Raanjhana

Raanjhana
Trapped by Cold CEO : 09. Penawaran Si Tuan Dingin




...Perhatian: Cerita ini bergenre Adult-Romance...


...Harap Pembaca Bijak Menyikapi...


...Terima kasih...


......***......


Kepulauan Maladewa,



Dua orang manusia sedang berselimut gairah disebuah kamar villa pinggir pantai. Suara lenguhan dan erangan kenikmatan terdengar memenuhi seisi ruangan.


"Sayang, aaahh, lebih dalam..." racau seorang wanita yang berada dalam kungkungan seorang pria.


"Come on, babe. Hentakkan lebih keras!" wanita itu terus berucap membuat pria yang ada diatasnya harus bekerja ekstra untuk memuaskan wanitanya.


"Aaah, aahh, Marc... Kau sangat.... aaaah."


"Tenang, Nona. Kau akan merasakan kenikmatan yang tiada tara." Marc menghentak lebih keras dan mempercepat gerakannya. Peluh membasahi sekujur tubuhnya yang polos itu.


Sang wanita yang tak lain adalah Jessline berkali-kali meraih pelepasannya.


"Marc, aaahhh..."


"Tunggu, Nona. Kita akan melayang bersama." Marc semakin memacu dan bergerak cepat. Hingga akhirnya mereka berdua terkulai lemas bersama dan saling mengatur nafas.


"Terima kasih, Marc. Kau selalu hebat diatas ranjang, sayang..." Ucap Jessline dengan nafas terengah.


"Jangan sungkan, Nona. Kita sudah melakukannya berkali-kali dan kau selalu menggairahkan."


Kata-kata Marc selalu membuat Jessline tersipu.


"Kau memang bukan yang pertama, Marc. Tapi aku berjanji kau adalah yang terakhir untukku." Jessline mengecup bibir Marc sekilas kemudian berjalan menuju kamar mandi.


Usai membersihkan diri, Jessline menemui ayahnya yang sudah menunggu untuk sarapan pagi bersama. Senyuman ceria selalu.Jessline sunggingkan.


"Morning, Daddy..." Jessline menyapa Alonso dan mencium pipi ayahnya.


"Pagi, sayang. Duduk dan makanlah. Dimana pria miskinmu itu?"


"Daddy... Jangan bicara begitu tentang Marc."


"Daddy tidak habis pikir denganmu. Kau sudah mendapat pria sempurna dan kaya seperti Mike. Tapi kau malah memilih pria miskin itu sebagai pasanganmu."


"Dad, jangan bicara begitu soal Marc. Dia adalah pria terbaik meski dia miskin. Lagipula sekarang kita tidak kekurangan uang, bukan?"


"Yeah. Asal jangan dia mendekatimu hanya karena uangmu saja, Nak."


"Hmm, aku yakin Marc adalah pria setia, Daddy. Kira-kira bagaimana kabar sepupu kesayanganku itu ya? Saat ini ia pasti sedang kebingungan karena kehilangan semua hartanya. Daddy ternyata sejahat itu pada Uncle Alfonso yang sudah memberi kita hidup nyaman selama ini."


"Aku sudah bosan menjadi pelayannya. Dia tidak menganggapku sebagai adiknya, tapi hanya sekedar bawahan yang selalu menuruti segala perintahnya."


"Daddy benar. Aku juga muak dengan sikap bak malaikat ala Ana. Dia seolah-olah wanita suci yang tak memiliki dosa. Apa Daddy ingat saat aku juga ingin kuliah di Paris seperti Ana? Jawaban dari Uncle Alfonso sangat membuatku sakit hati. Dia pikir aku tidak sepandai Ana dan tidak mampu untuk kuliah di Paris. Sekarang rasakan saja semua perbuatan mereka yang selalu menghina kita."


"Benar, Nak. Sekarang kau ingin menetap dimana? Kita sudah menjelajahi beberapa negara dan Daddy rasa, Daddy ingin tinggal disini saja."


"Wow! Apa Daddy serius?"


"Iya, Nak. Daddy akan membangun resort disini."


"Aku dan Marc akan menetap di Paris setelah ini. Sejak dulu aku ingin tinggal disana."


"Kau yakin akan membawa pria itu?"


"Tentu saja. Kami akan segera menikah. Kuharap Daddy merestui hubungan kami."


Alonso memutar bola matanya malas. "Terserah kau saja, Nak. Tapi jangan salahkan Daddy jika suatu saat nanti pria itu meninggalkanmu."


Tak lama Marc tiba di meja makan dan bergabung bersama Jessline dan Alonso. Alonso menampakkan wajah tak sukanya pada Marc dan memilih pergi.


......***......


"Baru terkumpul segini. Bagaimana ini?" gumam Ana dengan memijat pelipisnya pelan.


