Raanjhana

Raanjhana
Trapped by Cold CEO : Bonus Episode + Giveaway



Perhatian: Cerita ini mengandung materi dewasa. Kebijakan pembaca sangat diharapkan. Terima kasih.


......***......


Ana terbangun di pagi hari karena mendengar gelak tawa ayahnya bersama dengan seseorang. Ana mengerjapkan matanya dan segera keluar dari kamar. Rasa penasarannya membawanya untuk cepat-cepat melihat siapa orang yang bersama ayahnya.


Mereka sedang berbincang ringan di teras rumah. Ana mengendap-endap mengintip dari dalam rumah.


"Hah?! Grey?! Sepagi ini dia sudah ada disini?" gumam Ana.


Ana ingat jika kemarin Grey menemuinya dan hubungan mereka kembali baik. Berbaikan? Benarkah begitu? Semua tidak begitu saja Ana terima. Ana meminta bukti jika Grey memang serius dengan ucapannya.


Dan sepertinya pria itu membuktikannya kali ini. Ana tersenyum melihat kedekatan ayahnya dan Grey. Ia kembali ke kamar untuk membersihkan diri lalu kembali ke luar menemui Alfonso dan Grey.


"Ana?" Seru Grey ketika Ana keluar dari rumah.


"Hai, kau ada disini?" sapa Ana.


"Iya. Aku berbincang ringan dengan ayahmu."


"Ehem! Sebaiknya kalian selesaikan masalah kalian. Daddy dan ayahmu menanti keputusan yang baik dari kalian." jeda Alfonso.


Ana dan Grey saling pandang. Mereka saling memantapkan diri setelah perpisahan selama satu tahun ini.


"Ana..."


"Iya?"


"Mari kita mulai semuanya dari awal."


"Iya. Aku bersedia."


......***......


Ana dan Grey kembali mengucap janji suci pernikahan didepan kedua ayah mereka dan juga Alvin. Serta anak buah Grey yaitu Black dan Simon.


Pesta pernikahan yang cukup mewah pun di gelar. Grey mengundang banyak relasi bisnisnya. Ana pun mengundang teman-temannya yang tinggal di Belanda.


"Sayang..." panggil Grey.


"Hmm?" Ana membalas dengan tetap fokus pada benda pipih di tangannya.


Usai pesta pernikahan yang cukup melelahkan kini mereka kembali ada kesibukan masing-masing. Kini mereka tinggal di mansion milik Grey yang jauh dari kota.


Tempat dimana pertama kalinya Grey membawa Ana masuk ke dalam kehidupannya. Berperan sebagai seorang pelayan, lalu berubah menjadi seorang istri.


"Apa kau akan mengabaikanku terus?"


"Tentu tidak! Aku sedang mencatat pesanan pelangganku di Belanda. Karena aku tinggal disini bersamamu, jadi sekarang aku hanya memantau pergerakan butik melalui ponsel. Kau bilang ada yang ingin dibicarakan. Tentang apa?"


Grey naik keatas ranjang dan duduk disamping Ana dan ikut bersandar bersamanya.


"Bagaimana kalau kita pergi ke Indonesia saja untuk berbulan madu?" usul Grey.


"Eh? Indonesia? Tempat dulu kau tinggal?"


"Iya. Disana banyak tempat indah yang bisa kita kunjungi."


"Contohnya?"


"Ada Bali, Raja Ampat, Labuhan Bajo, atau kita bisa juga ke puncak. Banyak destinasi wisata disana. Kita juga bisa mengunjungi Jogja, atau Malang."


"Sayang? Apa kau serius ingin mengunjungi semua tempat itu?" tanya Ana setelah meletakkan ponselnya diatas nakas.


"Hehe!" Grey menggaruk kepalanya.


"Kau sendiri sangat sibuk. Mana mungkin kita bisa melakukan bulan madu?"


"Aku akan mengambil cuti, Ana."


"Kau serius?"


"Iya. Apapun akan kulakukan hanya untukmu."


......***......


Bali, Indonesia.


Akhirnya Ana dan Grey tiba di destinasi wisata yang cukup direkomendasikan ketika berada di Indonesia. Grey sempat menghubungi Nisha dan meminta tolong padanya. Ternyata Nisha memilihkan villa milik keluarganya sebagai tempat menginap untuk Grey.


