
“Whoa!! Yeay!!!” seru Nisha dengan gembira ketika melihat
pantai dengan pasir putih yang indah. Nisha berlarian kesana kemari bermain
dengan ombak. Ia amat bahagia hanya dengan melihat ombak yang seakan berlarian
mengejarnya. Senyum di wajahnya terlukis sangat lebar.
Hernan hanya memandangi tingkah Nisha yang seperti bocah
kecil tidak pernah melihat pantai. Ia pun mengeluarkan ponselnya dan mengambil
beberapa gambar Nisha.
Cekrek
Cekrek
Cekrek
Beberapa pose telah Hernan dapatkan. Ia tertawa geli melihat
hasil jepretannya. Tiba-tiba ponsel Hernan berdering. Sebuah panggilan dari
Denny, asistennya.
Nisha yang melihat Hernan sedang memainkan ponselnya segera
menegurnya.
“Hei, tuan. Bukankah kau sudah berjanji tidak akan menerima
panggilan dari siapapun?” teriak Nisha.
“Ini dari kantor. Aku harus mengangkatnya. Pasti penting.”
Jawab Hernan.
Nisha segera mendekati Hernan dan melihat ponselnya. Tertera
nama Denny di layar ponselnya. Nisha memutar bola matanya malas.
“Ya sudah. Angkat saja sana!” ucap Nisha.
Hernan segera masuk kedalam kamar dan membuka notebooknya
sambil menerima panggila dari Denny.
Nisha menyusuri pantai dan mencari kerang siput dan kelomang
yang sedang berjalan di air laut yang biru itu. hingga tak tersadar jika
langkah kakinya sudah jauh dari vila yang ia tempati. Nisha merasa keasyikan
dan lupa waktu.
Saat tersadar, Nisha melihat sekeliling pulau yang terasa
sepi. “Hah? Aku dimana? Perasaan aku hanya berjalan menyusuri pantai deh. Kenapa
sampai ditempat ini? Bagaimana ini?” ucap Nisha sambil celingak celinguk. Ia pun
kembali melangkah. Siapa tahu nanti bisa ketemu jalan pulang.
Hernan yang sudah selesai menelepon, kembali keluar kamar
karena merasa tidak mendengar suara teriakan Nisha. ia melirik arlojinya dan
sudah menunjukkan pukul satu siang. Hernan mengedarkan pandangannya menyusuri
tiap sudut pantai.
“Nisha!!! kau dimana?” teriak Hernan.
“Nisha! jangan bercanda!” Hernan berjalan menyusuri bibir
pantai. Namun ia tak juga menemukan sosok Nisha.
Karena panik, akhirnya Hernan menghubungi pihak resort. Ia meminta
tim SAR untuk mencari keberadaan istrinya. Iapun tak bisa tinggal diam. Ia ikut
mencari keberadaan Nisha. padahal baru pagi tadi ibu mertuanya memintanya untuk
menjaga Nisha. namun kini Nisha telah menghilang dari pandangannya.
“Gadis manja, kau ada dimana sih? Kau benar-benar membuatku
khawatir.” Gumam Hernan.
Nisha terus melangkahkan kakinya menuju ke tempatnya semula.
Namun ia tak sampai juga di tempatnya semula. Ia mulai takut karena hari
sebentar lagi gelap. Perutnya juga terus berbunyi karena menahan lapar.
“Hiks, hiks, Ibu… Ayah… Kalian dimana? Aku takut…” Nisha
mulai terisak.
Ia malah berjalan masuk kedalam pepohonan. Udara dingin
mulai ia rasakan. Ia makin masuk kedalam hutan lebat itu berharap menemukan
rumah penduduk dan ia bisa singgah di rumah penduduk.
“Hernan, apa kau tidak mencariku? Tega sekali kau! Kau pasti
senang ‘kan bisa menelepon Asha sepuasmu. Sejak awal kau memang tidak perduli
padaku… hiks hiks hiks.” Nisha bersandar pada sebuah pohon dan memeluk kedua
lututnya. Ia menangis disana. Berharap ada seseorang yang mendengar
tangisannya.
“Kakak… Jika saja kau ada disini. Kau pasti akan menemukan
aku ‘kan? Kakak… tolong aku!!!” gumam Nisha dalam tangisannya.
.
.
.
*Flashback*
Sekitar sepuluh tahun lalu…
“Lalu, pangeran dan tuan putri hidup bahagia selamanya. Selesai.”
Ucap Antonia yang membacakan dongeng pada Nisha kecil.
“Wah, Nisha juga ingin Bu seperti putri dalam dongeng. Yang dicintai
oleh pangeran pujaan hatinya.” Ucap Nisha asal.
“Sayang, didunia nyata tidak ada pangeran berkuda putih
seperti dalam dongeng. Yang ada hanyalah pria bertanggung jawab yang akan
menemanimu sepanjang hidupmu.” Tutur Antonia.
“Hmm, begitu ya, Bu. Apa Nisha juga bisa menemukan pria
seperti itu?”
“Tentu saja. Oh ya, kau tidak ingin bermain di pantai? Bukankah
kau sangat menyukai pantai. Sejak datang kau hanya mengurung diri di kamar. Ayo
keluar!”
Saat Nisha berusia 10 tahun, ia kehilangan sahabatnya yang
meninggal karena sakit. Untuk menghibur Nisha, Antonia dan Raihan membawa Nisha
berlibur ke Miami. Nisha sangat menyukai pantai, jadi mereka pikir itu bisa
sedikit menghilangkan kesedihan Nisha karena kepergian temannya. Sekalian Antonia
juga menjenguk keluarganya yang memang berasal dari sana.
belum mau keluar kamar. Hingga akhirnya Antonia membelikan buku dongeng
untuknya dan membacakannya setiap hari. Nisha amat gembira. Dan lama-lama
kenangan pahit tentang sahabatnya mulai terhapus.
