
......***......
Ana terbangun di pagi hari dengan perasaan bahagia. Mungkin karena ia tertidur di ranjang empuk yang membuatnya tak ingin beranjak dari sana. Ana mengerjapkan mata merasakan sinar matahari yang masuk melalui celah-celah gorden di kamar itu. Kamar itu terasa dingin karena AC nya menyala. Di musim panas seperti sekarang rasanya memang cocok digunakan untuk bermalas-malasan.
Ana menggeliat dan meregangkan otot-ototnya sejenak sebelum akhirnya ia pergi ke kamar mandi dan membersihkan diri disana. Ana mengisi air di bathup dan menaburkan aroma mewangian yang menggelitik indera penciumannya.
"Hmm, baunya sangat harum. Aaah, sudah lama aku tak merasakan kenikmatan ini. Apakah aku harus bersyukur atau mengeluh?" gumam Ana sambil mematikan kran air.
"Tidak! Sesusah apapun hidupku, aku tak boleh mengeluh. Mungkin sejenak boleh, tapi jika berkelanjutan itu sangat tidak baik untukmu, Ana." Kembali Ana bermonolog dan menguatkan diri.
Usai berendam, Ana menuju lantai bawah lalu ke dapur. Perutnya terasa lapar dan meminta untuk diisi.
"Selamat pagi, Nona." sapa Simon yang memasuki area dapur.
"Selamat pagi, Simon. Kau ingin sarapan? Aku akan membuatkannya untukmu."
"Tidak perlu. Aku hanya ingin menyeduh kopi saja. Aku tidak terbiasa sarapan."
Ana mengangguk paham. Ia mencari bahan makanan di lemari es.
"Apa tidak ada bahan makanan disini?" tanya Ana.
"Sepertinya tidak ada. Nona harus berbelanja terlebih dahulu."
Ana menghela nafas kasar.
"Ada roti dan selai. Nona makan itu saja dulu. Nanti siang aku akan mengantarmu pergi ke swalayan."
Ana mengangguk. "Baiklah. Kau yakin tidak ingin sarapan?"
"Tidak, terima kasih. Aku pergi dulu. Aku harus kembali berjaga." pamit Simon ketika secangkir kopi sudah ditangannya.
"Memangnya akan ada maling yang datang kesini? Kenapa dia terus berjaga bahkan di pagi hari begini?" gumam Ana sambil mengoleskan selai diatas roti.
"Hmm, jangan-jangan si tuan dingin itu yang menyuruh Simon agar terus berjaga. Cih, benar-benar menyebalkan!"
Saat sedang menyantap sarapannya, sebuah panggilan video dari Alvin membuat Ana bersorak gembira.
"Alvin!!!"
"Kakak, bagaimana kabar kakak?"
"Kakak baik."
"Kakak ada dimana?"
"Kakak sedang berada di rumah majikan kakak."
"Majikan? Memangnya kakak bekerja sebagai apa?"
"Sudahlah, ceritanya panjang. Nanti saja kakak ceritakan."
"Kakak terlihat baik-baik saja."
"Yeah, begitulah." jawab Ana datar. Ia tak mau Alvin curiga.
"Ya sudah. Aku harus pergi kuliah."
"Oke! Belajarlah yang rajin ya adikku. Kau jangan mengkhawatirkan kakak disini."
"Iya, Kak. Kakak hati-hati disana."
Ana melambaikan tangan pada Alvin. Panggilan pun berakhir. Ana merasakan matanya menghangat. Namun segera mungkin ia menguatkan hatinya.
"Tadi adalah adikmu?" suara Simon membuat Ana segera menyeka air matanya yang hampir tumpah.
"Iya. Kau mendengarnya?"
"Hu'um. Kalian nampak saling menyayangi."
"Tentu saja."
"Jika makanmu sudah selesai, segeralah bekerja. Kau harus merapikan kebun bunga di teras belakang. Itu adalah kesayangan mendiang ibu Tuan Grey."
"Eh? Jadi ibunya si dingin itu sudah meninggal?"
"Benar. Sejak kepergian ibunya, aku merasa Tuan Grey banyak berubah. Kemudian dia memutuskan untuk tinggal bersama neneknya di Indonesia."
Ana mengangguk paham. "Apa ayahnya orang Indonesia?"
"Iya. Tuan Alfred berasal dari Indonesia, dan Nyonya Julies berasal dari kota ini."
"Seperti apa Tuan Alfred? Apa dia juga dingin seperti putranya?" Entah kenapa Ana ingin tahu lebih banyak tentang Grey.
Simon terkekeh. "Tidak. Tuan Alfred sangatlah baik dan ramah. Dia sama sekali berbeda dengan Tuan Grey."
"Lalu, dari mana si dingin itu belajar menjadi menyebalkan seperti itu?"