Ana bersorak gembira melihat hamparan pasir putih yang indah. Seharian ini ia sudah bermain ombak. Grey hanya menggeleng dengan tingkah istrinya yang menurutnya sangat menggemaskan itu.


Usai bermain ombak, Ana kembali ke villa dan hendak membersihkan diri. Ana berdendang ria di bawah guyuran air shower. Ana terkejut karena dua buah tangan tiba-tiba memeluknya dari belakang dengan langsung menempel pada dua bukit indah miliknya.


Ana sedikit berteriak ketika tangan itu mulai mere'mas asetnya itu pelan dan bergairah.


"Grey!" Suara Ana mulai parau.


Grey membalikkan tubuh Ana. Ana melihat suaminya ternyata sudah polos seperti dirinya. Guyuran shower masih membasahi tubuh keduanya.


Grey menempelkan tubuh Ana ke dinding dan mengangkat satu kaki Ana. Dengan sekali hentak senjata tumpul itu berhasil memasuki liangnya.


"Aakkhh!!!" Ana sedikit berteriak kala senjata itu masuk pada inti tubuhnya.


Dengan posisi berdiri, Grey mulai bergerak teratur. Bibir mereka tak berhenti saling bertaut.


Grey memindahkan tubuh Ana dalam gendongannya dan membawanya keluar kamar mandi. Ia merebahkan tubuh Ana keatas sofa dengan tubuh yang masih menempel satu sama lain.


Gerakan Grey yang slow but sure nyatanya bisa membuat Ana melalui pelepasannya yang indah. Ana terengah, namun Grey masih belum puas.


Grey meminta Ana untuk sedikit menungging dan berpegangan pada sofa. Grey kembali memasuki Ana dengan gairahnya yang tertahan.


Puas dengan berbagai gaya, kini Grey membawa Ana ke tempat tidur. Ana sudah menyerah tak bisa mengimbangi Grey. Namun suaminya itu masih belum ingin berhenti.


Kali ini Grey membiarkan Ana rileks dengan tidur telentang.


"Tutuplah matamu, sayang..." perintah Grey.


Ana menutup mata. Entah apa yang akan dilakukan Grey padanya.


"Aakkhh!" Ana kembali memekik kala merasakan sesuatu yang dingin menyentuh kulitnya.


Grey menaruh es batu berbentuk kotak di perut rata Ana. Grey mulai bergerak dengan menggigit es batu di mulutnya dan menyusuri lekukan tubuh Ana.


Ketika kembali tiba di inti Ana, Grey mengelap sedikit cairan bening yang sudah menumpuk disana. Bibirnya yang masih terasa dingin setelah memakan es batu, ia tempelkan di sela-sela inti Ana dan membuat Ana melenguh nikmat.


"Grey..."


Ana tak bisa berkata-kata dengan mata yang masih terpejam. Kedua tangannya hanya bisa mencengkeram erat sprei bermotif bunga-bunga itu.


Grey masih betah bermain di sebuah goa yang polos tanpa ada kerindangan disana. Ternyata Ana sudah membabat habis tanaman disana.


Grey makin bersemangat kala melihat biji kecil kemerahan yang menggodanya. Grey memegangi kedua kaki Ana dan...


"Aaahhh!!!" Suara desa'han lembut Ana kala lidah Grey bermain disana juga menyesap dan menggigit pelan.


Ana terkulai lemas karena ulah suaminya yang tak ingin berhenti. Ini baru hari pertama mereka berbulan madu. Bagaimana hari-hari selanjutnya Ana disana? Ia terus melenguh dan mengerang sepanjang hari. Grey tidak akan menyia-nyiakan waktu berdua mereka tanpa henti.


......***......


"Sayang, kau sudah siap?" tanya Grey yang sedari tadi menunggu Ana.


Ana berjalan tertatih. Ia merasakan perih di bagian intinya karena sudah 3 hari terus di gempur Grey.


Ana merengut karena suaminya itu benar-benar tak memiliki kata lelah.


"Maafkan aku, sayang. Aku hanya ingin kau cepat..." Grey menunjuk perut rata Ana.


