Raanjhana

Raanjhana
Trapped by Cold CEO : 12. Penawaran Baru




......***......


Ana berjalan cepat setelah keluar dari ruangan Grey. Rasanya ia ingin pergi ke belahan bumi yang tak bisa ditemukan oleh siapapun. Matanya memanas, hatinya sakit, tubuhnya tak berdaya. Kenapa ia harus diperlakukan dengan tak senonoh begini oleh pria dingin yang tak punya hati itu? Batin Ana terus bertanya dan mengutuk Grey.


BRUKK!!!


Karena Ana terus berjalan menunduk, ia menabrak seseorang. Ana mendongak.


"Tuan?!" Ana menabrak Black.


"Nona Ana? Apa yang kau lakukan disini?" Black mengerutkan dahi.


"Ti-tidak ada. Permisi, Tuan. Maaf sudah menabrak Anda." Ana segera berlalu karena tak ingin Black bertanya lebih banyak.


Black menatap kepergian Ana dengan penuh tanda tanya. Namun sejurus kemudian, Black segera pergi dan menuju ruangan Grey.


Black terkejut karena mendapati Grey sedang menenggak wine di ruangannya.


"Astaga, Tuan! Ini masih pagi dan Tuan sudah minum?" Black segera mengambil gelas dari tangan Grey.


"Hari ini jadwal Tuan padat. Jangan bertindak bodoh dengan mabuk-mabukan di kantor!" Black amat geram dengan tingkah Grey.


"Katakan aku harus bagaimana, Black!!!" Grey berteriak mengguncang bahu Black.


Sedetik kemudian Grey terdiam dan duduk di kursi kebesarannya. Ia mengacak rambutnya dan menjambaknya.


Black merasa iba pada Grey. Tapi ia tak mampu melakukan apapun. "Aku bertemu dengan Nona Ana. Apa dia baru saja datang kemari?"


Grey tak menjawab.


"Sebenarnya apa yang terjadi dengan kalian semalam? Apa Tuan sudah....?"


"Jangan gila!!! Aku tidak akan bisa melakukannya. Aku tak mau melakukannya, Black. Tapi kenapa...?" Penampilan Grey amat kacau.


Black menghampiri Grey. "Tuan bisa cerita padaku." Black menepuk pelan bahu Grey.


"Aku tidak ingin merasakan hal itu lagi, Black. Rasa itu sangat menyakitkan..."


Untuk pertama kalinya Black mendengar curahan hati Grey. Pertama kalinya juga Black melihat Grey menangis. Tuan Mudanya yang dingin ini ternyata bisa juga menangis.


Black berusaha mendengarkan ungkapan hati Grey tanpa mau menghakimi.


"Dulu aku merasakan jika saat jatuh cinta sangatlah menyenangkan. Membahagiakan. Tapi setelahnya aku sakit, Black. Dan aku tidak mau merasakan rasa itu lagi. Tapi gadis itu... Gadis itu membuatku ingin menyentuhnya. Aku ingin merasakan hangat tubuhnya. Tapi, tidak!!! Aku tidak akan melakukannya, Black. Tidak akan! Aku tidak akan membiarkan rasa itu kembali." Grey bangkit dari kursinya dan memukuli dinding ruangannya.


"Tuan..." Black mencoba mengerti perasaan Grey. "Sebaiknya Tuan menenangkan diri dulu. Setelahnya Tuan bisa kembali bekerja. Saya permisi!" Black undur diri dari ruangan Grey.


"Ternyata dia mengalami hal yang menyakitkan ketika berada di Indonesia. Jatuh cinta dan patah hati di saat yang bersamaan." Black menggeleng pelan sambil membatin dalam hati.


......***......


Ana memilih menuju ke rumah sakit dan melihat kondisi ayahnya. Beberapa hari ini ia malah sibuk dengan urusannya bersama Grey dan belum menjenguk ayahnya.


Ana masih melihat ayahnya tak bergerak sama sekali di ruang intensif. Hatinya pilu ketika mengingat tentang ayahnya. Ana kembali menangis.


"Daddy, kau tenang saja. Aku tidak akan melepaskan orang-orang yang sudah melakukan ini pada kita. Itu janjiku padamu, Daddy." gumam Ana.


"Nona Ana," panggil seorang perawat.


"Iya, ada apa?"


"Dokter ingin bicara dengan Nona."


Ana mengangguk kemudian mengikuti langkah perawat wanita tersebut. Ana masuk kedalam ruangan dokter Gibran.


"Silahkan duduk, Nona Ana."


"Terima kasih, Dokter. Bagaimana kondisi ayah saya, Dokter?" tanya Ana dengan harap-harap cemas.


