My Stupid Boss I Love You

My Stupid Boss I Love You
kegalauan Barra



Pagi ini cuaca begitu cerah, tapi entah kenapa Arumi melihat Barra sedikit murung. Selama dalam perjalanan menuju perusahaan Barra terlihat diam saja dan memilih melihat pemandangan di luar jendela mobil.


"Papi lagi ada masalah yah, kok diam aja dari tadi Mami perhatiin?" Arumi mencoba memulai perbincangan mereka.


"Gak apa-apa. Cuma lagi mikirin proyek kerja sama pembangunan yang akan kita meeting kan hari ini." Jawab Barra yang tidak sepenuhnya berbohong.


Kini Barra tengah merasakan dilema dalam hatinya. Ingin sekali ia batalkan kerja sama ini agar Arumi tak bertemu dengan orang dimasa lalunya, yang akan mempengaruhi rumah tangganya.


Namun Tuan Brandon sudah mewanti-wanti dirinya, untuk tidak membatalkan kerja sama dengan client mereka yang satu ini. Alasan Tuan Brandon tidak mengizinkan membatalkan kerja sama ini, bukan karena nilai kerja samanya, melainkan menjaga hubungan baik antara dirinya dan juga client-nya ini.


"Kenapa dengan proyeknya? Belum dealkan? Kalau belum Papi masih bisa berpikir dulu mau ambil atau tidak 'kan?" Tanya Arumi sembari menggenggam tangan suaminya.


Barra menatap dalam manik mata Arumi. Betapa dalam perasaannya pada Arumi, bahkan lebih dalam dari perasaannya terdahulu bersama Pinkan. Barra sangat takut kehilangan sosok istri yang sangat sempurna baginya ini.


Meski semalam keraguannya pada Arumi telah lenyap, namun saat ini keraguan itu datang kembali. Mengingat hari ini mereka akan meeting dengan Perusahaan Sasono. Perusahaan dimana pria dimasa lalu Arumi bekerja dan menangani proyek kerja sama mereka.


"Papi kok diam aja. Malah liatin Mami. Ada apa sih Pih? Bikin herman deh..." Ucap Arumi sembari memalingkan wajah Barra yang terus menatapnya. Arumi mencoba mencairkan suasana dengan candaannya.


Barra tersenyum tipis dan menangkap tangan Arumi yang memalingkan wajahnya.


"Apa tuh herman hum? Apa anak kita nantinya akan diberi nama Herman?" Tanya Barra yang tak mengerti dengan herman yang Arumi maksud.


Hal ini memancing tawa Arumi pagi ini.


"Hahahaha... Bukan itu,"


"Kalau bukan itu, terus apa hum?" Tanya Barra dengan wajah kaku dan senyum tipis yang terkesan dipaksakan.


Arumi yang menyadari suaminya tidak sedang memikirkan pekerjaannya, tapi memikirkan dirinya, langsung saja menyandarkan tubuhnya di lengan sang suami.


"Papi lagi mikirin Mami 'kan? Mami baik-baik saja. Mami bahagia bersama Papi. Mami sayang dan cinta sama Papi. Jangan meragukan perasaan Mami ke Papi! Kenapa Papi jadi kaya gini sih?" Ucap Arumi sedikit mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah suaminya.


Usai Arumi bicara, Barra melirik istrinya yang masih menatap wajahnya.


"Makasih Mami sudah sayang dan cinta sama Papi. Papi juga sayang dan cinta sama Mami. Papi sangat takut kehilangan mami. Tolong jaga hati Mami hanya untuk Papi. Apapun yang terjadi. Papi selalu ingin terus bersama Mami." Ucap Barra dengan mata yang berkaca-kaca.


Bayangan kehilangan sosok Arumi kala itu kembali lagi terbayang di dalam diri Barra


"Papi, no!!"


Arumi menggelengkan kepalanya berkali-kali, ia segera menghapus air mata Barra yang menetes membasahi pipi suaminya itu, dan memeluk erat suaminya.


"Jangan terus meragukan Mami, Pih. Mami tidak akan pernah kemana-mana dan akan terus ada di samping Papi. Kita akan menua bersama." Ucap Arumi saat ia memeluk erat tubuh Barra yang tergoncang karena menangis.


