Raanjhana

Raanjhana
Trapped by Cold CEO : 40. Menghapus Jejak (++)



Grey dan Ana tiba di mansion Alfred pada jam tengah malam. Alfonso dan Alfred ternyata menunggu kedatangan mereka.


Kondisi Ana masih belum stabil. Ana tertidur dalam gendongan Grey. Grey segera membawa Ana ke kamar mereka. Ia meminta asisten rumah tangga mengganti baju Ana yang telah di robek oleh Mike.


"Bagaimana kondisi Ana?" Alfonso terlihat cemas.


"Daddy jangan khawatir. Ana baik-baik saja. Sekarang biarkan dia istirahat. Daddy juga harus beristirahat. Mari kuantar ke kamar Daddy." Grey segera mendorong kursi roda Alfonso. Ia tak ingin Alfonso mengetahui jika Ana hampir saja dilecehkan oleh Mike. Hati Alfonso pasti akan merasa hancur. Begitu pula dengan hati Grey yang sangat marah dengan kondisi yang menimpa Ana.


Usai mengantar Alfonso ke kamarnya, Grey menemui Alfred yang juga sudah menunggu cerita darinya.


"Dad, kita bicarakan besok saja. Aku amat lelah." ujar Grey.


"Baiklah. Yang terpenting adalah Ana ditemukan dalam keadaan baik-baik saja."


Grey mengangguk. Sebenarnya ia tak ingin membohongi ayah dan mertuanya. Tapi informasi seperti ini menurutnya sangatlah membuat orang tua cemas dan membuat kondisi tubuh mereka menurun. Apalagi Alfonso masih dalam tahap pemulihan.


Grey kembali ke kamarnya setelah berpamitan dengan Alfred. Betapa terkejutnya Grey karena ia tak mendapati Ana ada di tempat tidur. Yang ia ingat terakhir kali tadi ia meminta pelayan untuk menggantikan baju untuk Ana.


Grey mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Grey segera mendobrak pintu kamar mandi yang ternyata tidak dikunci.


Grey melihat Ana sedang mengguyur tubuhnya di bawah shower dengan masih memakai pakaian lengkap.


"Ana!!!" pekik Grey karena melihat istrinya seakan menyakiti diri sendiri.


Tubuhnya gemetaran dan wajahnya pucat.


"Ana, apa yang kau lakukan?" Grey segera mematikan kran shower dan memakaikan handuk ke tubuh Ana.


"Sayang..."


"Pergi!!!" Ana menepis tangan Grey.


"Jangan menyentuhku!!!" teriak Ana.


Grey tertegun mendengar teriakan Ana.


"Aku sudah kotor, Grey! Aku bukan lagi gadis sucimu!" Ana meraung-raung menangis.


"Sayang... Itu tidak benar. Kau tetap gadis suciku!" Grey berusaha menenangkan Ana. Ia segera mendekap tubuh Ana yang sudah menggigil. Rupanya sudah sedari tadi Ana berada dalam guyuran shower.


Ana menangis dalam dekapan Grey. Grey membawa Ana keluar dari kamar mandi. Saat Grey ingin memanggilkan pelayan untuk mengganti pakaian Ana yang basah, Ana malah mencekal tangan Grey.


"Aku tidak mau disentuh oleh siapapun selain dirimu!" ucap Ana dengan suara bergetar.


"Hah?!" Grey tercengang. "Umm, baiklah." Grey menyanggupi permintaan Ana.


Dengan telaten Grey mengganti semua pakaian Ana dengan hati-hati dan pelan sambil menelan salivanya. Pasalnya tubuh polos Ana terekspos jelas oleh matanya.


"Kenapa? Apa kau menginginkanku?" tanya Ana.


"Eh? Ah, itu... Tidak, sayang. Setelah ini sebaiknya kau istirahat. Kau pasti lelah!" Grey menjawab dengan salah tingkah.


"Tidak! Jika aku harus melayanimu aku tidak akan lelah." Ana menatap Grey dengan mengiba. Sorot mata teduhnya begitu menghipnotis Grey.


"Sayang..."


"Lakukanlah! Tolong hapus jejak yang ditinggalkan pria baji'ngan itu di tubuhku. Kumohon!" pinta Ana dengan mata berkaca-kaca.


Grey berpikir sejenak. Ia tidak mungkin menggauli Ana dengan keadaan Ana yang tidak stabil seperti ini. Tapi Ana juga butuh pelampiasan agar ia bisa melupakan apa yang sudah terjadi dengannya.


