
Aditya berusaha menenangkan diri setelah semua kenangan masa lalunya bersama Sivia terbongkar oleh istrinya sendiri.
Ia pergi keluar rumah mengendarai mobilnya. Menyusuri jalanan kota yang mulai gelap. Ponsel yang tadi di buangnya sudah ia ambil kembali. Belum ada jawaban dari pesannya yang sedari tadi ia kirim pada Sivia.
Ia merasa bodoh sekarang. Tidak seharusnya ia mengirim pesan itu pada Sivia. Itu hanya akan membuat Sivia makin khawatir.
Bagaimana kalau hubungan Iyan dan Sivia berakhir karena masalah ini? Tidak! Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri kalau mereka harus berakhir seperti ini...
Aditya kembali ke rumah. Terasa sunyi disana. Tak ada suara. Hanya jam dinding yang berdenting. Aditya mengarahkan pandangannya ke seluruh ruangan. Tak ada tanda-tanda seorangpun.
Ninna pasti ada dikamar. Pikirnya. Kemudian Aditya menuju kamarnya. Dilihatnya Ninna sedang duduk bersandar diatas ranjang. Ia sedang memainkan ponselnya.
"Kok sepi? Bi Inah kemana?" tanya Aditya.
"Sudah aku suruh pulang. Aku gak mau dia dengar pertengkaran kita lalu melapor pada Papamu." sarkas Ninna.
"Jadi kamu ingin kita bertengkar?"
"Kalo begitu jelaskan semuanya!! Aku ingin tahu kebenarannya."
"Apa yang ingin kamu tahu?"
"Semuanya. Tentang kalian--"
"Itu tiga tahun lalu. Dan sudah--- hanya sebatas itu saja."
"Bohong!!! Kalo hanya sebatas itu saja, untuk apa kau masih menyimpan foto-foto kalian saat masih bersama? Apa ini rencana kalian? Kalian akan kembali bersama dengan cara seperti ini? Kau akan menghianati aku dan adikmu, begitu huh?" Ninna tak bisa menahan emosinya.
"Cukup, Ninna!!! Kamu berpikir terlalu jauh. Aku dan Sivia tak ada hubungan lagi sejak tiga tahun lalu. Semua sudah berakhir." Aditya juga mulai naik pitam.
"Benarkah? Lalu bagaimana bisa dia tiba-tiba akan jadi adik iparmu? Apa kau tahu sejak awal kalo Iyan memacari mantan kekasihmu?"
"Tidak!! Aku gak tahu kalau Iyan bersama dengan Sivia. Aku mengetahuinya saat Iyan membawanya ke rumah hari itu."
"Jangan bohong!!!" Ninna makin geram dengan Aditya.
"Aku gak bohong!!! Kamu memang gak akan pernah percaya denganku 'kan? Kamu selalu begitu. Kamu selalu mencurigaiku."
"Karena kau memang patut untuk dicurigai. Apa Iyan tahu kalau calon istrinya adalah mantan kekasih kakak kandungnya?"
Aditya berpikir sejenak. Tidak mungkin ia berkata jujur pada Ninna tentang yang sebenarnya bahwa Adniyan belum tahu soal hubungannya dan Sivia di masa lalu.
"Sivia pasti sudah menceritakannya." Bohong Aditya.
"Benarkah? Dan Iyan menerimanya begitu saja?" Ninna mengernyitkan dahi.
"Kamu tahu 'kan Iyan seperti apa. Dia tidak mempermasalahkan masa lalu. Yang terpenting adalah masa kini."
"Cih, aku masih gak percaya. Lalu keluargamu? Apa mereka sudah tahu yang sebenarnya?" Ninna tak ingin menyerah hingga Aditya mengaku.
"Jangan bawa-bawa mereka, Nin. Iyan dan Sivia sebentar lagi akan menikah. Biarkan mereka bahagia."
"Tidak!!! Perempuan itu gak bisa masuk ke keluarga ini. Aku gak akan membiarkannya!!!" Tegas Ninna.
"Ninna!!!" Geram Aditya.
"Jangan berteriak padaku!!! Kartu As mu sekarang ada ditanganku. Jadi, jangan macam-macam denganku."
"Kamu mengancamku? Baiklah, kamu boleh lakukan sesuka hatimu. Tapi jangan pernah kamu sakiti Iyan dan Sivia."
"Cih. Kau membelanya? Apa kau masih mencintainya, huh?"
"Tidak!! Kita sudah menikah, bisakah kamu mempercayaiku sekali saja?" Aditya mulai menurunkan emosinya.
