Raanjhana

Raanjhana
Trapped by Cold CEO : 17. Titik Lemah Si Tuan Dingin




......***......


"Give me a morning kiss!" ucap Grey dengan suara beratnya.


"Hah?!" Ana membulatkan matanya. Sungguh ia kesal pada pria yang sedang mendekapnya ini. Dengan seluruh kekuatannya, Ana mendorong tubuh Grey agar melepaskannya. Namun sia-sia saja, semakin Ana berontak maka semakin erat dekapan Grey.


"Tuan! Lepaskan aku!" Ana mencoba bernegosiasi.


"Kau tidak tuli, aku tidak akan mengulang perintahku!" Grey berucap dengan santai dan memejamkan matanya.


Ana memutar bola matanya malas. Dengan sangat terpaksa ia harus melakukan apa yang Grey minta.


CUP!


Sebuah kecupan di pipi Grey berhasil Ana daratkan. Ia segera keluar dari lilitan tangan Grey dan menuju kamar mandi.


Grey membuka mata dan tersenyum penuh arti.


"Kena kau, Ana! Kau pikir kau bisa lari dariku, huh! Tidak akan bisa!" Grey pun bangun dari tempat tidur dan menuju ke kamar mandi. Ana sudah berdiri didepan pintu kamar mandi.


"Siapkan baju ganti untukku. Aku akan pergi ke kantor, jadi siapkan setelan jas beserta dasinya." Grey mengacak pelan rambut Ana sebelum masuk ke kamar mandi.


Ana menghela nafas dan langsung menuju walk-in-closet Grey dan memilihkan setelan jas untuknya. Ana terdiam sejenak kemudian mulai memikirkan apa yang sudah dialaminya selama beberapa minggu terakhir.


Ana kembali menangis meratapi nasibnya. Terdengar bunyi langkah kaki mendekat. Ana segera menyeka air matanya, dengan menundukkan kepala Ana menyerahkan baju ganti Grey kepadanya.


"Ini pakaian gantimu, Tuan. Aku permisi!"


"Diam disitu hingga aku selesai mengganti pakaianku!" titah Grey.


Ana terdiam dan tidak menjawab. Ia memilih tak bergerak sementara Grey menghilang ke ruang ganti.


Tak lama Grey kembali dengan sudah rapi memakai setelan jasnya.


"Pakaikan dasi untukku!" perintah Grey lagi.


Ana hanya menurut dan mengambil dasi di tangan Grey. Ana sedikit berjinjit untuk menyamakan tinggi badannya dengan Grey.


Ana memakaikan dasi tanpa menatap wajah Grey. Ia sungguh malas jika harus berhadapan dengan tuannya itu. Ana masih sibuk memakaikan dasi sementara Grey menatap lekat wajah pucat Ana.


Grey mencoba mencuri sebuah ciuman dari Ana namun secepat mungkin Ana menghindar. Grey menggeram karena Ana menghindarinya. Ia mendorong tubuh Ana hingga terpentok ke dinding ruang itu dan mengungkungnya dengan kedua tangannya.



Ana meringis kesakitan namun berusaha ia tahan. Tak ada gunanya melawan. Hatinya sudah lelah menghadapi Grey.


"Apa kau menangis?" tanya Grey.


Kali ini Ana berani menatap Grey. Matanya sudah mengembun karena menahan air matanya.


"Kenapa kau menangis? Apa hanya itu yang bisa kau lakukan?"


"Hanya dengan cara ini aku mendapatkan kekuatanku. Aku tidak memiliki siapapun selain air mataku, tangisanku. Aku akan semakin kuat karena air mata selalu menemaniku. Apa kau keberatan?" Buliran bening itu akhirnya lolos begitu juga dengan tubuh Ana yang kini meloloskan diri dari Grey. Ana keluar dari kamar Grey dengan buliran yang makin deras. Ana menguatkan hati agar menyudahi tangisannya sebelum turun ke bawah.


Sementara itu, Grey mematung mendengar penuturan Ana. Ia tak menyangka jika Ana akan berkata seperti itu padanya.


"Apa yang sudah kulakukan padanya?" Grey mengusap wajahnya kasar.


......***......


Black merasa ada yang aneh dengan sikap tuannya hari ini. Sejak datang ke kantor dan mengikuti beberapa meeting bersama klien, Grey hanya terdiam tanpa menimpali hasil meeting, hingga Black yang harus mewakili Grey untuk bicara dengan klien.


"Terima kasih atas kerja samanya, Tuan Holsch. Senang bekerja sama dengan perusahaan Tuan." Black memberi salam pada klien, sambil melirik Grey yang terus melamun.


"Astaga! Ada apa dengannya? Seharian ini bersikap aneh dan sangat tidak profesional. Apa terjadi sesuatu lagi antara dirinya dan Nona Ana? Sudah kuduga jika dia akan terbakar jika bermain api. Kuharap Nona Ana akan membawa perubahan untuk dirimu, Tuan. Hanya dia gadis baik yang bisa mendampingimu," batin Black.


