Raanjhana

Raanjhana
Meet Me on Facebook : 02. Meet The Lover



Pukul 10 malam, Sivia dan teman-temannya mengakhiri pertemuan mereka hari itu. Mereka saling berpamitan satu sama lain, dan berjanji akan lebih sering bertemu jika ada waktu luang.


Dina pulang bersama kekasihnya, Hardin. Raga dan Aryan sama-sama mengendarai mobil mereka. Sedang Sivia masih menunggu kedatangan Adniyan, kekasihnya.


Raga sempat menawarkan diri untuk memberinya tumpangan. Tapi Sivia menolak karena kekasihnya akan menjemputnya. Raga sempat terkejut karena ternyata Sivia sudah memiliki kekasih. Enggan bertanya lebih lanjut, Ragapun berpamitan pada Sivia.


Sivia melihat sekeliling dan dilihatnya mobil Adniyan mulai menghampirinya. Adniyan turun dari mobil dan menyapa Sivia.


"Maaf ya telat. Udah lama nunggu?"


"Enggak kok, Mas. Baru aja teman-teman aku pergi."


"Kapan-kapan aku harus berkenalan dengan teman-temanmu."


"Iya nanti pasti akan kukenalkan."


Adniyan membukakan pintu mobil untuk Sivia.


...***...


Sivia disambut oleh Nisa, adiknya ketika tiba di rumah. Sivia tinggal bertiga bersama adik dan ibunya.


"Kok kamu belum tidur, Nis?" tanya Sivia.


"Iya, Mbak, aku masih ngerjain tugas kuliah. Mas Iyan mau mampir?" Lirik Nisa pada Adniyan.


"Gak usah, Nis. Lagipula sudah malam. Gak enak sama tetangga. Aku pamit ya, Vi, Nis." Adniyan berlalu pergi setelah berpamitan.


"Iya Mas, hati-hati ya." Sivia melambaikan tangan. Lalu masuk mengikuti Nisa yang berjalan di depannya.


"Mbak, kamu itu beruntung bisa dapat cowok seperti Mas Iyan." Ucap Nisa saat mereka sudah memasuki kamar.


"Maksud kamu apa, Nis?" Sivia mengernyitkan dahinya.


"Aku juga ingin dapat cowok kayak Mas Iyan, Mbak. Sudah ganteng, baik, tajir pula." puji Nisa dengan menaikturunkan alisnya.


"Hush, yang terakhir gak usah di sebutkan. Gak baik menilai seseorang karena hartanya." nasihat Sivia.


"Tapi itu namanya realistis, Mbak. Semua cewek pasti ingin dapat cowok yang mapan. Mbak Vi harus banyak bersyukur karena bertemu dengan Mas Iyan. Coba aja ada satu lagi yang kayak gitu, Mbak. Aku mau deh!" harap Nisa.


"Ngaco kamu! Udah ah, Mbak mau tidur. Kamu juga cepat selesaikan tugasmu, terus istirahat. Jangan sampai besok terlambat bangun."


"Iya, Mbak. Siap!!" Nisa mengacungkan kedua jempolnya pada Sivia.


...***...


Keesokan paginya,


"Duh, Mbak. Ban motorku kayaknya bocor. Gimana nih?" Keluh Nisa.


"Lah, kok bisa, Nis? Kemarin kayaknya baik-baik aja 'kan?" Tanya Nila, Ibu Nisa dan Sivia.


"Ya sudah, kamu naik ojek aja. Nanti Mbak yang bayar." Balas Sivia.


TIIINNN


TIIINNN (suara klakson mobil)


"Lho, itu kayak mobil Nak Iyan." Ucap Nila sambil menunjuk ke arah sebuah mobil sedan hitam mewah didepan rumahnya.


"Iya, itu memang mobil Mas Iyan." Timpal Sivia.


Adniyan turun dari dalam mobil.


"Kenapa motormu, Nis?" Tanyanya.


"Ini Mas, kayaknya ban motorku bocor. Padahal udah telat berangkat kuliah." Keluh Nisa.


"Bakal lama untuk menggantinya. Ya sudah, kamu ikut aku saja dengan Sivia." Tawar Adniyan.


"Makanya jangan begadang sampai larut malam, jadi gini kan. Kalo kamu bangun lebih pagi pasti masih sempat buat nambal ban motormu." Kesal Sivia.


"Sudah, Vi. Gak apa. Nisa ikut kita saja. Kamu hubungi Zona, bilang kalo kamu datang terlambat."


"Iya, Mas." Sivia mengalah.


...***...


Sivia datang ke salon pada pukul 8 pagi. Telat tiga puluh menit. Namun Zona bisa memakluminya. Karena ada alasan yang jelas. Meskipun ini adalah bisnis mereka sendiri, namun mereka tetap mengedepankan kedisiplinan dalam bekerja. Mereka sebagai pemilik harus memberikan contoh yang baik pada para karyawannya.


