
Reza terlihat sedang sibuk membuat berkas untuk rapat bersama klien siang ini setelah sempat tertunda selama beberapa hari. Pikiran Reza tiba-tiba tertuju pada istrinya yang berada di rumah.
"Apa yang sedang Lala lalukan di rumah ya?" gumam Reza kemudian meraih ponselnya.
Reza mengetikkan pesan untuk Lala. Entah kenapa baru saja berpisah, rasanya sudah ingin bertemu dengan sang pujaan hati. Lama Reza menunggu balasan pesan dari Lala.
"Hmm, mungkin dia sedang sibuk membereskan rumah. Kasihan juga dia. Kapan-kapan aku harus mengajaknya liburan lagi." monolog Reza.
Kembali berkutat dengan pekerjaannya tiba-tiba ponsel Reza berdering. Sebuah panggilan dari Rocky, bosnya.
"Halo, Pak."
"Reza, tolong kamu gantikan saya nanti untuk bertemu dengan klien. Apa berkasnya sudah selesai?"
"Ini saya masih membuatnya, Pak."
"Oh ya sudah. Saya harus pergi ke RAB Cons untuk bertemu dengan Donny."
"Baik, Pak. Saya akan usahakan hasil yang maksimal untuk proyek kali ini."
"Bagus. Terima kasih, Reza."
"Iya, Pak. Sama-sama."
Panggilan berakhir. Reza kembali memeriksa berkas yang sudah ia buat untuk presentasi di depan klien.
......***......
Pukul sebelas siang, Reza telah tiba di sebuah kafe yang rencananya akan digunakan untuk bertemu dengan kliennya. Reza menunggu sambil sesekali meneguk es jeruk yang telah di pesannya.
Dari kejauhan seorang wanita cantik berusia sekitar 30 tahunan berjalan dengan anggun mendekati Reza.
"Selamat siang..." sapa wanita itu dari arah belakang Reza.
Reza sontak berdiri dan menghadapkan tubuhnya pada wanita yang menyapanya.
"Selamat siang..." sapa Reza balik yang kemudian raut wajahnya berubah bingung.
"Reza?" wanita itu mengenali Reza.
"Diva?" gumam Reza.
"Jadi, kamu adalah perwakilan dari Brahms Corp?" tanya Diva dan langsung mendaratkan bokongnya ke kursi di depan Reza.
"Umm, iya." jawab Reza canggung.
"Apa kabar kamu, Reza? Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu lagi. Dan ... penampilan kamu sudah berubah total ya." Diva nampak memperhatikan Reza.
"Umm, jadi, kamu pemilik Diva Cosmetics?" Reza tak ingin berbasa-basi lebih banyak dengan Diva, yang notabene adalah mantan istrinya.
"Iya, benar. Bukankah seharusnya Pak Rocky sendiri yang menemuiku?"
"Iya, tapi Pak Rocky berhalangan. Jadi, dia memintaku untuk bertemu dengan klien hari ini."
"Akulah klien kamu hari ini, Reza..." ucap Diva manja dengan menyentuh punggung tangan Reza yang ada di meja.
Sontak Reza menepis tangan Diva. "Maaf. Kita langsung saja membahas soal kerja sama kita."
"Hmm, baiklah. Tapi setelah membahas soal pekerjaan, bagaimana kalau kita membahas soal yang lain?"
"Yang lain, maksudmu?"
"Apa kamu masih sendiri, Reza?"
"Ehem! Maaf, Nyonya Diva. Kita hanya akan membicarakan soal pekerjaan. Jadi, tolong bersikaplah profesional."
Diva memalingkan wajahnya karena Reza sama sekali tak merespon.
"Sial! Kenapa dia sama sekali tak tergoda? Bukankah dulu dia sangat tergila-gila padaku? Awas saja kau, Reza! Kau akan kembali bertekuk lutut di hadapanku. Dan penampilanmu kini ... lebih menggoda dari pada dulu." gumam Diva dalam hati.
Usai membicarakan masalah kerjasama, Reza segera berpamitan pada Diva. Ia tak ingin berlama-lama dengan wanita di masa lalunya.
Diva yang melihat Reza pergi segera berlari menyusulnya.
"Reza, tunggu!!" Diva mencekal lengan Reza.
Reza menepis pelan tangan Diva.
"Ada apa lagi? Semua hal tentang pekerjaan sudah selesai dibahas. Aku akan bicarakan hal ini dengan Pak Rocky terlebih dahulu. Setelah itu aku akan menghubungimu kembali." papar Reza.
"Aku tidak ingin membicarakan soal pekerjaan tapi soal kita."
"Kita? Kita tidak ada hubungan apapun lagi, Diva. Aku harus kembali ke kantor. Permisi."
"Aku minta maaf, Reza." Diva kembali meraih tangan Reza.
"Aku sudah memaafkanmu." Reza tak ingin bicara lagi dengan Diva. Ia segera berjalan cepat menuju mobil dan segera melesat pergi dari tempat itu.
