
"Bapak boleh anggap saya tak pernah ada di dalam hidup Bapak, dan anggaplah pernikahan ini tak pernah terjadi. Jangan jadikan diri saya adalah beban di hidup Bapak untuk terus berusaha mendapatkan hatinya kembali. Saya percaya jika akhirnya nanti takdir akan mempersatukan Bapak dengan dia kembali. Karena setiap usaha yang Bapak lakukan tak akan mungkin tak ada hasilnya bukan?" Ucap Arumi lagi, seakan ia tengah mematahkan hati dan harapannya, sebelum Barra sempat mematahkan hatinya. Arumi benar-benar melindungi hatinya saat ini.
"Arumi, mari kita buat perjanjian tertulis di penikahan kita ini." Cetus Barra yang membuat Arumi tersenyum menatapnya.
"Untuk apa? Tidak perlu ada perjanjian tertulis di pernikahan kita Pak. Bapak tidak perlu melakukan kewajiban Bapak pada saya, dan saya tidak akan menuntut hak saya pada Bapak namun saya akan tetap melaksanakan kewajiban saya sebagai istri, jika Bapak menginginkannya. Dan saya siap pergi dan menghilang dari hidup Bapak, ketika dia sudah kembali di dalam hidup Bapak." Tukas Arumi yang menolak perjanjian.
Tak tahan menelan pil pahit di hari pertama pernikahannya. Arumi pun meninggalkan Bara yang terkesima dan terdiam karena perkataan Arumi.
Sadar. Ya Barra sadar betul jika, ia telah membuat Arumi sakit hati dengan mengajakanya membuat surat perjanjian tertulis di pernikahan mereka ini. Melihat Arumi pergi, Barra kembali menatap langit yang hitam pekat tanpa bintang ataupun bulan yang menghiasi malam ini.
Arumi kembali ke kamarnya, ia meringkuk di atas ranjang, menangisi takdir hidupnya yang tak indah dan tersenyum getir pada dirinya sendiri. Saat ini ia benar-benar merasa sendiri, tak mungkin baginya untuk mengadukan hal ini pada kedua orang tuanya. Ia tak mau menambah beban hidup kedua orang tuanya karena dirinya. Cukup sudah penolakan keluar Bowo membuat kedua orang tuanya terbebani dan merasa malu.
Di luar kamar Arumi, tepatnya di ruang televisi. Barra yang sudah selesai membersihkan diri dan menyatap makan malamnya yang di siapkan Bi Ijah untuknya, kini tengah bicara serius dengan Bi Ijah.
"Bi Ijah, saya memperbolehkan Bi Ijah bekerja di sini, asal Bi Ijah menutup mulut dengan semua yang terjadi di apartemen ini. Jangan katakan apapun pada kedua orang tua saya tentang kondisi pernikahan saya dengan Arumi. Jika mereka menanyakan bagaimana kabar pernikahan saya dan Arumi, katakan saja pernikahan saya baik-baik saja." Pungkas Barra yang kemudian meninggalkan Bi Ijah sebelum sempat Bi Ijah menanggapi ucapan Barra.
Barra membuka pintu kamar Arumi, ia lihat Arumi kembali tidur meringkuk di atas ranjang. Barra menghampiri Arumi dan kembali memeluk tubuh mungil itu, yang selalu memberikan ketenangan dan selalu mampu membuatnya masuk ke alam tidurnya tanpa harus meminum obat-obatan yang biasa ia minum dari resep dokter.
"Maafkan aku yang akan terus menyakiti mu, jika saja aku bisa melupakan Pinkan, mungkin aku akan belajar mencintaimu. Tapi sayangnya aku tak mampu." Bisik Barra di telinga Arumi.
Jika Barra mengira Arumi sudah tertidur, Barra telah salah mengira. Arumi tidak tertidur, ia hanya memejamkan matanya yang sudah lelah menangis. Ia dapat mendengar dengan jelas apa yang diucapkan oleh suaminya itu. Jika suaminya itu tak mampu melupakan cintanya pada Pinkan. Suaminya benar-benar terbelenggu dengan perasaannya sendiri pada wanita yang tak bisa setia pada cintanya.
