
Usai acara pernikahan, Hernan
memboyong Nisha ke rumah keluarganya. Karena merasa tidak
memiliki pilihan lain, Nisha pun menyetujuinya. Toh meski ini adalah
malam pertama mereka, namun sudah ada perjanjian pra-nikah yang sudah di sepakati. Jadi, Nisha bisa tenang walau harus satu kamar dengan Hernan.
Nisha melihat sekeliling kamar
Hernan yang memang cukup luas
itu. Kamar itu tidak dihias seperti
kamar pengantin pada umumnya yang biasanya dipenuhi oleh kelopak bunga mawar. Hernan yang memintanya pada kedua orang tuanya agar tidak perlu repot
menghias kamarnya.
“Kau mandilah dulu. Aku akan menemui ayah dan ibuku dulu.” Ucap
Hernan.
“Hmm, baiklah.”
Nisha membuka kopernya dan mencari baju tidur kesayangannya.
Namun ia memekik kesal kala tak
menemukan baju tidur layaknya piyama di tas besarnya.
“Ibu!!! Ini pasti ulah ibu! Mana
mungkin aku memakai pakaian tipis seperti ini?” gerutu Nisha.
Namun lagi-lagi karena tak ada
pilihan, akhirnya mau tak mau Nisha memakai lingerie seksi yang
dibawakan oleh ibunya.
“Semoga saja si pria aneh itu tidak
berpikir yang aneh-aneh tentangku.” Lirih Nisha sebelum masuk ke kamar mandi.
Sementara itu di ruang keluarga,
Hernan masih bercengkerama dengan kedua orang tuanya. Ia tampak memainkan ponselnya. Ia mengirim pesan pada Asha untuk menemuinya di taman dekat rumah mereka. Namun tak ada balasan sama sekali dari Asha.
Hernan sedikit kesal karena baru
kali ini Asha tak merespon pesan darinya. Hingga akhirny ponsel Hernan berdering dan itu adalah panggilan dari Asha. Hernan segera
menjauh dari ruang keluarga dan menuju teras belakang rumahnya.
“Halo, Asha. Kenapa tak membalas
pesanku?”
“Ini bukan Asha!”
Hernan membulatkan matanya. Itu
adalah suara Dirga.
“Dirga? Kenapa ponsel Asha ada
padamu?”
“Dengar, Hernan. Sebaiknya jangan
menghubungi Asha lagi. Kau baru saja menikah dan kau langsung
mengajak gadis lain untuk bertemu dibelakang istrimu. Apa kau sudah gila?” suara Dirga terdengar marah.
“Kau sendiri tahu jika aku terpaksa
menikahi Nisha.”
“Itu hanya alasanmu saja. Bukan
berarti kau bisa menemui Asha sesuka hatimu. Aku peringatkan
padamu, jangan pernah menghubungi Asha lagi. Atau kau akan berhadapan denganku!”
Panggilan berakhir.
Hernan mengumpat kesal. Ia
mengepalkan tangannya.
“Nak, sudah malam. Kembalilah ke
kamarmu. Kasihan Nisha jika ditinggal terlalu lama. Nanti
lumutan lho!” ujar Adelia menghampiri Hernan.
“Iya, Bu.”
Adelia merangkul bahu anaknya yang
tingginya tak terjangkau olehnya, kemudian berbisik,
“Ibu yakin kau adalah pria sejati.
Kau pasti bisa mencetak gol sebanyak mungkin ‘kan?”
“Ibu!! Apa sih? Kok bicara begitu?”
ada semburat merah yang terlukis di wajah Hernan.
Karena tidak mau ibunya terus
menggodanya, Hernan kembali ke
kamarnya.
“Gadis itu pasti sudah selesai
mandi. Rasanya badanku juga lengket semua. Apalagi setelah
mendengar ceramah Dirga tadi, makin membuatku panas saja.”
Hernan tercengang dan menelan
salivanya ketika melihat tubuh seksi Nisha hanya dibalut lingerie seksi berwarna hitam. Nisha sedang mengeringkan rambutnya yang basah
dengan handuk di depan cermin, dan membuatnya makin bertambah seksi. Nisha tak menyadari kehadiran Hernan yang masih mematung di depan pintu kamarnya.
“Apa yang kau lakukan?” suara berat
Hernan membuat Nisha terkejut dan menghadap ke arahnya.
“He-hernan? Kau sudah kembali?”
Tanya Nisha takut karena melihat sorot tajam mata Hernan.
“Kenapa kau memakai baju model
seperti kurang bahan begitu? Kau ingin menggodaku, huh?!”