Di sisi lain, Ana merasa bebas karena tak ada penjaga di mansion Grey. Usai membersihkan rumah, Ana pergi ke rumah sakit menjenguk ayahnya. Ia berdiam lama di depan ruang intensif menatap tubuh ayahnya yang masih tak sadarkan diri.


Hingga sore hari menjelang, Ana kemudian keluar dari rumah sakit dan kembali menuju ke suatu tempat. Ia menuju makam ibunya. Ia merasa sudah lama tak menemui ibunya sejak kepulangannya ke rumah.


"Mom, ini aku, Ana. Maaf aku baru sempat mengunjungimu. Akhir-akhir ini banyak hal yang terjadi." Ana tak kuasa menahan beban berat dihatinya.


"Mom... Daddy sekarang sedang terbaring koma di rumah sakit. Aku minta padamu agar ikut mendoakannya. Aku tidak bisa hidup lagi jika Daddy juga harus pergi bersamamu. Aku..." Ana menjeda kalimatnya. Air matanya telah luruh membasahi pipinya.


"Tolong berikan aku kekuatan untuk bisa menghadapi ini semua, Mom. Aku harus kuat demi Daddy." Ana bersimpuh dan menangis di nisan ibunya.


Tanpa sengaja tangis Ana menyentuh hati seseorang untuk melihat Ana dari kejauhan. Orang itu mematung mendengar curahan hati Ana di makam ibunya.


"Jika saja aku tidak memikirkan Daddy, aku lebih memilih untuk pergi denganmu saja, Mom. Aku tidak ingin hidup lagi. Ini terlalu berat untukku..."


Orang yang tak lain adalah Grey itu memutuskan untuk pergi dari area pemakaman. Grey sendiri sebelumnya berkunjung ke makam ibunya. Ia tak mengira akan bertemu Ana di area pemakaman yang sama.


Grey memutuskan untuk kembali ke mansionnya. Ia mulai memikirkan hal apa saja yang sudah diperbuatnya hingga membuat seorang gadis menjadi putus asa dan ingin mengakhiri hidupnya.


Ana kembali ke mansion dan terkejut ketika melihat Grey sudah tiba di mansion lebih dulu.


"Tu-tuan, aku minta maaf karena..." Ana tak bisa melanjutkan kalimatnya karena tiba-tiba Grey memeluknya. Pelukan itu terasa hangat dan berbeda dari sebelumnya.


"Tuan..."


Grey melepas pelukannya kemudian meninggalkan Ana yang masih tak mengerti dengan sikap Grey yang berubah-ubah.


Grey berdiam diri di kamarnya hingga malam tiba. Saat makan malam telah siap, Ana memanggil Grey dan mengetuk pintu kamarnya.


"Tuan Grey! Makan malam sudah siap!" teriak Ana dari luar kamar.


Grey tak menyahuti teriakan Ana.


"Aneh! Ada apa dengannya? Apa aku masuk saja ke kamarnya?" gumam Ana.


"Tuan! Aku masuk ya!" Ana memberanikan diri masuk kedalam kamar Grey yang gelap. Ana menekan saklar lampu dan tak melihat Grey ada disana. Sayup-sayup Ana mendengar suara orang merintih.


Ana mencari sumber suara hingga menuju kamar tidur Grey. Ana melihat Grey tertidur dengan menggumamkan sesuatu dari bibirnya.


"Tuan!" Ana mendekati Grey. "Astaga! Sepertinya dia mimpi buruk! Dia sampai berkeringat!"


"Tuan! Bangun, Tuan! Tuan Grey!" Ana mencoba membangunkan Grey karena ia tak mau Grey makin bermimpi buruk.


"Tidak! Jangan tinggalkan aku, Mom! Mommy!!!" Ana terkejut ketika Grey tiba-tiba terbangun dengan keringat bercucuran dari pelipisnya.


"Tuan Grey!" panggil Ana.


"Ana!!!" Grey menyadari kehadiran Ana dan langsung memeluknya.


"Ana, jangan tinggalkan aku!!! Jangan pergi!!!" gumam Grey memeluk Ana erat.


Ana bingung dengan sikap Grey. Ia menepuk pelan punggung Grey dan menenangkannya.


"Berjanjilah kau tidak akan meninggalkan aku!" ucap Grey dengan terisak.


"Iya, aku janji." balas Ana untuk menyenangkan hati Grey.


Ana menghela nafas. Grey kembali tertidur dan Ana menyelimuti tubuhnya. Ana menatap wajah dingin yang berubah hangat itu.


"Jadi, kau juga memiliki luka yang dalam, Tuan. Ini adalah titik lemahmu. Aku sungguh tidak menyangka ternyata kau begitu rapuh." gumam Ana dalam hati.


Ana akan beranjak dari tempat tidur Grey, namun secara tiba-tiba tangan Grey menarik tangan Ana dan membuatnya jatuh terjerembab diatas tubuh Grey.


"Tidurlah disini!" ucap Grey memohon.


"Eh?"


......***......


#bersambung


*😭😭😭 part ini lumayan bikin sesek untukku. Semoga setelah ini Grey mulai berubah yaak😇😇


*Jangan lupa tinggalkan jejak ya kesayangan 😍😍💜💜💜