
Nisha langsung menuju kembali ke kamarnya dan mengemas beberapa pakaian yang akan ia bawa. Ia sudah tidak ingat jika hari ini harus kuliah dan juga tugas yang menumpuk.
Sementara Hernan memijat pelipisnya pelan. Theo yang melihat Hernan masih mematung di ruang tamu, lalu menegurnya.
"Tuan muda tidak bersiap juga?" tanya Theo.
"Kenapa Kakek dan ayah selalu saja melakukan semua hal dengan semaunya? Bagaimana dengan pekerjaanku? Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja." jawab Hernan.
"Tuan muda tenang saja. Tuan Rio sudah mengurus semuanya. Lagipula, tuan muda masih bisa mengontrol kinerja bawahan tuan dari jauh." timpal Theo.
Dengan langkah lesu, Hernan kembali melangkah ke kamarnya. Theo mengernyit heran karena ternyata Nisha dan Hernan tidak tidur dalam satu kamar. Theo mulai mengerti kenapa kedua belah pihak orang tua sengaja membuat rencana bulan madu ini.
Tak lama, Hernan dan Nisha sudh siap menuju bandara. Nisha mengganti bajunya dengan dress selutut dan topi khas pantai dibawanya. Mereka menuju ke landasan pribadi milik keluarga Nisha. Keluarga Nisha memiliki landasan terbang sendiri untuk pesawat jet pribadinya. Namun Nisha jarang bepergian menggunakan jet pribadi. Ia lebih suka membaur dengan orang lain.
Pesawat mulai mengudara dan Nisha mulai menikmati penerbangan. Sementara Hernan malah membuka laptopnya dan mengecek beberapa pekerjaan.
Seorang pramugari melerai Hernan karena pesawat sudah lepas landas sebaiknya tidak menggunakan gawai. Hernan mengangguk dan menutup pekerjaannya. Ia menatap keluar dan memandangi awan-awan putih yang mereka lewati.
Nisha malah sibuk membaca buku dongeng kesukaannya. Hingga akhirnya ia tertidur dan mendekap buku dongengnya. Hernan yang melirik ke arah sampingnya hanya bisa tersenyum. Ia mengingat bagaimana ia merasa cemburu buta kemarin. Meski ia tidak rela meninggalkan pekerjaannya, tapi paling tidak, untuk beberapa hari ke depan, ia bisa memisahkan Nisha dari bocah bernama Grey.
Hernan mendekati Nisha yang sedang tertidur dan duduk di sebelahnya. Sebenarnya mereka bisa duduk bersebelahan sedari tadi. Namun karena tempat duduk lain juga kosong, Hernan memilih duduk berjauhan dengan Nisha.
Tapi kini melihat Nisha tertidur, Hernan jadi ingin berada disamping Nisha. Direbahkan kepala Nisha ke bahunya. Dan membelai lembut wajah Nisha. Ia mengambil buku dongeng yang di peluk Nisha.
Hernan berdecih. "Sudah seusia ini kau masih membaca buku dongeng?" Hernan menggeleng pelan.
Memorinya kembali pada beberapa tahun silam saat dirinya bertemu dengan gadis kecil saat berlibur di Miami.
"Dimana kau sekarang, gadis kecil? Kau pasti sudah seusia gadis manja ini sekarang. Tapi aku yakin kau bukan gadis manja seperti dia." Gumam Hernan dalam hati.
Nisha makin terlelap dan memeluk tubuh Hernan yang ada di sampingnya. Nisha memang terbiasa tidur dengan memeluk guling. Jadi dimanapun berada, ia merasa ada guling disampingnya.
Hernan hanya tersenyum mendapat pelukan dari Nisha. Ia malah makin membawa tubuh Nisha dalam dekapannya. Para awak pesawat tersenyum iri melihat betapa perhatiannya Hernan pada istrinya itu.
Perjalanan yang ditempuh sekitar lima jam itu akhirnya dilanjutkan dengan menaiki kapal ferry menuju sebuah pulau bernama Agusta. Karena sudah tertidur selama beberapa jam di pesawat tadi, Nisha merasa badannya kembali segar dan mulai menikmati perjalanan dengan kapal.
Hernan sibuk memainkan ponselnya. Ada beberapa panggilan tak terjawab dari Asha, dan juga sebuah pesan.
"Hernan, kamu dimana? Hari ini kamu tidak ke kantor. Apa terjadi sesuatu? Hernan kita perlu bicara. Aku tidak percaya jika kemarin kamu mengucap perpisahan padaku. Aku yakin kamu tidak serius mengatakan itu padaku."
Hernan melirik ke arah Nisha yang nampak amat bahagia.
"Aku serius, Asha. Aku tidak bisa menemuimu lagi..." batin Hernan. Namun ia enggan membalas pesan dari Asha.
Setelah perjalanan kurang lebih dua jam, akhirnya Hernan dan Nisha tiba juga di sebuah resort tepi pantai yang amat indah. Nisha berlarian gembira melihat pasir putih dan air laut.
"Hei, hari mulai gelap. Sebaiknya kita istirahat dulu saja. Besok kau bisa bermain di pantai seharian." ucap Hernan.