"Entahlah. Sejak kepulangannya dari Indonesia, Tuan Grey berubah. Mungkin terjadi sesuatu disana. Nona, sebaiknya Anda cepat bekerja. Tuan Grey memantau Anda karena seluruh ruangan disini terpasang kamera pengawas."
"Hah?! Oh, baiklah. Aku akan segera membereskan sarapanku dan bekerja dengan sangat giat." Ana menunjukkan senyum terbaiknya untuk mengawali hari ini.
......***......
Satu minggu telah berlalu, Ana menjalani hari-harinya dengan sangat baik di mansion milik Grey. Ana mulai terbiasa dengan pekerjaan rumah. Dan memang ia sudah terbiasa mandiri sejak kecil.
Kali ini Ana sudah membeli banyak bahan makanan untuk persediaan di rumah itu. Ia memasak semampu yang ia bisa dan terkadang ia meminta tolong Alvin untuk menemaninya memasak. Alvin berbakat dalam bidang memasak, makanya ia mengambil sekolah Chef di Italia.
Saat sedang menikmati sarapannya, Simon datang ke meja makan.
"Hai, Simon. Ikutlah sarapan bersamaku. Aku membuat pasta untuk sarapan kali ini." ucap Ana.
"Terima kasih, Nona. Aku sudah pernah mengatakannya padamu jika aku tidak terbiasa sarapan."
"Iya, tapi cobalah sekali ini saja. Aku sudah membuatkannya juga untukmu," pinta Ana dengan puppy-face ala Ana.
Simon tersenyum. Ia pun setuju untuk sarapan bersama Ana.
"Bagaimana? Enak tidak?" tanya Ana setelah Simon memasukkan pasta ke dalam mulutnya.
"Hmm, enak juga. Rupanya kau berbakat dalam memasak, Nona. Kupikir Nona muda sepertimu tidak bisa melakukan hal seperti ini."
"Hei!! Jangan meremehkanku. Aku bisa melakukan apa saja. Buktinya aku berhasil menjadi pelayan disini."
Simon menggeleng pelan sambil terkekeh. Tiba-tiba ponsel Simon bergetar. Sebuah panggilan dari Grey.
"..............."
"Iya, dia ada disini."
"............"
"Baik, Tuan." panggilan berakhir.
"Ada apa? Itu pasti si dingin ya?" tanya Ana polos.
"Iya, Nona. Nanti malam Tuan Grey akan pulang kemari."
"Heh?! Secepat ini? Aku bahkan baru menikmati semua ini selama satu minggu. Apa semua akan segera berakhir? Apa aku tidak bisa terbebas dari dia lebih lama lagi?" Ana mengerucutkan bibirnya.
"Tuan Grey baru kembali dari perjalanan bisnis. Biasanya ia akan menenangkan diri sebelum kembali beraktifitas. Selama Tuan Alfred pergi, Tuan Grey yang memegang semua kendali atas perusahaan. Hanya disini Tuan Grey bisa melepaskan penatnya karena tempat ini jauh dari kota."
Ana mengangguk paham. "Sudah berapa lama kau bekerja untuk si dingin itu?"
"Sudah cukup lama. Oh ya, Nona. Saat Tuan Grey tiba, kau harus sudah membersihkan seluruh ruangan terutama kamar Tuan Grey. Kau juga harus menyiapkan makan malam untuknya."
"Iya, baik. Aku mengerti." jawab Ana tegas.
......***......
Malam haripun tiba, Ana sedang menata makanan diatas meja makan. Ia tak tahu seperti apa selera Grey. Tapi Simon memberitahunya jika Grey sangat menyukai ikan salmon. Kali ini Ana membuat steak ikan salmon dibantu oleh Alvin melalui panggilan video.
"Hmm, semua sudah selesai. Aku akan menyiapkan air mandi untuk si dingin itu. Simon bilang semua harus sudah siap ketika dia datang. Ah, merepotkan sekali."
Ana segera menuju lantai dua dan membuka pintu kamar Grey. Seharian tadi Ana sudah memeriksa berkali-kali dan tak ada yang terlewat. Kamar Grey sudah amat rapi dan wangi. Ana menuju kamar mandi dan mengisi air di bathup. Ia menambah aroma bernuansa musk kedalam air.
"Hmm, sudah siap semua. Sekarang tinggal menunggu si dingin itu datang." Ana keluar dari kamar mandi dan menutup pintu.
Sekali lagi ia mengedarkan pandangan untuk memastikan jika kamar itu telah rapi. Ana berdecak kagum dengan hasil karyanya.
Ana memutar badan dan akan keluar dari kamar Grey. Namun tanpa disengaja tubuh Ana menabrak tubuh seseorang yang tak lain adalah Grey.
"HAH?!" Ana sangat terkejut karena Grey sudah tiba.
