
“Lakukanlah, Tuan! Aku siap memberikan mahkotaku untukmu…”
Grey menghampiri Ana dan menatap lekat wajah penuh air mata itu. Tanpa bisa diduga, Grey malah membungkukkan badan dan memungut dress Ana yang terjatuh di lantai kemudian memakaikannya lagi ke tubuh Ana. Meski sempat menelan salivanya karena melihat tubuh polos Ana, namun sebisa mungkin Grey menahan hasratnya.
Grey menautkan kembali tali dress hingga kini tubuh Ana kembali tertutup. Grey membelai wajah Ana dan mendaratkan satu kecupan di bibir Ana.
“Tidurlah! Aku yakin kau lelah. Aku akan ke ruang kerjaku untuk menyelesaikan beberapa pekerjaanku yang belum selesai. Kita akan bicara jika hatimu sudah kembali tenang.” Grey berlalu pergi dari kamarnya sendiri dan menuju ruang kerjanya.
Ana merasakan rasa sesak setelah Grey keluar kamar. Ana jatuh tersungkur ke lantai dan menangis pilu. Sungguh ia amat malu karena sudah berbuat hal tak waras didepan Grey. Kini Ana tahu jika Grey adalah pria yang baik. Tapi Ana memperlakukan Grey seolah ia adalah pria brengsek.
Ana memukuli dadanya sambil berlinang air mata. Tidak ada satu patah katapun yang bisa ucapkan untuk saat ini. Ana memilih untuk pergi ke tempat tidur dan merebahkan tubuh dan hatinya yang lelah.
Sementara itu di ruang kerjanya, Grey tampak mengusap wajahnya kasar. Ia tidak mengira jika Ana akan berbuat nekat hingga menyerahkan tubuhnya pada Grey.
Grey merasa sangat buruk karena telah menyakiti Ana untuk yang kesekian kalinya.
“Maafkan aku, Ana. Aku memang pria brengsek! Aku tidak pantas kau maafkan. Aku sudah menyia-nyiakan gadis sebaik dirimu hanya karena cinta pertamaku yang semu. Bagaimana aku bisa memperbaiki ini semua, Ana?”
Di tempat berbeda, Ana dan Grey saling menyalahkan diri sendiri dan menangis dalam diam. Hingga akhirnya tubuh Ana merasa lelah dan kemudian terlelap di dalam kamar Grey.
Dini hari Grey kembali ke kamarnya dan melihat Ana yang tertidur dengan masih menyisakan sesenggukan karena tangisannya. Ia tak tahu harus mengambil sikap apa untuk menghadapi Ana esok hari.
Grey sadar jika hatinya belum sepenuhnya menerima Ana karena ada bayang-bayang Nisha yang masih ada disana. Ia akan menenangkan diri terlebih dahulu hingga hatinya bisa menentukan mana yang akan ia pilih.
...…***…...
Pagi harinya, Ana terbangun dan tak mendapati sosok Grey ada di kamar itu. Ana menghela nafas mengingat apa yang sudah ia lakukan semalam. Ia merasa tindakannya sangat bodoh. Ana pikir itu pasti akan membuat Grey membencinya.
Ana turun ke lantai bawah dan tidak mendapati siapapun disana. Ana bertemu dengan Simon yang sedang membuat kopi di dapur.
“Selamat pagi, Nona.” Sapa Simon.
“Selamat pagi, Simon. Oh ya, apa Tuan Grey sudah berangkat ke kantor?”
“Iya, tadi dia berangkat pagi-pagi sekali bersama Black. Ada apa, Nona?”
“Tidak ada. Aku ingin menjenguk ayahku di rumah sakit. Tapi, aku ingin kesana sendiri saja. Kau tidak perlu mengantarku.”
“Eh? Tapi, Nona…”
“Sudahlah. Aku yang akan bicara dengan Tuan Grey. Kau lakukan saja apa yang ingin kau lakukan.”
“Baiklah.” Simon undur diri dari area dapur.
Ana kembali terdiam dan menyiapkan sarapan untuk dirinya sendiri. Ia menyantap sarapan sendiri dengan banyak hal yang ia pikirkan.
Ana bersiap menuju rumah sakit. Ia berjalan keluar mansion untuk mencari taksi karena mansion milik Grey jauh dari pemukiman penduduk. Ana menikmati suasana sunyi jalanan asri dan menghirup udara segar musim panas.
Tiba di rumah sakit, Ana duduk dibangku panjang untuk mengistirahatkan tubuhnya sejenak sebelum berkunjung menemui ayahnya. Pikiran Ana sedang diisi berbagai spekulasi tentang hidupnya.
