My Stupid Boss I Love You

My Stupid Boss I Love You
Akhirnya Sah



"Adnan. Kemarilah Nak!" Panggil Abimanyu pada putra sulungnya.


Adnan menghampiri sang Ayah dengan rasa bersalah di dalam dirinya.


"Maafkan aku, Ayah. Sudah membuatmu kecewa untuk kedua kalinya. Kali ini aku pantas tak mendapt maaf mu." Gumam Adnan di dalam hatinya saat berjalan menghampiri Abimanyu yang tengah berdiri di dekat meja akad nikah.


Abimanyu masih bisa memberikan senyum ramah pada sang anak, meski rasa kecewa di hatinya sungguh sangat besar di hatinya. Namun, ia paham betul saat ini anaknya butuh sosok dirinya untuk sandaran. Dia tidak mengedepankan emosinya yang akan membuat anaknya tambah kalut dan salah melangkah kembali.


"Ayah," cicit Adnan memanggil Abimanyu dengan suara yang bergetar hebat.


Abimanyu memeluk sang putra yang mulai rapuh karena rasa bersalahnya.


"Maafkan aku Ayah," bisik Adnan yang terisak di dalam pelukannya Abimanyu.


"Tak perlu minta maaf, Ayah mengerti keadaan mu dan akan terus berusaha mengerti diri mu Nak. Sekarang sembunyikan kesedihanmu. Orang lain tak perlu mengetahui kesedihanmu, cukup Ayah dan keluarga mu yang tahu serapuh ini dirimu sebenarnya. Bukan mereka yang hanya akan mengolok-olok mu dan keluargamu nanti." Balas Abimanyu yang menguatkan putra semata wayangnya.


"Iya Ayah." Adnan menghapus air matanya saat ia masih dalam pelukkan Abimanyu.


Tok...tok...tok...toka


Suara sepatu seorang pria berusia paruh baya dengan wajah datar dan tatapan dinginnya berjalan mendekati kedua pria beda generasi yang tengah berpelukan. Suara sepatunyang memecahkan kehentingan membuat Abimanyu dan Adnan mengurai pelukan mereka.


"Selamat pagi Bapak Abimanyu, perkenalkan saya Antoni. Orang tua dari Zeline Anastasia. Senang bertemu dengan Anda pagi ini dalam acara akad nikah putra dan putri kita." Ucap Tuan Antoni dengan nada wajah ramahnya yang terlihat sangat di paksakan.


"Selamat siang Tuan Antoni. Saya juga senang bisa bertemu dengan Anda pagi ini. Untuk mempersingkat waktu. Mari kita langsungkan saja acara pernikahan putra dan putri kita." Balas Abimanyu dengan tenang dan ekpresi wajah yang terlampau sabar.


Sedangkan Adnan, ekpresi wajahnya sudah tegang. Kakinya pun sudah gemetar, hanya karena mendapatkan lirikan mata dari calon mertuanya.


"Oh begitu, baiklah." Tuan Antoni kemudian menepukkan tangannya.


Tak lama kemudian Zeline keluar dengan di dampingi oleh sang Mommy dan juga Miranda, Mommya Barra berjalan mendekati meja akad nikah. Semua orang terpana dengan penampilan Zeline yang terlihat begitu anggun, cantik dan mempesona.


"Cantik sekali, istri Kak Adnan. Kak Septi mah lewat. Body-nya Om, toge pasar. Benar-benar idaman kaum Adam. Pantas saja Kak Adnan tak kuat anunya." Gumam Anaya saat matanya tak berkedip melihat kecantikan Zeline.


"Toge pasar itu apa Nay?" Tanya Steve yang tak mengerti dengan istilah yang disebut Anaya.


"Ini gede dan ini besar." Jawab Anaya yang menunjukkan bagian dadanya dan bagian bokongnya.


Steve membulatkan mulutnya, membentuk huruf O saat merespon jawaban Anaya, namun matanya terus memperhatikan bagian tubuh Zelin yang di sebut toge pasar itu.


"Heh, kondisikan mata mu Om, jangan di amat-amati lebih dalam atau nanti malam tidak ada istilah belah duren yang ada belah bola mata mu," ancam Anaya pada Steve.


Tak mau mencari masalah dengan calon istrinya. Steve langsung memalingkan pandangannya ke arah Anaya namun dengan ekspresi wajah mengejek ia membulatkan matanya terus mendekati wajah Anaya.


