juga dari Indonesia?”


“Iya. Kau sedang berlibur?”Tanya anak itu lagi.


“Hu’um. Oh ya, apa kau bisa membangun istana pasir? Sedari tadi


aku membangunnya tapi selalu gagal.” Ucap Nisha pasrah dengan memanyunkan


bibirnya.


“Hahahaha,” anak lelaki itu menertawakan Nisha.


“Jangan tertawa, kau bisa apa tidak?” cibir Nisha dengan


menjulurkan lidahnya.


“Hei, gadis kecil, tentu saja aku bisa. Aku ini bercita-cita


menjadi seorang arsitek. Aku akan membangun gedung-gedung tinggi nantinya. Hanya


sebuah istana pasir saja, itu gampang buatku!” sombong anak lelaki itu.


Tak lama, anak lelaki itu membangunkan sebuah istana pasir


untuk Nisha. Nisha terperangah melihat kecekatan anak lelaki itu.


“Wah, kakak… ternyata kakak benar-benar bisa membangunnya. Terima


kasih…” Refleks Nisha memeluk anak lelaki yang usianya terlihat lebih tua dari


Nisha.


Anak lelaki itu amat terkejut dengan pelukan yang diberikan


Nisha. Entah kenapa ada desiran aneh dalam dadanya ketika mendapat pelukan dari


seorang gadis kecil. Mungkin itu namanya anak baru gede alias ABG karena anak


lelaki itu baru memasuki usia 15 tahun. Usia remaja dimana baru mengenal lawan


jenis dan cinta monyet.


Nisha terlihat amat gembira. Ia banyak bercerita pada anak


lelaki yang bahkan ia tidak tahu namanya. Ketika ia ingin menanyakan siapa nama


gadis kecil itu, tiba-tiba ombak besar datang dan menyapu semua orang yang ada


dipinggir pantai tak terkecuali Nisha. terjadi badai secara tiba-tiba.


Nisha terbawa arus dan menghilang entah kemana. Antonia dan


Raihan berusaha mencari putri semata wayang mereka. Namun masih nihil. Nisha terdampar


beberapa kilometer dari tempatnya semula. Ia menangis tersedu menyebut nama


ayah dan ibunya.


Mendengar suara tangis, anak lelaki yang tadi bersama Nisha


lalu menghampirinya. Ternyata ia juga terdampar. Ia mengenali suara Nisha


karena memanggil dengan menggunakan bahasa Indonesia.


“Gadis kecil, kau dimana? Ini aku, jangan takut!!” anak


lelaki itu mendekati suara isak tangis Nisha dan menemukannya dalam keadaan


memeluk lututnya.


Suasana malam yang gelap membuat anak lelaki itu tidak jelas


melihat, namun ia tahu jika itu adalah gadis kecil yang ditemuinya di pantai


tadi.


Nisha meraung-raung ketika anak lelaki itu menyentuh


lengannya. “Tidak! Lepaskan! Aku mau pulang! Aku mau ibuku!!!” teriak Nisha.


“Hei, jangan takut, ini aku! Naiklah ke punggungku. Kau akan


aman bersamaku. Aku janji.”


Suara anak lelaki itu amat menenangkan Nisha. “Kakak…” lirih


Nisha lalu naik ke punggung anak lelaki itu. ia membawa Nisha ke posko


pertolongan agar Nisha bisa segera bertemu dengan keluarganya.


.


.


.


“Nisha!!!”


“Nona Nisha!!!”


“Nisha!!!” teriak Hernan dan beberapa orang tim SAR yang


mencari keberadaan Nisha.


Nisha yang tiba-tiba mendengar suara orang memanggilnya


kemudian ikut berteriak.


“Tolong!!! Tolong aku!!!”


Hernan dan beberapa orang mendengar suara Nisha dari arah


semak-semak dan pepohonan. Hernan segera menuju kearah suara.


“Nisha!!!” panggil Hernan.


Sebuah lampu sorot menemukan sosok Nisha yang sedang memeluk


lutut. Hernan segera menghampiri tubuh Nisha yang sudah menggigil.


“Hei, jangan takut, ini aku! Naiklah ke punggungku. Kau akan


aman bersamaku. Aku janji.”


Samar-samar Nisha mengenali suara berat itu. Nisha yang


sudah lemah segera naik ke punggung Hernan. Hernan berlari cukup cepat karena


tubuh Nisha sudah amat dingin.


“Kakak…” lirih Nisha di sisa-sisa kesadarannya sebelum


akhirnya matanya terpejam dan tak sadarkan diri.


#bersambung