Raanjhana

Raanjhana
Meet Me on Facebook : 23. Fight For Love 2



Raga mengemasi barang-barang miliknya yang ada di apartemen Aryan. Ia sangat kesal sekarang. Ia tak bisa mentolerir perbuatan Bayu pada bosnya. Ia akan pindah dari apartemen Aryan.


Sementara itu, Bayu dan Aryan hanya bisa diam melihat Raga pergi dari hadapan mereka. Persahabatan yang baru mereka mulai kembali setelah bertahun-tahun, kini tak bisa bertahan. Semua hanya memikirkan ego masing-masing.


Aryan menatap Bayu dengan tatapan aneh. Ia ingin membela Raga, tapi ia juga ingin membela Bayu. Mereka berdua adalah sahabatnya. Ia tak akan memilih salah satu.


"Saat ini Raga sedang emosi. Gue akan bicara padanya kalo dia udah tenang." ucap Aryan.


"Thanks, Ar. Lo adalah yang terbaik. Gue gak akan minta lo buat ngebela gue, tapi paling gak, lo bisa bersikap adil."


"Iya. Kita semua berteman. Jangan hanya karena masalah begini, kita jadi bercerai berai."


Bayu hanya menjawab dengan seulas senyum.


...***...


Sivia dan Razona saling diam selama beberapa hari. Meski mereka bertemu tiap hari di salon, namun belum ada perbincangan khas wanita diantara mereka.


Sivia tahu jika dirinya salah. Namun setelah kepergiannya yang lalu, ia sama sekali tak pernah berkomunikasi dengan Bayu, ataupun bertemu langsung. Sivia sudah membulatkan tekadnya untuk melanjutkan pernikahannya dengan Adniyan. Dan ia serius dengan hal ini.


Persiapan pernikahan sudah 80 persen. Tiap hari Sivia sibuk mengurus pernikahan dan salon. Dan akhirnya membuat pertemuannya dengan Adniyan makin intens karena harus mengurus banyak hal bersama.


Sivia lega karena Adniyan tak pernah membahas masalah soal kepergiannya. Adniyan sosok yang sangat dewasa. Itu yang membuatnya sangat mengagumi Adniyan.


Beberapa kali Sivia juga bertemu dengan Ninna di acara keluarga. Dan Ninna masih terus mendesak Sivia agar membatalkan pernikahannya. Namun Sivia selalu menolak tegas. Ia akan tetap menikahi Adniyan. Ninna sangat marah, dan selalu ingin mencelakai Sivia. Tapi proteksi ketat yang dilakukan Adniyan, membuat Ninna tak bisa melakukan apapun pada Sivia maupun keluarganya. Sivia menghargai kepedulian Adniyan.


Sivia mengagumi Adniyan. Sivia menghargai Adniyan. Lantas apakah Sivia mencintai Adniyan? Pertanyaan itu yang akhirnya diutarakan Bayu saat menemui Sivia di rumahnya.


Saat itu kondisi rumah sedang sepi, dan Sivia baru kembali dari salon. Ibu dan adiknya pergi ke Kota Lama untuk menyerahkan undangan pernikahan Sivia pada keluarga mereka disana.


Bayu seakan sudah mengintai kegiatan Sivia, dan sudah mengetahui kalau Sivia sedang sendiri di rumahnya.


"Mau apa kamu datang kemari?" tanya Sivia ketus.


"Bagaimana kabar kamu, Vi?"


"Aku baik."


"Syukurlah..."


"Aku gak habis pikir sama kamu, Dewa. Bisa-bisanya kamu menemui Mas Iyan dan memintanya membatalkan pernikahan kami. Kamu pikir kamu siapa? Trus kamu juga bikin Raga pindah dari apartemen Aryan. Padahal kamu tahu, Raga sedang mengalami masalah dengan keuangannya. Kenapa kamu melakukan ini, Dewa?!" Sivia meluapkan emosinya.


"Aku hanya ingin kamu sadar. Kalo kamu akan menghadapi hal yang gak akan bisa kamu atasi. Kamu yakin kamu bisa?"


"Aku memang gak yakin. Tapi bukan wilayahmu bicara begini pada Mas Iyan. Dan ini adalah masalahku sendiri, jadi aku yang akan menghadapinya."


"Apa kamu mencintai Adniyan? Kamu benar-benar mencintainya? Dengan segenap hatimu?" tanya Bayu tiba-tiba.


"................"


"Kamu tidak bisa menjawabnya kan? Kamu mau melakukan ini hanya untuk menjaga nama baik keluarga. Kenapa sampai harus mengorbankan hatimu, Vi?"


"Percuma saja berdebat denganmu. Sebaiknya kamu pergi dari sini!" usir Sivia.


"Kamu mencintaiku, kan?"


Sivia sangat terkejut dengan pertanyaan Bayu.


"Apa maksudmu?"


