Raanjhana

Raanjhana
Takdir Cinta Nisha : 10. Malam Pertama?!



Usai acara pernikahan, Hernan


memboyong Nisha ke rumah keluarganya. Karena merasa tidak


memiliki pilihan lain, Nisha pun menyetujuinya. Toh meski ini adalah


malam pertama mereka, namun sudah ada perjanjian pra-nikah yang sudah di sepakati. Jadi, Nisha bisa tenang walau harus satu kamar dengan Hernan.


Nisha melihat sekeliling kamar


Hernan yang memang cukup luas


itu. Kamar itu tidak dihias seperti


kamar pengantin pada umumnya yang biasanya dipenuhi oleh kelopak bunga mawar. Hernan yang memintanya pada kedua orang tuanya agar tidak perlu repot


menghias kamarnya.


“Kau mandilah dulu. Aku akan menemui ayah dan ibuku dulu.” Ucap


Hernan.


“Hmm, baiklah.”


Nisha membuka kopernya dan mencari baju tidur kesayangannya.


Namun ia memekik kesal kala tak


menemukan baju tidur layaknya piyama di tas besarnya.


“Ibu!!! Ini pasti ulah ibu! Mana


mungkin aku memakai pakaian tipis seperti ini?” gerutu Nisha.


Namun lagi-lagi karena tak ada


pilihan, akhirnya mau tak mau Nisha memakai lingerie seksi yang


dibawakan oleh ibunya.


“Semoga saja si pria aneh itu tidak


berpikir yang aneh-aneh tentangku.” Lirih Nisha sebelum masuk ke kamar mandi.


Sementara itu di ruang keluarga,


Hernan masih bercengkerama dengan kedua orang tuanya. Ia tampak memainkan ponselnya. Ia mengirim pesan pada Asha untuk menemuinya di taman dekat rumah mereka. Namun tak ada balasan sama sekali dari Asha.


Hernan sedikit kesal karena baru


kali ini Asha tak merespon pesan darinya. Hingga akhirny ponsel Hernan berdering dan itu adalah panggilan dari Asha. Hernan segera


menjauh dari ruang keluarga dan menuju teras belakang rumahnya.


“Halo, Asha. Kenapa tak membalas


pesanku?”


“Ini bukan Asha!”


Hernan membulatkan matanya. Itu


adalah suara Dirga.


“Dirga? Kenapa ponsel Asha ada


padamu?”


“Dengar, Hernan. Sebaiknya jangan


menghubungi Asha lagi. Kau baru saja menikah dan kau langsung


mengajak gadis lain untuk bertemu dibelakang istrimu. Apa kau sudah gila?” suara Dirga terdengar marah.


“Kau sendiri tahu jika aku terpaksa


menikahi Nisha.”


“Itu hanya alasanmu saja. Bukan


berarti kau bisa menemui Asha sesuka hatimu. Aku peringatkan


padamu, jangan pernah menghubungi Asha lagi. Atau kau akan berhadapan denganku!”


Panggilan berakhir.


Hernan mengumpat kesal. Ia


mengepalkan tangannya.


“Nak, sudah malam. Kembalilah ke


kamarmu. Kasihan Nisha jika ditinggal terlalu lama. Nanti


lumutan lho!” ujar Adelia menghampiri Hernan.


“Iya, Bu.”


Adelia merangkul bahu anaknya yang


tingginya tak terjangkau olehnya, kemudian berbisik,


“Ibu yakin kau adalah pria sejati.


Kau pasti bisa mencetak gol sebanyak mungkin ‘kan?”


“Ibu!! Apa sih? Kok bicara begitu?”


ada semburat merah yang terlukis di wajah Hernan.


Karena tidak mau ibunya terus


menggodanya, Hernan kembali ke


kamarnya.


“Gadis itu pasti sudah selesai


mandi. Rasanya badanku juga lengket semua. Apalagi setelah


mendengar ceramah Dirga tadi, makin membuatku panas saja.”


Hernan tercengang dan menelan


salivanya ketika melihat tubuh seksi Nisha hanya dibalut lingerie seksi berwarna hitam. Nisha sedang mengeringkan rambutnya yang basah


dengan handuk di depan cermin, dan membuatnya makin bertambah seksi. Nisha tak menyadari kehadiran Hernan yang masih mematung di depan pintu kamarnya.


“Apa yang kau lakukan?” suara berat


Hernan membuat Nisha terkejut dan menghadap ke arahnya.


“He-hernan? Kau sudah kembali?”


Tanya Nisha takut karena melihat sorot tajam mata Hernan.


“Kenapa kau memakai baju model


seperti kurang bahan begitu? Kau ingin menggodaku, huh?!”


