My Stupid Boss I Love You

My Stupid Boss I Love You
Season 2 Buka puasa



Mendapati kesempatan emas, Barra segera berlari dengan semangat menuju kamarnya yang berada di sudut lantai dua. Arumi


yang baru saja keluar dari kamarnya dan menutup pintu terlihat begitu terkejut dengan kehadiran sang suami yang tahu-tahu sudah berdiri di belakang tubuhnya.


"Ishhh kamu ngagetin aja si Mas ah..." ucap Arumi sembari memukul pelan lengan suaminya. Gerakan itu refleks ia lakukan karena terkejut dengan kehadiran Barra.


"Kaget ya?" Tanya Barra dengan senyum memukaunya.


"Iya Mas, kamu ngapain ih berdiri di belakang aku kaya gitu tadi? Hampir saja jantung aku mau copot karena kamu." Jawab Arumi yang malah kembali bertanya pada Barra.


"Maaf ya, aku gak ada maksud buat kamu terkejut. Aku lari-larian ke sini cuma mau ngajakin kamu untuk melanjutkan permainan kita semalam yang sempat tertunda." Ajak Barra yang kembali membuka pintu yang baru saja Arumi tutup.


"Ishhh... masih pagi, nanti kita bisa dicariin sama yang lain." Tolak Arumi yang malu-malu tapi mau.


"Gak akan, para pengacau sudah pergi bekerja sedangkan kedua orang tua kita tengah sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Mumpung Nathan lagi anteng dijaga sama Anaya. Yuk sayang satu ronde saja cukup kok untuk buka puasa pertama aku, nanti malam kita bisa lanjut lagi di rumah ya. Yuk sayang, aku udah gak tahan banget nih." Ajak Barra yang sudah seperti orang kebelet saja.


Keduanya pun masuk kamar, mereka tak lupa untuk menutup dan mengunci pintu kamar mereka dengan rapat. Barra langsung saja menarik tubuh Arumi agar masuk ke dalam pelukkannya. Ia tatapi wajah cantik dan segar Arumi yang baru saja selesai mandi.


"Kamu tambah cantik saja Arumi, aku jadi makin cinta sama kamu." Ungkap Barra yang memuji wajah cantik natural Arumi.


Ya penampilan Arumi sangatlah natural dan sederhana namun tak mengurangi keeleganan penampilannya sebagai seorang istri Presedir. Jika di dalam rumahnya Arumi hanya mengenakan pakaian biasa namun jika kekuar rumah Arumi harus menyesuaikan penampilannya guna menjaga martabat suaminya.


Pagi ini ia tak menggunakan polesan make up tebal, ia hanya menggunakan bedak bayi Nathan pada wajahnya yang telah ia poles sebelumnya dengan cream perawatan kecantikannya.


"Makasih atas pujiannya Mas, kamu juga bertambah tampan dan tubuh mu ini loh, bikin aku gemes." Seru Arumi yang mencoba mencubit perut kotak-kotak Barra yang sulit untuk di cubit.


"Kamu gemes ya sama aku? Kamu boleh lakukan apapun pada tubuh ini, karena tubuh ini milik kamu sayang. Cuma kamu yang boleh menyentuhnya, tidak ada yang lain." Cetus Barra sembari merapikan anak rambut Arumi yang sedikit menutupi wajah cantik Arumi yang sedang ia pandangi.


Perlahan namun pasti Barra mendekatkan wajahnya pada wajah Arumi. Ia mendaratkan bibirnya dan sedikit menyesap bibir Arumi yang terasa begitu manis di bibir Barra.


"Bibir kamu manis sekali sayang, rasanya ingin terus ku sesap hingga rasa manis itu hilang." Puji Barra lagi yang kembali membuat Arumi merona.


"Kenapa kamu terus memuji ku si Mas, aku kan jadi malu."


"Karena wanita itu paling suka di puji dan di manja bukan?"


"Tahu darimana tentang hal itu? Bukannya kamu paling tidak suka memuji seseorang?" Tanya Arumi yang sangat mengetahui watak asli sang suami.


"Aku yang dulu berbeda dengan aku yang sekarang sayang. Sekarang aku banyak belajar dari sekelilingku, makanya aku tahu wanita paling suka di puji dan di manja. Ini semua aku lakukan agar kamu bahagia bersama ku dan tak lagi lari dari ku. Berpisah dengan mu sungguh sangat menyiksa ku." Ungkap Barra yang membuat Arumi tersenyum bahagia.


Melihat istrinya tersenyum, Barra pun ikut tersenyum. "Apa kamu sudah siap sayang?" Tanya Barra yang sudah semangat menggebu-gebu.