"Sebenarnya ini bukan tanggung jawabku. Aku bisa saja kabur dan menghilang dari negeri ini. Tapi bagaimana dengan Daddy? Bagaimana Alvin? Aku tak bisa egois dengan melarikan diri sendiri. Lagipula pria dingin itu tidak akan melepaskanku begitu saja. Dia pasti bisa menemukan aku dimanapun aku berada."


Ana mondar mandir didalam rumah kecil sewaannya. "Apa aku minta tolong pada Uncle Robert saja? Tapi apa Uncle Robert mau meminjamiku uang sebanyak itu?" Ana mengacak rambutnya.


Tiba-tiba terlintas ide di otak Ana. "Pria itu!!!" Seru Ana bersorak gembira. "Aku yakin dia tidak sekejam si pria dingin itu. Aku harus minta tolong padanya."


Ana mulai bersemangat lagi. Ia merapikan penampilannya dan meraih tas slempangnya kemudian keluar dari rumah dan naik bus umum menuju ke GD Group.


Ana memang tidak yakin dengan apa yang akan dilakukannya. Tapi ia tak memiliki cara lain selain ini. Ia akan menurunkan egonya dan meminta bantuan Todd Candler.


Ana duduk di ruang tunggu hingga sekretaris yang dulu adalah bawahan ayahnya memanggil Ana untuk masuk ke ruang CEO. Ana mengucapkan kata terima kasih sebelum memasuki ruangan itu.


Ana mengetuk pintu kemudian terdengar suara mempersilahkan Ana masuk. Ana tertegun begitu membuka pintu ruang CEO.


"Silahkan masuk, Nona Ana." ucap seorang pria dengan seringai dinginnya pada Ana. Siapa lagi kalau bukan Grey.


"Tu-tuan Grey?" Ana menelan salivanya.


Ana melirik kearah Todd namun ia hanya mengedikkan bahunya. Ana tahu jika Todd hanya seorang asisten. Dan semua keputusan tetap ada pada Grey.


Grey memberi isyarat jika Todd harus meninggalkan ia bersama Ana. Grey menatap Ana dengan tatapan meremehkan.


"Sudah kuduga kau akan berbuat curang, Nona Ana."


"Ti-tidak! Aku tidak berbuat curang!"


"Lalu untuk apa kau menemui Todd tanpa sepengetahuanku?"


"Aku hanya..." suara Ana tercekat. Ia tahu jika Grey sangat marah padanya saat ini.


"Kau ingin menipu kami lagi, huh?!"


Ana menggeleng cepat. "Tidak, Tuan! Sungguh aku tidak berniat menipumu. Aku hanya ingin meminta keringanan pada Tuan Todd. Aku tahu dia adalah orang yang baik. Aku yakin dia bisa membantuku." jawab Ana dengan menundukkan kepala.


Grey menggeram. Ia menghampiri Ana dan mencengkeram dagu Ana.


"Aaakhh!!!" Ana merintih kesakitan karena Grey mencengkeramnya erat.


"Jangan main-main denganku, Nona. Kau tidak tahu siapa aku?" Grey melepaskan cengkeramannya dan membuat tubuh Ana terhuyung ke belakang.


"A-aku minta maaf, Tuan. Aku hanya ingin Tuan meringankan hutang ayahku. Bukan kami yang menipu Anda, Tuan. Kenapa Anda malah menagihnya pada ayahku? Kenapa kau tidak mencari Paman Alonso saja?"


"Kau tenang saja, Nona. Soal pamanmu, dia tidak akan bisa lolos dariku karena sudah menipuku. Kalian semua keluarga penipu! Aku tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja."


Ana terdiam. Ia tahu tidak akan bisa melawan kekuasaan Grey. "Tolong bebaskan aku, Tuan!" Hanya ini satu-satunya cara yang Ana bisa lakukan. Ia akan meminta belas kasihan dari Grey.


Grey menarik sudut bibirnya. "Nona, kuberi satu penawaran untukmu."


"Hah?!"


"Aku akan menganggap semua hutang ayahmu lunas. Asal kau mau membayarnya dengan tubuhmu!"


Ana membulatkan matanya. "A-apa maksud Anda, Tuan?"


"Kau tahu 'kan jika aku memiliki klab malam yang cukup terkenal di kota ini. Dan menurut penilaianku... Dengan tubuh semacam ini... Kau bisa mendapat bayaran yang lumayan dari para pria kaya."


"APA KATAMU?!" Ana memekik terkejut sekaligus kesal.


"Sekarang keputusan ada di tanganmu, Nona. Menjadi wanita penghibur di klabku adalah impian setiap gadis di kota ini. Kutunggu jawabanmu, Nona..."


Ana menatap Grey dengan mata berkaca-kaca. Serendah itukah harga diri Ana di mata seorang Grey?


#bersambung lagi ya genks


*Hiks hiks, apa yg akan dilakukan Ana genks?😵😵😵


jangan lupa tinggalkan jejak untuk Ana 😀😀