“Ma-maaf, tapi ibuku tidak


membawakan piyamaku yang biasanya. Dia membawakan model


begini semua.” Jawab Nisha dengan menunduk. Sejujurnya ia juga malu harus berpakaian minim seperti ini. Meski Hernan adalah suaminya tetap saja semua masih terasa aneh.


risih melihatmu dengan pakaian minim begitu.”


“Hei, tuan! Kau pikir aku sudi


memperlihatkan bentuk tubuhku padamu, hah!” teriak Nisha.


Hernan segera mendekati Nisha dan


membungkam mulut Nisha


dengan tangannya. “Ssssttt!! Bisa


tidak bicaramu jangan berteriak begitu, aku tidak tuli! Bagaimana jika orang tuaku dengar?”


Nisha menepis tangan Hernan. “Aku


tidak sengaja. Ini semua juga salahmu. Kau seakan menganggapku akan menggodamu.” Sungut Nisha kesal lalu menuju tempat tidur dan menyelimuti


dirinya.


“Hei, itu tempat tidurku!”


“Bodo amat! Kau tidur saja di sofa!”


Nisha memejamkan matanya dan berpura-pura tidur.


Hernan mengacak rambutnya kemudian berlalu menuju kamar mandi.


Tak lama Hernan keluar dari kamar


mandi dan mendapati Nisha sudah terpejam. Ia duduk di sofa dan


memeriksa tablet pintarnya yang terkoneksi dengan kamera pengawas didepa kamarnya. Ia berharap jika ibunya tidak akan mengecek kondisinya dan Nisha. Namun


dugaan Hernan meleset. Ibu dan ayahnya


sedang mengendap-endap menuju kamar Hernan.


“Haduh! Bagaimana ini? Mereka


benar-benar ya! Apa mereka akan mengecek apa aku dan Nisha


benar-benar melakukan malam pertama atau tidak?


Apa sih yang ada di otak mereka?”


gumam Hernan dengan mengacak rambutnya.


Hernan memutar otaknya agar ayah dan ibunya tidak curiga jika mereka tak melakukan apapun.


Hernan menghampiri Nisha di tempat tidur dan bmembangunkan Nisha.


“Duh! Apaan sih! Aku baru saja


tertidur kenapa kau membangunkan aku?” gerutu Nisha.


“Ssssttt, lihat ini!” Hernan


menunjukkan tabletnya pada Nisha yang memperlihatkan rekaman


kamera pengawas depan kamar Hernan.


“Apa yang sedang orang tuamu lakukan di depan kamar ini?” Tanya Nisha bingung.


“Mereka mengecek apakah kita benar


melakukan itu atau tidak.”


“Itu apa?”


Hernan memutar bola matanya malas. Ia mencari video adegan ranjang yang ada di tabletnya.


“Ini…” Hernan menunjukkan video


adegan dewasa ke depanNisha.


Nisha menutup matanya melihat adegan yang menurutnya aneh itu. “Iiiiihhhh, untuk apa kau


menunjukkan video begitu padaku! Kau benar-benar mesum!"


“Dengar nona, kita sudah menikah dan sudah boleh melakukan hal seperti itu. Tapi, kita punya


perjanjian yang tak bisa dilanggar, jadi kita harus mengelabui orang tuaku agar mereka percaya jika kita benar melakukannya.”


“Hah?! Lalu bagaimana caranya?”


Tanya Nisha polos.


“Dengarkan apa yang diucapkan wanita di video itu.” Hernan


memasangkan headset ke telinga


Nisha.


Nisha mengernyit heran dengan ide


gila Hernan ini. Tapi ia juga tak mau jika pernikahan sandiwara mereka terbongkar.


“Bagaimana? Kau sudah paham?” tanya Hernan.


Nisha mengangguk.


“Baiklah, ucapkan yang agak keras


agar ayah dan ibuku mendengarnya.”


Nisha merasa kikuk, namun ia harus


melakukannya. “Ahhhh, aaahhhh.”


Hernan mengernyit. “Lebih keras! Dan


harus mendesah!” Ucap Hernan mengajari Nisha.


Nisha mendelik, tapi ia juga tak


berdaya. “Aaaahhhhhh, Hernaaaannn, aaaaahhhhh!!!”


“Sayang… Tahan sebentar ya! Tidak


akan sakit kok!” kini Hernan bersuara.


“Aaaahhhhh! Hernan!


Sakiiiiiiiiiiittttttt!”


“Tahan sebentar ya! Setelah ini kau


akan merasakan kenikmatan yang tiada tara…”


Nisha menatap jengah Hernan. Ia


hanya bisa menggeleng pelan


dengan tingkah keluarga Hernan yang


aneh.


Astaga! Keluarga macam apa yang kakek jodohkan padaku!


#bersambung…