Rapuh. Ya. Hati Barra kini rapuh. Rasa takut dan trauma ditinggalkan Arumi menjadi alasan mengapa pagi ini ia menitikkan air matanya tanpa rasa malu di depan istrinya dan Akri yang sedang mengendarai mobil.


"Mami, tidak pernah di posisi Papi. Pernah ditinggalkan Mami rasanya sangat menyiksa dan wajar jika saat ini Papi takut kehilangan Mami. Papi tidak tahu akan sekuat dulu atau tidak jika Mami kembali meninggalkan Papi." Balas Barra dengan suara lirihnya.


Keduanya segera merapikan penampilan mereka, dan menghapus jejak air mata yang ada di wajah mereka.


Barra keluar dengan wajah datar dan dinginnya, di dapatinya Kakak iparnya tengah berdiri tak jauh dari mobilnya dengan wajah pucatnya.


"Ada angin apa kau ke sini?" Tanya Barra dengan wajah juteknya.


"Berapa harga ikan yang aku dan mertua ku ambil di empang mu?" Tanya Adnan dengan tatapan menelisik wajah Barra yang sedikit sembab.


"Tiga Milyar," jawab Barra asal yang kemudian meninggalkan Adnan dan Zeline yang terperangah dengan nominal yang disebutkan Barra.


"Hah, tiga milyar. Satu tong satu milyar dong." Ucap Zeline pada suaminya.


"Sinting, dia mau bikin kita bangkrut." Ucap Adnan yang segera menyusul langkah kaki Barra dengan menggandeng Zeline.


"Hai Barra, yang benar saja. Tak ada harga ikan semahal itu." Protes Adnan yang berhasil mengejar langkah kaki Barra, saat Barra ingin menaiki lift khusus petinggi perusahaan.


"Ada." Jawab Barra singkat.


Arumi hanya mengulas senyum melihat pertikaian tak berfaedah sang kakak dengan suaminya.


"Hah, mana ada. Sudah cepat sebutkan nominal wajarnya!" Ucap Adnan yang akhirnya ikut menaiki lift yang membawanya ke lantai ruang kerja adik dan istrinya.


"Tiga Milyar." Barra tak mengubah sama sekali harga ikannya.


"Hah, kau ini niat sekali membuatku bangkrut. Mana punya aku uang sebanyak itu. Haruskah aku jual ginjalku untuk membayar ikan-ikan mu." Protes Adnan.


"Zeline, rayu kakak sepupu mu itu!" Perintah Adnan pada istrinya, sembari menahan mual.


Zeline yang tahu betapa menderita suaminya semalam, langsung saja mendekati Barra. Dengan ragu-ragu Zeline merayu kakak sepupunya. Ia memegangi ujung jas Barra. Sembari menundukkan kepala ia memulai memohon pada Barra. Barra hanya melirik apa yang dilakukan adik sepupunya padanya.


"Kak, jangan segitu harganya boleh? Semalaman aku tidak tidur, karena melayani suamiku yang mabuk ikan, karena aku yakin ini pasti karena kakak tidak mengikhlaskan ikan-ikanmu itu di ambil Daddy dan suami ku." Ucap Zeline dengan suara pelan dan terkesan ragu-ragu.


"Mabuk ikan?" Tanya Barra sembari menaikkan sebelah alisnya. Ia melirik wajah Adnan dan memperhatikan wajah Adnan yang sangat pucat.


"Iya. Mabuk ikan. Baru satu suap saja menyantap ikan bakar. Sampai sekarang mualnya tidak hilang-hilang." Jawab Zeline sembari melirik suaminya yang tengah berusaha menahan mualnya.


Barra menyunggingkan senyumnya. Kemudian mengelus perut Zeline sembari melirik Adnan yang tengah tersiksa.


"Ampunilah Daddy-mu Nak, Paman memaafkan dan mengikhlaskan ikan Paman yang di ambil Daddy dan Oppa mu. Asal Daddy mu bersedia menjadi supir Paman selama satu minggu." Ucap Barra dengan senyum menyeringai.


Seketika Adnan mendelikkan matanya.


"A-apa kau bilang? Aku jadi supir mu? Ahh... Adik ipar kurang---" Adnan ingin sekali mengumpati Barra, tapi terhenti karena mual kembali melanda dirinya.