"Ciuman itu... Di Desa Selimut. Itu tanda bahwa kamu mencintaiku, Vi."


"Jangan gila! Kamu yang menciumku lebih dulu!"


"Dan kamu membalasnya..."


Well, entah kenapa mereka berdua malah membahas soal 'ciuman'.


"It's just a kiss. Itu hanya---ciuman seorang teman." Ucap Sivia mulai kikuk.


"Seorang teman gak akan berciuman, Vi. Dan Aku sudah mengungkapkan perasaanku, kini giliranmu."


"Gak ada yang harus diungkapkan, Dewa. Aku sangat kecewa padamu. Dengan sikapmu yang seperti ini. Kamu bukan Dewaku yang dulu. Kamu adalah orang lain..."


"Aku begini karena aku mencintaimu. Tidak bisakah kamu mengerti? Kakak ipar Adniyan gak akan membiarkanmu hidup tenang sebagai menantu di keluarga itu. Aku hanya ingin mengatakan itu."


Kemudian Bayu pergi dari rumah Sivia. Sivia hanya menatapnya nanar. Meski sebenarnya ada rasa bersalah dalam hatinya. Hubungan pertemanan mereka baru dimulai kembali. Namun kini harus kembali berakhir.


...***...


Sivia sangat disibukkan dengan melakukan perawatan diri menjelang pernikahan. Hubungannya dengan Razona sudah mulai membaik. Razonapun ikut membantu persiapan pernikahan sahabatnya itu meski perutnya mulai membesar.


Adniyan sudah tidak diperbolehkan menemui Sivia secara langsung. Dan hanya berkomunikasi lewat telepon atau berbalas pesan singkat.


Sedangkan Bayu--- dia masih menyendiri di apartemen Aryan. Ia sedang menikmati masa-masa patah hati setelah Sivia menolak perasaannya. Padahal ia sangat yakin kalau Sivia juga mencintainya, hanya saja tidak berani untuk mengakuinya.


"Sorry ya bro, liburan lo kali ini... Kayaknya gak berjalan baik." ucap Aryan sambil menepuk pelan bahu Bayu.


"Gak apa bro. Ini semua adalah kesalahan gue. Bertahun-tahun gue menghilang trus sekarang tiba-tiba datang dan memintanya buat kembali ke gue, pasti itu membuatnya syok."


"Paling gak lo udah berusaha. Trus, lo mau datang ke pernikahan mereka?"


"Entahlah. Gue belum kepikiran sampai kesitu."


"Pernikahannya seminggu lagi, Bay. Apa yang lo harapin?"


Bayu mengendikkan bahunya.


Bunyi getar ponsel Bayu menghentikan obrolan antara Bayu dan Aryan.


"Halo---" Bayu mengangkat telepon dari atasannya, Robert.


"Halo, Bayu. Maaf mengganggu waktu liburanmu. Tapi, ada hal yang harus saya sampaikan padamu."


"Soal apa, Pak?"


"Ada tugas yang sudah menanti. Dan agen yang lainnya tidak akan bisa menanganinya sebaik kamu. Jadi, apabila kamu berkenan, saya mohon kamu kembali masuk kerja. Saya benar-benar minta maaf karena mengganggu waktu liburanmu. Pikirkanlah dulu dengan baik, lalu besok beri jawaban ke saya."


"Gak perlu besok, Pak. Akan saya jawab sekarang."


"Eh?!?"


"Saya bersedia. Saya akan kembali bekerja. Kapan tepatnya, pak?"


"Satu minggu dari sekarang, kamu kembali ke Inggris. Saya akan siapkan semua keperluanmu."


"Baiklah, Pak."


Panggilan berakhir.


Bayu menatap ponselnya. "Right time, huh? Mungkin ini yang terbaik. Sudah saatnya aku kembali..." ucap Bayu lirih pada dirinya sendiri.


...***...


Bayu mulai membereskan barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam koper. Hampir dua bulan ia tinggal di apartemen Aryan, dan lumayan banyak barang-barang baru yang dia beli.


Aryan yang baru datang, keheranan melihat Bayu berbenah.


"Lo mau kemana?"


"Gue bakal balik ke Inggris."


"Eh? Kok mendadak? Bukannya lo dapat cuti dua bulan ya?"


"Sorry, Ar. Gue belum bilang ke lo. Dua hari lalu, atasan gue telepon dan minta gue balik kerja. Dan ... gue terima."


"Jadi, kapan lo berangkat?"


"Empat hari lagi."


"Heh? Itu kan..."


"Satu hari sebelum hari pernikahan Sivia."


"Jadi lo pergi gitu aja?"


"Mau gimana lagi. Dia udah nolak gue. Dan gue gak mau maksa dia."


Aryan menghela nafas. "Sabar, Bay. Lo doain aja semoga Sivia bahagia."


"Iya. Thanks Ar. Lo udah banyak bantu gue selama disini."


...***...



...*Detik-detik menuju ending part......