......***......
Tiba di kantor, Reza menghela nafasnya. Ia benar-benar tak menyangka jika klien kali ini adalah mantan istrinya. Ia memijat pelipisnya pelan.
Pukul enam sore, Reza kembali ke apartemen dan disambut dengan wajah riang istrinya. Reza langsung memeluk erat tubuh Lala.
"Mas? Kamu kenapa?"
"Biarkan sejenak begini." balas Reza makin mengeratkan pelukannya.
"Ada apa dengannya? Apa pekerjaan di kantornya sangat berat hingga dia terlihat kelelahan begini?" batin Lala.
Reza mengurai pelukannya dan menatap wajah istrinya.
"Kamu cantik!" ucap Reza.
"Apaan sih?! Sebaiknya Mas mandi dulu. Setelah itu kita makan malam bersama. Aku sudah masak makanan kesukaan Mas. Oh ya, tadi siang maaf ya aku tidak balas pesan dari Mas Reza. Aku tidak dengar jika ponselku berbunyi." jelas Lala.
"Tidak apa. Ya sudah, aku mandi dulu ya."
Lala mengangguk kemudian kembali menuju ke dapur.
*
*
Reza telah selesai membersihkan diri. Ia menghampiri Lala yang sedang menata makanan diatas meja makan.
"Hmm sepertinya sangat enak." puji Reza.
"Aku senang karena Mas menyukai masakanku."
"Tentu saja aku sangat menyukai masakan istriku." Reza memberikan kecupan di pipi Lala.
Makan malampun telah berakhir. Kini Reza masih duduk di sofa dengan mencari acara TV yang menurutnya bagus. Namun sedari tadi ia tak menemukan ada yang menarik hatinya. Reza terus menekan remote TV hingga membuat Lala heran.
"Mas, apa yang kamu lakukan? Kamu nyari channel apa sih? Dari tadi gonta ganti terus," ucap Lala.
"Sayang, kemarilah!" Reza menepuk tempat disebelah ia duduk dan meminta Lala duduk disana.
"Kenapa, Mas?" Lala tahu jika suaminya itu tengah memikirkan sesuatu.
"Umm, ada yang ingin aku sampaikan ke kamu."
"Soal apa?"
"Umm, tadi siang ... aku bertemu dengan Diva."
"Diva? Diva mantan istri, Mas?" Lala cukup terkejut.
"Iya. Ternyata dia adalah calon klien kami."
Lala terdiam. Entah apa yang dipikirkannya saat ini.
"Sayang..."
"Jadi dari tadi Mas tidak fokus karena memikirkan Diva?"
"Eh? Bu-bukan begitu, sayang."
"Apa Mas masih mencintainya?"
"Eh? Tentu saja tidak!" tegas Reza.
"Jadi?"
"Jadi apanya?" Reza mulai tak mengerti dengan maksud Lala.
"Jadi untuk apa Mas cerita ke aku soal ketemu Diva?"
"Karena aku tidak ingin ada kesalahpahaman diantara kita. Aku sengaja menceritakannya padamu. Mungkin saja secara tiba-tiba kamu melihatku bersama dengan Diva. Aku tidak ingin kamu curiga padaku. Sekarang kami bertemu sebagai rekan bisnis."
Lala menatap wajah suaminya. Ada kejujuran di mata Reza. Lala tahu itu.
"Baiklah. Aku percaya. Semoga saja kalian hanya sebagai rekan bisnis saja."
"Tentu saja! Mana mungkin aku berpaling dari kamu."
"Ih, gombal!!!" Lala memukul Reza dengan bantal kursi kemudian melenggang pergi menuju kamar tidur.
......***......
#bersambung
"Sedikit cerita kenapa aku membuat kisah Raanjhana ini berisi kumpulan dari beberapa kisah yang kukumpulkan menjadi satu. Kenapa tidak dijadikan nopel dengan dua tokoh utama saja seperti nopel yg pd umumnya.
Pertama, aku suka nonton drakor, lakorn, dan cdrama (tidak menutup kemungkinan kalo aku juga suka sinetron dan opera sabun sih). jadi disana itu kan, jumlah episod nya gak banyak2, sekitar 16, 20, 32, 40, tp jarang sampe ratusan.
nah dari situ, jadi kepengen juga sih bikin yg partnya tidak banyak, sekitar 30, 20an, paling banyak kemarin kan Trapped by Cold CEO, sampe 40 lebih dikit. Cerita2 di drakor kan meski episodnya dikit tapi mampu membuat baper para penikmatnya, trus kadang masih keinget aja episod2 yg bikin baper itu.
Yah dari sanalah, aku membuat Raanjhana ini jadi seperti itu. Kalo udah happy ending, ya udah, gak usah di tambah2in lagi dipanjang2in lagi. sekian curhat dari mak thor yg lagi kurang sehat ini. Doakan aku cepat kembali sehat dan meramaikan dunia perhaluan Indonesia."
Terima kasih.