Arumi menganggukkan kepalanya, "Aku sudah siap dari tadi Mas, cuma Mas Barra saja yang dari tadi ngajak bicara aku terus," jawab Arumi sembari merundukkan kepalanya karena malu. Jangan lupakan dengan senyum malu-malu yang terbit di wajah Arumi saat ini. Sungguh menggemaskan tingkah malu-malu Arumi di mata Barra saat ini.


"Owhh....sudah siap ya," sahut Barra yang segera membantu Arumi melepaskan pakaian yang istrinya kenakan. Barra melempar sembarang baju Arumi yang ia lepaskan.


Arumi merengut kesal ketika bajunya di lempar Barra ke sembarang arah.


Dada bidang yang sedikit berbulu, perut kotak-kotaknya yang sering orang sebut perut six pack, serta otot-otot kekarnya yang terbentuk karena seringnya memanggul berkarung-karung umpan ikan begitu indah di pandang mata Arumi. Arumi yang mengagumi tubuh suaminya yang terlihat jelas di pagi hari ini pun menjelajahi tubuh sang suami dengan jemarinya.


"Otot mu ini Mas, ya Tuhan. Kayanya sebelum aku tinggal tidak sebesar ini." Ucap Arumi sambil memperhatikan bagian tubuh Barra.


"Tapi kamu menyukainya kan sayang?" Tanya Barra sembari menatap Arumi dengan tatapan menyeringai.


Cara Barra menatap Arumi seolah-olah seperti buruannya yang siap ia mangsa di pagi hari ini.


"Ya, Mas. Aku sangat menyukainya." Bisik Arumi di telinga Barra dengan suara manjanya.


Barra yang sudah tidak sabar ingin berbuka puasa selama berbulan-bulan karena di tinggal Arumi pun segera membaringkan Arumi di atas ranjang.


"Sudah di pompakah asi mu sampai habis sayang?" Tanya Barra saat melihat bulatan bukit kenyal milik sang istri yang sudah dilabel menjadi milik sang putra,Nathan selama dua tahun ke depan.


"Su-sudah Massss ahhh," jawab Arumi yang akhirnya melenguh karena Barra meremasss lembut bulatan kenyal seperti squishy itu.


Saat ia memastikan tak ada setetes pun asi yang keluar dari puncak bukit kembar Arumi, Barra segera melahapnya dengan rakus. Arumi tak sanggup menahan des4han yang ingin keluar dari bibir mungilnya yang terlihat seksi dimata Barra.


"Mmmmphhh.... ahhh... Mas Barra ughhh ahh.." Arumi mencengkram rambut Barra dan sedikit menekan kepala Barra agar tak menghentikan aktifitasnya di bukit kembarnya.


Barra tersenyum saat melihat nafas Arumi naik turun hanya karena permainannya di bukit kembar dan kenyal milik sang istri. Bibir dan lidah Barra kembali menjelajahi bagian bawah tubuh Arumi. Tak hanya bibir dan lidah, tapi jemari Barra pun ikut bermain. Menusuk dan bergoyang-goyang di dalam bagian inti milik Arumi. Tubuh Arumi menggila, ia menggelinjang tanpa terkontrol.


"Mmmmphhh Ma-mas Barrrraaa ahhh"


"Enakkan sayang?" Bisik Barra di telinga Arumi.


"Huum Mas,"


"Lebih enak lagi jika junior ku yang bermain, bersiaplah sayang, aku akan membawamu terbang kelangit ketujuh," ucap Barra yang mulai mengarahkan junior miliknya ke area inti milik sang istri.


Meski masih terasa nyeri karena perbuatan Anaya. Barra berusaha menahan rasa nyeri itu. Dalm hitungan detik junior Barra berhasil meluncur ke dalam milik Arumi. Meski sudah melahirkan Nathan, lorong serambi milik Arumi masih terasa sempit dan rasanya masih senikmat dahulu. Arumi terus mendesis nikmat memanggil nama Barra, ketika Barra terus memompa tubuhnya dari ritme slow hingga fast.


"Akh...Akh...Akh.... Mas....Ummppphhh." suara rintihan Arumi seiring hentakkan dari pompaan tubuh Barra pada tubuhnya.


Mata Arumi merem-melek, ia juga sedikit meremas kain sprai dan sesekali mencakar bahu Barra karena menikmati sensasi hujaman Barra yang telah lama tak ia rasakan.


"Mas... mmmmmph aku hampir sampai...." lenguh Arumi ketika ia hampir di titik kepuasannnya.


"Bersama sayang, berteriaklah memanggil namaku." Ucap Barra yang mempercepat ritme goyangannya.


"MAS BARRA AHHHH..."


"ARUMI....MMMMPPPHH,"