"Iya, iya, baiklah. Aku merasa lelahlu hilang seketika kala melihat hamparan pasir putih."
"Selamat malam, tuan dan nona. Saya Andre, saya yang akan melayani tuan dan nona selama berlibur disini. Untuk makan malam akan kami siapkan pukul tujuh malam nanti." jelas seorang pemandu bernama Andre itu.
Hernan hanya mengangguk. Ia langsung memasuki kamar. Ia ingin segera merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Nisha, kau mandilah lebih dulu. Aku akan tiduran dulu." ucap Hernan.
"Hmm, baiklah." jawab Nisha.
Usai mereka berdua membersihkan diri, mereka lalu menikmati sajian makan malam yang amat lezat. Nisha makan dengan lahap dengan tidak ada jaim-jaimnya. Hernan tertawa kecil melihat tingkah Nisha yang selalu apa adanya dan tidak dibuat-buat.
Suasana malam hari ini amatlah syahdu. Nisha merasakan semilir angin pantai yang menerpa wajah dan rambutnya. Ia menghirup dalam-dalam udara malam ini.
"Jangan terlalu lama disana. Angin malam tetap saja tidak baik untuk tubuhmu. Nanti kau sakit. Aku yang repot." ucap Hernan.
Nisha mencibirkan bibirnya kesal. "Sehari saja dia tidak membuatku kesal apa tidak bisa?" gumam Nisha.
"Ayo masuk, kita istirahat." ucap Hernan lagi sambil berjalan menuju kamar.
"Terima kasih..." teriak Nisha.
"Karena sudah mengobatiku." Nisha memegang dahinya.
Hernan menghampiri Nisha. Tanpa persiapan Hernan mencium kening Nisha yang terluka. Nisha membulatkan matanya.
"Aku yang harusnya minta maaf." ucap Hernan tulus.
Mata mereka beradu. Debaran itu kini begitu nyata dirasakan oleh Nisha, begitu pula Hernan. Nisha segera menundukkan kepalanya.
"Sebaiknya kita istirahat. Ayo masuk!" Hernan berbalik badan dan kembali berjalan sambil memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana.
Keesokan paginya, Hernan terbangun lebih dulu dan segera membersihkan diri. Malam pertama mereka berbulan madu tidak terjadi apa-apa diantara mereka.
Nisha terbangun karena mendengar dering ponselnya berbunyi nyaring. Sebuah panggilan video dari ibunya.
"Halo, ibu..." sapa Nisha dengan mata masih mengantuk.
"Halo sayang... Bagaimana perjalanan kalian kemarin?" tanya Antonia di seberang.
"Perjalanannya menyenangkan, bu."
"Astaga sayang. Kau baru bangun? Ini sudah siang, nak."
"Ibu, ini baru pukul sembilan pagi. aku masih mengantuk. lagipula aku 'kan sedang liburan, tidak apa lah bangun siang sekali-kali."
"Astaga!! kau ini istri macam apa, nak? cepat bangun! mana nak Hernan?"
Nisha melihat Hernan baru saja keluar dari kamar mandi. Nisha memberikan ponselnya pada Hernan.
"Halo, nak. Kalian baik-baik saja kan?"
"Iya, bu. Kami baik."
"Tolong jaga Nisha ya. Ini ibu nak Hernan juga ingin bicara."
"Halo, sayang..." sapa Adelia.
"Hah? Ibu? Kalian sedang bersama?"
"Iya, kami sedang sarapan bersama. Hei, nak, sudah berapa gol yang kau cetak, hah?"
"Ibu!!! Kenapa selalu membahas hal seperti itu sih?" Hernan nampak kesal.
"Hehe, maaf. Ya sudah, kalian baik-baik ya disana. Daah." Adelia mematikan sambungan video.
"Ini ponselmu!" Baru saja Nisha menerima ponsel ke tangannya, sebuah panggilan kembali masuk.
Nisha mengerutkan kening dan menatap Hernan. "Grey?" gumam Nisha.
"Siapa yang menelepon?" tanya Hernan.
"Bu-bukan siapa-siapa. Aku akan mengangkatnya di luar."
Baru saja Nisha akan keluar kamar, ponselnya langsung di rebut oleh Hernan.
"Cih, bocah ini lagi? Mau apa dia pagi-pagi sudah meneleponmu?" Hernan segera menekan tombol merah dan mematikan ponsel Nisha.
"Hei, kenapa mematikan ponselku?" sungut Nisha.
"Dengar ya, kita sedang berlibur, jadi tidak ada yang boleh menggunakan ponsel. Kau mengerti?"
"Apa maksudmu? Kau sendiri juga pasti berhubungan dengan Asha kan? Jadi kau jangan mencampuri urusanku."
"Mana ada? Aku tidak menerima panggilan dari siapapun. Jadi kau pun juga tidak boleh!"
"Oh ya? Baiklah kalau begitu. Awas saja jika kau menerima panggilan dari wanita itu!" sungut Nisha lalu keluar dari kamar.
Bersambung...