Raanjhana

Raanjhana
Takdir Cinta Nisha : 09. Hati yang Terluka namun Tersenyum



... Halo readers kesayangan mamak👋👋👋 Raanjhana (Lover/Kekasih) is back! Dont forget to leave Like 👍 and comments 😘...


...*happy reading*...


...🍂🍂🍂...


Malam itu menjadi malam yang menyedihkan untuk Asha. Asha harus merelakan cinta pertamanya bertunangan dengan gadis lain dan bukan dirinya. Ya, Asha menyukai Hernan sejak mereka remaja.


Awalnya mereka berteman biasa, karena mereka tumbuh bersama. Meski Asha satu tahun lebih muda dari Dirga dan Hernan, mereka tetap kompak berteman hingga benih-benih itu muncul ketika melihat Hernan dengan wajah bulenya mulai tumbuh remaja. Dirga juga tak kalah tampan karena ibunya juga berwajah oriental.


Nah lho, ketika harus memilih wajah barat atau asia, entah kenapa Asha lebih memilih Hernan yang memang terkesan cuek dan dingin. Berbeda dengan Dirga yang selalu bersikap hangat dan manis.


Namun meski saling menyadari ada ketertarikan diantara mereka, baik Hernan maupun Asha tak ada yang bisa mengungkapkan rasa. Karena mereka takut merusak persahabatan mereka. Dan lama kelamaan semua menjadi rumit karena Dirga memiliki rasa juga pada Asha.


Karena mengetahui perasaan Dirga, Hernan akhirnya mengutarakan juga perasaannya pada Asha. Namun tanpa Hernan duga, ternyata Asha lebih memilih sendiri dan tak memilih keduanya.


Rasa nyaman yang ditimbulkan dari kedua pria yang sifatnya bertolak belakang, membuat Asha tak mau memiliki salah satunya atau kehilangan salah satunya. Hmm, rumit juga ya. Tapi ternyata kedua pria itu tidak pernah keberatan dengan keputusan Asha. Mereka justru tetap mengisi hari-hari Asha dengan sifat mereka yang berbeda.


Pemikiran wanita kadang susah di tebak. Tak ingin memiliki, tapi juga tak mau melepas. Sekarang Hernan memilih wanita lain dalam hidupnya. Kini Asha hanya bisa pasrah dan bersedih. Namun ia masih memiliki Dirga di sisinya. Meski hatinya lebih berat pada Hernan.


"Sha, kita pulang saja ya." ajak Dirga karena melihat Asha meninggalkan rumah Hernan dan malah pergi ke taman.


"Aku masih ingin disini."


"Udara malam tak baik untuk kesehatanmu."


"Aku... ingin berkendara, Ga."


Ada sedikit senyum di wajah Dirga.


"Baiklah, aku akan mengambil mobil."


"Tidak, aku ingin naik motor. Motor besarmu. Boleh kan?"


"Tentu saja boleh." Dirga mengusap pipi Asha.


Asha memang gadis yang manis. Wajahnya ayu khas wajah asia asli orang Indonesia. Kulitnya kuning langsat dengan lesung pipi yang membuatnya makin manis ketika tersenyum. Mungkin itu sebabnya kedua pria campuran ini menyukainya.


Dirga membawa Asha berkeliling kota dengan sepeda motornya. Asha tersenyum sambil menutup matanya kala angin malam menerpa wajahnya.


Tak terasa waktu sudah hampir tengah malam. Dirga merasa tak enak hati lalu mengajak Asha pulang.


Sesampainya di depan rumah Dirga, mereka berdua telah ditunggu oleh Hernan yang berkacak pinggang. Seorang penjaga rumah Dirga memberitahu padanya jika Dirga pergi dengan Asha mengendarai sepeda motor. Alhasil Hernan menunggu mereka kembali. Namun hingga tengah malam, Dirga dan Asha baru kembali dan itu membuat Hernan murka.


"Ini sudah tengah malam dan kau membawa anak gadis sampai selarut ini?" sungut Hernan pada Dirga.


Dirga hanya menggeleng. "Kau baru saja bertunangan dengan Nisha dan kau masih memikirkan gadis lain? Sebenarnya apa maumu, hah?" Dirga sangat tak terima dengan sikap Hernan.


"Sudah, hentikan! Aku yang meminta Dirga untuk mengajakku berkeliling. Dan ini tidak ada urusannya denganmu. Jadi, jangan memarahi Dirga. Ayo kita masuk!" Asha menggandeng tangan Dirga dan masuk ke dalam rumah. Asha memang tinggal satu rumah dengan Dirga namun Asha menempati mansion belakang yang dihuni oleh para asisten di rumah Dirga.