Ninna memandang Aditya dengan tatapan aneh. "Kita lihat saja nanti. Apa kau memang bisa dipercaya atau tidak."
"Baiklah. Malam ini aku akan tidur diperpustakaan saja. Aku tidak mau kita terus berdebat. Selamat malam!" Aditya melangkah keluar dari kamar dan menuju je tempat favoritnya.
Ninna menatapnya dengan marah. Dilemparnya ponsel yang sedang di pegangnya ke arah pintu kamar.
"Kita lihat saja nanti, Mas! Aku tidak akan membiarkan wanita itu masuk kedalan keluarga ini! Sejak awal aku tidak menyukainya. Gadis biasa seperti dia, tidak bisa menjadi sainganku!" Ucap Ninna sambil mengepalkan tangan.
...***...
Ini adalah masalahnya sendiri. Ia tak mau melibatkan orang lain lagi. Ia hanya takut akan menyakiti lebih banyak orang. Cepat atau lambat kejadian hari ini akan tetap terjadi.
Pukul sembilan malam, Adniyan menjemput Sivia di salon. Sivia memberikan senyum terbaiknya pada tunangannya itu.
Baiklah, mungkin sekaranglah saatnya. Aku akan bicara pada Mas Iyan hari ini. Akan kuceritakan semua padanya. Aku tidak bisa terus membohonginya...
Sivia terus memandangi Adniyan yang menatap lurus ke jalanan Kota Baru. Malam cukup hangat hari ini. Semoga hati semua orang juga ikut hangat.
Sesampainya di rumah, Sivia masih terdiam di dalam mobil. Begitupun Adniyan. Mereka masih membisu dan tak ada yang membuka pembicaraan.
Sivia menatap Adniyan. Ia memantapkan hatinya agar bibirnya bisa mengucap sebuah kebenaran.
"Mas, ada yang mau aku bicarakan..."
Sivia masih menatap ke arah Adniyan. Adniyan menghela nafas dengan tetap mengarahkan pandangannya ke depan.
"Apa itu? Apakah sesuatu yang baik? Atau buruk?" ucap Adniyan.
"Itu ... aku sendiri juga tidak tahu, apakah ini adalah hal baik atau..."
"Kalau begitu jangan katakan!" tegas Adniyan.
"Mas---"
Tiba-tiba Adniyan mengubah posisi tubuhnya berhadapan dengan Sivia, lalu menarik lengan Sivia, dan membawanya kedalam pelukannya.
Sivia terkejut dengan sikap Adniyan yang tiba-tiba memeluknya.
"Mas---"
"Jangan katakan apapun! Aku mohon! Aku tidak ingin mendengar apapun---"
Adniyan seakan tahu apa yang akan Sivia katakan. Entah itu tentang masa lalu atau malah tentang masa depan mereka yang terasa masih abu-abu.
Sivia tak kuasa menolak permintaan Adniyan. Dan pertemuan mereka berakhir dengan Sivia yang tetap memendam kebenaran masa lalunya.
Sivia menatap mobil Adniyan yang mulai menjauhi rumahnya. Ia berjalan tertunduk menuju rumah. Langkahnya terasa berat untuk memasuki rumah.
"Ehem! Kayaknya ada yang lagi butuh dihibur nih!!"
Sebuah suara yang tak asing membuat Sivia membulatkan matanya.
"Dewa? Kamu ngapain disini? Ini sudah malam. Pergilah!"
Tanpa mempedulikan ucapan Sivia, Bayu meraih tangan Sivia.
"Ayo ikutlah! Justru ini hanya bisa dilihat saat malam hari."
"Apaan sih? Aku serius, Dewa!" Sivia berusaha menepis tangan Bayu.
"Aku juga serius. Ayo ikutlah! Ke sebuah tempat. Aku yakin kamu belum pernah kesana." Bayu tetap berusaha membujuk Sivia.
Sivia mengernyitkan dahi. "Kemana?"
"Bukit Berbintang. Aku menamainya begitu." jawab Bayu dengan menaik turunkan alisnya.
Sivia tersenyum licik. "Mana ada tempat kayak gitu disini?"
"Makanya ikut sajalah! Jangan menolak. Siapa tahu bisa memperbaiki suasana hatimu."
Sivia berpikir sejenak. Suasana hatinya juga sedang buruk. Tak ada salahnya jika ia berjalan-jalan sebentar di malam hari. Akhirnya ia pun ikut bersama Bayu.
...***...
......
"Wah Babang Bayu mulai bergerak nih. Hmm awas ya Bang, itu tunangan orang, jangan asal comot aja, 😅😅😅