"Tumben lo diantar Iyan, biasanya naik taksi." ucap Razona.


"Iya, gue juga gak tahu, Raz. Tiba-tiba aja Mas Iyan datang menjemput."


"Ciyeeeee, dia beneran cinta mati sama lo, Vi. Lo adalah cewek yang beruntung."


"Tuh kan, udah buruan nikah. Jangan kelamaan pacaran. Kalian pasangan yang perfect. Percaya deh sama gue!"


Sivia hanya tersenyum mendengar dukungan dari sahabatnya. Ia tahu jika Adniyan adalah jodoh yang sempurna untuknya. Namun entah kenapa dalam hatinya masih ada yang mengganjal.


^^^Adniyan Nugraha^^^


^^^Sayang, nanti malam kita dinner yuk. Udah lama gak makan malam bareng kamu.^^^


Sivia tersenyum membaca pesan dari Adniyan.


Sivia Dewi


Iya, mas. Kamu lagi gak sibuk?


^^^Adniyan Nugraha^^^


^^^Enggak, aku udah pending semua jadwal buat ketemu sama kamu.^^^


Sivia Dewi


Makasih udah luangin waktu buat aku.


^^^Adniyan Nugraha^^^


^^^Love you...^^^


Sivia bingung harus menjawab apa pesan terakhir dari Adniyan. Ia tidak bisa membalasnya. Terkadang hatinya bertolak belakang dengan apa yang di kerjakan oleh otaknya. Ia harus belajar mensinkronkan keduanya.


...***...


Adniyan mengajak Sivia ke sebuah restoran Korean Food. Suasana romantis khas drama korea sangat lekat dengan dekorasi di restoran ini.


Sivia duduk berhadapan dengan Adniyan. Ia tidak tahu harus memesan apa, karena ini pertama kalinya ia datang ke restoran Korea. Ia menurut saja dengan menu yang dipesan Adniyan.


"Restorannya bagus, Mas." Ucap Sivia sambil melihat sekeliling.


"Kamu suka?"


"Iya. Seperti dalam drama korea." Sivia tersenyum bahagia.


Dua pemain biola mendatangi mereka berdua dan memainkan lagu romantis untuk mereka. Sebuah kejutan manis yang diberikan oleh Adniyan.


Sivia menikmati alunan lagu yang dimainkan sang pemain biola. Adniyan mengulurkan tangannya meminta Sivia untuk berdansa.


"Can I have this dance?"


"Tapi ... aku gak bisa berdansa, Mas..."


"Gak apa. Kamu ikuti aku saja."


Sivia menerima uluran tangan Adniyan untuk berdansa. Gerakan kaki Sivia sangat kaku. Ia terlalu tegang untuk berdansa.


Karena mengetahui Sivia kurang nyaman dengan berdansa, Adniyan menghentikan aksinya. Ia kemudian berlutut di hadapan Sivia.


"Mas ... kamu ngapain?" Tanya Sivia heran.


Adniyan mengeluarkan sebuah kotak kecil yang berisi cincin berlian.


"Sivia Dewi Anggraini ... will you marry me?" Adniyan mengutarakan niatnya tanpa berbasa-basi.


"Mas...." Sivia masih tak percaya dengan yang dilakukan Adniyan.


"Jawablah, Vi. Aku tahu ini mungkin terlalu cepat, tapi aku sudah yakin denganmu, jadi ... aku gak mau menundanya lagi." tegas Adniyan.


Sivia berpikir sejenak. Hubungan mereka baru berjalan enam bulan. Rasanya tak mungkin Adniyan melamarnya secepat ini. Tapi ... yang sekarang terjadi bukanlah mimpi. Ini nyata.


"Vi..." Adniyan memanggil Sivia sekali lagi. Ia ingin Sivia menjawabnya sekarang juga.


"Mas, kamu adalah orang yang baik. Dan aku ... aku merasa gak pantas bersanding dengan kamu, Mas. Tapi, karena aku juga yakin dengan Mas, maka ... aku ... aku menerimanya. Iya, Mas. Aku mau menikah denganmu..." ucap Sivia meski sedikit ragu.


"Serius, Vi?" Adniyan berbinar.


Sivia mengangguk. Adniyan bersorak gembira. Kemudian ia memasangkan cincin berlian itu di jari manis Sivia.


Mereka saling menatap, saling mengungkap rasa. Tanpa berlama-lama lagi, Adniyan membawa Sivia kedalam pelukannya.


"Semoga ini pilihan yang terbaik," batin Sivia.


......


"Waow, bahasanya kok kayak beda banget dengan aku yg sekarang ya...😅😅😅😅


Ya sudahlah... Lanjut sajaaa, semoga kalian menyukainya.😬😬😬