Dokter Gibran membetulkan letak kacamatanya. "Begini Nona Ana. Kondisi ayah Anda belum mengalami perubahan apapun."


Ana mendesah pelan. Ia tahu jika hal ini yang akan dikatakan dokter.


"Dan ada kemungkinan jika Tuan Alfonso bisa kembali sadar, beliau akan mengalami kelumpuhan."


"Eh? A-apa? Lumpuh?" Ana menggeleng pelan.


"Sekali lagi kami minta maaf..." sesal dokter Gibran.


Ana keluar ruangan dokter Gibran dengan hati yang hancur. Tubuh lelahnya tak bisa lagi menahan derita yang bertubi-tubi terjadi. Ana duduk di bangku panjang rumah sakit dan menangis. Tekadnya untuk tidak menangis ternyata masih kalah dengan kesedihan yang dirasakannya. Ia butuh seseorang yang bersedia meminjamkan bahu untuknya.


Mata Ana tertuju pada sebuah tangan yang mengulurkan sapu tangan kearahnya. Ana mendongak melihat siapa pemilik tangan itu.


"Mike?"


Mike tersenyum pada Ana. "Kau baik-baik saja?"


"Menurutmu?"


"Sepertinya tidak."


Ana tersenyum getir. "Untuk apa kau kemari? Apa kau juga ingin menagih hutang padaku?"


"Astaga, Ana! Apa tampangku seperti penagih hutang?"


Ana tertawa. Baru kali ini akhirnya ia bisa tertawa. "Maaf, Mike."


"Apa ada orang yang menagih hutang padamu?"


"Yeah, begitulah. Tuan Muda sombong dan dingin juga tak punya hati. Padahal sudah jelas ini bukan kesalahanku dan ayahku."


"Kau sudah makan siang?"


"Eh?"


"Aku kemari untuk mengajakmu makan siang."


"Benarkah? Kau ingin mentraktirku?"


"Iya."


"Wah, setelah sekian lama akhirnya ada juga yang mengajakku makan." ucap Ana girang.


Mike tertawa. "Ayo!"


Ana mengangguk dan berjalan beriringan dengan Mike.


Tiba di sebuah restoran Italia, Ana dan Mike duduk berhadapan dan saling bercerita ringan sambil menyantap makan siang mereka.


Ana senang karena kini memiliki teman yang bisa ia ajak bicara.


"Jadi kau sudah resmi berpisah dengan Jessline?"


"Maaf, ya."


"Kenapa kau meminta maaf, Ana. Ini bukan kesalahanmu. Aku bahkan sudah bersama dengan Jessline selama lima tahun ini. Tapi ternyata semua tak ada arti baginya. Ia malah memilih pergi bersama supirnya."


"What?! Supirnya? Kau serius? Maksudmu Marc?" Ana benar-benar terkejut dengan cerita Mike.


"Ya, siapa lagi."


Ana mengerjapkan matanya tak percaya dengan apa yang dikatakan Mike.


"Aku turut prihatin, Mike."


"It's okay, Ana. Kau sendiri? Kenapa memakai baju formal? Apa kau ingin melamar kerja?"


"Iya, tadinya. Tapi sekarang aku tidak tahu akan melakukan apa." wajah Ana berubah sendu.


"Apa kau mau bekerja di perusahaanku?"


"Hah?! Aku?!"


"Iya. Aku sedang membutuhkan karyawan bagian accounting."


Wajah gembira Ana kembali sedih. "Tidak, Mike. Keluargamu pasti tidak akan setuju jika tahu aku bekerja di perusahaanmu. Lagipula, aku bukan dari jurusan accounting."


"Semua bisa dipelajari, Ana. Kau hanya butuh percaya diri saja."


"Begitukah?" Ana mencoba menimang-nimang apakah ia harus menerima tawaran Mike atau tidak.


Ditempat berbeda, Grey yang mendapat laporan dari Black mengenai Ana langsung menggeram kesal. Entah apa yang ia rasakan. Tapi saat mendengar Ana sedang bersama dengan Mike, hati Grey mulai bergemuruh.


"Brengsek!!! Wanita itu pasti sedang berusaha menggoda pria kaya!" sungut Grey.


Ia segera menghubungi nomor Black.


"Halo, Black. Dimana posisi gadis itu?"


"Dia ada di restoran Italia jalan xyz, Tuan."


"Kau awasi dia terus! Aku akan segera kesana." Grey menutup telepon dan segera menyambar kunci mobilnya.


Ketika melewati ruang sekretarisnya, Grey berseru, "Tunda semua jadwal meetingku hari ini."


"Eh?" Si sekretaris hanya bisa menghela nafas dengan tingkah bosnya yang selalu berbuat seenaknya.