Hari ini pertama kalinya, Nisha keluar rumah dan berjalan
menyusuri pantai. Ia bermain pasir pantai dan membuat istana pasir. Terinspirasi
dari dongeng yang sering dibacakan ibunya, Nisha juga ingin tinggal di sebuah
istana megah bersama pangerannya.
“Yah, kenapa susah sekali sih membuatnya. Huft!! Sebal!!”
gerutu Nisha karena istana pasirnya tak kunjung jadi.
Seorang anak lelaki remaja mendekati Nisha karena merasa
mengenal bahasa yang Nisha gunakan.
“Hai, kau dari Indonesia juga?” sapa anak lelaki itu ramah.
“Iya, apa kau juga dari Indonesia?”
“Iya. Kau sedang berlibur?”Tanya anak itu lagi.
“Hu’um. Oh ya, apa kau bisa membangun istana pasir? Sedari tadi
aku membangunnya tapi selalu gagal.” Ucap Nisha pasrah dengan memanyunkan
bibirnya.
“Hahahaha,” anak lelaki itu menertawakan Nisha.
“Jangan tertawa, kau bisa apa tidak?” cibir Nisha dengan
menjulurkan lidahnya.
“Hei, gadis kecil, tentu saja aku bisa. Aku ini bercita-cita
menjadi seorang arsitek. Aku akan membangun gedung-gedung tinggi nantinya. Hanya
sebuah istana pasir saja, itu gampang buatku!” sombong anak lelaki itu.
Tak lama, anak lelaki itu membangunkan sebuah istana pasir
untuk Nisha. Nisha terperangah melihat kecekatan anak lelaki itu.
“Wah, kakak… ternyata kakak benar-benar bisa membangunnya. Terima
kasih…” Refleks Nisha memeluk anak lelaki yang usianya terlihat lebih tua dari
Nisha.
Anak lelaki itu amat terkejut dengan pelukan yang diberikan
Nisha. Entah kenapa ada desiran aneh dalam dadanya ketika mendapat pelukan dari
seorang gadis kecil. Mungkin itu namanya anak baru gede alias ABG karena anak
lelaki itu baru memasuki usia 15 tahun. Usia remaja dimana baru mengenal lawan
jenis dan cinta monyet.
Nisha terlihat amat gembira. Ia banyak bercerita pada anak
lelaki yang bahkan ia tidak tahu namanya. Ketika ia ingin menanyakan siapa nama
gadis kecil itu, tiba-tiba ombak besar datang dan menyapu semua orang yang ada
dipinggir pantai tak terkecuali Nisha. terjadi badai secara tiba-tiba.
Nisha terbawa arus dan menghilang entah kemana. Antonia dan
Raihan berusaha mencari putri semata wayang mereka. Namun masih nihil. Nisha terdampar
beberapa kilometer dari tempatnya semula. Ia menangis tersedu menyebut nama
ayah dan ibunya.
Mendengar suara tangis, anak lelaki yang tadi bersama Nisha
lalu menghampirinya. Ternyata ia juga terdampar. Ia mengenali suara Nisha
karena memanggil dengan menggunakan bahasa Indonesia.
“Gadis kecil, kau dimana? Ini aku, jangan takut!!” anak
lelaki itu mendekati suara isak tangis Nisha dan menemukannya dalam keadaan
memeluk lututnya.
Suasana malam yang gelap membuat anak lelaki itu tidak jelas
melihat, namun ia tahu jika itu adalah gadis kecil yang ditemuinya di pantai
tadi.
Nisha meraung-raung ketika anak lelaki itu menyentuh
lengannya. “Tidak! Lepaskan! Aku mau pulang! Aku mau ibuku!!!” teriak Nisha.
“Hei, jangan takut, ini aku! Naiklah ke punggungku. Kau akan
aman bersamaku. Aku janji.”
Suara anak lelaki itu amat menenangkan Nisha. “Kakak…” lirih
Nisha lalu naik ke punggung anak lelaki itu. ia membawa Nisha ke posko
pertolongan agar Nisha bisa segera bertemu dengan keluarganya.
.
.
.
“Nisha!!!”
“Nona Nisha!!!”
“Nisha!!!” teriak Hernan dan beberapa orang tim SAR yang
mencari keberadaan Nisha.
Nisha yang tiba-tiba mendengar suara orang memanggilnya
kemudian ikut berteriak.
“Tolong!!! Tolong aku!!!”
Hernan dan beberapa orang mendengar suara Nisha dari arah
semak-semak dan pepohonan. Hernan segera menuju kearah suara.
“Nisha!!!” panggil Hernan.
Sebuah lampu sorot menemukan sosok Nisha yang sedang memeluk
lutut. Hernan segera menghampiri tubuh Nisha yang sudah menggigil.
“Hei, jangan takut, ini aku! Naiklah ke punggungku. Kau akan
aman bersamaku. Aku janji.”
Samar-samar Nisha mengenali suara berat itu. Nisha yang
sudah lemah segera naik ke punggung Hernan. Hernan berlari cukup cepat karena
tubuh Nisha sudah amat dingin.
“Kakak…” lirih Nisha di sisa-sisa kesadarannya sebelum
akhirnya matanya terpejam dan tak sadarkan diri.
#bersambung