Raanjhana

Raanjhana
Part 3 : Om Dirga, I Love You



Hari itu, Dirga mengantar Diya mendaftar ke sekolah taman kanak-kanak. Diya nampak berseru gembira karena banyak permainan anak-anak di tempat itu.


Diya memeluk Dirga dan mengucapkn terima kasih padanya.


"Terima kasih, Om. Diya janji, Diya akan belajar yang giat."


"Bagus, sayang. Kalau begitu, masuklah ke kelasmu. Patuhi semua perintah gurumu selama di sekolah. Mengerti?!"


"Baik, Om."


Diya mengecup singkat pipi Dirga sebelum berlari masuk kedalam kelasnya.


.


.


.


-15 Tahun Kemudian-


Seorang gadis cantik menuruni tangga dengan berjingkat gembira. Gadis itu adalah Diya, yang kini sudah tumbuh menjadi gadis cantik dengan rambut panjang sepunggung dan kulit putih bersih.


Diya menuju meja makan dan menyapa Dirga, pria yang sudah menyelamatkan hidupnya dan membuatnya hidup dalam kemewahan bak seorang putri raja.


"Pagi, Om..." sapa Diya dengan mengecup pipi Dirga.


"Selamat pagi, Diya..." sapa Dirga datar karena dia masih sibuk dengan gadget di tangannya.


"Ish, Om ini masih pagi, apa harus memegang benda pipih itu terus menerus?" sungut Diya yang merasa diabaikan oleh Dirga.


"Haha, kau ini. Jika Om tidak bekerja keras, kau tidak akan hidup senyaman ini, Nak."


"Ish, aku tidak suka hidup bermewah-mewah, Om. Bahkan mobil yang Om belikan sudah kukembalikan. Aku tidak perlu mobil sebagus itu. Aku juga tidak perlu kuliah di tempat bagus."


"Tapi kau harus mencerminkan sebagai keluarga Agung. Namamu Hanindiya Agung, bukan?"


Diya mengerucutkan bibirnya. Ia memang tidak akan menang jika harus berdebat dengan 'Om' nya itu.


Lelaki dewasa itu memang sudah berusia 40 tahunan, tapi karisma dan pembawaannya sama sekali tidak menunjukkan jika ia setua itu.


Tua? Diya bahkan tidak pernah menganggap Dirga sudah berumur. Diya bahkan amat mengaguminya dengan segala kemampuannya di bidang bisnis.


"Kenapa? Makanlah makananmu! Apa kau akan kenyang hanya dengan menatapku?" sindir Dirga yang merasa Diya terus menatapnya.


"Iya, iya, baiklah." Diya segera melahap sarapannya.


Usai sarapan Diya bersiap berangkat ke kampus. Tak terasa Diya sudah memasuki semester ke lima. Hari ini Dirga meminta Diya untuk ikut dengan mobilnya. Karena Dirga akan menemui kliennya di dekat kampus Diya.


Diya duduk di sebelah Dirga. Sebelum mobil melaju Dirga selalu mengingatkan agar Diya memasang sabuk pengamannya.


"Ish, kenapa susah sekali?" Diya menarik narik sabuk pengaman yang ada di sebelah kirinya.


"Ck, kau ini. Begitu saja tidak bisa."


"Bukankah sudah kubilang, aku tidak terbiasa dengan kemewahan. Mobil Om sangat mewah, aku tidak biasa menaikinya. Aku masih ingat dari mana diriku berasal, Om." Diya selalu membahas tentang asal usulnya didepan Dirga.


Dengan cepat Dirga mencondongkan tubuhnya ke kiri dan meraih sabuk pengaman milik Diya. Tubuh Dirga seakan menimpa tubuh Diya.


Diya sempat terlonjak kaget karena tiba tiba Dirga mendekat. Detak jantung Diya mulai tak beraturan kala dirinya sangat dekat dengan Dirga.


"Om..."


Dirga yang sedang sibuk menarik pengait seatbelt yang sepertinya tersangkut mendadak menoleh karena Diya memanggilnya.