Hernan hanya mengepalkan tangan melihat gadis yang ia cintai lebih membela sahabatnya. Yah, ini juga salahnya. Dia sendiri yang memutuskan untuk menerima perjodohan dirinya dan Nisha.


Di sisi lain, Nisha merebahkan tubuhnya yang telah lelah setelah acara pertunangan dirinya dan Hernan. Di pandanginya cincin berlian yang melingkar di jari manisnya.


"Huft! Apa keputusanku ini sudah benar? Aku akan melakukan pernikahan kontrak dengan Hernan. Ck, yang benar saja! Pernikahan adalah hal yanh sakral. Aku tidak bisa mempermainkan hal itu didepan Tuhan."


Setelah lama bermonolog sendiri, akhirnya Nisha memejamkan mata dan menuju ke alam mimpi. Semoga saja dalam mimpinya ia menemukan kebahagiaan tak terkira.


.


.


.


.


Dewi dan Lala segera menginterogasi Nisha dengan berbagai pertanyaan.


"Bagaimana bisa kau bertunangan dengan Kak Hernan?"


"Apa kalian sudah saling mengenal sebelum ini?"


"Lalu saat di Bali, kalian sebenarnya sudah tahu jika kalian akan dijodohkan?"


"Dan kau benar-benar akan menikah dengannya?"


Dan Nisha tak tahu harus menjawab pertanyaan yang mana lebih dulu.


"Bisakah bertanya satu persatu? Aku tidak tahu harus menjawab yang mana." ucap Nisha dengan menghela nafas.


"Baiklah, sebagai teman yang baik, kami akan mendengarkanmu." balas Dewi.


"Aku tidak tahu jika aku sudah lama dijodohkan dengan Hernan. Dan malam itu Hernan menyetujui perjodohan kami. Jadi, seperti yang kau lihat, aku bertunangan dengan Hernan dan akan menikah dengannya dalam waktu dekat."


"Hah? Secepat ini?" Dewi terbengong.


"Iya. Tapi, aku mohon kalian jangan bocorkan hal ini pada siapapun terutama teman-teman kampus. Aku dan Hernan sepakat akan menyembunyikan pernikahan kami dari semua orang."


"Kenapa? Bukankah kalian menikah secara resmi?"


"Tentu saja. Tapi tetap saja. Aku masih terlalu muda untuk menghadapi pernikahan ini. Aku masih belum siap untuk menjadi seorang istri. Ya Tuhan!!! Apa yang harus kulakukan?" Nisha nampak frustasi dan amat sedih.


Dewi dan Lala hanya bisa menghibur Nisha dengan memeluk sahabatnya itu.


.


.


.


.


Didepan semua anggota keluarga yang hadir, Hernan mengucap janji suci pernikahannya dengan Nisha. Semua orang nampak bahagia kecuali sepasang pengantin itu sendiri.


Hati Nisha amat terluka, namun ia selalu mengulas senyumnya dihadapan kedua keluarga. Sesuai dengan permintaan Hernan dan Nisha jika pernikahan mereka tidak akan disebarluaskan ke khalayak umum terutama rekan bisnis Hernan. Hanya kedua keluarga saja yang mengetahui pernikahan mereka.


Saat semua orang berteriak pada Hernan untuk mencium sang pengantin wanita, dengan berat hati Nisha mengangguk dan mempersilahkan Hernan untuk menciumnya.


Seakan memori yang lalu kembali terulang. Nisha dengan pasrah menerima ciuman dari Hernan. Meski ia tak membalas ciuman itu dan hanya membungkam bibirnya, namun dengan cekatan Hernan sedikit menggigit bibir Nisha hingga Nisha mau membuka bibirnya.


Orang-orang yang melihat malah merasa iri dengan pasangan yang terlihat romantis ini. Hernan menyudahi ciumannya kala mendengar isakan tangis dari bibir Nisha. Air mata Nisha sudah mengalir dan Hernan dengan cepat menyeka air mata itu.


"Tersenyumlah! Kau jangan menangis di depan semua orang seperti ini meskipun hatimu terluka. Aku pun sangat terluka, Nisha. Tapi kita harus tetap tersenyum dan melakukan sandiwara ini hingga usai." ucap Hernan berbisik.


#Bersambung...


"Belajar tersenyum meskipun itu sakit,


belajar menerima meskipun itu sulit,


apakah kau juga bisa menerimaku?"