“Ma-maaf, tapi ibuku tidak
membawakan piyamaku yang biasanya. Dia membawakan model
begini semua.” Jawab Nisha dengan menunduk. Sejujurnya ia juga malu harus berpakaian minim seperti ini. Meski Hernan adalah suaminya tetap saja semua masih terasa aneh.
risih melihatmu dengan pakaian minim begitu.”
“Hei, tuan! Kau pikir aku sudi
memperlihatkan bentuk tubuhku padamu, hah!” teriak Nisha.
Hernan segera mendekati Nisha dan
membungkam mulut Nisha
dengan tangannya. “Ssssttt!! Bisa
tidak bicaramu jangan berteriak begitu, aku tidak tuli! Bagaimana jika orang tuaku dengar?”
Nisha menepis tangan Hernan. “Aku
tidak sengaja. Ini semua juga salahmu. Kau seakan menganggapku akan menggodamu.” Sungut Nisha kesal lalu menuju tempat tidur dan menyelimuti
dirinya.
“Hei, itu tempat tidurku!”
“Bodo amat! Kau tidur saja di sofa!”
Nisha memejamkan matanya dan berpura-pura tidur.
Hernan mengacak rambutnya kemudian berlalu menuju kamar mandi.
Tak lama Hernan keluar dari kamar
mandi dan mendapati Nisha sudah terpejam. Ia duduk di sofa dan
memeriksa tablet pintarnya yang terkoneksi dengan kamera pengawas didepa kamarnya. Ia berharap jika ibunya tidak akan mengecek kondisinya dan Nisha. Namun
dugaan Hernan meleset. Ibu dan ayahnya
sedang mengendap-endap menuju kamar Hernan.
“Haduh! Bagaimana ini? Mereka
benar-benar ya! Apa mereka akan mengecek apa aku dan Nisha
benar-benar melakukan malam pertama atau tidak?
Apa sih yang ada di otak mereka?”
gumam Hernan dengan mengacak rambutnya.
Hernan memutar otaknya agar ayah dan ibunya tidak curiga jika mereka tak melakukan apapun.
Hernan menghampiri Nisha di tempat tidur dan bmembangunkan Nisha.
“Duh! Apaan sih! Aku baru saja
tertidur kenapa kau membangunkan aku?” gerutu Nisha.
“Ssssttt, lihat ini!” Hernan
menunjukkan tabletnya pada Nisha yang memperlihatkan rekaman
kamera pengawas depan kamar Hernan.
“Apa yang sedang orang tuamu lakukan di depan kamar ini?” Tanya Nisha bingung.
“Mereka mengecek apakah kita benar
melakukan itu atau tidak.”
“Itu apa?”
Hernan memutar bola matanya malas. Ia mencari video adegan ranjang yang ada di tabletnya.
“Ini…” Hernan menunjukkan video
adegan dewasa ke depanNisha.
Nisha menutup matanya melihat adegan yang menurutnya aneh itu. “Iiiiihhhh, untuk apa kau
menunjukkan video begitu padaku! Kau benar-benar mesum!"
“Dengar nona, kita sudah menikah dan sudah boleh melakukan hal seperti itu. Tapi, kita punya
perjanjian yang tak bisa dilanggar, jadi kita harus mengelabui orang tuaku agar mereka percaya jika kita benar melakukannya.”
“Hah?! Lalu bagaimana caranya?”
Tanya Nisha polos.
“Dengarkan apa yang diucapkan wanita di video itu.” Hernan
memasangkan headset ke telinga
Nisha.
Nisha mengernyit heran dengan ide
gila Hernan ini. Tapi ia juga tak mau jika pernikahan sandiwara mereka terbongkar.
“Bagaimana? Kau sudah paham?” tanya Hernan.
Nisha mengangguk.
“Baiklah, ucapkan yang agak keras
agar ayah dan ibuku mendengarnya.”
Nisha merasa kikuk, namun ia harus
melakukannya. “Ahhhh, aaahhhh.”
Hernan mengernyit. “Lebih keras! Dan
harus mendesah!” Ucap Hernan mengajari Nisha.
Nisha mendelik, tapi ia juga tak
berdaya. “Aaaahhhhhh, Hernaaaannn, aaaaahhhhh!!!”
“Sayang… Tahan sebentar ya! Tidak
akan sakit kok!” kini Hernan bersuara.
“Aaaahhhhh! Hernan!
Sakiiiiiiiiiiittttttt!”
“Tahan sebentar ya! Setelah ini kau
akan merasakan kenikmatan yang tiada tara…”
Nisha menatap jengah Hernan. Ia
hanya bisa menggeleng pelan
dengan tingkah keluarga Hernan yang
aneh.
Astaga! Keluarga macam apa yang kakek jodohkan padaku!
#bersambung…