
Sivia tiba ditujuan yang sudah ditentukan oleh seseorang yang meneleponnya. Ia mengedarkan pandangannya ke sekitar taman. Taman kota sudah nampak sepi karena sudah memasuki larut malam. Sivia meremas tangannya. Mempersiapkan diri bertemu dengan orang yang meneleponnya.
"Kau sudah datang. Nyalimu besar juga ya!"
Sebuah suara dari balik semak-semak mulai menampakkan wujudnya. Sivia berhadapan dengan si pemilik suara sekarang. Jantungnya mulai berdegup tak beraturan.
Bagaimanapun juga hari ini akan tetap Sivia hadapi, siap ataupun tidak. Sivia memberanikan diri untuk bicara tegas.
"Ada perlu apa Mbak Ninna memintaku datang kemari?" suara Sivia sedikit bergetar.
"Cih, kau masih berani bertanya? Apa kau tahu, kalau Iyan akan tetap menikahimu meskipun ia sudah tahu soal masa lalumu dan suamiku?"
"Apa yang terjadi antara aku dan suami Mbak, hanyalah masa lalu. Dan tidak akan terjadi lagi di masa sekarang. Aku harap Mbak mengerti."
"Untuk itulah aku mengundangmu kemari. Karena Iyan gak bisa melakukannya, maka--- kau yang harus melakukannya. Batalkan pernikahanmu dengan Iyan!"
"Apa?" Sivia terkejut.
"Jangan pura-pura tak mendengarnya. Batalkan pernikahanmu secepatnya!!!" teriak Ninna.
"Apa urusannya dengan Mbak Ninna? Ini adalah pernikahanku dan Mas Iyan, jadi kami yang akan memutuskannya--"
PLAAKK!!!
Sebuah tamparan di pipi Sivia.
"Lancang sekali kau! Berani menjawabku! Harusnya kamu tahu diri, perempuan rendahan macam kamu, tidak pantas jadi bagian keluarga kami!!!"
Pipi kiri Sivia terasa panas mendapat tamparan dari Ninna. Iapun memeganginya dengan menahan tangis.
"Batalkan pernikahanmu secepatnya! Atau kau akan menyesalinya!" Ninna mendorong tubuh Sivia hingga jatuh tersungkur.
Sivia terjatuh duduk tak berdaya. Air matanya tak lagi bisa ia tahan.
"Ninna!! Apa yang kamu lakukan?!" Aditya tiba-tiba datang dan memegangi Ninna agar tak menyakiti Sivia kembali.
"Ayo kita pergi dari sini! Cukup Ninna!! Kamu sudah keterlaluan!"
"Lepaskan! Aku belum selesai dengan perempuan rendahan ini!!" Ninna meronta.
"Aku minta maaf Sivia. Sebaiknya kamu pulang, ini sudah malam. Sekali lagi aku minta maaf..."
Aditya meminta maaf dengan tetap memegangi lengan Ninna. Kemudian menyeretnya menjauh dari Sivia. Dan Ninna pun menghilang bersama Aditya dengan masih berteriak meronta-ronta.
Sivia menangis sejadinya. Ia meratapi dirinya sendiri dengan masih duduk bersimpuh.
Tak lama Bayu datang dan menghampiri Sivia. Ia terlambat datang.
"Vi---" Ucap Bayu sambil memapah Sivia untuk bangun.
"De-wa---" tanpa sepatah kata apapun, Sivia langsung menghambur memeluk Bayu, dan menangis sekencangnya di dada Bayu.
Bayu menepuk pelan pundak Sivia, dan menenangkannya. Tangisan Sivia makin kencang. Bayu tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Bahkan ia tak bisa berkata apapun lagi.
.
.
.
Setelah agak tenang, Bayu menyerahkan sebotol air mineral pada Sivia.
"Terima kasih." Sivia langsung meneguknya.
"Dari mana kamu tahu aku ada disini?"
"Nisa meneleponku, suaranya panik. Dia memintaku untuk mencarimu. Kalau sudah tenang, mari kita pulang. Nisa pasti cemas."