Grey melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh membelah jalanan Kota London. Ia ingin segera tiba di restoran Italia itu dan membawa Ana pergi dari sana.


Ana dan Mike bersiap untuk keluar dari resto dan akan menuju ke tempat dimana mobil Mike terparkir.


"Kumohon pikirkanlah, Ana. Aku sangat berharap kau bisa bergabung dengan perusahaanku." bujuk Mike.


"Hmm, akan kupikirkan." balas Ana.


"Tidak perlu kau pikirkan!!!" suara menggelegar seorang pria membuat Ana dan Mike menoleh kearahnya.


"Kau lagi!!! Apa yang kau lakukan disini?" sungut Ana kesal karena lagi-lagi bertemu Grey.


Grey tidak menggubris Ana dan malah beralih pada Mike. "Dengar, gadis ini adalah milikku. Dan kau tidak berhak membawanya pergi tanpa seijinku ataupun menawarinya pekerjaan. Mengerti?!"


"Anda siapanya Ana? Oh, jangan-jangan Anda adalah penagih hutang yang di maksud Ana? Dengar, Tuan Grey. Aku tahu kau memiliki kekuasaan yang besar dalam dunia bisnis. Tapi bukan berarti kau bisa memanfaatkan Ana sesuka hatimu. Ana tidak bersalah sama sekali dalam hal ini. Bukan dia yang membawa kabur semua uangmu."


"Tutup mulutmu!!! Kau tidak perlu ikut campur urusanku. Ayo, Ana!!" tanpa berbasa-basi Grey segera menarik tangan Ana dan membawanya masuk kedalam mobilnya.


Ana hanya diam dan tak berani melawan. Percuma saja melawan si tuan dingin ini, menurutnya.


"Kau memang menyebalkan!!" sungut Ana ketika mobil mulai melaju.


Grey tersenyum seringai melihat Ana marah.


"Turunkan aku disini!" seru Ana.


"Tidak akan!"


"Kau!!!" Ana benar-benar kesal dengan sikap semena-mena Grey.


"Katakan dimana kau tinggal."


"Apa katamu?"


"Kau tidak tuli 'kan? Aku akan mengantarmu pulang."


"Tidak perlu! Aku bisa pulang sendiri."


"Menurutlah! Atau aku harus bertindak kasar padamu!" Kalimat Grey berhasil membungkam bibir Ana.


"Sebenarnya apa yang ia inginkan? Kenapa tiba-tiba muncul di resto itu? Apa jangan-jangan dia selalu mengawasiku? Cih, dasar menyebalkan! Dia pasti mengira aku akan kabur sebelum membayar hutang." batin Ana.


"Cepat katakan dimana kau tinggal!!"


"Flat Harmony dekat rumah sakit." jawab Ana ketus. Ia memalingkan wajahnya tak ingin melihat wajah dingin Grey.


Tiba di rumah, Ana segera keluar dan masuk kedalam rumah. Tak mau kalah cepat, Grey juga sudah menyusul Ana.


"Apa yang kau lakukan? Pergi sana! Aku muak melihatmu." usir Ana dengan mendorong tubuh Grey.


"Apa kau sangat membenciku?"


"Iya! Aku sangat membencimu! Kau bertindak sesuka hatimu karena kau kaya dan memiliki segalanya! Kau menganggap aku rendah karena aku jatuh miskin dan berhutang padamu. Tapi kau harusnya tahu, itu semua bukan salahku atau ayahku! Bahkan ayahku saja masih terbaring koma di rumah sakit. Tapi kau malah terus membahas soal hutang. Dimana hati nuranimu, Tuan?" tangis Ana kembali pecah. Ia memukuli dadanya yang terada sesak.


"Ana..."


Ana tersentak mendengar Grey memanggilnya dengan lirih dan lembut. Tangan Grey terulur menyentuh pipi Ana dan menghapus air mata Ana.


Ana menatap Grey heran dengan mata yang mengembun.


"Maaf..." satu kata yang membuat hati Ana sedikit menghangat. Ana bahkan tak percaya si tuan dingin ini bisa berkata maaf.


Tatapan mata mereka beradu. Ana melihat kerapuhan dalam sorot mata Grey.


"Apa yang sebenarnya disembunyikan tuan dingin ini?" batin Ana bertanya-tanya.


Sadar tatapan mata Ana membuatnya terhipnotis. Grey segera memutus tatapan itu. Tanpa berpamitan ia segera pergi dari rumah Ana.


#bersambung ya genks...


*See you tomorrow, muah muah...😘😘


*yuk yg belum VOTE mari ramaikan Ana & Grey agar lebih uhaaaah, hehehe.


*Roman2nya babang Grey mulai tuing-tuing nih, 😍😍😍