Tak memerlukan waktu yang lama Barra pun sudah masuk ke alam tidurnya. Arumi yang merasa Barra sudah tertidur, berusaha melepaskan tangan kekar Barra yang melingkar di pinggangnya dengan perlahan. Ia turun mengendap-ngendap dari ranjang tidurnya.
Ia keluar kamar dan berjalan ke arah dapur. Ia mencari makanan untuk mengisi perutnya yang belum makan sejak pagi tadi. Mendengar ada suara dari dapur Bi Ijah pun keluar dari kamarnya.
"Nona, sedang apa?" Tanya Bi Ijah yang datang menghampiri Arumi.
"Mau makan Bi," jawab Arumi yang sedang membuat telur mata sapi untuknya.
"Biar saya siapkan Nona, Nona tunggu saja, di meja makan." Ucap Bi Ijah yang ingin menyiapkan makan untuk istri Tuan mudanya, namun di tolak oleh Arumi.
"Tidak perlu, Bi. Sebaiknya Bibi istirahat saja, ini sudah larut malam." Tolak Arumi dengan senyum manisnya.
Bi Ijah memperhatikan Arumi yang mengisi piring makannya hanya dengan nasi putih dan telur mata sapi yang ia masak saja, ia melihat betapa lahapnya Arumi memakan makanan sederhananya itu.
"Bi, saya pamit ke kamar ya, terima kasih sudah mau mencuci piring makan saya." Ucap Arumi yang berdiri di samping Bi Ijah.
"Iya Non," jawab Bi Ijah yang tersenyum pada Arumi.
Bi Ijah memandangi punggung Arumi yang pergi menjauh dari dirinya.
"Tuan Barra, beruntung sekali memiliki istri sesederhana Nona Arumi." Gumam Bi Ijah sembari mencuci piring bekas makan Arumi.
Arumi yang kembali ke kamarnya melihat suaminya, Barra yang masih tertidur lelap di atas ranjangnya. Ia yang sudah mengantuk karena sudah mengisi perutnya dengan nasi dan telur mata sapi segera naik ke atas ranjang. Ia membaringkan tubuhnya di samping Barra, ia tidur dengan membelakangi Barra dan mulai memejamkan matanya yang mengantuk.
Tepat pukul 04:00 dini hari, Arumi bangun dari tidurnya. Saat ia membuka matanya, ia terkejut melihat dirinya tanpa sadar sudah memeluk tubuh kekar Barra. Arumi langsung bangun dan turun dari ranjangnya.
"Arumi, jam berapa sekarang? Kenapa sudah bangun hum?" Tanya Barra yang mengerjap-ngerjapkan matanya yang masih mengantuk.
"Jam empat pagi," jawab Arumi yang malah ingin pergi dari kamarnya.
"Kamu mau kemana?" Tanya Barra lagi yang melihat Arumi sudah membuka pintu kamarnya.
"Saya mau masak untuk kita sarapan nanti." Jawab Arumi yang sudah berdiri di ambang pintu.
"Ahhh... nanti saja, ini masih terlalu pagi, temani saya tidur lagi." Pinta Barra yang menepuk-nepuk ranjang tidur Arumi.
Alih-alih kembali ke ranjangnya, Arumi malah tetap pergi dan menutup pintu kamarnya. Ia berjalan menuju dapur dan mulai berkutat dengan alat dapurnya.
Sedangkan Barra yang ditinggal Arumi tak lagi bisa memejamkan matanya yang masih mengantuk.
"Arghhh... kenapa aku jadi tak bisa tidur lagi, mata ku sungguh masih mengantuk." Gerutu Barra yang sudah duduk di atas ranjang Arumi.
Ia memukul-mukul ranjang tidur Arumi dengan perasaan kesalnya yang tak bisa lagi memejamkan matanya. Ia keluar dan ia dapati Arumi tengah sibuk dengan peralatan dapurnya dan tidak memperdulikan dirinya.
Barra duduk di sofa dan membaringkan tubuhnya di sana. Mengoceh dan mengomel meluapkan kekesalannya karena Arumi tak mau menemaninya tidur kembali.
"Arumi, apa kamu tidak mendengar saya bicara Hah!" Pekik Barra yang lelah diabaikan Arumi.