"Tu-tuan? Tuan sudah datang?" tanya Ana terbata.
"Hmm? Apa yang kau lakukan dikamarku?" tanya Grey balik dengan seringai dingin seperti biasa.
"Ah, itu... Aku ... aku menyiapkan air untuk Anda mandi, Tuan." jawab Ana dengan menunduk.
Grey tersenyum. "Baiklah. Kau tunggu disini hingga aku selesai mandi. Oh ya, jangan lupa siapkan pakaian ganti untukku."
"Eh? Pa-pakaian ganti? Anda ingin memakai apa, Tuan?" Ana tidak mendapat jawaban karena Grey segera masuk kedalam kamar mandi.
Beberapa menit berlalu dan Ana masih mematung tak tahu apa yang harus dilakukannya. Ana menuju walk-in-closet milik Grey dan melihat pakaian Grey yang tertata rapi disana.
"Duh, bagaimana ini? Harus mengambil baju apa untuknya?" gumam Ana dengan menggigit kuku jarinya.
"Aku akan memakai apapun yang kau pilihkan untukku!" suara berat Grey membuat Ana berbalik badan kearah Grey.
Sebuah pemandangan tak biasa kini dilihat oleh Ana. Grey yang hanya memakai handuk di pinggangnya dan rambut yang tampak basah, membuat Ana menelan salivanya. Dengan sigap Ana menutup matanya.
"Tuan!!! Kenapa tidak bilang jika sudah keluar dari kamar mandi? Kenapa hanya memakai handuk saja? Bukankah aku sudah menyiapkan jubah mandi untukmu?"
"Kenapa kau yang mengaturku? Terserah aku mau memakai handuk atau tidak. Bahkan jika aku tidak berpakaian pun tidak masalah. Ini adalah kamarku."
Ana merasa sangat malu. Ia pun berjalan sambil menutupi matanya dengan tangan dan melewati Grey. Sementara Grey tersenyum puas karena sudah berhasil mengerjai Ana.
Usai memakai baju, Grey turun ke lantai bawah kemudian menikmati santap malamnya.
"Kau sendiri yang memasak?" tanya Grey pada Ana yang berdiri tak jauh darinya.
"Iya, Tuan. Kudengar dari Simon jika Tuan menyukai ikan salmon. Jadi, kupikir Tuan pasti akan menyukai steak ikan salmon." jawab Ana dengan menunduk.
Grey mengangguk kemudian melanjutkan makan malamnya. Ana bernafas lega karena ternyata kepulangan Grey tak semenyeramkan yang Ana bayangkan.
Setelah menghabiskan makan malamnya, Ana membereskan piring kotor bekas makanan Grey. Ana langsung mencucinya karena tak mau pekerjaannya tertunda.
Ana menghampiri Grey yang sedang duduk di ruang TV. Ia sedang menonton acara favoritnya.
"Tuan..." panggil Ana.
"Hmm, ada apa? Pekerjaanmu sudah selesai, bukan? Kau boleh beristirahat."
"Umm, aku ingin meminta ijin." ucap Ana ragu.
"Ijin? Untuk apa?" Grey langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri Ana yang berdiri tertunduk.
Grey meraih dagu Ana agar melihat kearahnya.
"Katakan!" ucap Grey.
"Aku ingin menjenguk ayahku di rumah sakit. Sudah satu minggu aku tidak melihat keadaannya." Ana menatap manik hitam keabuan milik Grey.
"Hmm, boleh. Simon akan mengantarmu."
"Bisakah aku pergi sendiri?" pinta Ana.
"No! Kau harus ingat jika kau harus menuruti semua perintahku."
Ana mengangguk paham. Ana segera berbalik badan dan akan menuju kamarnya.
Melihat sikap Ana yang menurut Grey sangat menggemaskan, membuat Grey segera mencekal langkah Ana.
"Ada apa, Tuan?"
Tanpa aba-aba Grey segera menyambar bibir mungil Ana dan menyesapnya lembut, memagutnya pelan dan berirama. Ana hanya diam mendapat serangan mendadak dari Grey.
"Tuan!!!" Ana menginterupsi. Namun Grey kembali melahap habis bibir Ana dan tak membiarkannya menolak. Grey makin membawa Ana dalam dekapannya.
Setelah puas bermain dengan bibir Ana, Grey pun melepaskannya. Ia mengusap bibir Ana yang basah karena ulahnya.
"Tidurlah!" Grey mengecup puncak kepala Ana kemudian berlalu menuju kamarnya.
Ana mematung merasakan sakit dalam hatinya. "Kenapa? Kenapa dia melakukan ini padaku? Apa aku hanya akan dijadikan mainannya?" tak terasa buliran bening mengalir dari sudut matanya.
......***......
#bersambung...
*jangan lupa tinggalkan jejak ya kesayangan...😘😘😘