"Iya. Sekali lagi terima kasih."
Bayu hanya membalas dengan senyuman.
Selama perjalanan menuju rumah, Sivia hanya terdiam. Sesekali Bayu melirik ke arah Sivia. Berbagai pertanyaan ingin sekali ia ungkapkan, namun setelah melihat kondisi Sivia yang masih syok, kembali ia urungkan niatnya untuk bertanya macam-macam.
Bagaimana kalau Sivia tambah sedih jika aku banyak bicara? Sebaiknya aku diam saja hingga dia sendiri yang bicara. Batin Bayu.
Dulu Sivia sering sekali bercerita tentang kehidupannya, tapi sekarang keadaan rasanya berubah. Bayu tak lagi mengenali sosok Sivia yang ada disampingnya ini. Terasa begitu banyak rahasia yang dia sembunyikan, hingga membuatnya terluka seperti ini.
...***...
Keesokan harinya, Bayu menemui Dina untuk bertanya tentang Sivia.
"Tumben lo nyari gue? Ada masalah apa?" Dina meledek Bayu.
"Gue mau nanya ke lo soal Sivia."
"Wah, lo gila juga ya! Bawa anak orang gak bilang-bilang. Untung gue bisa bohong pas ketemu sama Tante Nila."
"What? Lo ketemu sama nyokapnya Sivia? Kapan?"
"Sehari setelah Sivia gak pulang. Lain kali kalo mau ngebohong bilang dulu dong, jadi kan gue ada persiapan. Sebenarnya lo bawa Sivia kemana sampai gak pulang ke rumah?"
"Gak kemana-mana. Kita cuma tiba-tiba aja ketiduran di mobil. Eh, Din, Apa Sivia cerita sesuatu ke lo?"
"Cerita soal apa?"
"Apa aja. Soal masalahnya mungkin."
"Bukannya lo lebih dekat sama dia, kenapa nanya gue?"
"Lah, gimana si lo? Kalo gue tahu mana mungkin nanya ke lo."
Buntu. Semuanya buntu, Vi. Apa yang sebenarnya kamu sembunyikan?
Bayu mengacak rambutnya.
"Oh ya, Sivia kan punya teman dekat di salonnya. Namanya--- Razona. Coba aja lo tanya ke dia. Pasti dia tahu sesuatu."
"Ide bagus, tapi gue kan gak kenal sama dia. Gak mungkin tiba-tiba datang trus nanya-nanya soal Sivia."
"Terserah lo sih, mau pake cara itu atau gak. Kalo lo bisa nemu cara lain, ya silahkan aja. Udah ya, gue mesti balik ke kantor lagi. Semoga berhasil, Bay." Dan Dina pun meninggalkan Bayu yang masih diselimuti rasa ragu.
.
.
.
"Razona---" Panggil Bayu saat Razona sampai di depan rumahnya. Akhirnya Bayu mengikuti saran dari Dina.
"Bisa bicara sebentar?" tanya Bayu.
"Ada apa ya?" Razona mengernyitkan dahi.
"Maaf mengganggu waktumu. Tapi-- ini sesuatu yang cukup penting bagiku."
Razona menyilangkan tangan didepan dada. "Kamu--- teman kecilnya Sivia?"
"Iya, benar."
"Masuklah." Razona mempersilakan Bayu masuk kedalam rumahnya setelah meminta ijin pada suaminya.
Bayu duduk dengan kikuk karena suami Razona juga ikut bergabung dengan mereka.
"Bisakah kita---" Bayu bertanya dengan ragu.
"Tidak bisa. Aku wanita yang sudah menikah, jadi aku harus didampingi suamiku. Ditambah ini sudah malam, bagaimana kalo ada tetangga yang melihat."
"Ooh, begitu---" Bayu menggaruk tengkuknya. Selama ini ia tinggal di luar negeri jadi sudah agak lupa dengan etika ketimuran yang masih terus dijaga di masyarakat.