"Ishhh... jangan kaya gini juga ahh... Om ih, suka banget ngeledek." Anaya mendorong wajah Steve agar sedikit menjauh darinya. Namun Steve malah mengunci pergerakan tangan Anaya.


"Aaahh Om iihh... sakit tahu." Rintih Anaya saat Steve memegangi tangannya dengan kuat.


Mendengar rintihan calon menantunya Bella, Mommy Steve. Akhirnya menegur putra semata wayangnya.


"Steve hentilah! Bersikaplah dewasa dan duduklah dengan tenang." Pinta Bella yang seketika membuat Steve terdiam.


Bella tersenyum pada calon menantunya, yang tengah tersenyum senang karena merasa dibela oleh sang calon ibu mertua yang dikenalnya sebagai ibu mertua yang baik seperti Nyonya Miranda.


"Saya terima nikah dan kawinnya Zeline Anastasia dengan seperangkat alat sholat dan satu set perhiasan sebesar lima puluh lima gram dibayar tunai." Ucapan mengalir dengan lancar dari mulut Adnan, ini bukan kali pertama dirinya mengucapkan ikrar janji suci pernikahan. Namun ini pertama kalinya ia membaca ikrar dalam keadaan gugup dan gemetar. Berjabatan tangan dengan sosok mertuanya saat ini memiliki kesan tersendiri di dalam dirinya.


Tak hanya Adnan yang merasa tegang, Zeline pun merasakan hal yang sama. Hingga ia sampai menegakkan punggungnya untuk menunggu kalimat dari penghulu dan para saksi mengatakan, "Sah". Dan ketika kata sah terdengar Zeline pun menitikan air matanya. Ia sungguh tak menyangka dapat menikah dengan pria idamannya yang kini duduk di sampingnya, menyandang status sebagai suaminya.


Setelah rangkaian prosesi dilangsungkan, kini giliran Anaya dan Steve kembali duduk di meja menegangkan ini. Dengan satu tarikan nafas Steve berhasil mengucapkan ijab kabul dengan lacar sampai akhir. Ekpresi Anaya begitu senang ketika para saksi dan para tamu, apalagi Barra yang sangat bersemangat mengatakan sah pada pernikahannya. Ia sampai berselebrasi dengan kedua tanganya. Membuat para tamu undangan bersorak-sorai gembira.


Tak ada tangisan sedikitpun diacara akad nikah Anaya dan Steve, yang ada hanya kekonyolan sikap Anaya yang mengundang gelak tawa para undangan.


"Kak Barra, mana kado pernikahan untuk Nay?" Anaya langsung memalak kakak iparnya saat ia bersalaman meminta restu dari sang Kakak ipar.


"Apa masih kurang? Aku sudah membiayai semua pernikahan mu ini? Kau ini benar-benar tikus kecil, terus saja menggerogoti uangku. Istriku saja tidak sematre dirimu Anaya." Celoteh Barra yang mendorong tangannya lebih kuat di hidung adik iparnya ini.


"Tentu saja kurang, aku tak akan berhenti menjadi tikus kecil sebelum kau jatuh bangkrut dan hanya mengandalkan rakyat-rakyat mu untuk bertahan hidup." Sahut Anaya yang tak ada takut-takutnya.


"Dasar adik ipar tak tahu diri, awas saja kau." Umpat Barra yang berusaha bersabar menghadapi kerandoman sifat Anaya padanya.


"Ahhh, apa begini rasanya memiliki adik perempuan? Untungnya aku anak tunggal, seandainya memiliki adik seperti dia, mungkin aku akan kurus kering seperti istriku dulu." Gumam Barra melemas, gumaman Barra ternyata didengar jelas oleh Arumi. Kini ia malah mendapatkan cubitan di ginjalnya dari sang istri yang merasa tersinggung dikatakan kurus kering.


"Adnan, ikut Daddy sekarang!" Ajak Tuan Antoni pada menantu barunya.


"Iya Dad, aku pamit kedua orang tua ku dulu." Jawab Adnan dengan sopan tanpa berani menatap wajah Tuan Antoni.


Adnan tahu pasti jika Tuan Antoni kini membutuhkan penjelasan dan tanggung jawabnya yang lain atas perbuatannya terhadap Zeline, putri semata wayangnya.