“Sebaiknya aku harus segera pindah dari mansion Tuan Grey. Aku sudah kehilangan muka didepannya. Dan aku juga harus mencari pekerjaan. Aku harus mulai menata hidupku kembali dan tidak boleh bergantung pada orang lain.”
Pikiran Ana melayang entah kemana saat seseorang memanggil namanya.
“Ana!”
“Eh?” Ana tersadar kemudian menoleh pada orang yang duduk disampingnya.
“Uncle Alfred?”
“Apa yang sedang kau pikirkan, Nak?”
“Tidak ada, Uncle.” Ana mencoba tersenyum.
“Bagaimana kondisi ayahmu?”
“Masih sama seperti kemarin, Uncle.”
“Oh ya, Uncle datang menemuimu karena ada hal yang ingin dibicarakan.”
“Perusahaan putraku sedang membutuhkan desainer pakaian. Bukankah kau adalah seorang desainer?”
“Eh?”
“Uncle tahu semua yang terjadi pasti tidak mudah untukmu. Tapi Uncle hanya ingin membantumu. Uncle harap kau bersedia menerima tawaran ini. Uncle juga akan carikan apartemen untuk kau tempati.”
“Eh? Tidak perlu, Uncle. Aku bisa mencari tempat tinggal sendiri.”
“Tolong jangan menolaknya. Uncle dan ayahmu adalah teman baik. Uncle hanya melakukan apa yang dulu pernah ayahmu lakukan untuk Uncle.”
Ana terdiam.
“Jika kau bersedia menerima tawaran Uncle, tolong hubungi Uncle.” Alfred menyerahkan selembar kartu namanya pada Ana.
“Terima kasih, Uncle.”
“Bersemangatlah, Nak! Uncle yakin ayahmu adalah orang yang kuat.”
Ana mengangguk kemudian mengantar Alfred hingga menuju lobi rumah sakit.
...…***…...
Ana kembali ke mansion Grey. Ia menuju kamarnya lalu duduk di tepi ranjang. Ia memikirkan kembali tawaran Alfred yang menurutnya bukanlah hal buruk. Mungkin akan sangat aneh karena Ana tiba-tiba bekerja disana setelah sebelumnya ia menolak mentah-mentah untuk bekerja di perusahaan milik Grey.
Ana menarik nafas dan menghembuskannya kasar. Ia menatap kartu nama milik Alfred.
“Mungkin ini adalah yang terbaik. Aku akan bersemangat dan mengesampingkan urusan hati.” Gumam Ana.
Pukul tujuh malam, Grey tiba di mansionnya. Ana menyiapkan makan malam seperti biasa. Tanpa ada sepatah katapun dari bibirnya, Grey duduk dan menikmati makan malam yang disiapkan Ana.
Ana memberanikan diri untuk bicara dengan Grey.
“Umm, Tuan. Ada yang ingin kubicarakan dengan Tuan.”
Grey menghentikan aktifitas santap malamnya. “Ada apa? Jika kau ingin membicarakan tentang yang kemarin maka…”
“Bukan! Bukan itu. Tapi tentang itu … aku minta maaf. Aku tidak bermaksud merendahkan Tuan dengan bersikap seperti itu.”
Grey mendengarkan penjelasan Ana.
“Aku minta maaf karena sudah melewati batasku. Aku tahu aku hanya…” Ana tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.
Grey pun tidak berniat menjawab semua pernyataan Ana. Rasanya percuma saja jika ia menjelaskan.
“Aku akan keluar dari mansion ini.” ucap Ana datar.
Grey tercengang.
“Kurasa sudah cukup aku tinggal disini. Mulai besok aku akan mencari tempat tinggal sendiri. Dan aku juga akan mencari pekerjaan. Tadi siang, ayah Tuan menemuiku di rumah sakit. Dia menawariku pekerjaan di perusahaan milik Tuan. Tapi tenang saja, aku akan melakukan seleksi secara adil dengan pelamar lainnya.”
Grey memalingkan wajahnya.
“Aku mohon kita bisa bekerja sama dengan baik sebagai atasan dan bawahan. Anggap saja kebersamaan kita beberapa bulan ini tidak pernah terjadi. Aku permisi!”
Ana melenggang pergi usai mengutarakan apa yang ada dihatinya. Grey menghela nafas mendengar pernyataan Ana.
“Apa kau tidak bisa melihat hatiku, Ana? Aku tahu aku bersalah karena aku masih mengingat tentang Nisha. Tapi kini aku sadar jika didalam hatiku hanya ada dirimu…” lirih Grey.
#bersambung
*duh, mereka ini sama2 tidak mau mengakui perasaan masing-masing…
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa Like, Comments, Gift and VOTE.
...Terima kasih kesayangan...