"Langsung saja pada intinya. Ada apa kamu kesini sampai membuntutiku segala?" tanya Razona sinis. Dari awal, ia memang agak kurang suka dengan Bayu.
"Aku ingin bertanya soal Sivia. Akhir-akhir ini dia nampak aneh, dia ... seperti menyembunyikan sesuatu. Apa kamu tahu apa yang sebenarnya terjadi padanya?"
"Sivia tidak cerita padamu?" Razona tersenyum menyeringai.
Bayu menggeleng.
"Kalo dia tidak cerita padamu, aku juga tak berhak memberitahumu."
"Raz, tolonglah---" Bayu memohon.
"Dengar! Kalian bukan lagi anak kecil yang selalu berbagi segala kesedihan dan kebahagiaan. Ada kalanya Sivia ingin menyimpan rahasianya sendiri. Dan kamu tak perlu tahu."
"Aku hanya ingin menghiburnya---"
"Kalau begitu silahkan. Kamu bisa menghiburnya tanpa harus mengetahui semua hal tentangnya. Sivia akan menikah, sebaiknya jangan terlalu dekat dengannya."
"Menikah? Apa kamu yakin ini yang dia inginkan?" Giliran Bayu yang kini tersenyum seringai.
"Tentu saja. Iyan pria yang baik. Dan mereka saling mencintai. Kalo tidak ada lagi yang mau kamu bicarakan, sebaiknya kamu pergi!" Razona mengusir Bayu.
"Baiklah. Maaf sudah mengganggu waktumu." Bayu pergi dengan wajah kesal. Berkali-kali ia mengumpat dalam hati.
...***...
Merasa gagal dengan semua cara, akhirnya Bayu menempuh cara terakhir, yaitu menemui Sivia. Lebih baik ia bertanya langsung pada Sivia. Ia yakin Sivia akan memberitahunya. Dan mungkin saja hati Sivia sudah agak membaik.
Bayu melihat Sivia baru sampai dirumahnya dan turun dari taksi. Bayu segera berlari menuju Sivia, namun tiba-tiba ia melihat pemandangan yang tak diinginkan oleh hatinya.
Adniyan datang menghampiri Sivia dan langsung memeluknya. Hati Bayu sakit melihat adegan bak di drama korea itu. Ia hanya orang ketiga diantara hubungan mereka.
"Mas---" Ucap Sivia seraya meminta Adniyan untuk melepas pelukannya.
Dan Adniyanpun melepas pelukannya.
"Maafkan aku, Vi. Mulai sekarang, jangan menyimpannya sendiri. Ada aku disini. Ceritakan semua padaku. Kamu bisa bersandar padaku--"
Tiba-tiba air mata Sivia tak bisa ditahan lagi. Pipi Sivia kini basah dialiri air mata. Adniyan langsung menyeka air mata itu dengan kedua ibu jarinya yang menangkup di wajah Sivia.
"Jangan menangis lagi. Aku tidak akan memaafkan orang yang sudah membuatmu menangis." ucap Adniyan sambil menggertakkan giginya.
Sivia mengangguk, lalu tersenyum. Adniyanpun ikut tersenyum. Kemudian dikecupnya kening Sivia dengan penuh cinta.
Bayu sangat terkejut melihat adegan itu didepan matanya. Meskipun ia tahu kalau Adniyan adalah tunangan Sivia, namun melihat keintiman mereka berdua membuatnya bak ditampar keras meski bukan badannya yang merasa sakit. Hatinya terasa sesak sekarang. Ia ingin dirinyalah yang bersama Sivia saat ini, bukan Adniyan. Semua sudah berubah. Hubungan mereka kini sudah tak seperti dulu lagi.
Dengan langkah gontai, Bayu meninggalkan Sivia dan Adniyan yang masih terus berpelukan erat tanpa tahu ada seseorang yang tersakiti disini.
...***...
......
.......
.......
.......
...More dramas???😢😢😢...
...Stay tuned 😎😎...