Wajah mereka berdekatan. Deru nafas Dirga bahkan bisa Diya rasakan menerpa diwajahnya yang seketika merona.


Ya Tuhan! Apa ini? Kenapa aku jadi tersipu begini?


Dirga segera menarik kasar seatbelt milik Diya dan memasangkannya. Dirga sendiri juga merasakan debaran aneh ketika tubuhnya sangat dekat dengan Diya.


Sadar, Dirga! Dia adalah putrimu. Benar! Dia adalah putrimu!


Tiga puluh menit kemudian, Diya tiba di pelataran kampusnya. Diya segera berpamitan dengan mencium punggung tangan Dirga.


Dirga memperhatikan gadis kecilnya yang kini sudah tumbuh menjadi gadis remaja bahkan matang. Semua yang dulu kecil kini sudah membesar.


Tubuh mungilnya kini tinggi semampai. Rambut pendeknya kini berubah panjang. Mata bulat beningnya, kini makin bersinar dengan tatapan teduhnya. Bibir mungilnya kini berubah menjadi ranum dan...


Astaga, Dirga!!! Apa yang kau pikirkan!!!


Dirga menggeleng cepat dan segera melajukan mobilnya.


.


.


.


Sepulang kuliah, Diya bersama Echa, sahabatnya pergi ke sebuah pusat perbelanjaan. Mereka tertawa bersama entah apa yang mereka tertawakan.


"Eh, Di, kenapa hari ini tidak membawa mobil?"


"Eh? Tidak. Hari ini Om Dirga mengantarku."


"Oh begitu. Kau ini bagai putri raja, Diya. Sudah enak enak dapat mobil mewah keluaran terbaru, kau malah menukarnya dengan mobil biasa."


"Ck, kau ini. Semua itu bukan milikku. Itu punya Om Dirga. Sudahlah, aku kesini karena kau ingin membeli hadiah untuk kekasihmu. Ayolah, cepat! Ini sudah sore, sebentar lagi malam. Aku akan dimarahi jika pulang terlambat."


"Di, kau sudah dewasa, pulang telat saja kau dimarahi? Berlebihan sekali Om-mu itu."


Tanpa diketahui oleh mereka, sepasang mata tengah memperhatikan mereka dari jauh. Orang itu menggeleng pelan dan mengikuti kemana mereka pergi.


"Kau pulanglah lebih dulu. Aku akan melihat-lihat disini." titahnya pada sang asisten.


"Eh?"


"Sudah sana, pergi! Kau senang bukan hari ini tidak lembur."


"Hehe, iya Tuan. Kalau begitu saya permisi. Ini kunci mobil tuan."


"Iya. Sudah sana!"


Pria yang tak lain adalah Dirga kembali mengikuti dua gadis remaja yang menuju ke sebuah toko obat.


"Echa, mau apa kesini? Apa kau sakit?"


"Ssst!!! Jangan berisik, aku ingin membeli ini!"


"Hah?! Apa itu?!"


Mata Diya membulat sempurna melihat gambar di bungkus barang yang dipegang Echa.


Echa berbisik di telinga Diya.


"Astaga, Echa! Apa yang akan kau lakukan dengan barang seperti itu?"


"Sudahlah. Kau masih terlalu polos dan tidak tahu apapun. Tapi sekali kau sudah merasakannya, kau akan ketagihan, baby..." ucap Echa santai dan berjalan kearah kasir.


Diya masih tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu. Ketika masih bingung dengan apa yang dibeli Echa, tiba tiba sebuah tangan menarik lengannya dan membekap mulutnya.


Orang itu membawa Diya menjauh dari toko obat. Diya yang merasa nafasnya mulai sesak meminta orang itu melepaskannya.


"Om...?" ucap Diya tercengang karena ternyata ia ditarik oleh Dirga.


...***...


#bersambung...


Jangan lupa tinggalkan jejak ya kesayangan 😍😍