
"Jangan lihat mereka terus! Lihat makanan yang ada dihadapan mu itu Arumi." Protes Barra yang melihat Arumi tidak fokus dengan makanan yang sedang ia santap.
Ia terus memperhatikan Adnan, ketika Adnan tersenyum atau pun tertawa, Arumi ikut-ikutan tersenyum, seakan Adnan sedang tersenyum dengannya padahal tidak. Hati Barra teriris melihat Arumi seperti itu. Terlalu menyedihkan baginya.
"Apa kamu sangat merindukannya, hingga bertingkah bodoh seperti ini?" Tanya Barra yang sudah hilang kesabaran, melihat tingkah Arumi yang begitu menyedihkan.
"Tentu, saya selalu merindukan dia, sudah hampir dua tahun kami tidak saling bertegur sapa, setiap bertemu dia seolah tak mengenali saya. Saya hanyalah orang asing baginya, begitu pula dengan Pak Barra, yang selalu menganggap saya hanyalah orang asing," jawab Arumi yang ujungnya sedikit menyindir Barra.
"Kalau saya anggap kamu orang asing, buat apa saya ajak kamu makan di sini, makan satu meja sama kamu. Saya hanya mau pernikahan ini di sembunyikan dan tidak mengasingkan dirimu." Arumi tersenyum tipis dan menundukan kepalanya mendengar sanggahan dari Barra.
"Menyembunyikan dengan mengasingkan, bukannya sama saja. Dia tak mengakui saya sebagai adiknya, begitu pula Pak Barra tak mengakui saya sebagai istri bapak di depan muka umum. Mungkin seharusnya saya tidak dilahirkan di dunia ini, karena keberadaan saya benar-benar tak diinginkan hampir semua orang, disembunyikan seperti sebuah aib." Balas Arumi dengan suara lirihnya, kemudian dengan cepat ia menghabiskan puluhan sate dihadapannya dalam waktu sekejap.
Barra yang mendengar perkataan balasan dari Arumi tak sanggup membalas atau pun menimpali ucapan Arumi tersebut. Ia seperti terkena skakmat dari Arumi. Barra menyadari ia sama kejamnya dengan Adnan.
Bukannya tergerak hatinya untuk minta maaf atau menyudahi semua penderitaan Arumi. Barra malah terkesan tak perduli dengan perasaan Arumi. Ia memilih diam saja, membiarkan Arumi meluapkan isi hatinya begitu saja. Ia yakin Arumi akan bersikap biasa lagi seperti sedia kala, tanpa harus ia meminta maaf atau pun merayu istrinya itu.
Arumi meluapkan kesedihannya dengan terus mengunyah sate tanpa henti, ia terus memasukkan sate itu ke dalam mulutnya hingga mulutnya terisi penuh.
"Arumi, jangan terlalu banyak memasukkan sate ke dalam mulutmu, nanti kamu bisa tersedak!" Ucap Barra yang mulai khawatir, namun larangan Barra ini, sama sekalian tak di hiraukan oleh Arumi. Arumi terus saja memasukkan sate itu hingga tandas. Ia terus mengunyah sate yang ada di dalam mulutnya hingga habis.
"Saya ngantuk mau tidur," ucap Arumi ketika mulutnya sudah terlihat kosong.
"Heem... Saya bayar dulu, kamu tunggulah di mobil, ini kuncinya," sahut Barra yang tak berselera lagi untuk menghabiskan sate kambing di hadapannya, meskipun ia baru memakan tiga tusuk satenya.
Saat membayar sate, Barra berpapasan dengan Adnan. Entah disengaja atau bagaimana Barra menyelak Adnan yang lebih dahulu datang untuk membayar tagihan sate yang ia makan bersama istrinya.
"Hai, bung. Saya lebih dulu datang, sebaiknya Anda antri di belakang saya." Tegur Adnan pada Barra.
Adnan bicara seakan tak mengenali Barra. Padahal ia tahu dengan jelas pria yang ada dihadapannya adalah pria yang makan sate bersama adiknya, dan diduga kuat adalah suami dari adiknya.
Namun Barra terlihat cuek dan tak perduli pada Adnan, ia tetap berbaris menunggu gilirannya setelah seorang wanita yang ada di depannnya, wanita itu sedang membayar tagihannya lebih dulu.
