
Ana merapikan barang-barang bawaannya ke kamar yang sudah ia pilih. Ana tahu jika Grey pasti memintanya untuk tidur satu kamar dengannya, tapi Ana akan bersikeras menolak, jika bisa. Karena selama ini ia tidak pernah
bisa menolak permintaan Grey. Meski Ana tahu jika Grey tidak akan berbuat macam-macam padanya, tetap saja Grey adalah lelaki normal yang bisa saja menerkam Ana kapanpun.
Ana menuju dapur dan mencari bahan makanan di lemari es. Ia mengernyit heran karena semua bahan sudah tersedia disana.
“Ish, dia benar-benar sudah menyiapkan semua ini? Dasar pemaksa!” sungut Ana kesal.
Meski kesal ada secercah kebahagiaan di wajah Ana karena Grey benar-benar serius membuktikan kata-katanya. Sebelum bersiap untuk memasak, Ana membersihkan diri lebih dulu karena badannya terasa lengket setelah berbenah barang dan membersihkan apartemen Grey.
Apartemen mewah ini terlihat jarang dihuni oleh si empunya. Bahkan Black bilang tidak banyak orang yang tahu jika Grey memiliki apartemen
ini.
“Pria itu memang penuh dengan misteri. Apa aku bisa meluluhkan dinding es dalam hatinya?” Ana mendesah pelan. “Apa aku bisa
bertahan hidup bersama pria posesif seperti dia?”
Usai bermonolog, Ana menuju kamar mandi untuk merendam tubuhnya dengan air hangat.
*
*
*
Jam makan malam pun tiba. Ana menyiapkan menu Salmon Teriyaki sebagai hidangan selamat datang untuk Grey. Tak lupa lemon tea hangat untuk menetralkan rasa.
Terdengar pintu apartemen terbuka, dan menampakkan sosok Grey yang masih tetap tampan meski sudah seharian berkutat dengan
pekerjaan.
“Tuan sudah pulang?” sapa Ana dengan senyum yang terbit di bibirnya.
Tanpa ba bi bu, Grey langsung melahap menu
pembukanya malam ini. Ana memukuli dada Grey agar segera melepaskan ciumannya.
Ana memegangi bibirnya. “Apa yang Tuan lakukan?”
“Aku menghukummu karena kau memanggilku ‘tuan’. Bukankah sudah kubilang carikan panggilan yang bagus untukku.”
Ana memutar bola matanya malas. “Itu hanya alasan Anda saja, Tuan. Posisiku disini tetaplah sebagai seorang pelayan.”
“Eits! Sekali lagi kau berkata begitu. Kau akan
mendapatkan hukuman yang lebih indah dari ini.”
“Terserah kau saja. Sebaiknya bersihkan dirimu dulu.”
“Dengar, Ana. Kau adalah asistenku. Asisten kesayanganku.” Grey memegangi kedua bahu Ana.
Ana tersenyum mendengar pernyataan Grey yang menurutnya aneh.
“Apa Uncle Alfred tahu jika aku tinggal bersamamu?” Tanya Ana.
“Tidak. Aku belum memberitahu padanya tentang hubungan kita. Kenapa? Apa kau ingin segera bertemu dengan Daddy sebagai calon
menantunya?”
“Ish! Jangan bicara sembarangan. Aku masih menunggu hingga Daddy bisa kembali sadar.”
“Baiklah. Aku akan menunggu hingga ayah mertuaku sembuh. Tapi, selama menunggu waktu itu, aku tidak ingin kau pergi dariku. Mengerti?”
“Apa kau selalu memaksakan kehendakmu pada setiap gadis yang kau kencani?” Ana hanya berusaha ingin tahu lebih banyak tentang Grey.
“Tidak. Aku tidak pernah berkencan.” Jawab Grey datar kemudian pergi meninggalkan Ana.
Ana menghela nafas kasar. “Apa aku salah bicara? Kenapa dia seperti terlihat marah?” Ana mengacak pelan rambutnya. “Kenapa susah sekali menghadapi Tuan Dingin itu?”
Makan malam pun telah usai. Ana bermaksud ingin kembali ke kamar untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah. Namun belum sempat
Ana memasuki kamar barunya, tubuh Grey sudah lebih dulu menghadang didepan pintu kamar Ana.
“Tuan? Minggirlah! Aku ingin masuk.”
Grey menyilangkan kedua tangannya didepan dada. “Siapa yang menyuruhmu tidur disini? Pindah ke kamarku!”
Ana memutar bola matanya jengah. “Aku sendiri yang ingin tidur disini. Minggir!!”
“Tidak bisa! Dengar ya asisten! Kau harus menuruti segala perintahku. Jangan banyak protes atau aku akan menghukummu!” Grey
menarik tangan Ana agar mengikutinya menuju kamar tidur Grey.
“Tuan!!!” Ana berusaha berontak namun semua sia-sia saja.
Grey memeluk Ana erat dan membawanya ke atas tempat tidur.
“Tuan, lepaskan! Aku tidak bisa bernafas.” Ana memohon.
“Tidak akan! Kau pasti akan kabur dariku.” Jawab Grey
tegas.
“Tidak! Aku janji.” Ana memohon dengan puppy-eyes miliknya.