"Tapi tidak dengan cara begini. Kau menyebalkan!" Ana memukul dada Grey pelan.


"Ya sudah, kalau begitu pelan-pelan saja jalannya."


Ana mencebikkan bibirnya.


"Kita mau kemana?"


"Bertemu seseorang."


"Seseorang? Siapa?"


"Nanti kau juga tahu."


Grey membawa Ana menemui dua orang yang belum pernah Ana kenal sebelumnya.


"Ana, kenalkan, ini Nisha, dan suaminya, Hernan." ucap Grey.


Ana menyapa hangat pasangan suami istri itu.


"Hai, Ana. Aku senang bisa bertemu denganmu." sapa Nisha dengan memeluk Ana.


"Nisha? Apakah ini adalah Nisha yang..." batin Ana.


"Kuharap kalian menikmati bulan madu kalian disini." imbuh Nisha.


"Tentu saja. Aku sangat menikmatinya. Iya 'kan, sayang?" Grey merangkul bahu Ana.


Ana hanya menarik sudut bibirnya sedikit. Ia tak menyangka jika Grey membawanya bertemu dengan Nisha, cinta pertamanya.


"Kenapa kau membawaku bertemu dengan Nisha? Apa kau sengaja ingin membuatku marah?" tanya Ana ketus saat mereka menikmati malam dibawah cahaya bulan.


Grey terkekeh melihat istrinya cemburu.


"Sayang, bukan begitu. Kau lihat sendiri aku dan Nisha hanya berteman. Bahkan sejak dulu pun begitu. Aku hanya ingin kau tahu jika kini wanita yang aku cintai hanyalah dirimu. Aku mencoba melawan semua perasaanku yang pernah hadir untuk Nisha. Dan ternyata rasa itu telah hilang."


"Jadi, kau sengaja bertemu dengannya untuk menguji coba apakah kau masih mencintainya atau tidak? Begitu?"


"Tidak sepenuhnya benar, tapi tidak juga salah."


"Kau!!!" Ana benar marah sekarang.


"Marahlah, Ana! Namun setelah itu cintai aku dengan segenap hatimu."


"Eh?"


"Tak peduli berapa purnama memisahkan kita. Hatiku ... akan tetap memanggil namamu."


Ana bisa melihat cinta dalam mata suaminya. Ana menghambur memeluk Grey. Grey membalas pelukan Ana makin erat.


"Yuk, ke kamar! Udara malam tidak bagus untukmu yang sedang program hamil." ajak Grey.


"Itu adalah maumu!" Ana mengerucutkan bibirnya.


"Ha ha ha. Bersiaplah, sayang! Aku akan menggempurmu lagi malam ini." seringai Grey membuat Ana segera berlari masuk kedalam villa.


"Tidaaaaakkkk!!!"


......***......


...S E L E S A I...


......***......


Buat kalian yg mau ikutan giveaway dari mamak, caranya gampang:


1. Dari ke 3 kisah yg ada di Raanjhana ini, manakah kisah yg paling kalian suka? Dan sebutkan part yg paling kalian sukai.


Contoh : Aku suka Om Dirga, I Love You. Part yg paling aku suka adalah saat Dirga mencium Diya disudut bibirnya yg bikin getar2 gimanaaaa gitu.


Pokoknya kasih pendapat kalian dengan seunik mungkin di kolom komentar, di episod ini.


2. Giveaway buat kalian yg sudah kasih gifts (bunga,koin, kopi, vote) banyak di Raanjhana ini. Bisa dilihat di top fans ya genks. yg berhasil menduduki peringkat teratas, dia lah pembaca yg beruntung.


3. Dan buat kalian sesama othor yg mau ikutan juga boleh banget. Kalian jawab dikolom komentar pertanyaan nomor 1 diatas.


Hadiah berupa pulsa masing2 25k untuk 2 orang pembaca, dan 1 author aktip yg ikutin cerita ini.


Giveaway akan diumumkan bertepatan dengan hari ulang tahun mamak othor yg ke sekian sekian di bulan ini ya.


So, buat kalian yg mau ikutan, yuk kasih dukungan kalian mulai dari sekarang yaa.


ditunggu partisipasinya yak 😘😘


...Thank You...