Kesal diacuhkan oleh Barra yang ia tahu adalah adik iparnya, Adnan pun mencengkram kuat bahu Barra, hingga membuat Barra menoleh ke arahnya.
"Lepaskan tangan kotormu kakak ipar!" Ucap Barra saat menatap singit tampang muka Adnan yang kesal tak dihargai adik iparnya sendiri.
"Rupanya kau punya mulut juga untuk bicara. Ku kira kau bisu atau pun tuli." Sahut Adnan dengan kalimat sindirannya.
"Kalau kau punya mulut, kenapa kau tidak menyahuti ucapanku sejak tadi?" Tanya Adnan yang memundurkan langkah kakinya karena Barra terus mendekatinya.
"Bagaimana rasanya diacuhkan, tidak enak bukan? Itulah yang dirasakan istriku saat ini. Kamu melihatnya, tapi kamu mengacuhkannya kakak ipar, tak sadarkah dia terlalu menyayangi mu, hingga terlihat seperti orang bodoh. Tersenyum sendiri saat melihatmu tertawa dan tersenyum dengan istri tercinta mu itu, seolah-oleh dia berada diantara kalian, padahal dia sedang bersama diriku." Ucap Barra yang akhirnya mendorong tubuh Adnan hingga terjatuh.
Brakk! [Adnan terjatuh dan menyenggol meja.]
"Aduh..." Rintih Adnan ketika ia jatuh dan harus tertimpa meja pula.
Septi yang masih duduk memainkan ponselnya, mendengar suara suaminya merintih dan suara orang terjatuh pun segera menghampiri sumber suara. Ternyata benar suaminya sudah ada di atas lantai dengan tubuh yang tertutup dengan sebuah meja.
"Mas, kok bisa jatuh begini sih? Malu-maluin aja tahu." Tanya Septi saat membantu suaminya untuk berdiri.
Saat Adnan sudah berdiri, Adnan menghampiri Barra, dan mendorong tubuh Barra yang lebih besar dan kekar dari dirinya. Alih-alih terjatuh seperti dirinya, bergeser pun tidak.
"Adik ipar kurang ajar!" Umpat Adnan yang ingin memberi bogem mentah pada Barra, namun Barra yang jago bela diri pun dengan mudah menghalau serangan Adnan. Malah berbalik Barra-lah yang memukul wajah Adnan membabi buta.
"Ini balasan selama ini kau menyakiti hati istriku, ini hadiah dari ku, karena kau tak sudi datang di pernikahan kami." Ucap Barra dengen geramnya. Ia seakan tak mau ada orang lain yang menyakiti Arumi. Padahal tanpa ia sadari setiap apa yang ia lakukan selalu menyakiti hati istrinya sendiri.
Bugh...bugh...bughh! [Suara pukulan dari Barra yang membabi buta, hingga wajah Adnan tak berbentuk lagi.]
Adnan tidak berusaha menangkis, membela diri, atau pun membalas pukulan Barra. Ia membiarkan adik iparnya memukulinya. Ia merasa pantas untuk mendapatkan pukulan dari Barra, karena Adnan paham betul ia sudah sangat menyakiti hati Arumi.
Septi terus saja meminta bantuan orang-orang di sekitarnya untuk menolong suaminya, namun setiap orang yang berusaha menolong Adnan selalu mendapatkan bogem mentah dari Barra.
"Cukup! Dimana adikku?" Ucap Adnan yang tak merasa ada Arumi di sekelilingnya.
Barra yang tersadar tentang keberadaan Arumi. Segala bangkit dari posisinya, pandangannya mengedar kepenjuru kedai sate.
"Si4l," umpat Barra ketika ingat istrinya yang mengantuk sedang menunggu dirinya di mobil.
Ia segera mengambil uang tunai di dalam dompet tebalnya. Ia hampir mengambil semua uangnya dan meletakkannya di kasir.
"Anggap ini sebagai biaya ganti rugi." Ucap Barra pada sang kasir yang hanya melongo melihat Barra meletakkan setumpuk uang pecahan seratus ribu dalam jumlah yang cukup banyak.
Barra juga melemparkan kartu ATM tepat di muka Septi, "Bawa suami mu ke Dokter, pinnya ulang tahun adiknya sendiri." Ucap Barra yang langsung berlari pergi dengan tergesa-gesa.