“Apa aku boleh bertanya sesuatu?” ucap Ana dengan hati-hati.
“Hmm, boleh.”
“Kenapa kita harus pindah ke apartemen? Bukankah mansionmu juga sangat besar?”
“Kau akan mulai bekerja besok. Jadi lebih baik
mencari tempat tinggal yang dekat dengan kantorku.”
“Kau tidak akan galak seperti bos-bos yang lainnya ‘kan?”
Grey tertawa. “Aku tidak galak asal kau patuh, Ana.”
Ana mendesah kasar. “Iya, baiklah. Apa bedanya kalau begitu?” gumam Ana sambil mengerucutkan bibirnya.
“Tidurlah! Besok kita harus berangkat pagi. Aku selalu mengadakan briefing pagi bersama para staff setiap hari Jumat.”
Ana mengangguk paham kemudian memejamkan mata lalu disusul Grey yang juga ikut terlelap.
...…***…...
Pukul delapan pagi, Ana sudah siap berangkat ke kantor barunya. Jujur ia amat gugup karena ini adalah pertama kalinya ia bekerja kantoran setelah lulus dari studinya. Grey meminta Ana untuk berangkat bersamanya namun Ana menolak. Ia tak mau dianggap memanfaatkan kedekatan dengan
pimpinan untuk bisa masuk ke perusahaan Grey.
Ana bertemu Black dan berbincang sebentar dengannya. Ana bercerita jika dirinya sedikit gugup di hari pertamanya bekerja. Ana mengikuti briefing pagi yang dipimpin langsung oleh Grey.
Ana begitu terpana melihat sisi lain seorang Grey yang dingin. Dihadapan para staffnya, ia menjelma menjadi sosok pemimpin yang tegas dan berwibawa juga tidak segan untuk turun langsung menangani masalah para staffnya.
“Hmm, apa karena satu gadis dia berubah menjadi dingin? Padahal dia adalah sosok yang hangat.” Ana melamun hingga tak sadar jika sedari tadi Grey menegurnya.
“Kau adalah karyawan baru tapi berani sekali tidak memperhatikan saat aku sedang menjelaskan tentang proyek baru kita.” Ucap Grey dengan nada dingin yang kembali muncul.
“Ti-tidak, Tuan. Saya minta maaf. Saya janji tidak akan mengulanginya lagi.” Ana menunduk tak berani menatap Grey.
“Kuharap kau bersungguh-sungguh dengan janjimu itu, Nona Ana.”
“I-Iya, Tuan.”
“Baiklah, briefing pagi ini kita akhiri sampai
disini. Dua hari lagi saya harus pergi ke Paris. Dan saya minta selama saya tidak ada, kalian tetap bekerja dengan baik.”
“Baik, Tuan.” Jawab para staff serempak.
“Lalu untuk karyawan yang akan mendampingi saya selama di Paris, adalah kau! Anastasia Gerardo. Bersiaplah!”
“Heh? Aku?!” Ana mengernyit heran dengan menunjuk dirinya sendiri.
Grey membubarkan para staff dan meminta mereka kembali bekerja. Ana mendengus kesal setelah semua staff keluar dari ruang meeting.
“Kenapa menunjukku? Aku bahkan belum bekerja selama 24 jam, kenapa kau sudah memintaku mendampingimu? Kau ingin aku terlihat bodoh didepan klienmu ya?”
Grey hanya berkacak pinggang mendengar gerutuan Ana.
“Sudah selesai bicara?”
“Eh?”
“Aku memintamu ikut denganku bukan sebagai
bawahanku, tapi sebagai asistenku. Kali ini Black tidak akan ikut bersamaku.”
“Ish! Itu artinya kau hanya memanfaatkanku. Dasar pemaksa!!!” geram Ana.
“Kurasa kau tetap menyukainya meski aku memaksa.” Grey mengerling nakal kearah Ana.
Tanpa persiapan Ana mendapat serangan mendadak yang diluncurkan oleh Grey. Serangan itu bertubi-tubi hingga Ana harus mengambil nafas secara teratur. Meskipun Ana sudah meminta untuk gencatan senjata namun
si penyerang tidak mau melepaskan Ana begitu saja.
Hingga akhirnya…
“Tuan…!”
Si penginterupsi malah tertegun melihat pemandangan didepannya. Ia tersenyum dan tak berani mengganggu kegiatan tuannya. Dengan pelan ia menutup pintu dan menempelkan tanda di depan pintu yang bertuliskan ‘Do Not Disturb!’ alias jangan mengganggu.
#bersambung
*aw aw aw, ini mah babang Black pengertian banget ya gak mau ganggu, hehehe.
*masih ingat dengan Lala? Sahabat Nisha yang ada di season 1. Coming up story adalah punya Nirmala atau yg akrab dipanggil Lala. Tokoh
Lala juga hadir sebagai sahabat Navisha di “Labuhan Cinta Sang Playboy’.
Kira2 kisah apa yg akan dibawa Lala? Kita tunggu setelah kisah Ana & Grey ini selesai ya. Kita intip covernya dulu yes 👇👇👇
*Jangan lupa tinggalkan jejak ya kesayangan
...terima kasih...