"Baiklah. Kita lakukan dengan pelan saja ya, sayang. Aku tak mau kau merasa kesakitan."


"Asal itu denganmu aku tidak akan merasa sakit."


Grey memulai dengan merebahkan tubuh polos Ana keatas tempat tidur mereka. Grey menatap wajah teduh Ana yang sedikit bengkak karena berkali-kali di tampar oleh Mike. Ia memulai dengan mengecupi wajah Ana yang terlihat rapuh.


Ana memejamkan mata kala bibir Grey menyusuri setiap inci lekukan di wajah Ana. Ana menikmatinya karena itu adalah Grey. Hanya Grey yang membuat Ana tenang.


Kini Grey beralih ke bibir ranum Ana yang sedikit sobek karena ulah ke'parat Mike. Grey mengecupnya dengan lembut. Ia tak ingin menyakiti Ana barang secuil.


Tangan Grey menyentuh tangan Ana dan menggenggam jari jemarinya erat. Grey masih bermain lidah bersama Ana. Mengecap dan bertukar rasa.


Ketika nafas mereka mulai habis, Grey memberi Ana kesempatan untuk mengambil oksigen sebanyak yang ia mampu. Grey kembali meraih candunya yang masih terasa manis.


Grey mulai turun menyusuri leher jenjang Ana yang membekas beberapa tanda dari si brengsek Mike. Grey mengulang jejak itu sebagai tanda miliknya. Ana memekik ketika tanda itu telah dibuat kembali oleh Grey.


Grey beralih turun ke dua buah benda kenyal yang memang pas di ukuran tangannya. Sedikit mere'masnya dan memainkan ujung yang mencuat bak menantang meminta dihisap.


Sebelum beralih lebih jauh, Ana membantu Grey untuk melepas pakaian yang masih melekat di tubuhnya. Ana melihat pemandangan indah tubuh milik Grey yang hanya boleh disentuh olehnya.


Ana menyentuh dada bidang Grey yang mulai berkilau karena keringat di tubuhnya.


"Ini masih pemanasan, kenapa kau sudah berkeringat?" Suara lembut Ana membuat Grey kehilangan akal.


Grey kembali membungkam bibir mungil itu. Ana selalu membalas dengan lebih setiap gerakan yang dilakukan Grey. Ana menarik tengkuk Grey agar lebih memperdalam ciumannya.


Nafas mereka kembali habis. Grey beralih menyusuri lekukan lembah dan bukit yang sudah menjadi hak milik dirinya.


Grey memberikan jejak yang sama dengan yang dibuat Mike, namun juga menambah jejaknya sendiri.


"Kau hanya milikku, Ana. Hanya milikku!" Ucap Grey parau dengan makin turun ke bawah dan melewati lembah yang lain.


Grey melepas kain terakhir yang melekat pada tubuhnya. Sesuatu yang berdenyut dan tegak itu telah siap memasuki rumahnya.


Namun Grey tak ingin terburu-buru. Ia ingin sedikit bermain dengan halaman rumah yang nampak asri itu.


Grey menghirup aromanya dalam-dalam. Ana memejamkan mata saat lidah Grey bermain di halaman yang sempit namun juga luas itu.


Satu lenguhan lolos dari bibir Ana dan itu artinya Grey telah memenangkan permainan. Grey menatap Ana seraya meminta ijin untuk memulai permainan yang sebenarnya.


Ana mengangguk dan meminta Grey segera melakukannya. Grey amat hati-hati ketika pusaka miliknya mulai masuk kedalam sarangnya yang ternyata masihlah sempit.


Satu pekikan kembali lolos dari bibir Ana saat senjata tempur milik Grey telah siap di kokang. Grey mengecup bibir Ana untuk kesekian kalinya sambil bergerak dengan pelan mengikuti irama sang pemilik nada.


Ana memeluk erat tubuh Grey yang sedang bergerak teratur diatas tubuhnya. Keringat mulai bercucuran kala Grey mempercepat laju senjata dengan serbuan ribuan peluru yang menembus pertahanan Ana.


Ana kembali merasakan kebahagiaan untuk kedua kalinya. Grey merasa pelurunya telah habis untuk bertempur, hingga akhirnya ia pun tergolek lemas disamping tubuh Ana.


Tak ingin Ana sakit, Grey segera menyelimuti tubuh mereka berdua dan memeluk Ana dengan erat.


......***......


#bersambung...


Jangan lupa tinggalkan jejak ya kesayangan 😘😘


👍LIKE


💋COMMENTS


🌹GIFTS


💯VOTE


...THANK YOU...